Minggu, 26 Juni 2011

Rasidah dan Kesetiaan


Setia. Kesetiaan. Kamus besar bahasa indonesia bilang: Keteguhan hati. Jika saya berkuasa atas amandemen kamus besar bahasa indonesia tersebut, saya akan tambahkan “, barang langka di dunia saat ini”. Mungkin saya akan kelihatan seperti kuli bangunan tidak tamat SD yang bicara masalah politik luar negeri atau semacamnya. Bagaimana saya bisa bicara mengenai kesetiaan sedangkan saya saja sudah entah berapa lama sendiri. Tapi saya percaya, tak ada satupun kuli bangunan yang dijebloskan ke bui gara-gara bicara soal politik luar negeri.

Saya tak habis pikir dunia saat ini. Kemunafikan dan penghianatan seolah buku best seller yang bebas ditemukan di setiap toko buku. Seseorang lelaki yang bisa dibilang tiap tiga jam menulis status di jejaring sosial “kangen pacar” “kangen si bodoo” “kangen si monyet” “kangen si hantu belau bisa-bisanya berkhianat, berdua didalam taksi dengan wanita lainnya dan pergi entah kemana. Kasus kedua, seorang yang punya tunangan, melupakan janji setia yang pernah disepakati bersama hanya untuk desahan lima sepuluh menit. bahkan dengan besar hatinya bisa saja mengirimkan sms “udah makan sayang?” pada pacarnya di seberang lautan, disaat sedang bersenang-senang diatas paha pria lain. Saya tidak menjudge siapa-siapa disini, sungguh. Saya tidak berniat memojokkan siapapun. Saya akan pegang teguh prinsip saya: “semua orang bebas melakukan apa saja, asal tidak merugikan orang lain”. Jadi, tolong siapapun jangan anggap tulisan ini pelecehan. Anggap saja ini tulisan seorang kuli bangunan yang menyukai politik luar negeri, tapi tak pernah punya biaya untuk kuliah dan berujung menjadi kuli bangunan.

Mungkin karena kuli bangunan ini terlalu berharap bisa berada diatas, ikut merasakan bagaimana rasanya berpolitik luar negeri, jadi sedikit geregetan kalau melihat ada masalah politik luar negeri yang tak seharusnya terjadi malah bermekaran seperti bunga kacang di musim hujan. Si kuli bangunan ini juga sadar, seandainya dia diatas sana mungkin saja dia melakukan hal yang sama atau mungkin lebih buruk lagi. Tapi kuli bangunan tetap kuli bangunan. Biarkan saja dia yang hina itu bicara apa saja, toh politikus seperti anda-anda tidak perlu pikirkan omongannya. Toh apapun yang dia bilang takkan mengurangi jumlah uang yang masuk ke kantong anda.

Jadi izinkanlah si kuli bangunan tidak tamat sd ini bercerita apa yang dia tau tentang politik luar negeri atau dengan kata lain, seorang saya yang entah sudah berapa lama sendiri ini bercerita tentang kesetiaan. Beberapa puluh tahun yang lalu, di sebuah desa kecil di sumatera barat ada seorang wanita. Rasidah namanya. Wanita yang menikah dengan seorang pria yang dikasihinya. Zulkarnain nama si pria tampan itu. Kita mungkin bisa bayangkan kehidupan zaman limapuluhan seperti apa, tentunya tidak semudah zaman sekarang ini. Kau cukup tau pin blackberry seseorang, dan minggu depannya kau bisa saja sudah diatas ranjangnya, bersenang-senang berdua. Di zaman tanpa BB itu Rasidah hidup bersama Zulkarnain membesarkan darah daging mereka.

