Jumat, 03 Februari 2012

Kau dan 4 Februari


Jika aku boleh untuk memilih tanggal untuk kembali ke masa lalu, itu pasti tanggal 4 februari. Aku kangen tanggal 4 kita, satu hari setelah ulangtahunmu dan satu hari sebelum ulangtahunku. Malamnya selalu sakral, tidak boleh dihabiskan dengan hal-hal generik, flat seperti malam-malam biasa. Kita harus duduk di meja makan yang penuh sesak dengan makanan enak di sebuah restoran di kota kecil kita, bersama mama, papa, dan ditambah adik kita, beberapa tahun setelahnya. Itu adalah malam spesial dimana kita berkompetisi siapa paling cepat menghabiskan makanan dan paling lambat menghabiskan jeruk dingin dalam gelas. Aku bisa menangkap aura persaingan dari matamu yang sesekali melirik gelasku, memastikan isi gelasmu lebih banyak dari gelasku. Aku takkan mengalah tentunya, dalam pikiranku semua persaingan harus dimenangkan oleh yang lebih tua. Senior selalu benar, bukan begitu?

Kita selalu ingin dibelikan kado ulangtahun yang sama. Jika aku dapatkan jam weker baru, kau juga harus punya. Jika aku dapatkan handuk baru, kau juga harus begitu. Selalu begitu. Kau ingat waktu kita mendapatkan hadiah ulangtahun lampu belajar yang sama tapi dengan warna berbeda? Aku bersikeras warna lampu belajarmu lebih bagus dari punyaku, dan aku minta kita bertukar tapi kau tak mau. Kita bertengkar memperebutkan lampu belajar itu dan seperti pertengkaran kita pada umumnya, pertengkaran itu berujung tangis. Kau yang menangis lebih dulu, aku menangis setelahmu, ketika dimarahi mama karena tak mau mengalah. Dan yang jadi adegan favoritku, beberapa jam setelah pertengkaran ini, kita kembali duduk bersama, menyeka air mata, seolah tak terjadi apa-apa. Tertawa, berlari bersama lagi.

Aku selalu merindukan masa-masa kecil kita, adikku sayang. Waktu itu kita tak perlu berpikir hal-hal yang menyita kebahagiaan seperti saat ini. Yang ada di pikiran kita hanyalah bermain dengan anjing kita, berebut handuk di pagi hari dan memastikan tak ada monster yang memasuki pagar rumah. Yah, kadang memang disertai pertengkaran kecil, tapi tahukah kau sayang, aku tak pernah membencimu. Aku selalu ingin membelamu, walau kadang aku tak tau harus bagaimana dan dengan cara apa. Aku selalu ingin menjadi abang yang baik bagimu, abang yang bisa kau banggakan dihadapan teman-temanmu, tapi maafkan aku jika mungkin aku belum bisa.

Kau ingat waktu kau menangis karena diganggu anak-anak komplek waktu itu? Aku tau sayang, aku takkan menang melawan mereka. Badan mereka besar-besar dibanding badanku yang ceking seperti belalang. Tapi aku tak rela air matamu terbuang sia-sia karena mereka. Maka kuhadang mereka, kupukul wajah mereka walau akhirnya sudah bisa ditebak, aku yang tersungkur dan menangis. Tapi aku masih bisa rasakan kepuasan yang kuterima saat itu. Aku berhasil memukul wajah mereka, itu sudah cukup membayar air matamu yang terbuang. Aku ingin melihat kau tersenyum. Aku ingin melihat kau percaya jika selagi masih ada aku, tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menyakitimu.

Aku juga masih ingat bagaimana kita selalu membuat orangtua lain di komplek kita iri. Kau dan aku selalu berhasil memenangkan tiap kompetisi yang kita ikuti. Kita selalu juara kelas dan juara-juara lainnya, sesuatu yang kini aku sadari sebagai benih yang menjadikan kita alergi pada kegagalan. Jika kau melihat aku sebagai tikus idiot di tengah gurun saat ini, kurasa kau paham betul alasannya. Kau tau, sebagai seorang aquarian kita tak bisa tak bisa melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, kreativitas dan kebrilianan intuisi kita hanya akan jadi sampah yang sia-sia jika kita tak berada pada tempat dimana seharusnya kita berada.

