Jumat, 16 September 2011

Cin


Kerap aku bayangkan kau masih ada. Masih tertawa mendengar ejekanku. Masih mengirimkan sms dengan kata-kata “Cin”-mu. Masih bertanya-tanya padaku bagaimana cara menyelamatkan hidup. Masih mengajakku jalan dengan tatapan kosongmu. Seperti dulu. Tapi yang tersisa kini hanya kenangan yang memaksa otakku bekerja dua kali lipat dan melumat hari-hariku menjadi kacau berantakan.

Masih jelas dalam ingatanku, bagaimana kata-kata dalam sms-mu mampu membuatku tersenyum dan membuat jam-jam tanpamu terasa sangat panjang. Aku tak tahu, apakah ini cinta, atau bukan. Karena pada dasarnya, aku tak pernah mengerti apa arti cinta sebenarnya. Tapi sejujurnya, aku sangat menikmati saat-saat bersamamu. Detik-detik bersamamu sangat berharga, sehingga aku tak mau menukarnya dengan apapun. Kedatanganmu dalam hidupku bagaikan hujan yang menghapus kemarau bertahun di gurun pasirku. Menumbuhkan benih-benih semangat yang hilang dengan merajanya kepedihan yang mengurat mengakar. Mengalahkan kesepian dan kesendirian, sehingga tumbang dalam celah-celah bahagia yang perlahan muncul.

Hari itu, kita berbaring sambil mendengarkan suara air bendungan yang deras. Kau bilang padaku kau akan taklukkan rinjani. Dan aku pegang bahumu dan bilang kau takkan kesana sendiri. Kau tersenyum dan menanyakan keseriusanku. Aku membalas senyummu dan berkata, 'sejak kapan aku tidak serius'. Lima detik kita diam, seolah menikmati sepi yang tiba-tiba melesat di udara. Kau tersenyum, aku tersenyum, seolah senyum adalah satu-satunya bahasa yang bisa memahami perbedaan diantara kita. Lima detik selanjutnya kau berteriak, bertanya sekuat tenaga pada tuhanmu kapan hidup akan memperlakukanmu dengan baik. Kau tak tau, dibelakangmu saat itu, aku juga bertanya hal yang sama. Pada tuhanku tentunya. Masalah-masalah kita menjadikan kita satu tim yang berdiri pada kubu yang sama, saling mendukung satu sama lain.

Hari selanjutnya, aku beritahu kau kalau aku berencana menghabiskan cuti natal desember nanti di singapura. Berjalan, mencoba memahami makna hidup yang sebenarnya. Kau dan aku tau, kalau berjalan adalah satu-satunya cara bagiku untuk merasa hidup. Untuk memastikan aku tidak mati dalam siklus amarah yang aku jalani setiap hari. Tanpa pikir panjang kau langsung bilang, kau ikut. Kau membuatku tercengang saat kau lebih memilih bersamaku daripada menghias pohon natal bersama keluargamu. Saat kutanyakan keseriusanmu, kau membalasku dengan kata-kata ‘sejak kapan aku tidak serius’. Kau membuatku tersenyum. Senyuman yang kini aku sadari tak berlangsung lama.

Kau juga bilang padaku. Dimana tuhan? Apa yang ia lakukan sekarang? Dan aku menjawab pelan “aku tak tau”. Kau tersenyum dan berkata “kalau begitu, aku ingin mencoba tuhanmu”. Aku tertawa, ide-idemu selalu gila. “atau kau yang coba tuhanku? Atau mungkin kita berdua perlu cari tuhan baru?” tambahmu. Aku mengacak rambutmu pelan. Dan sepi kembali menguasai. Kita kembali terkubur dengan pikiran kita masing-masing, berselancar di dunia hampa yang hitam kelam tak ada habisnya. Kosong matamu seolah jadi jawaban setiap pertanyaan kita.

Sampai tiba malam itu. Sudah cukup lama rasanya aku mengeram kesedihan, kesepian dan sudah menahun rasanya luka yang tak kunjung sembuh bahkan makin menganga hebat. Hadirmu yang sesaat mampu mengusir kabut yang memenjara otak dan hatiku entah berapa lama. Kita terlalu larut dalam pikiran kita masing-masing, tanpa sadar kita terjebak dalam bencana yang terjadi terlalu dini. Kita terperangkap, bukan barang biasa. Kita terlalu menikmati perangkap yang akhirnya menjadi bumerang yang menghancurkan tiap inci dari kisah sederhana kita. Membuat rinjani terlalu tinggi untuk didaki. Membuat singapura terlalu jauh bagi kaki kita. Denyut-denyut hangat yang memaksa kita mengakhiri cerita pendek ini.

