Senin, 26 September 2011

Kampung Dayak Pampang, Samarinda

Saya ngakak gila waktu baca postingan mbak triniti tentang kampung Pampang di samarinda, check disini, karena yang dia alami sama banget dengan saya. Hari ketiga di Samarinda saya diajak Yudha mengunjungi kampung Pampang, kampungnya orang dayak. Saya udah lama banget sebenernya terobsesi sama suku dayak. Pengen liat kehidupan tradisionalnya, wanita-wanitanya yang punya telinga panjang, dan of course tatonya! Lulus SMA dulu, saya pernah rencana bikin tatoo di belakang telinga, tapi nggak diijinin bonyok. Makanya obsesinya makin menjadi-jadi.

Kampung Dayak Pampang terletak di Sungai Siring, Samarinda Utara, kira-kira 40 km dari pusat kota Samarinda. Kampung ini bisa dibilang satu-satunya kampung tradisional suku dayak di Samarinda, karena memang suku dayak lebih banyak tinggal di pedalaman. Yudha pernah mengunjungi suku dayak asli yang samasekali belum tersentuh modernitas di pedalaman kalimantan timur. Jika mau kesana, harus siap naik perahu melewati sungai yang banyak buayanya selama 2 hari. Kalo saya nggak kuat deh. Ngeliat buaya di museum kayu aja udah bikin saya merinding, apalagi harus jalan bareng buaya selama 2 hari, bisa serangan jantung saya!


the rumah lamin


beberapa sudut, tangga kayu, dan pahatan


some beautiful carving


the nini dan the aki lagi pacaran

Saya dan Yudha berangkat pagi-pagi, sekitar jam 9-an soalnya abis dari kampung dayak, kami rencananya mau nonton orangutan di kebun raya samarinda. Setelah setengah jam lewat jalan darat akhirnya kami nyampe di kampung suku Dayak Kenyah ini. Memasuki desanya saya bisa lihat rumah tradisional dayak yang banyak ukiran-ukirannya, walaupun nggak bisa dipungkiri udah tersentuh modernitas. Kami berhenti di Balai Desa Rumah Lamin yang parkirannya udah dipasangin paving block. Waaa! Akhirnya untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di perkampungan suku dayak.

Saya dan Yudha langsung naik ke Balai desanya melewati tangga tradisional yang dibuat dari kayu. Saya takjub banget! Dinding-dinding balainya dihias dengan ukiran burung enggang dan tanaman liar, cakep banget. Balainya nggak terlalu besar, diisi kursi panjang kaya di gereja. Tiap hari minggu, jam dua sampai jam empat sore biasanya ada pertunjukan tari-tarian adat. Lagi asik ngeliat-liat, tiba-tiba saya didatengin anak-anak berpakaian adat Dayak. Lucu-lucu banget, kulitnya putih bersih, matanya bulat dan telinganya nggak panjang. Mereka nanya saya, “mau foto bareng gak kak?”. Ya otomatis saya mau dong. Kesempatan langka banget foto-foto sama anak-anak suku eksotis. Saya langsung minta tolong Yudha buat jeprat jepret.

Abis foto-foto sama si adek, nenek sama kakek yang juga pake pakaian adat deketin saya, nanyain pertanyaan sama. Yaudah, saya langsung foto-foto. Sampai-sampai salempang dari manik-manik itu si nenek kalungin di leher saya. Saya langsung ngeliat ke telinganya nenek. Dan ternyata telinganya panjang! Digantungi sama anting-anting ya gede banget. Saya ngeliatinnya lama banget, sampai akhirnya saya sadar kalo telinga itu ternyata telinga palsu. Saya langsung nanya sama si neneknya, dan ternyata telinga asli si nenek udah putus, nggak bisa digantungin anting lagi, ya jadinya pakai telinga palsu itu. Dalam tradisi dayak, wanita dari golongan bangsawan pada ulangtahun pertama telinganya diberi anting-anting besar, dan tiap ulangtahun selanjutnya ditambah satu. Jadi kalau wanita bangsawan yang umurnya 60 tahun, ya berarti jumlah antingnya juga 60. Bayangin gimana beratnya.