Kau membuat aku percaya kalau astrologi tidak sepenuhnya bualan semata. Kau juga membuatku percaya kalau kecemasan, kegelisahan, insekuritas, ketidakpuasan, pembangkangan terhadap realitas dan intuisi yang menyiksa adalah genetikal. Aku dan kau sama, kau hanya sedikit lebih pintar menyembunyikan pertanyaan-pertanyaan yang menari di kepalamu. Kau apakan pertanyaan-pertanyaan itu hingga mereka bisa duduk manis dan tidak mengacaukan harimu?

Aku juga tak bisa bohong jika aku masih meyakini kalau kita adalah dua makhluk unik yang dilahirkan dari rahim yang spesial. Aku selalu berpikir kita terlalu istimewa untuk dunia dan kita harus pindah ke planet lain, mars barangkali. Dimana orang-orang tak akan pernah berpikir kita makhluk aneh yang terlalu banyak komplain dan bertanya ini itu. Tak seorangpun bisa memahami secara detil pertanyaan-pertanyaan yang menyesaki kepala kita. Bisakah kita bertahan untuk waktu sekian lama lagi?

Tahun-tahun berlalu, menjadikan gelas-gelas jeruk kita tertimbun di masa lalu. Kini kita terjebak dalam kedewasaan yang memisahkan kita beratus kilometer. Sekejam itukah kedewasaan pada kita, sayang? Sampai kita tak punya waktu merayakan satu hari dalam setahun di meja yang sama. Tertawa dan bersaing mengukur es jeruk lagi? Kenapa tuhan ciptakan kedewasaan jika hanya akan memisahkan tawa saudara menjadi dua tempat berbeda? Lihat betapa pertanyaan-pertanyaan menguasaiku sedemikian hebatnya.

Kini tibalah detik-detik dimana kenangan di masa lalu kembali memanggil. Ada aku dan kau duduk di meja restoran sedang mengukur jeruk di dalam gelas. Kenangan berbuih rindu tentang sosok mungil dengan gigi gerepes yang selalu menangis jika sesuatu tak sesuai dengan harapannya. Lihatlah dirimu sekarang adikku sayang, si gigi gerepes telah menjelma menjadi gadis mandiri yang hidup jauh dari rumah. Jika kau pikir aku tak khawatir, kau salah. Aku tak ahli dalam menyatakan apa yang aku rasakan secara langsung, karena itu aku menulisnya dalam paragraf-paragraf pendek ini. Dan dengan tulisan ini aku ingin kau tau, aku menyayangimu. Aku menyayangimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri.

Selamat ulangtahun ke sembilan belas adikku tersayang. Semoga apapun harapan dan mimpi-mimpimu tercapai. Remember, age is just a number. And jail is just a place. Haha.

Dalam tulisan ini aku juga ingin membuat pengakuan dosa, kalau beberapa waktu lalu aku tak sengaja membaca tulisan-tulisanmu di laptop. Tahukah kau tulisanmu sangat indah? Kenapa tak pernah kau biarkan orang-orang membacanya? Satu harapanku selanjutnya adalah: kau tak marah.

Love you as always, abangmu.


Rabu, 01 Februari 2012

One day trip to Tanatoraja: Londa and Kete' Kesu

Saya kenal Tanatoraja dari majalah anak yang selalu dibeliin bokap saya tiap hari kamis, beberapa belas tahun yang lalu. Kalo nggak salah waktu saya kelas 2 SD. Saya penasaran banget sama kuburan-kuburan di atas tebing sama adat pemakaman toraja yang unik. Saya bilang sama bokap saya, saya mau kesini. Waktu itu bokap saya ngangguk-ngangguk aja, “iya, ntar kalo udah besar,” katanya.

Gak nyangka akhirnya saya benar-benar menginjakkan kaki saya di Toraja, Sulawesi Selatan Juli 2010 lalu. Kebetulan saya sedang melaksanakan praktek lapangan di kota Palopo yang jaraknya hanya 3 jam-an dari Toraja. Senang rasanya setelah perjalanan sebelumnya, sekitar september 2009 gagal dan malah berujung di pantai Bira, Bulukumba. Saya berangkat ke Toraja bareng teman-teman PL, naik mobil pinjeman staff kelurahan Ponjalae di Palopo. Berangkat pagi-pagi, setelah nyiapin bekal makanan untuk satu hari. Jadilah, one day trip to Tanatoraja!

