Minggu, 17 Februari 2019

Surat singkat untuk sahabat.

Cuaca selalu mendung di Bandung sejak saya datang hari senin lalu, namun tidak pernah benar-benar hujan. Saat ini, ditemani laptop kantor dan secangkir teh panas, saya berada di restoran kereta api dalam perjalan kembali ke Jakarta - setelah beberapa malam begadang untuk menyelesaikan deadline pekerjaan. Niat untuk bernostalgia melewati jalan-jalan Kota Bandung resmi menjadi wacana saja.
Entah angin apa, tangan saya beralih ke halaman blog dan perlahan membuka satu demi satu blogroll teman-teman yang dulu giat menulis bersama. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Post terakhir menunjukkan bahwa blog terakhir diupdate tiga-empat tahun yang lalu. Beberapa bahkan telah menutup blog mereka sama sekali. Sebagian besar teman-teman - yang bahkan tidak pernah bertemu di dunia nyata - telah meninggalkan rumah-rumah mereka. Rumah-rumah yang dulunya sempat menjadi tempat untuk menyalurkan ide-ide yang menggenang di kepala atau wahana berbagi cerita. Kini semua kosong seperti kota mati.
Saya ingat bertahun-tahun lalu di mana menulis adalah suatu keharusan mingguan yang sepenuh hati dijalankan. Berkunjung ke laman blog teman-teman rutin dilakukan untuk menjalin silaturahmi. Komentar-komentar pun ditinggalkan sebagai bentuk kasih sayang antara satu dan lainnya. Sesuatu dalam diri saya rindu akan masa-masa itu. 
Memang harus diakui bahwa setiap hal memiliki  masanya masing-masing. Blog saat ini tidaklah se-populer lima-enam tahun yang lalu. Seperti seorang selebriti cantik yang dulu dipuja-puja, ia kini telah semakin tua. Semakin banyak keriput di wajahnya, sementara dunia selalu menuntut yang sempurna. Ia tergantikan oleh media-media baru yang lebih muda dan digemari oleh pasar. Orang-orang sekarang lebih tertarik menonton vlog daripada membuat mata berkunang-kunang membaca sebuah artikel. Dunia berubah, orang-orang juga berubah. Ini cuma penilaian subjektif saya saja, belum tentu kebenarannya. Jangan terlalu dipercaya, ya.
Kemudian saya teringat pada penulis-penulis berbakat yang dulu pernah saya kenal berkat blog-blog mereka. Saya bertanya-tanya, apa kiranya gerangan yang membuat mereka berhenti menulis. Apakah sekarang mereka tertelan dalam kedewasaan dengan segala tanggungjawabnya? Apakah mereka telah tertimbun dalam jam kerja dunia korporat yang semakin hari semakin semena-mena sehingga sudah tidak punya waktu lagi untuk diri melakukan hal-hal yang mereka suka? Apakah ide-ide yang dulu segar meletup-meletup sekarang telah berubah menjadi bagaimana untuk ikut serta dalam lomba mengumpulkan pundi-pundi Rupiah agar dapat hidup dengan layak di tengah himpitan kebutuhan yang terus meningkat? Apakah mereka sudah kehilangan kemampuan melihat keindahan dari hal-hal kecil? Apakah mereka menemukan kebahagiaan-kebahagiaan lain? Lalu saya berkaca bagaimana saat ini kesulitan untuk menyeimbangkan hidup saya. Bagaimana saya kewalahan membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, teman-teman, olahraga, hobi, cita-cita, istirahat atau sekedar waktu untuk diri berkontemplasi. Pertanyaan-pertanyaan di atas telah menemukan jawabannya sendiri.
Meskipun begitu, saya berharap tangan-tangan cekatan dan mata-mata cemerlang di balik blog-blog tersebut kini telah menjadikan mimpi-mimpinya kenyataan. Walau mungkin kita tak sebebas dulu berbagi cerita dalam bentuk kata-kata, saya berharap semesta menghadiahi mereka hal-hal yang berhak mereka dapatkan. Dan saya harap mereka tidak pernah lupa selalu bergembira, itu yang paling penting. Mudah-mudahan nanti - bila tiba waktunya – kita bisa menoleh ke belakang, melihat kembali mereka yang dulu pernah bersama-sama membangun mimpi, menghadapi masa depan yang tak pasti. Semoga nanti di sebuah pertemuan tidak terduga, mata kita akan beradu dan seketika akan mengenali satu sama lain dan berkata “hai, aku pembaca setia tulisan-tulisanmu.”


