Jumat, 11 November 2011

yubileum kesendirian


Disinilah aku berada sekarang. Di lantai tiga sebuah kafe lama, meja keempat, menghadap ke jendela. Aku menggesekkan kedua belah tanganku, mencoba mencari kehangatan. Aroma dari kopi panasku mengepul, sepertinya sekarang sudah agak dingin. Terlalu lama aku diamkan, sementara pikiranku melayang-layang jauh. entah apa saja yang aku pikirkan.

Sedikit melongok ke luar jendela. Hujan turun beberapa saat yang lalu. Hiruk pikuk dibawah sana, orang-orang berlari mencari tempat berteduh, beberapa lainnya mengeluarkan payung dari ransel mereka, berjalan berdua, berpasangan, berpegangan tangan. Tak jauh beda dengan yang ada di dalam sini. Pria wanita duduk berhadapan dengan senyum mengembang dan sesekali berpegangan tangan, seolah dingin tak menjadi musuh bagi mereka. Pandanganku beralih pada meja yang kadang kurasa terlalu lebar untukku sendiri. Terlalu sering rasanya aku menghabiskan waktu dengan secangkir kopi dan beberapa lapis pancake kacang. Ya, kami bertiga, jadi mengapa aku tetap merasa sendiri?

Aku selalu saja mencari cara untuk berpura-pura tidak merasa sendiri. Padahal disini, di hati ini sepi selalu saja mengisi. Untuk saat ini, setidaknya, aku bisa mengusir si sepi itu dengan memainkan ujung jari telunjukku di kaca jendela berkabut ini. Membuat garis-garis abstrak, berharap ia bisa menemani kami, ya, aku, kopi dan pancake ini. Setelah puas bermain-main, kuhapus garis-garis abstrak itu, sedikit menghentikan kekonyolanku malam ini. Sekarang kulingkarkan kedua tanganku di dada, berharap dingin berhenti mengusik ketenangan.

Kembali melongok ke luar jendela, hujan masih deras, belum ada tanda-tanda akan berhenti. Aku selalu suka hujan. Ia selalu datang dengan ketenangan. Bunyinya yang berirama, dengan tempo teratur dan suara lembutnya ketika menyentuh tanah, menghadirkan ketenangan pasti yang hanya bisa kurasakan sesekali. Ia selalu bisa menenangkan hari burukku di kantor. Tak lagi kupikirkan tumpukan kertas-kertas yang harus dicek satu per satu ataupun omelan atasan yang selalu merasa berkuasa atas hidupku, biar semuanya hilang bersama turunnya titik-titik air dari atas genteng.

Kemudian terlintas ide gila, cukup konyol untuk dilakukan. Bagaimana jika malam ini aku, kopi, dan pancake merayakan yubileum kesendirianku yang sudah sekian lama ini. Sudah lama aku tak berpesta, kenapa tidak malam ini saja? Kuputuskan memesan beberapa potong pancake dan secangkir koti hitam panas lagi, menggenapi pesta sederhana ini. Tak ada sampanye, beer, ataupun cocktail. ini hanya pesta kecil-kecilan, lagi pula seseorang pernah bilang padaku kalau alkohol tak baik bagi kesehatan. Tak ada musik menghentak-hentak, hanya ada irama hujan yang mengalir mengisi kekosongan. Musik alam yang tak bisa dihadirkan dalam bentuk not balok manapun. Kuhadirkan beberapa teman-teman imaji, menambah meriah ruangan ini. Yang jelas, kenangan tak kuundang. Ia hanya akan membuat pesta pertengahan november ini menjadi romansa berbalut duka cita. Aku tak suka.

Tapi kenangan memang selalu seperti tamu tak diundang. Dia bisa masuk dari celah mana saja, dari cangkir kopi, dari jendela tua ini, dari dinding-dinding yang dingin, bahkan kadang ia menyelinap masuk dari hatiku yang lembab. Takkan kupedulikan lagi dia, aku berhak untuk bersenang-senang tanpa memikirkannya, setidaknya untuk malam ini. Jadi, dengan besar hati kubiarkan ia hadir di pesta kecil ini. Selagi dia tak mengacaukan malam ini, siapa peduli. Kuangkat cangkir kopi dan bersulanglah aku dengan si sepi, menikmati derai rintik hujan yang menari-nari di luar jendela. Pesta memang selalu menyenangkan, tak ada ruang buat kesedihan. Lihatlah, kopi, pancake dan beberapa teman imajiku, mereka tampak bahagia malam ini.