Dalam tradisi dayak, semakin besar dan panjang telinga seorang wanita, maka makin cantiklah dia. Tapi seiring berjalannya waktu, gadis-gadis muda dayak udah nggak suka lagi punya telinga panjang, karena dianggap ketinggalan jaman, bahkan menurut beberapa sumber yang saya baca, anak-anak dayak malu kalau ada diantara keluarganya yang telinganya panjang. Ternyata modernisasi emang udah masuk kemana-mana ya, bahkan sampai ke kampung setradisional Pampang. Sekarang yang bertelinga panjang hanya nenek-nenek berumur 60 keatas. Bisa dipastikan, beberapa puluh tahun kedepan tradisi ini bakalan punah.

Suku dayak terkenal banget pinter dalam mengukir, berburu dan menenun. Di pojokan ada stand souvenir yang dijaga sama ibu-ibu. Semua souvenirnya ternyata buatan sendiri, pas saya nanya-nanya si ibu lagi sibuk bikin gelang dari biji-bijian. Di standnya ternyata nggak cuma kerajinan tangan, tetapi ada juga hasil buruan, kayak cula babi, gigi beruang, dan yang paling asoy minyak buaya yang katanya bisa bikin lelaki kuat di ranjang. HAHA. Saya beli satu gelang dari biji-bijian yang pas saya nyampe dirumah langsung disita nyokap.

Abis motret-motret, saya ngajak Yudha keliling-keliling kampung. Eh, tiba-tiba anak-anak yang tadi nyamperin saya. “Om, bayar dulu!”. Saya langsung bengong. “Bayar buat apa”. Si Anak perempuan paling gede bilang “Buat foto-foto tadi. Tadi kan foto-foto, semuanya 300 ribu. Nenek sama kakek juga 300 ribu”. Saya dan Yudha langsung mlongo. “Loh kok? Kan cuma motret-motret doang dek?”. Muka anak-anak yang lucu tadi berubah jadi sangar banget, trus dia bilang “Iya, tapi bayar! 300 ribu!”, yang lain ikutan ngerubungi saya. Eh bukan itu aja, si kakek nenek tadi juga nggak mau kalah. Daripada disumpit, pulang tinggal nama, saya ngeluarin seratus lima puluh ribu, karena emang saya nggak bawa uang banyak. Saya kasi si Nenek 50 rebu, si Kakek 50 rebu dan anak-anak itu 50 rebu. Si Kakek Nenek nerima trus pergi, lah anak-anak yang sangar ini nggak mau terima. Dia bilang “Masak foto segitu banyak 50 ribu, dibagi pula”. “Ya tapi saya bawa duit cuma segitu. Mau nggak nih? Kalo nggak saya simpan lagi duitnya”. Si cewek ketua geng langsung nyambar 50 ribuan itu dari tangan saya dan pergi sambil ngedumel, pasukannya ngikutin dari belakang, nggak kalah dumelnya.

Buset. Anak-anak jaman sekarang ya. Mau di kota mau di desa sama aja matrenya. Masa saya foto-foto doang harus bayar 600 ribu. Pake kamera pocket pula. Pake kamera sendiri pula! Kacau deh pariwisata Indonesia kalo begini ceritanya. Saya jamin deh, turis nggak bakal dua kali mengunjungi Kampung Pampang kalo kunjungan pertama aja udah dipalak habis-habisan kaya gini, sama anak kecil pula! Wajah mereka yang imut-imut itu langsung berubah sangar dan agresif waktu minta uang. Tapi nggak bisa disalahin anak-anaknya sih ya, pasti ada orang-orang gede yang jadi sponsor dibelakang.