Seharusnya tak boleh ada pelukan rapat malam itu, sehingga tak perlu tersisa penyesalan saat harus menghadirkan jarak diantara kita. Aku seperti anak hilang tanpamu, kau sadar itu? Tak seharusnya aku kehilanganmu dengan cara seperti ini, tak seharusnya secepat ini. Dan kini dunia yang aku tinggali terasa beberapa kali lebih sempit dan menyudutkanku dalam lingkaran sesal yang menyerangku membabi buta. Kau tak hanya meninggalkanku, tapi juga menambah koleksi luka pada galeriku. Kita terlalu mengalah pada rasa benci sampai kecewa memegang kuasa atas rongga-rongga otak kita dan pada hatimu yang perlahan mati. Kau hilang tanpa bekas, hingga tak satupun tempat bisa kutemukan mata kosongmu. Dan aku terus mencarimu, mencari dimana tuhan sembunyikan hatimu. Terlalu jauh ia hilang, sampai tanggal-tanggal kita semakin tua dimakan rayap. Mungkin aku yang terlalu berani, atau kau terlalu luar biasa untuk disebut seorang pengecut.

Aku mengalah, aku benar sadari aku tak berhak memaksamu tetap tinggal. Aku tak berhak apa-apa atas hidupmu. Dan disini, aku masih berharap di belahan bumi manapun kau berada kini, masih ada sesudut rindu untukku, untuk kisah kita yang sederhana. Aku masih selalu berharap tuhanmu, tuhanku, atau tuhan yang lain akan berbaik hati merubah sedikit skenario pada roman dadakan ini. Menyelesaikan prahara atau mungkin sedikit memperbaiki letak matahari kita. Agar dapat lagi kudengar suara bendungan di matamu yang kosong.

Taukah kau cin, aku seperti anak hilang tanpamu.

18 blabla(s):

FeraSuliyanto mengatakan...

oh oh. I love this story. bener2 terhanyut. untuk "aku yg hilang karena cin": be strong. the only way to through out all of the hardest things is just keep trying to stand up.
Be cheerful yaa "aku yg hilang karena cin" *tepuk2pundak* ^___^

l i t a mengatakan...

Wow, Hans!

Hans Brownsound ツ mengatakan...

fera: hahaha. sipsipsip
lita: wow wow :p

Wuri SweetY mengatakan...

I enjoy this story...
"Taukah kau cin, aku seperti anak hilang tanpamu."
(koq gw merasakan spt ini jg ya kadang2...)
*peyuk* (boleh ga ya :D)

Hans Brownsound ツ mengatakan...

boleh dong.
sini peluk peluk. hehehe
:D

Inggit Inggit Semut mengatakan...

ini asli gak mas? kalo asli, grrrrrrr aku cemburrrrrrruuu!!!!

Lia mengatakan...

ciw hanss, ciee, tp bener kadang ngerasa gitu juga, cuman kalo lgi sibuk kuliah gini, boro2 deh, bahasa dewa macem gini keluar kalo lgi galau sih :P

aniwei,, *tarik mbak wuri* berpelukaaann XD

Fitri 'A mengatakan...

sulit difahami karena ketidak dalamannya pemahamanku *bershower*

tapi setelah baca tiga kali *serius* akhirnya ngerti..

Bagus Hans!!

arik mengatakan...

Wonderful.

Hans Brownsound ツ mengatakan...

inggit: :P HAHAHAHA :P
lia: 'bahasa dewa'?? hahaha

Hans Brownsound ツ mengatakan...

fitri n arik: thaaaanks :)

Senjana Jingga mengatakan...

membaca postinganmu hari ini membuat aku tiba-tiba pengen baca cerpennya dee lestari yang peluk, berikut lagunya juga dengan judul yang sama.

Hayfa Qanita mengatakan...

ini kisah nyata ? wohooo (y) mantab!

Hayfa Qanita mengatakan...

OMG, br sadar lo sama dia beda agama toh .. ckck .. sabar ya hans =))

Hans Brownsound ツ mengatakan...

@ica: wah2, jadi pengen baca :)
@hayfa: :(

Anita L. Dewi, S.Gz mengatakan...

Wuah, Bali memang oke ya..
Jadi inget masa2 liburan dsana bareng teman2 SMA (^.^)

Salam
Makara for Healthy Life
http://makara393.blogspot.com

Hans Brownsound ツ mengatakan...

@Anita: wah, komennya salah tempat, hehehe

ika mengatakan...

kata demi kata memiliki arti yang sangat dalam.. terharu..T_T
oya, salam kenal ya..:)

 

Blog Template by