Perjalanan ke Toraja ekstrim abis! Jalannya nggak segampang yang saya pikirkan. Kanan kiri jurang, belum lagi jalannya yang rusak parah. Tanah longsor dengan batu-batu gunung segede gaban menghiasi di kanan kiri jalan. Saya sama temen-temen gak henti-henti berdoa biar mobil nggak selip, trus terjun bebas masuk jurang (yaoloh, no). Perjalanan dari Palopo ke Toraja ditempuh 3 jam. Kalau dari Makassar bisa 10-12 jam, bahkan lebih, tergantung kondisi cuaca. Kalau hujan dan berkabut, ya otomatis lebih lama (kabut di jalan ke Toraja bisa sampai jam 10-11 pagi). Tapi yang mau ke Tanatoraja tahun depan bisa bernapas lega nih, soalnya saya dapat kabar kalau tahun depan itu Bandara Tanatoraja udah mulai beroperasi dan ada pesawat rute Makassar-Tanatoraja tiap hari. Cihuy! Nggak perlu lagi pengorbanan bengek dalam bus kalo gitu ceritanya.


ready for this?


Perjalanan menuju Tanatoraja bagi saya sangat mengesankan, walau rada dag-dig-dug sih sebenarnya. Semua terbayar begitu memasuki kawasan Kabupaten Tanatoraja. Pemandangan hijau berkabut membentang dari ketinggian sampai 2880 kaki dari permukaan laut. Saya bener-bener spechless kehabisan kata buat ngegambarin gimana pemandangannya yang seperti lukisan nyata itu. Udaranya seger dan dingin, jadi saya saranin yang biasa tinggal di kota besar yang panasnya sodaraan sama neraka, mending bawa jacket tebal deh kalo nggak mau pulang-pulang ingusan. Di kanan kiri udah banyak Tongkonan, rumah adat toraja berikut hiasan kepala kerbaunya. Udah banyak juga kendaraan seliweran sambil bawa babi yang semok-semok.

LONDA

londa's gate


this is londa


groups of tau-tau


in the cave, a bit messy


toraja's romeo and juliet


hello, brother!



souvenirs shop



tau-tau for sale

Destinasi pertama kami adalah Londa, kuburan tradisional toraja diatas tebing-tebing tinggi dan goa. Baru turun dari mobil, saya nggak berasa di Indonesia, soalnya banyak bule-bule seliweran, hehe. Karena hujan datang tak tepat waktu, saya dan temen-temen terpaksa duduk dulu nungguin hujan reda, baru perjalanan dilanjutkan ke Tebing batu yang jaraknya kira-kira 300 meter dari tempat parkir. Baru aja nyampe, saya dan temen-temen udah disuguhi tengkorak dan tulang belulang dimana-mana. Rada merinding juga sih sebenarnya, tapi kapanlagi bisa megang-megang tengkorak begini.

Di bagian depan tebing batu, terdapat patung-patung dari kayu. Usut punya usut ternyata patung-patung kayu itu namanya Tau-tau. Tau-tau merupakan representasi dari orang yang udah meninggal yang dibikin mirip banget sama wujud asli si almarhum. Makin cakep patungnya, makin bagus kayu yang digunakan, maka makin tinggi juga status sosial orang itu waktu masih hidup. Nah, tau-tau di londa ini bagus-bagus, itu berarti semasa hidup almarhum-almarhumah disini pasti tajir-tajir. Denger-denger orang-orang yang dikubur di Londa ini adalah satu keluarga besar yang cukup terkenal di Tanatoraja.

Dalam adat toraja (Aluk To Dolo), seseorang yang meninggal akan hidup kembali di alam baka, makanya orang tersebut harus dibekali banyak barang. Jadi barang-barang kesukaannya semasa hidup dan barang-barang yang dianggap diperlukan di kehidupan selanjutnya harus diikutsertakan di dalam makam. Makanya untuk menghidari pencurian, orang toraja jaman dulu menempatkan makam di tebing-tebing tinggi supaya susah dijangkau maling. Inilah asal muasal kenapa orang-orang toraja dimakamkan di atas tebing-tebing tinggi. Saya nggak heran kenapa di makam banyak berserakan barang-barang dari kasur, kacamata, kipas angin, sampai ijazah SMA.

Saya dan temen-temen memasuki dalam goa yang bisa ditebak, gelap, apek dan tetap dengan tulang belulang berserakan dimana-mana. Sumpah mistis banget di dalam! Bulu kuduk saya merinding entah berapa kali. Kondisi di dalam lumayan berantakan sih, barang-barang si almarhum berantakan dimana-mana, peti-peti yang udah lama, lapuk dan itu tulang jadi berhamburan kemana-mana. Ada beberapa juga beberapa ‘penghuni baru’ disono, petinya ngeluarin lendir-lendir coklat gitu (ga usah dibayangin). Pokoknya rada serem sih di dalem. Satu yang paling menarik yaitu tengkorak Romeo-Juliet Toraja.