Sabtu, 16 Juni 2018

Sedikit cerita Idul Fitri

Setelah sebulan berpuasa, hari yang ditunggu tiba jua. Hari kemenangan dirayakan dengan gegap gempita. Meja-meja dijubeli dengan toples berisi kue warna-warni beragam rasa. Rumah dibersihkan, karpet-karpet dibentangkan, dinding-dinding dicat kembali, harum berbagai hidangan meruap-ruap dari dapur. Seminggu sebelum lebaran, mall-mall dipenuhi oleh ribuan orang berbelanja kebutuhan lebaran. Semua sibuk memilih baju-baju terbaik untuk dipakai di hari fitri. Teman-teman sesama perantau sibuk mengemas koper-koper dengan oleh-oleh untuk orang terkasih di kampung halaman. Sudah terbayang indahnya menghabiskan waktu dengan keluarga setelah sekian lama hidup dalam kamar kontrakan pengap di perantauan. 
Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini saya memilih untuk berlebaran di Jakarta. Saya sudah curi start duluan dengan mengambil jatah cuti tahunan di pertengahan bulan Ramadhan untuk mengunjungi kedua orang tua di kota kecil pulau Sumatera sana. Adik-adik juga berpikir hal yang sama, bagaimana jika tahun ini kita berkumpul di Jakarta saja - yang letaknya ditengah-tengah domisili orangtua dan adik perempuan terakhir saya. Semua setuju, semua gembira dengan keputusan itu. Saya dan adik segera membelikan tiket untuk kedua orangtua, yang tentu saja jauh lebih murah karena melawan arus mudik. Ketika semua orang memutuskan pulang ke kampung halaman, orangtua saya malah melancong ke kota perantauan anak-anaknya.
Saya menyadari dari dulu bahwa dewasa diam-diam akan memisahkan keluarga. Anak-anak akan lepas dari orangtuanya. Saudara kandung akan tinggal berjauh-jauhan. Bahkan saya dan adik yang tinggal di kota sama pun jarang bertemu karena masing-masing telah diikat oleh tanggungjawab dan kewajiban masing-masing untuk dapat melanjutkan hidup dengan layak. Akhirnya di hari bahagia ini, semua berkumpul kembali di satu atap, berbagi tawa lagi seperti belasan tahun lalu. Mama, seperti biasa memasak untuk kami sekeluarga. Pagi-pagi sekali di hari lebaran, semua bangun dengan semangat, mengenakan pakaian serba putih – siap untuk shalat Idul Fitri. Soto Medan yang nikmat telah terhidang di meja makan segera mengisi perut yang sebulan penuh telah berjuang menahan lapar.
