Sabtu, 03 Desember 2011

Resensi: Eat Pray Love

Judul: Eat Pray Love
Penulis: Elizabeth Gilbert
Genre: Novel Terjemahan
Tebal: 402 Halaman
Penerbit: Dinastindo
Tahun terbit: 2007

Elizabeth Gilbert, memasuki usia tiga puluh tahun, dia punya apapun yang wanita Amerika impikan, suami yang mencintainya, rumah yang megah di Manhattan, dan karir yang cemerlang. Namun semua itu tak membuatnya bahagia, ia justru terpuruk dalam kecemasan, kegelisahan, kepanikan dan kesedihan yang tak berujung. Ia memutuskan bercerai dengan suaminya, satu perceraian yang sangat panjang dan melelahkan. Beth yang kalut, menyelesaikan babak perceraiannya dan kemudian menjalin cinta dengan lelaki lain yang ia kenal saat menonton pertunjukan drama, David. Hubungannya dengan David yang jauh lebih muda darinya ternyata tak bertahan lama, mereka terpaksa mengakhiri hubungan mereka. Beth-pun menjadi merasa kehilangan segalanya, tak tahu lagi siapa dirinya dan apa yang harus ia lakukan untuk membuat dirinya bahagia. Ia terpaksa menghabiskan malam-malamnya dengan berbaring di lantai dan menangis.
 Di suatu ketika dalam balutan depresi yang menyiksa Beth teringat dengan ramalan dari Ketut Liyer, dukun yang ia kenal di Bali beberapa tahun lalu. Ia akan kehilangan semua uangnya dalam waktu beberapa lama dan kemudian akan mendapatkannya kembali, dan dalam hidupnya ia akan menikah dua kali, serta memiliki apapun yang orang inginkan. Dari sana Beth berniat untuk bangkit dari keterpurukannya dan memulihkan dirinya sendiri. Ia mengambil langkah radikal, untuk mengenali dan menemukan dirinya sendiri: melakukan perjalanan selama setahun seorang diri.  Beth menjual semua miliknya dan meninggalkan orang-orang yang dikasihinya, Ia memulai pencarian dirinya di tiga negara yang kebetulan sama-sama berawalan “I” yang dalam bahasa inggris berarti saya, yaitu Italia, India, dan Indonesia.
4 Bulan pertama perjalanannya ia habiskan di Italia, kota klasik yang penuh romansa. Di Italia ia belajar seni menikmati hidup. Ia belajar berbahasa Italia karena ia rasa bahasa Italia membuatnya gembira. Ia menghabiskan hari-harinya berkeliling kota dan berkenalan dengan beberapa orang lokal, satu yang menjadi favoritnya adalah Luca Spaghetty karena namanya yang unik. Beth mencoba berbagai makanan Italia yang berhasil menambah berat badannya dua puluh tiga pound. Selanjutnya ia habiskan untuk berdevosi di India dengan bantuan seorang guru lokal dan seorang Texas yang dingin namun bijaksana. Ia menghabiskan 4 bulannya untuk membenahi spiritualitasnya dengan meditasi.
 Indonesia adalah chapter terakhir dari perjalanannya. Ia kembali menemui dukun tua generasi sembilan di Bali, Ketut Liyer dan belajar banyak hal darinya. Akhirnya Liz menemukan apa tujuan hidupnya: keseimbangan. Bagaimana ia harus  membangun hidup yang seimbang antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan surgawi. Di Bali juga pada akhirnya Liz jatuh cinta dengan seorang Brazil bernama Felipe dengan cara yang indah dan tak terduga.
Eat Pray Love adalah sebuah novel riwayat hidup tentang pencarian jati diri yang jujur dan gamblang. Novel ini membawa kita menyusuri jalan panjang yang berliku dari pertanyaan-pertanyaan yang rumit dan membingungkan menyusuri jawaban demi jawaban. Membaca novel ini mampu membuat saya merasa gembira, kenapa? Karena saya seperti sedang bercermin, membaca tentang diri sendiri. Ada suatu saat dalam hidup kita dimana kita jatuh dalam kemurungan yang melelahkan dimana tak ada satu orang-pun mengerti apa yang sedang kita hadapi (atau bahkan kita sendiri tak paham apa yang sedang terjadi).  Membaca kata demi kata filosofis yang ditulis Beth secara fasih mampu membuat senyum tipis dan anggukan kecil di wajah penulis. Novel ini layak dibaca oleh penikmat novel serius dan bagi siapapun yang kehilangan harapan tentang hidup. Disini kita banyak belajar, bahwa bahagia bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat yang tidak kita duga sebelumnya. Untuk mencapai bahagia sendiri kita kadang membutuhkan pengorbanan dan perubahan besar dalam hidup kita dan pihak yang paling bertanggungjawab atas kebahagiaan kita adalah diri kita sendiri. Novel ini ada dalam New York Times Best Seller selama 110 minggu dan telah difilmkan tahun 2010 dengan judul yang sama.



Resensi ini diikutsertakan dalam kuis yang diadakan oleh Absurd Astrounot 

0 blabla(s):

 

Blog Template by