Senin, 26 September 2011

Kampung Dayak Pampang, Samarinda

Saya ngakak gila waktu baca postingan mbak triniti tentang kampung Pampang di samarinda, check disini, karena yang dia alami sama banget dengan saya. Hari ketiga di Samarinda saya diajak Yudha mengunjungi kampung Pampang, kampungnya orang dayak. Saya udah lama banget sebenernya terobsesi sama suku dayak. Pengen liat kehidupan tradisionalnya, wanita-wanitanya yang punya telinga panjang, dan of course tatonya! Lulus SMA dulu, saya pernah rencana bikin tatoo di belakang telinga, tapi nggak diijinin bonyok. Makanya obsesinya makin menjadi-jadi.

Kampung Dayak Pampang terletak di Sungai Siring, Samarinda Utara, kira-kira 40 km dari pusat kota Samarinda. Kampung ini bisa dibilang satu-satunya kampung tradisional suku dayak di Samarinda, karena memang suku dayak lebih banyak tinggal di pedalaman. Yudha pernah mengunjungi suku dayak asli yang samasekali belum tersentuh modernitas di pedalaman kalimantan timur. Jika mau kesana, harus siap naik perahu melewati sungai yang banyak buayanya selama 2 hari. Kalo saya nggak kuat deh. Ngeliat buaya di museum kayu aja udah bikin saya merinding, apalagi harus jalan bareng buaya selama 2 hari, bisa serangan jantung saya!


the rumah lamin


beberapa sudut, tangga kayu, dan pahatan


some beautiful carving


the nini dan the aki lagi pacaran

Saya dan Yudha berangkat pagi-pagi, sekitar jam 9-an soalnya abis dari kampung dayak, kami rencananya mau nonton orangutan di kebun raya samarinda. Setelah setengah jam lewat jalan darat akhirnya kami nyampe di kampung suku Dayak Kenyah ini. Memasuki desanya saya bisa lihat rumah tradisional dayak yang banyak ukiran-ukirannya, walaupun nggak bisa dipungkiri udah tersentuh modernitas. Kami berhenti di Balai Desa Rumah Lamin yang parkirannya udah dipasangin paving block. Waaa! Akhirnya untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di perkampungan suku dayak.

Saya dan Yudha langsung naik ke Balai desanya melewati tangga tradisional yang dibuat dari kayu. Saya takjub banget! Dinding-dinding balainya dihias dengan ukiran burung enggang dan tanaman liar, cakep banget. Balainya nggak terlalu besar, diisi kursi panjang kaya di gereja. Tiap hari minggu, jam dua sampai jam empat sore biasanya ada pertunjukan tari-tarian adat. Lagi asik ngeliat-liat, tiba-tiba saya didatengin anak-anak berpakaian adat Dayak. Lucu-lucu banget, kulitnya putih bersih, matanya bulat dan telinganya nggak panjang. Mereka nanya saya, “mau foto bareng gak kak?”. Ya otomatis saya mau dong. Kesempatan langka banget foto-foto sama anak-anak suku eksotis. Saya langsung minta tolong Yudha buat jeprat jepret.

Abis foto-foto sama si adek, nenek sama kakek yang juga pake pakaian adat deketin saya, nanyain pertanyaan sama. Yaudah, saya langsung foto-foto. Sampai-sampai salempang dari manik-manik itu si nenek kalungin di leher saya. Saya langsung ngeliat ke telinganya nenek. Dan ternyata telinganya panjang! Digantungi sama anting-anting ya gede banget. Saya ngeliatinnya lama banget, sampai akhirnya saya sadar kalo telinga itu ternyata telinga palsu. Saya langsung nanya sama si neneknya, dan ternyata telinga asli si nenek udah putus, nggak bisa digantungin anting lagi, ya jadinya pakai telinga palsu itu. Dalam tradisi dayak, wanita dari golongan bangsawan pada ulangtahun pertama telinganya diberi anting-anting besar, dan tiap ulangtahun selanjutnya ditambah satu. Jadi kalau wanita bangsawan yang umurnya 60 tahun, ya berarti jumlah antingnya juga 60. Bayangin gimana beratnya.