Beruntung sekali rasanya tahun ini tidak perlu berurusan dengan pertanyaan basa-basi langganan yang senantiasa membuat bingung “Kapan nikah?” Saya terbebas dari kewajiban untuk membalasnya dengan senyum simpul sambil berkata “Doain saja,” walau dalam hati sebenarnya bertanya-tanya kenapa semua orang berpersepsi bahwa hidupmu tak akan komplit tanpa seseorang disamping kamu. Kewajiban tahun ini berganti menjadi mengajak orangtua tercinta bertamasya. Permintaannya tidak muluk-muluk, hanya ingin diajak piknik ke Kebun Raya. Berangkatlah kami sekeluarga bertamasya.  sepanjang jalan mengobrol banyak hal satu dengan lainnya. Tertawa-tawa dengan hal-hal kecil yang terjadi. Dalam hati saya begitu merindukan saat-saat seperti ini - yang kini hanya terjadi setahun sekali. 
Mama begitu bersemangat. Mobil penuh dengan camilan-camilan yang sengaja ia bawa untuk menemani piknik. Sedari dulu mama memang hanya mau diajak bertamasya ke tempat yang pohon-pohonnya rindang dan banyak bunga-bunga. Berbeda sekali saat diajak berkeliling pusat perbelanjaan yang baru dua blok, ia akan mengeluh kakinya sakit, di Kebun Raya dengan riang ia berjalan kesana kemari, menikmati rindangnya pepohonan dan memperhatikan bunga-bunga dengan seksama. Bahkan ketika yang lain sudah kelelahan, mama masih punya energi lebih untuk melihat-lihat kebun anggrek. Tidak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini dari membuat orangtuamu yang kasihnya tiada batas, bergembira. 
Malamnya mama tertidur pulas di samping adik, hingga dengkurannya terdengar di ruang keluarga di mana papa tengah berselonjor. Matanya tidak berkedip menyaksikan siaran piala dunia, tim kesayangannya Argentina melawan Islandia. Saya duduk di meja makan, menulis sambil sesekali memperhatikan tayangan di televisi. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saya mendapatkan sebuah epiphany. Saya merasakan sensasi unik dan kesadaran penuh tentang keberadaan saat ini, bernapas perlahan seperti jutaan manusia dengan kehidupan berbeda di permukaan bumi. Saya duduk di bangku meja makan menyaksikan semua berjalan detik demi detik. 
Waktu tidak akan pernah berjalan mundur, cepat atau lambat, keberadaan ini akan menjadi ketiadaan. Kita tidak pernah benar-benar tahu kemana kita pergi setelah ketiadaan menyentuh kita. Karena itu saya memilih untuk duduk, menikmati pergantian detik yang berlangsung. Mata saya memandang lekat-lekat Papa yang matanya masih tak berkedip dari jalannya pertandingan. Suara dengkuran halus Mama sayup-sayup terdengar berdampingan dengan musik yang saya setel di laptop. Betapa saya sangat mengasihi mereka. Betapa jika saya diizinkan untuk membingkai sebuah momen untuk disimpan, tanpa ragu saya akan memilih saat-saat seperti ini untuk selalu lekat dalam ingatan. 
Kemudian, malam ini ditutup saat lampu dimatikan. Saya terlebih dahulu mendaratkan sebuah ciuman di pipi Mama. 
Selamat Idul Fitri.