Jadi ceritanya jaman dulu ada sepasang kekasih yang saling mencintai, tapi nggak disetujui orangtua masing-masing karena mereka itu ada hubungan kekerabatan, dan jadilah sepasang kekasih yang udah terlanjur mencintai itu memilih jalan pintas mengakhiri hidup mereka (mungkin berharap di kehidupan selanjutnya bisa bersatu ya). So sweet ya *lapingus*. Di dua tengkorak ini kebanyakan orang naroh sesajen, biasanya rokok, nggak tau buat apa.

Kete’ Kesu

tongkonan

Puas berkeliling dan ngeliat rangka manusia dimana-mana, saya dan temen-temen lanjut ke destinasi ke dua yaitu Tongkonan Kete’ Kesu, kumpulan rumah adat toraja yang umurnya udah ratusan tahun. Nggak terlalu jauh sih dari Londa. Di Kete’ Kesu inilah berdiri puluhan tongkonan. Beberapa dalam kondisi masih bagus, dan beberapa lain udah dalam kondisi mengenaskan. Bingung deh kenapa di Indonesia selalu begini. Benda-benda peninggalan budaya nggak pernah dijaga dengan baik. Kaya di Sumatera Barat tuh, Rumah-rumah Gadang udah banyak yang roboh dan nggak diperhatiin lagi. Jumlah rumah gadang sekarang itu bisa diitung dengan jari.

Lanjut, dulu tongkonan hanya boleh dibangun bangsawan, karena memang untuk bikin tongkonan perlu duit dalam jumlah nggak sedikit. Di tiang depan dipajang tanduk tedong (kerbau), semakin banyak tanduk tedong yang dipasang, maka semakin tinggi juga status sosialnya. Tanduk tedong yang dipajang itu biasanya tanduk tedong yang disembelih di acara pemakaman. Berhubung upacara pemakaman mahal dan rumit, tidak semua bisa langsung dimakamkan. Sebagian nabung dulu sampai milyaran rupiah, baru prosesi pemakaman Rambu Solo dilaksanakan. Prosesi pemakaman ini lebih mirip pesta daripada pemakaman, karena disini puluhan bahkan ratusan kerbau disembelih. Makin banyak kerbau yang disembelih, makin bagus. Makin keliatan tajir juga si almarhum. Bener juga kata temen saya kalo orang toraja itu hidup untuk mati. Semasa hidup ngumpulin duit banyak-banyak buat mati nanti.


isfan at tongkonan kete' kesu


some coffin in terrible condition



wanna play hide and seek with this thing?


another broken coffin

Di Kete’ Kesu inilah saya ketemu sama yang nama yang namanya Tedong Bonga atau kerbau putih. Konon harga ini kerbau bisa sampai ratusan juta. Ini kerbau putih nasibnya bagus banget deh. Beda sama kerbau di minangkabau yang dipaksa kerja siang malam sampai tulang-tulangnya keliatan. Kerbau disini malah dimanja, kerjaannya makan tidur doang. Apalagi kerbau putih alias Tedong Bonga ini, selain kerjaannya cuma makan tidur, makanannya lebih dari empunya bahkan! Tiap hari dikasi makan susu keju, biar gemuk dan harga jualnya bisa bombastis. Enak banget jadi elo ya kebo. Oia, saya lupa cerita kalau dalam adat toraja ini, kerbau-kerbau inilah yang akan mengantarkan arwah ke alam selanjutnya. Makanya kalau seorang anak belum tumbuh gigi dan dianggap belum bisa mengendarai kerbau maka kalau meninggal dimakamkan di sebuah lubang pohon. Harapannya si anak akan tumbuh besar bersama pohon tersebut sampai tiba saatnya ia bisa mengendarai kerbau ke alam selanjutnya.


tedong bonga


Puas berkeliling (dan foto-foto tentunya), saya singgah di beberapa souvenir shop di pasar Jln. Mappanyuki Rantepao, nggak terlalu jauh juga dari Kete’ Kesu. Disini kita harus pinter-pinter nawar kalo nggak mau kebayar mahal, karena biasanya untuk wisatawan harga yang ditawarin dua kali lipat dari harga aslinya. Saya beli beberapa ukiran khas toraja, gelang, dan tau-tau mini. Senangnya, one day trip-pun clear!

