Rabu, 20 April 2011

perfect to be pervert


Saya sampai pada titik kulminatif dimana saya tidak bisa lagi menerima apa yang terjadi pada saya. Saya berada pada titik tidak berpengharapan dan kehilangan hampir semua keinginan saya untuk hidup. Pada titik ini kebanyakan orang akan tunduk dan menyembah, mengintimkan diri dengan sesuatu yang diyakininya sebagai tuhan. Tapi saya tidak, walau sebelumnya pernah. Saya sudah berada di titik ini berkali-kali dalam hidup saya. pasang-surut, turun beberapa saat dan sampai pada titik ini lagi. Kekacauan pribadi dan psikologis saya membuat saya merasa beberapa ratus tahun lebih tua. saya sangat sadar kalau saya masih terlalu muda untuk ini.

Di awal-awal saya sampai di titik ini, saya melakukan hal yang sama. Mencoba sedikit mengintimkan diri dengan ya, dia itu, untuk mendapatkan sedikit ketenangan dan ketentraman. Menghilangkan sesak dan sakit yang menggerogoti hati saya. Tapi hal itu terjadi beberapa tahun lalu, sekarang hampir tak pernah lagi. Mungkin benar kata orang kalau sahabat dekat itu lebih berpotensi menjadi musuh bebuyutan daripada siapapun di dunia ini. Mungkin itulah yang terjadi pada saya. Saya dan tuhan sudah kehilangan hubungan baik yang kami bangun bertahun-tahun. sekarang saya tak pernah lagi datang padanya seperti tahun-tahun kami menjadi sahabat dekat. Sekarang saya menemuinya seperti orang yang pernah kenal di suatu pesta dansa yang setelah bertahun-tahun bertemu lagi di sebuah pasar malam. Semua obrolan kami hanya basa-basi, formalitas agar tak satupun dari kami yang merasa tersinggung. Saya sadar ini sangat buruk bagi saya bermasalah dengan direktur pemilik alam semesta. Dia bisa saja memecat saya dan membuat hidup saya seperti di neraka (walaupun dia sudah lakukan itu).

Bagi saya, tak ada seorangpun di dunia ini yang berhak ikut campur dengan urusan orang lain dengan tuhannya. Masalah ketuhanan itu masalah personal, tidak ada hubungannya dengan orang lain. Saya merasa sangat tidak nyaman jika seseorang datang sok pahlawan mengatakan saya harus begini, saya harus begitu, saya tidak boleh begini, saya tidak boleh begitu, seolah-olah dialah manusia suci paling benar, titisan tuhan dari langit ke tujuh. Boleh saja mereka merasa dirinya jauh lebih baik dari saya dalam konstelasi hubungan dengan tuhan. Tapi saya tak yakin mereka mengenal tuhan jauh lebih baik. dari saya. Mereka mungkin sedikit lebih beruntung saja tidak ditempatkan pada keadaan saya. Jika mereka berada di ambang batas seperti saya ini, saya yakin mereka akan melakukan hal yang sama. Jadi berhentilah menceramahi saya seperti orang yang tidak pernah diajarkan pendidikan agama sewaktu kecil. Judgement yang anda berikan tidak akan membuat saya jauh lebih baik. Saya menghargai keyakinan anda pada tuhan, dan anda-pun harus respek terhadap keyakinan saya. Agama dan Tuhan, tidak pernah ada pemaksaan. Semua orang bebas memilih jalannya masih-masing, berikut konsekuensi sesudahnya. Konsekuensi ditanggung masing-masing, tidak ada hubungannya dengan orang lain.

Dulu saya paling senang berdoa. Hampir tak ada langkah tanpa doa. Saya hapal berbagai jenis doa yang saya yakin anda tidak pernah tau. Jujur saya, saat kehampaan besar menyerang saya dari segala arah, doa-doa itu selalu menguatkan saya. Saya yakin, tak ada kesedihan selamanya, dan tak ada kebahagiaan selamanya. Semua ada masanya. Tapi kehampaan besar itu merapuhkan saya sedikit demi sedikit, menggerogoti doa-doa saya hingga semua lenyap dari penglihatan tanpa mengangkat rasa sakit dan perih itu. Saya tak kehabisan akal, saya layangkan doa pada semua tuhan. Jujur saja, saya pernah berdoa pada Allah, Jevoah, Yesus, bahkan Budha. Saya berharap ada satu saja dari mereka yang mau membantu saya mengangkat beban kronis di pundak saya. Agar saya bisa tersenyum dan menjalani hidup saya seperti orang-orang normal lainnya. Dan tentu saja, tak satupun dari mereka mengubris doa-doa saya, sehingga doa-doa itu berubah menjadi agnotisme yang menguasai saya dan meninggalkan saya dengan lobang besar di hati saya.

Hidup seseorang tidak pernah benar-benar berakhir jika dia masih memiliki harapan. Bagi orang seperti saya, saya hidup saya sudah berakhir bertahun-tahun lalu. Periode sesudahnya hanyalah periode menunggu akhir yang sebenarnya. Saya tidak tahu kenapa saya bisa begini, atau akankah akan ada jalan lagi bagi saya untuk membangun hidup saya dari awal lagi, mengumpulkan sedikit demi sedikit harapan yang masih tersisa menjadikannya sesuatu yang mengembalikan keyakinan saya padaNya.

Saya tau, betapa saya seharusnya memiliki hidup yang sempurna, tapi dia mengacaukan semuanya begitu saja.

 

Blog Template by