Kemunafikan dan pengkhianatan memang tak pandang jaman, walau bisa saya katakan semakin hari semakin buruk. Zulkarnain, tipe lelaki muda yang tak mau terikat dan menyenangi kebebasan. Terus bertualang walau menyadari sudah punya Rasidah dan buah hati mereka. Zulkarnain sering pergi dari rumah, berjudi di kedai kecil di simpang jalan, mabuk-mabukan, setelah itu bergumul dengan janda pemilik kedai dan baru pulang ke rumah saat matahari sudah tinggi seolah tak terjadi apa-apa. Rasidah tau itu semua. Kau bisa bayangkan betapa perihnya tangis seorang wanita disaat orang yang seharusnya bisa menghentikan tangisnya adalah orang yang membuatnya menangis. Rasidah sebenarnya bisa saja lari dengan lelaki lain, toh dia cantik dan banyak lelaki tuan tanah yang menyukainya. Dia bisa saja lari ke kota, bersenang-senang walau mengorbankan anak mereka. Tapi yang Rasidah tidak lakukan itu. Dia tetap pada pendiriannya, dia telah memilih dan memegang teguh itu semua. Disaat Zulkarnain tidak pernah peduli padanya, dia tetap menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya itu. Disaat Zulkarnain lebih senang menghabiskan waktu dengan wanita lain di kedai-kedai perjudian, Rasidah tetap mencurahkan perhatian pada suaminya itu, berharap suatu saat ia bisa berubah. Kebanyakan dari kita pasti bilang dia bodoh, tapi saya bilang dia berpegang teguh pada prinsipnya. Menjaga harga dirinya sebagai seorang istri dan sebagai seorang wanita.

Disaat semuanya makin memburuk, tak sedikitpun niat di hati Rasidah ingin bercerai dengan suaminya itu. Dia tetap kuat, bertahan membesarkan buah hatinya sebaik yang ia bisa. Setiap hari ia turun ke sawah dan ladang yang mereka punya, menanam padi dan apapun yang bisa ditanam untuk menyekolahkan anak-anaknya. Tak hanya itu, setiap harinya ia berkeliling kampung berjualan kue yang ia buat subuh-subuh saat anak-anaknya berjalan ke sekolah yang jaraknya entah berapa kilometer. Dia yakin, usahanya tidak akan sia-sia. Dan benar saja, beberapa puluh tahun setelah itu, walaupun terpaksa menangis setiap hari karena ulah suaminya, keberhasilannya sebagai wanita dan sebagai ibu bisa kita lihat. Tak satupun dari anaknya harus berpanas-panas setiap hari di sawah untuk mencari sesuap nasi. Semua anak-anaknya hidup layak kini. Disanalah kekuatan kesetiaan. Bisa kita bayangkan jika Rasidah waktu itu memilih lari dengan lelaki lain. Ikut bersenang-senang seperti yang Zulkarnain lakukan. Akan seperti apakah nasib anak-anak mereka? Keteguhan hati seorang Rasidah-lah yang sulit sekali kita jumpai saat ini.

Hingga akhirnya Rasidah meninggal beberapa belas tahun yang lalu karena usianya yang renta dan tubuhnya yang ringkih karena terlalu keras bekerja. Walaupun ia pergi tanpa satu tetes air mata-pun dari Zulkarnain. Saya melihat Rasidah pergi dengan senyuman di wajahnya. Senyuman bangga karena selama puluhan tahun menjaga kesetiaannya pada Zulkarnain dan pada anak-anak mereka. Saya mengecup keningnya untuk terakhir kalinya waktu itu. Saya menggenggam tangan dinginnya dan berjanji dia akan selalu hidup dalam hati saya. Saya kemudian menatap wajah ayah saya. Ada kesedihan dan juga kebanggaan luar biasa disana. Kebanggaan punya sosok seorang ibu yang bertahan pada kesetiaan sampai akhir nafasnya. Meskipun Zulkarnain sekarang sudah beristri lagi, saya yakin diatas sana, Rasidah, nenek saya, tersenyum melihat anak-anaknya yang hidup layak dan cucu-cucunya yang beranjak dewasa.

Itulah Rasidah. Wanita luar biasa, idola saya. Meski saya sudah lama tidak tidur memeluk tubuh ringkihnya, ia mengajarkan banyak hal tentang kesetiaan bagi saya. Itulah sampai sekarang kenapa si kuli bangunan ini suka geregetan melihat masalah politik luar negeri yang tak seharusnya terjadi malah bermekaran seperti bunga kacang di musim hujan.

