
Jika aku boleh untuk memilih tanggal untuk kembali ke masa lalu, itu pasti tanggal 4 februari. Aku kangen tanggal 4 kita, satu hari setelah ulangtahunmu dan satu hari sebelum ulangtahunku. Malamnya selalu sakral, tidak boleh dihabiskan dengan hal-hal generik, flat seperti malam-malam biasa. Kita harus duduk di meja makan yang penuh sesak dengan makanan enak di sebuah restoran di kota kecil kita, bersama mama, papa, dan ditambah adik kita, beberapa tahun setelahnya. Itu adalah malam spesial dimana kita berkompetisi siapa paling cepat menghabiskan makanan dan paling lambat menghabiskan jeruk dingin dalam gelas. Aku bisa menangkap aura persaingan dari matamu yang sesekali melirik gelasku, memastikan isi gelasmu lebih banyak dari gelasku. Aku takkan mengalah tentunya, dalam pikiranku semua persaingan harus dimenangkan oleh yang lebih tua. Senior selalu benar, bukan begitu?
Kita selalu ingin dibelikan kado ulangtahun yang sama. Jika aku dapatkan jam weker baru, kau juga harus punya. Jika aku dapatkan handuk baru, kau juga harus begitu. Selalu begitu. Kau ingat waktu kita mendapatkan hadiah ulangtahun lampu belajar yang sama tapi dengan warna berbeda? Aku bersikeras warna lampu belajarmu lebih bagus dari punyaku, dan aku minta kita bertukar tapi kau tak mau. Kita bertengkar memperebutkan lampu belajar itu dan seperti pertengkaran kita pada umumnya, pertengkaran itu berujung tangis. Kau yang menangis lebih dulu, aku menangis setelahmu, ketika dimarahi mama karena tak mau mengalah. Dan yang jadi adegan favoritku, beberapa jam setelah pertengkaran ini, kita kembali duduk bersama, menyeka air mata, seolah tak terjadi apa-apa. Tertawa, berlari bersama lagi.
Aku selalu merindukan masa-masa kecil kita, adikku sayang. Waktu itu kita tak perlu berpikir hal-hal yang menyita kebahagiaan seperti saat ini. Yang ada di pikiran kita hanyalah bermain dengan anjing kita, berebut handuk di pagi hari dan memastikan tak ada monster yang memasuki pagar rumah. Yah, kadang memang disertai pertengkaran kecil, tapi tahukah kau sayang, aku tak pernah membencimu. Aku selalu ingin membelamu, walau kadang aku tak tau harus bagaimana dan dengan cara apa. Aku selalu ingin menjadi abang yang baik bagimu, abang yang bisa kau banggakan dihadapan teman-temanmu, tapi maafkan aku jika mungkin aku belum bisa.
Kau ingat waktu kau menangis karena diganggu anak-anak komplek waktu itu? Aku tau sayang, aku takkan menang melawan mereka. Badan mereka besar-besar dibanding badanku yang ceking seperti belalang. Tapi aku tak rela air matamu terbuang sia-sia karena mereka. Maka kuhadang mereka, kupukul wajah mereka walau akhirnya sudah bisa ditebak, aku yang tersungkur dan menangis. Tapi aku masih bisa rasakan kepuasan yang kuterima saat itu. Aku berhasil memukul wajah mereka, itu sudah cukup membayar air matamu yang terbuang. Aku ingin melihat kau tersenyum. Aku ingin melihat kau percaya jika selagi masih ada aku, tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menyakitimu.
Kau membuat aku percaya kalau astrologi tidak sepenuhnya bualan semata. Kau juga membuatku percaya kalau kecemasan, kegelisahan, insekuritas, ketidakpuasan, pembangkangan terhadap realitas dan intuisi yang menyiksa adalah genetikal. Aku dan kau sama, kau hanya sedikit lebih pintar menyembunyikan pertanyaan-pertanyaan yang menari di kepalamu. Kau apakan pertanyaan-pertanyaan itu hingga mereka bisa duduk manis dan tidak mengacaukan harimu?
Aku juga tak bisa bohong jika aku masih meyakini kalau kita adalah dua makhluk unik yang dilahirkan dari rahim yang spesial. Aku selalu berpikir kita terlalu istimewa untuk dunia dan kita harus pindah ke planet lain, mars barangkali. Dimana orang-orang tak akan pernah berpikir kita makhluk aneh yang terlalu banyak komplain dan bertanya ini itu. Tak seorangpun bisa memahami secara detil pertanyaan-pertanyaan yang menyesaki kepala kita. Bisakah kita bertahan untuk waktu sekian lama lagi?
Tahun-tahun berlalu, menjadikan gelas-gelas jeruk kita tertimbun di masa lalu. Kini kita terjebak dalam kedewasaan yang memisahkan kita beratus kilometer. Sekejam itukah kedewasaan pada kita, sayang? Sampai kita tak punya waktu merayakan satu hari dalam setahun di meja yang sama. Tertawa dan bersaing mengukur es jeruk lagi? Kenapa tuhan ciptakan kedewasaan jika hanya akan memisahkan tawa saudara menjadi dua tempat berbeda? Lihat betapa pertanyaan-pertanyaan menguasaiku sedemikian hebatnya.
Kini tibalah detik-detik dimana kenangan di masa lalu kembali memanggil. Ada aku dan kau duduk di meja restoran sedang mengukur jeruk di dalam gelas. Kenangan berbuih rindu tentang sosok mungil dengan gigi gerepes yang selalu menangis jika sesuatu tak sesuai dengan harapannya. Lihatlah dirimu sekarang adikku sayang, si gigi gerepes telah menjelma menjadi gadis mandiri yang hidup jauh dari rumah. Jika kau pikir aku tak khawatir, kau salah. Aku tak ahli dalam menyatakan apa yang aku rasakan secara langsung, karena itu aku menulisnya dalam paragraf-paragraf pendek ini. Dan dengan tulisan ini aku ingin kau tau, aku menyayangimu. Aku menyayangimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri.
Selamat ulangtahun ke sembilan belas adikku tersayang. Semoga apapun harapan dan mimpi-mimpimu tercapai. Remember, age is just a number. And jail is just a place. Haha.
Dalam tulisan ini aku juga ingin membuat pengakuan dosa, kalau beberapa waktu lalu aku tak sengaja membaca tulisan-tulisanmu di laptop. Tahukah kau tulisanmu sangat indah? Kenapa tak pernah kau biarkan orang-orang membacanya? Satu harapanku selanjutnya adalah: kau tak marah.
Love you as always, abangmu.
ready for this?
londa's gate
in the cave, a bit messy
tau-tau for sale
tedong bonga