Abis diperas gitu, saya jadi males. Awalnya saya pengen keliling-keliling kampung buat motret-motret. Abis diperas, langsung hilang selera. Kalau menurut saya, nggak seharusnya komersialisasi budaya sampai segitunya. Wajar sih, kalau orang-orang yang jadi objek wisata menerima tip, tapi jangan sampai segila itu doong. Masa foto-foto doang harus bayar 600 rebu. Mudah-mudahan dinas pariwisata Samarinda bisa tanggap yah. Nggak saya dan mbak Triniti doang yang ngeluh karena ‘dipalak’ waktu ke Pampang, tapi blogger-blogger lain juga banyak. Cek deh di mbah google.

saya dan anak-anak dayak yang 'lucu-lucu'


me, aki dan nini dayak


look, what a cute toddler,
some souvenirs

top: kayu anti racun dan minyak buaya
bottom: cula babi


gelang yang coklat, gelang biji saya beli di pampang
atasnya gelang saya beli pas di tanatoraja


Dari Kampung Pampang saya langsung balik ke rumah Yudha, karena ternyata kebun raya samarinda tutup di hari jum’at. Perjalanan dilanjutkan sore hari ke Islamic Center.


Information Corner - Kampung Dayak Pampang
Location: Sungai Siring, North Samarinda
(about 45 from Samarinda, 4 hours from Sepinggan Int. Airport)

Website: -
Open: Everyday 08.00am-18.00pm, Dance performance every sunday
$: Free! IDR 25.000/pictures you take
Contact: -
Best Time to Visit: Sunday, before dance performance



12 blabla(s):

Latifah Ratih mengatakan...

wah....wah..kirain beli minyak buayanya....he he

wah bahaya nih anak - anak dayak yah... masih pada kecil - kecil githu juga.... gimaana gede'x?

dhenok02 mengatakan...

jadi gk pengen kesana Hans, hahahaha.. tapi setidaknya ini kan jadi pelajaran buat kamu, biar besok2 lebih hati2 lagi.. serem juga yaa, dipalak di daerah orang..

btw, gelang kamu bagus tu.. mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.. :D

BaS mengatakan...

serius bayar buat foto?? gila!

matiin pariwisata sendiri itu namanya...ckckckck

aqsha mengatakan...

wah mari kita lestarika budaya bangsa

Hans Brownsound ツ mengatakan...

latifah: hahaha. belum waktunya beli minyak buaya. haha. iya, parah banget ya?

dhenok: mau? datang ke pampang. hehehehe :D

bas: iya. bayar, gila banget ya.

Senjana Jingga mengatakan...

wuahhhh..nga deh, Hans. kalau aku udah tak kemplang aja anak-anak sama kakek-neneknya. Perang sumpit, perang sumpit dah....hahaha.

*terkena sindrom belum gajian jadi pelit dan sensitif kalau ada yang sembarang minta duit*

Ervina Lutfi mengatakan...

selalu bikin envy tiap baca postingannya.. jalan-jalan mulu, gue jegrak di semarang aargghh! kapan libur? kapan ?! kapannn!?!? *garuk garuk aspal*

Gogo Caroselle mengatakan...

kayanya diantara semua tempat yang uda kamu jalanin, ini fav aku lo hans..

ttg foto bayar itu, mirip sama di perapat, kalo mau foto juga harus bayar.. aneh ya.. :)

Fitri 'A mengatakan...

tertarik dengan cerita telinga perempuan yang panjang :D

katanya dari sejak kecil dipasangin anting-anting yang berat ya?

Anita L. Dewi, S.Gz mengatakan...

hah? 600 ribu?
mahal amat,,,
cuma bisa bawa oleh2 foto kalo gitu,,,
hehehehe

Salam
Makara for Healthy Life
http://makara393.blogspot.com/2011/09/kuliner-unik-tak-ada-pisang-kulit.html#axzz1Zj77x4ey

Hans Brownsound ツ mengatakan...

@ica: set dah. lebih galak km drpada anak-anaknya. haha

@ervina: nabung nabung nabung! :D

@fitri: loh? itu kan ada aku cerita di postnya. :P

Viot mengatakan...

bukan slh mereka, lebih ke org2 yg "dibelakangnya" klo mnrut sya...

di tmpt sya org Dayak ga malak, dan ga smbrngn jg main perang sumpit.
tp sya telinganya ga pnjg uda,haha...

 

Blog Template by