Dua jam berlalu. Nada-nada hujan mulai berhenti dan sampailah kami pada lagu penutup malam ini. Kopi dan pancake sudah hilang, sepertinya mereka pulang duluan. Teman –teman imaji satu persatu pamit mengikuti pasangan-pasangan bahagia yang keluar lebih dahulu. Kini ruangan ini menjadi senyap, cuma beberapa pramusaji sibuk merapikan meja dan mengumpulkan cangkir-cangkir kopi. Tak ada pelukan memang, tapi tak masalah. Kehadiran tamu-tamu spesial di pestaku cukup membuatku hangat. Sungguh yang aku inginkan hanyalah untuk berhenti merasa sendiri.

Kurapikan tas kerjaku, siap-siap angkat kaki. Pertunjukan selesai, kini saatnya pulang. Kuletakkan beberapa lembar rupiah diatas meja sebagai ungkapan terimakasih telah mengizinkan aku mengadakan pesta dadakan di ruangan ini. Kakiku melangkah pelan-pelan, melewati jalan yang becek. Tak ada suara lain kudengar selain suara tapak sepatu dan tas yang bergesekan dengan baju hangatku. Perlahan kutatap langit, cerah, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Dan pastilah sekarang, takkan ada pesta lagi malam ini. Pesta sudah benar-benar berakhir. Kemudian aku berjalan, berjalan, dan berjalan. berharap kenangan, si tamu tak diundang, tak memburu dari belakang.

16 blabla(s):

Nindya Resha Pramesti mengatakan...

sendiri emang nggak enak. Kesendirian yang terlalu lama, kadang justru membuat saya merasa kesendirian itu adalah bagian dari hidup saya yang tidak bisa dipisahkan dari saya dengan cara apapun.

Enno mengatakan...

ngerti banget perasaan ini....klo aku plus plus hati yg patahnya parah...

*halaaah*

ehehehe btw ini tulisannya bagus, tauk!
coba bikin cerpen gih!

:P

cimot mengatakan...

setuju ama ennoooo!! :p

Dania Adela mengatakan...

masih bingung kemanakah sang pancake dan kopi pulang? pasti ke suatu tempat indah bernama perut, hehe ^^V

Kei mengatakan...

"Aku selalu saja mencari cara untuk berpura-pura tidak merasa sendiri. Padahal disini, di hati ini sepi selalu saja mengisi".

I feel you.
sometimes there's a lot people around me but I feel so lonely.

bagus entry ini *thumbs up*

mahatrywan fhony mengatakan...

Kali ini saya LARUT!!
Perfect!

Gloria Putri mengatakan...

lahhh...itu kopinya sama pancake nya pulang ke dalam perut hans :p

koq ga bilang2 bikin pesta kesendirian? tau gt aku ikutan :D nanti kita ngejam
#ngacooo

bedewe, hans, tulisannya bagus...bangettt, aq sampe melongo bacanya :)
bisa aja suasana cafe ditulis jd bagus gn...ckckckckk

Lia mengatakan...

tulisannya bagus hans. hihi, jadi pengen kopas
:P
#kabuurrr

eh, hans, kok sendirian aja sih, kenapa ga ngajak2 makan pancake di kafe? :P

JejakShally mengatakan...

kadang hujan bikin kita larut di kedamaian, tapi aku selalu benci hujan ketika dia membuat embun dikaca jendela, karena disana akan muncul kenangan kenangan yang udah disusun rapi...

ohh ya ijin pasang banner nya yaa :)

Gogo Caroselle mengatakan...

Nice one, hansy.. :)
Come to batam, entar ditemenin biar ga sepi lagi... ;)

Rai-chan mengatakan...

tamu yg ga diundang itu seseorang dari masa lalu kah ;)

Winnie mengatakan...

nice post :)
anyway, thanks ya dah berkunjung ke blogku ... ayo main ke Jerman, ntar ditemani deh ..haha

achie mengatakan...

hmm.. deskripsi yang.. cantik..

sepi yah? duduk disampingku sini. akan ku ceritakan tentang ramainya pasar malam. mata bulat penuh binar. dan.. secangkir cokelat panas.

terimakasih sudah mampir. :)

Hayfa Qanita mengatakan...

hashhh perfect ! tulisan lo keren ..

Hans Brownsound ツ mengatakan...

nindya : :)
enno : thanks ennooo :*
cimot : thanks cimot :D
dania: where else dear? haha.
kei: thanks kei :D
rama: thanks :D

Hans Brownsound ツ mengatakan...

glo: thanks my glooo :*
lia: sayang, undangannya terbatas li. hehe :D
gogo: really? desember ini cuti loh *langsung nyari tiket*
shally: thanks shally!
rai: mmmm, i dont know. hehe
winnie: asik, diajakin ke jerman. hehehe :D
achie: okaaay :D
ipeh: thanks kunyuk!

 

Blog Template by