Minggu, 17 April 2011

bye, god

Tuhan, sepertinya kita masih punya masalah yang belum terselesaikan. Aku tak mau bilang ini semua salahmu, dan tentu saja ini semua bukan salahku. Ini salah kita. Ini sudah beberapa minggu sejak kita tak lagi berbicara. Aku memalingkan wajahku dengan sombong padamu, dan kau-pun melakukan hal yang sama padaku. Sungguh betapa bodohnya aku mencoba menantangmu. Jelas-jelas kau berkuasa atas semuanya, aku tidak mungkin menang melawanmu. Kau selalu benar, dan aku selalu salah. Kau mungkin sedikit lebih beruntung saja karena tercipta sebagai tuhan. Bisa melakukan apa saja yang kau inginkan. Dan aku mungkin juga sedikit kurang beruntung karena tercipta sebagai hambamu. Kadang aku berpikir bagaimana jadinya jika aku mendapat posisi sebagai tuhan, dan kau menjadi hambaku. Tentu saja aku akan balas dendam padamu, akan ku buat kau merasakan kesedihan seperti apa yang aku rasakan saat ini. Dan aku buat kau menunggu berabad-abad bahkan untuk satu pertanyaan.

Tuhan, sebenarnya aku merindukan masa-masa kita saling mesra dulu. Tiap hari kita bertegur sapa, saling bercerita. Tak pernah satu hari-pun tidak. Aku selalu datang padamu, bercerita tentang apa saja yang aku alami hari itu. Aku tertawa dalam pelukmu, aku juga menangis dalam pelukmu. Ingat tidak saat aku bercerita kalau aku sedang jatuh cinta, aku selalu tersenyum kalau ingat masa itu, betapa konyolnya aku. Kau ingat tidak waktu aku menangis ketika orang yang aku cinta lebih memilih teman sebangkuku, saat aku kecewa dengan nilai raport semester duaku, saat aku cemas akan hari kelulusanku. Aku tak yakin kau masih ingat. Kau kan mudah lupa. Bahkan pertanyaan terbesar dalam hidupku semudah itu kau lupakan. Tentu saja, hidupmu menyenangkan. Tak satupun yang kau inginkan tak terwujud. Kau tidak pernah tau bagaimana rasanya jadi aku.

Aku selalu berharap kau mendengarkan. Kau ingat, saat aku bertanya satu pertanyaan saja, aku mohon kau segera jawab, tapi sampai bertahun-tahun aku tak pernah dengar jawabnya. Aku sudah bosan menunggu, apalagi yang tidak pasti seperti ini. Aku menunggu bertahun-tahun untuk hal yang buram, tidak jelas, jelas itu bukan hal yang mudah. Fine, aku tau, kau banyak urusan, kau punya jutaan urusan yang harus kau selesaikan setiap harinya, hingga kau sibuk sampai-sampai tak sempat mendengarkan ocehanku walau sebentar saja. Aku tidak minta waktu lama-lama. Lima menit saja untuk kita bicara, agar semua pertanyaanku terjawab, agar aku tak perlu lagi menunggu bertahun-tahun untuk sebuah jawaban. Mengertikah engkau? Tahukah kau apa yang aku rasakan? Tentu saja tidak. Kau Tuhan, semua keinginanmu bisa kau penuhi. Kau tidak pernah merasakan kesedihan. Kau hanya duduk di singgasanamu, menunjuk ini itu dan abrakadabra, semua berubah seperti yang kau mau. Kadang kupikir kau arogan sekali. Ketika kau tak pernah merasakan apa itu kesedihan, kau malah menanamkannya di hati orang-orang. Kita harus tukar posisi sesekali. Aku jadi tuhan, dan kau jadi aku. Kau harus rasakan sesekali bagaimana rasanya tak seluruh keinginanmu bisa terpenuhi, supaya kau berhenti memperlakukan orang-orang sesuka hatimu. Aku janji aku tidak akan jadi Tuhan yang kejam. Aku takkan membuatmu menderita seumur hidup, sungguh aku tak sekejam itu. Aku Cuma ingin kau merasakan beberapa minggu jadi seorang aku, biar kau mengerti bagaimana rasanya jadi aku. Biar kau mengerti betapa kesedihan bisa sangat menyiksa.

Tak pernah mudah bagiku bercerita tentang kau. Bercerita tentang pahit manis hubungan kita. Aku masih ingat betul saat aku percaya menyimpan seluruh cerita-ceritaku padamu. Tapi kesombonganmu untuk tidak menjawab pertanyaanku selama bertahun-tahun bukan kesalahan mudah untuk dimaafkan. Aku tidak akan memaki-mu lagi, tidak akan. Aku sudah memakimu berkali-kali, tapi hatimu tetap sekeras batu. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku untuk kedua kalinya, dengan mempercayaimu. Tidak. Sungguh aku telah salah memilihmu untuk tempatku bersandar. Cintaku padamu bertepuk sebelah tangan. Aku terlalu berekspektasi lebih kalau aku menduduki posisi khusus di hatimu.

Mungkin ini sudah saatnya aku berhenti bermimpi, berhenti berpikir kalau kau benar-benar peduli padaku. Dan lebih penting, berhenti berpikir kau akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Mungkin akan lebih baik jika aku simpan saja pertanyaan ini sendiri, dan tidak sedikitpun bertanya-tanya pada orang sepertimu lagi.

Tuhan, aku percaya kau ada. Aku hanya tak menyukaimu lagi.


 

Blog Template by