Sebenarnya masih banyak tempat yang belum kami kunjungi sih, tapi berhubung udah sore dan besok kerjaan setumpuk udah nungguin di kantor, kami terpaksa cabut. Perjalanan pulang gak terasa melelahkan karena kami semua (kecuali sigit si driver) tidur pulas kecapean. Perjalanan satu hari itu bener-bener berkesan buat saya, soalnya udah impian bertahun-tahun sih ya. Tau nggak, nyampe di Palopo kami nggak langsung istirahat, malah langsung nyari tempat karaoke. Haha!

check what i bought: some crafting, bracelet, and mini tau-tau




Last, berita baik nih, Kete’ Kesu sudah diusulkan masuk daftar elit World Heritage Site UNESCO! Yey!

Information Corner:
Official Website: click here!
Makassar-Tanatoraja : 8-12 hours, by bus.
Hotels:
Toraja Heritage Hotel
http://www.torajaheritage.com
Jl. Kete Kesu , P.O.Box 80
Rantepao, Tana Toraja
Contact: 62 – 423 – 21 192

Looking for another hotels? click here.
Cheapest Hotel: 75k –net

Festivals:
Annual Culture Festival, around Indonesian Independence day celebration on august.
Annual Lovely December Festival, around Christmas.


Note: for moslem, its kind of hard to find halal meals in here. It’s best to prep before.


Minggu, 15 Januari 2012

22 days before 22nd

22 hari sebelum ulangtahun saya yang ke-22. ini mungkin jadi ulangtahun pertama bagi saya berada di tempat dan dengan orang-orang yang benar-benar tidak saya kenal. tak masalah, proses pendewasaan kali ya? kalau biasanya ulangtahun selalu ada kue ulangtahun dan temen-temen yang siap meramaikan hari saya, sekarang saya harus berulangtahun sendiri karena saya yakin gak satu orangpun disini yang tau ulangtahun saya. haha.

jika boleh berharap sesuatu, ulangtahun kali ini i wish for:

Align Center
yep. new camera. camera kayak saifuddin punya, yang hasil tangkapannya bikin saya terwah-wah. kamera pocket saya, yang udah entah beberapa tahun ini menemani udah sekarat, udah banyak selotip hitam disana sini, tinggal nunggu berpulang ke rumah bapa saja. hahaha. so tuhan yang baik hati, tolong bikin saldo di rekening saya beranak-pinak. hahaha. amin!


Sabtu, 14 Januari 2012

Kebun jagung, tiang listrik, dan rel kereta


Angin pacu lari diatas bunga jagung,

Beberapa tersangkut di tiang listrik, disambar kereta.
***

Cuti telah berakhir. Itu berarti saya akan kembali menjadi makhluk nomaden, berjalan kesana kemari tergantung kemana angin membawa. Untuk satu bulan ini setidaknya, saya bertugas di sebuah desa kecil di kabupaten perbatasan jawa tengah dan jawa timur, Grobogan. Rabu siang lalu, sekitar jam 2 siang saya berangkat menggunakan bus kampus, dengan teman-teman sekelompok yang hampir semuanya tidak saya kenal, ya kalau saya kenal pun, paling juga kenal begitu-begitu saja. Perjalanan memakan waktu 14 jam lebih melewati Sumedang-Cirebon-Brebes-Tegal-Pemalang-Pekalongan-Kendal-Semarang berhasil membuat kaki saya bengkak dan sendi-sendi serasa mau copot. Meskipun begitu, saya menyukai perjalanan ini karena ini pertama kalinya saya naik bis lintas provinsi di jawa, selama ini saya selalu pakai kereta. Saya menikmati lampu-lampu perahu nelayan di cirebon, tatanan kota yang apik di pekalongan, telor asin brebes dan logat ngapak kentalnya orang tegal.

Pagi pertama di Purwodadi, ibukota Grobogan, setelah cuci muka tanpa mandi, saya ikut acara seremoni di lapangan kota yang seperti rawa-rawa. Acara seremoni yang menurut saya cuma basa-basi menyita waktu ini sukses membuat sepatu saya berlumpur tebal, seperti bolu kukus dengan toping coklat lebih banyak dari biasanya. Saya bahkan sempat curiga ada lele menyusup di dalam sepatu, sehingga jadilah bolu kukus double chocolate topping, isi lele. Saya suka Purwodadi. asri, banyak pohon disana-sini. Becak-becak berderet dan es dawet terlihat manis sekali, saya membungkusnya dalam kantong plastik menemani perjalanan saya dari Purwodadi ke Tanggungharjo, kecamatan dimana desa Sugihmanik, tempat saya bekerja selama sebulan ini. Banjir masih jadi ikon Grobogan sepertinya, air menggenang dimana-mana. Tak apalah, biarkan saja dia tumbuh. Bisa saja tahun depan sudah dijadikan objek wisata bencana, danau grobogan, mungkin.