Sekarang, beberapa puluh tahun setelah kepergiannya. Saya terpaksa menerima mentah-mentah kalau kesetiaan seperti yang dipegang teguh Rasidah sudah seperti padi di musim paceklik. Seseorang bebas saja berpindah ke lain hati disaat tengah berada di hati yang satu. Seorang gadis yang sudah punya tunangan bebas saja menghabiskan malam dengan lelaki lain disaat tunangannya, di seberang lautan, bekerja keras mengumpulkan uang untuk membeli rumah saat mereka menikah nanti. Seorang pria dalam pendidikan, jauh dari kekasih, dengan senang hati berbagi tempat tidur dengan wanita lain. Mengorbankan cinta yang dibangun bertahun-tahun cuma untuk desahan lima sepuluh menit. Sedih ya. Itulah yang dirasakan seorang kuli bangunan yang tidak pernah punya kesempatan untuk berkecimplung dalam politik luar negeri.

Tapi kuli bangunan tetap kuli bangunan. Tak ada omongannya yang benar-benar harus didengarkan. Begitu pula saya, pria single ini, tak semua omongan saya perlu didengarkan. Saya tidak berniat menggurui siapa-siapa disini maka ambilah yang perlu didengarkan dan abaikan saja jika tak perlu. Biarkanlah si kuli bangunan ini percaya dengan apa yang ia yakini. Mencari sosok Rasidah masa kini, untuk bersama-sama membesarkan anak-anak kami, dan mengajarkan pada mereka apa makna kesetiaan sesungguhnya yang pernah Rasidah ajarkan pada saya.




okay. sepertinya saya baru saja mangacaukan janji saya ga bakal online dulu sampai tanggal 4 juli. sepertinya saya nggak bisa berhenti menulis. gerah banget kalo yang ada di ini otak nggak dikeluarin. saya berhenti bentar buat post ini tulisan. tulisan yang saya bikin satu jam yang lalu karena melihat realita yang terjadi tadi siang. saya ga bisa lama-lama. blogwalking back juga bales2 komennya ntar kalau udah selesai ujian ya. gonna miss yu alot. muach muach.

12 blabla(s):

Enno mengatakan...

hihihi...
makanya aku heran liat blogroll td...wah ada post baru dri hans!

nulis aja klo emang pengen nulis...
itu kan jg obat stres dr keruwetan belajar...

met blajar lagi yaaa...

:D

gloriaputri mengatakan...

huahahhahaa.....aq syok baca list blogroll ada hans update...xixixixixii

iru nenek kamu ya hans? keren bgt iq..aq aja blm karuan bisa kayak begitu, nangis aq baca ceritanya :')

betewe, km tb2 inget nenek km knp hans? ada yg selingkuh yaa? trus km kenal orgnya? hohohohohoho

rona-nauli mengatakan...

saya prihatin dan lega membaca tulisan ini.

prihatin, krn sepertinya saya bisa meraba kira2 realita apa yg mendasari tulisan ini. sama tdk ya dengan yg saya temui juga? rasanya sedih, muak dan sedikit (atau banyak?) membuat saya hilang harapan...

lega, krn ternyata masih ada (dan semoga masih banyak)yang meyakini kesetiaan seorang Rasidah...:)

salam kenal, hans :)

Wuri SweetY mengatakan...

Dan akhirnya Hans harus kembali belajar biar ga jadi kuli bangunan.
(nyambung ga ya???) hihihi

Nindya Resha Pramesti mengatakan...

hey, i have a same sad story. visit me back :D after july 4th :p

phie mengatakan...

keren..

hana tsurayya mengatakan...

makin lama bahasamu mirip sastrawan hans, keren!

Hans Brownsound ツ mengatakan...

enno:
i had good times enn!
yey yey. menulis selagi bisa menulis.
kalo mati, ga bisa nulis lagi.

Hans Brownsound ツ mengatakan...

glo: iya glo. ada temen. anaknya sok setia banget. eh dibelakang main2. kesel aku liatnya.

Hans Brownsound ツ mengatakan...

rona: hei. senang kau disini.
salam kenal ^_^

Hans Brownsound ツ mengatakan...

wury: hahaha. banget wur! :D

Hans Brownsound ツ mengatakan...

nindya: oke dek ^___^

 

Blog Template by