Minggu, 22 April 2018

Tulisan pertama, sejak sekian lama.

Hai.
Kikuk sekali rasanya kembali ke tempat ini setelah dua tahun tidak berkunjung. 
Saya bingung harus mulai dari mana. 
Hari ini hari minggu, jam setengah enam sore. Kota ini sedang cantik-cantiknya. Sinar matahari masuk menimpa laptop saya dari jendela. Hangat, menyenangkan. Di sampingnya sebuah buku catatan kecil berwarna oranye dan sebuah es kopi sudah siap sedia menemani.
Saat ini saya sedang duduk di bangku pojok sebuah kedai kopi waralaba, menghadap langsung ke jalan raya yang sibuk dengan kendaraan berlalu lalang. Harga kopi di sini sebenarnya agak terlalu mahal untuk saya. Tapi tidak apa-apa, kali ini saya butuh tempat yang menyenangkan untuk kembali menulis - seperti yang biasa saya lakukan pada akhir pekan bertahun-tahun yang lalu. Agak mengerikan ya bagaimana waktu berjalan. Saya ingat betul saat pertama kali menulis di blog ini sepuluh tahun yang lalu, saya masih seorang remaja belasan tahun dengan kegamangan bagaimana hidup kedepannya setelah lulus dari SMA. Sekarang si remaja gamang itu sudah masuk usia akhir dua puluhan. Sudah tidak gamang lagi. Tapi masih suka khawatir, kadang-kadang. 
Dua tahun tidak menulis, banyak sekali letupan-letupan yang terjadi dalam hidup saya, hingga bingung juga hendak mulai dari mana. Akhir 2016 saya dengan segenap hati sudah memutuskan bahwa pekerjaan saya sebelumnya bukan untuk saya lagi. Bekerja di sebuah kantor pemerintahan di daerah cukup terpencil di Sumatera memang jauh dari tekanan, namun saya selalu merasa ada yang mengganjal. Ada yang tidak pada tempatnya. Bukan berarti saya memandang rendah pekerjaan saya di tempat sebelumnya, namun kita harus pahami kalau masing-masing kita memiliki panggilan masing-masing. Berada di sana bukan lah panggilan saya, karena itu saya memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kenyamanan, termasuk meninggalkan orangtua yang meskipun kerap kali berselisih paham namun selalu percaya dengan mimpi-mimpi saya.
Dengan kondisi finansial seadanya, saya memutuskan untuk hijrah ke kota yang kerap disebut kota kejam kesayangan bagi sebagian orang, bercampur aduk dengan sepuluh juta manusia lainnya untuk menulis cerita baru, untuk mewujudkan mimpi-mimpi baru dan bertemu orang-orang baru. Beruntung setelah proses hampir satu tahun, saya diterima untuk bekerja di sebuah kantor yang telah saya impi-impikan sejak lama. Tidak bisa saya deskripsikan betapa gembiranya perasaan saya di hari pertama menjinjing tas ke kantor. Saya di tempatkan di lantai tujuh belas, dengan meja kerja menghadap langsung ke jendela, di mana saya bisa menikmati pergantian senja hampir setiap harinya. Saya berkenalan dengan rekan-rekan kerja yang dengan bangga kini saya sebut keluarga. Mereka yang membuat saya betah berada di kantor dengan beban kerja berlipat-lipat dari kantor sebelumnya. Jungkir balik hampir setiap hari, jarang sekali bisa pulang saat matahari masih bersinar, namun demikianlah pilihan yang telah saya ambil, satu paket dengan suka dukanya. Disini saya menyadari sesuatu : hal yang paling berat bukanlah memilih, namun setia pada pilihan.
Saya menyewa sebuah kamar kontrakan di lantai tiga sebuah lingkungan yang tenang di pusat kota. Kamar saya berhadapan langsung dengan tangga utama. Kamarnya tidak terlalu besar, cukup untuk saya sendiri, namun harganya cukup menguras kantong dan pengap karena tidak ada jendela. Ada dapur yang bisa digunakan bersama di lantai paling atas. Ada juga tempat menjemur pakaian yang bisa digunakan untuk santai sore di atap, biasanya penghuni akan duduk-duduk sambil merokok di sana sebelum malam tiba. Di depan kontrakan berdiri berdampingan sebuah gereja dan masjid. Pusat kesehatan masyarakat bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Saya menyukai sungai yang mengalir di sampingnya, meskipun tidak jernih tapi bersih tanpa sampah. Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, saya berpapasan dengan dua orang biarawati di pinggir sungai. Satu orang yang sudah berusia lanjut duduk di kursi roda dan seorang lagi yang jauh lebih muda menemaninya. Keduanya dengan khusyuk memandangi aliran sungai. Sayangnya, beberapa waktu kemudian saya memutuskan untuk pindah ke kamar kontrakan lainnya yang harganya lebih murah dan jendelanya lebar-lebar.
Banyak sekali sebenarnya yang ingin saya ceritakan, namun karena hari ini hari minggu dan besok tentu saja - sebagai lelaki usia dewasa yang kakinya sudah diikat dengan tanggungjawab - saya harus kembali dalam rutinitas pekerjaan. Saya akan lanjutkan nanti. Mudah-mudahan, saya bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk menulis dan semoga Good Morning Freedom akan kembali hidup seperti beberapa tahun yang lalu. Dengan pembacanya yang mungkin tak banyak, namun saya tahu, begitu setia.
Saya kembali dan saya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya harap kamu pun begitu. Semoga minggu ini terlewati dengan menyenangkan dan banyak kebaikan-kebaikan yang tak sungkan datang. Jangan lupa bergembira!
PS. Karena Photobucket memutuskan menjadi hosting berbayar, beberapa part dari Good Morning Freedom menjadi berantakan. Nanti jika ada waktu, saya akan rapih-rapih. Sekalian merapikan konten-konten lama yang agak memalukan dan tidak lagi sesuai umur, haha.
 

Blog Template by