Sampailah saya di desa Sugihmanik, disambut mesra oleh kepala desa dan sejumput gerimis. Saya menempati rumah kosong kepala desa. Saya paling cepat datang, langsung memilih satu-satunya kamar di lantai dua. Tujuannya satu: menghindari keramaian. Setidaknya dengan berada di lantai dua, si makhluk soliter ini tak perlu tidur bercampur-baur bau ketiak, juga beramai-ramai main kartu remi sambil sedikit sesak nafas karena dikepung asap rokok (setelah periksa ke dokter Fatma, katanya saya alergi asap, segala jenis asap. Ini sekaligus jadi jawaban atas batuk yang dua bulan ini tak sembuh-sembuh). Tuhan menambah satu penghuni lagi di kamar saya. Dari sikapnya yang sering diam, duduk di depan jendela sambil sedikit merokok atau minum kopi, sepertinya dia masih satu genus dengan saya. Dia dan kamar ini menarik, begitu juga balkonnya yang lebar dengan dua tiang jemuran besar, tempat dimana akhirnya saya sadari merupakan tempat mendarat embun pagi-pagi. Saya yakin kami-kami ini akan jadi teman yang baik.

Sugihmanik, saya menyukai tempat ini. Tenang dan tak terlalu banyak bicara. Angkutan desa dan motor bebek berbagai merek jarang berkeliaran. Aspal beton hanya di jalan utama, selebihnya jalan setapak dengan batu-batu kapur dan diapit rumah joglo yang klasik. Ibu-ibu mengutili jagung di beranda sambil sesekali mengusir ayam dari jagung yang terjemur, anak-anak berlari pergi mengaji. Sorenya gerimis merintik, itik-itik berbaris pulang ke kandang. Saat malam berganti wujud menjadi pagi, matahari mulai mengintip dari pucuk pohon mangga di depan jendela kamar. Jam weker berwujud makhluk kecil berparuh dan bersayap berbunyi diatas genteng. Ini berarti saatnya bapak-bapak dengan pangkal lengan agak lebih kecil dari bantal guling, bersama berjalan ke sawah, kebun jagung atau tambang batu kapur di pinggir desa. Mungkin juga berarti saya harus segera mandi, makan pagi, dan berjalan ke kantor desa, membenahi administrasi. Semuanya menyenangkan kecuali tiga hal paling mengganggu ini: 1. panasnya yang kadang semena-mena; 2. tatapan “hai-mas-apakah-anda-berasal-dari-mars?-jika-tidak-tolong-yakinkan-saya” anak-anak, remaja, dan beberapa orang dewasa; dan 3. nyamuknya yang bergerombol dan terlalu senang bergerilya mencuri darah saya. Saya masih bisa berurusan dengan hal 1 dan 2, setidaknya untuk saat ini. Bagaimana dengan hal ketiga? Saya balas dendam pada makhluk kecil serakah ini. Paginya, saya menjadikan mereka lukisan-lukisan abstrak berwarna merah hati di dinding kamar, sisanya terpaksa jadi korban genosida cairan anti serangga. Mereka jera? Tidak. Besoknya gerombolan lain, spacies sama mulai mencuri lagi di kamar saya.

Dan hal paling menarik diantara semua yang menyenangkan (apalagi menyebalkan) adalah pemandangan di depan kantor desa. Kebun jagung yang luas dipotong-potong rel kereta api dan diselingi tiang-tiang listrik. Saya temukan ini sebagai obsesi. Ingin rasanya menyusuri rel kereta api sambil menonton angin yang pacu lari diatas bunga jagung, saya ingin tau siapa yang lebih dulu mencapai garis finis di tiang listrik paling tinggi, tanpa tersambar kereta.



Minggu, 01 Januari 2012

Selamat 2012


Selamat tahun baru 2012
Resolusi Tahun ini kompleks sekali :
Lulus Kuliah, Menjadi Manusia, Hidup Normal,
Bebas dan Bahagia.
anda?


 

Blog Template by