Dalam tradisi dayak, semakin besar dan panjang telinga seorang wanita, maka makin cantiklah dia. Tapi seiring berjalannya waktu, gadis-gadis muda dayak udah nggak suka lagi punya telinga panjang, karena dianggap ketinggalan jaman, bahkan menurut beberapa sumber yang saya baca, anak-anak dayak malu kalau ada diantara keluarganya yang telinganya panjang. Ternyata modernisasi emang udah masuk kemana-mana ya, bahkan sampai ke kampung setradisional Pampang. Sekarang yang bertelinga panjang hanya nenek-nenek berumur 60 keatas. Bisa dipastikan, beberapa puluh tahun kedepan tradisi ini bakalan punah.

Suku dayak terkenal banget pinter dalam mengukir, berburu dan menenun. Di pojokan ada stand souvenir yang dijaga sama ibu-ibu. Semua souvenirnya ternyata buatan sendiri, pas saya nanya-nanya si ibu lagi sibuk bikin gelang dari biji-bijian. Di standnya ternyata nggak cuma kerajinan tangan, tetapi ada juga hasil buruan, kayak cula babi, gigi beruang, dan yang paling asoy minyak buaya yang katanya bisa bikin lelaki kuat di ranjang. HAHA. Saya beli satu gelang dari biji-bijian yang pas saya nyampe dirumah langsung disita nyokap.

Abis motret-motret, saya ngajak Yudha keliling-keliling kampung. Eh, tiba-tiba anak-anak yang tadi nyamperin saya. “Om, bayar dulu!”. Saya langsung bengong. “Bayar buat apa”. Si Anak perempuan paling gede bilang “Buat foto-foto tadi. Tadi kan foto-foto, semuanya 300 ribu. Nenek sama kakek juga 300 ribu”. Saya dan Yudha langsung mlongo. “Loh kok? Kan cuma motret-motret doang dek?”. Muka anak-anak yang lucu tadi berubah jadi sangar banget, trus dia bilang “Iya, tapi bayar! 300 ribu!”, yang lain ikutan ngerubungi saya. Eh bukan itu aja, si kakek nenek tadi juga nggak mau kalah. Daripada disumpit, pulang tinggal nama, saya ngeluarin seratus lima puluh ribu, karena emang saya nggak bawa uang banyak. Saya kasi si Nenek 50 rebu, si Kakek 50 rebu dan anak-anak itu 50 rebu. Si Kakek Nenek nerima trus pergi, lah anak-anak yang sangar ini nggak mau terima. Dia bilang “Masak foto segitu banyak 50 ribu, dibagi pula”. “Ya tapi saya bawa duit cuma segitu. Mau nggak nih? Kalo nggak saya simpan lagi duitnya”. Si cewek ketua geng langsung nyambar 50 ribuan itu dari tangan saya dan pergi sambil ngedumel, pasukannya ngikutin dari belakang, nggak kalah dumelnya.

Buset. Anak-anak jaman sekarang ya. Mau di kota mau di desa sama aja matrenya. Masa saya foto-foto doang harus bayar 600 ribu. Pake kamera pocket pula. Pake kamera sendiri pula! Kacau deh pariwisata Indonesia kalo begini ceritanya. Saya jamin deh, turis nggak bakal dua kali mengunjungi Kampung Pampang kalo kunjungan pertama aja udah dipalak habis-habisan kaya gini, sama anak kecil pula! Wajah mereka yang imut-imut itu langsung berubah sangar dan agresif waktu minta uang. Tapi nggak bisa disalahin anak-anaknya sih ya, pasti ada orang-orang gede yang jadi sponsor dibelakang.

Abis diperas gitu, saya jadi males. Awalnya saya pengen keliling-keliling kampung buat motret-motret. Abis diperas, langsung hilang selera. Kalau menurut saya, nggak seharusnya komersialisasi budaya sampai segitunya. Wajar sih, kalau orang-orang yang jadi objek wisata menerima tip, tapi jangan sampai segila itu doong. Masa foto-foto doang harus bayar 600 rebu. Mudah-mudahan dinas pariwisata Samarinda bisa tanggap yah. Nggak saya dan mbak Triniti doang yang ngeluh karena ‘dipalak’ waktu ke Pampang, tapi blogger-blogger lain juga banyak. Cek deh di mbah google.

saya dan anak-anak dayak yang 'lucu-lucu'


me, aki dan nini dayak


look, what a cute toddler,
some souvenirs

top: kayu anti racun dan minyak buaya
bottom: cula babi


gelang yang coklat, gelang biji saya beli di pampang
atasnya gelang saya beli pas di tanatoraja


Dari Kampung Pampang saya langsung balik ke rumah Yudha, karena ternyata kebun raya samarinda tutup di hari jum’at. Perjalanan dilanjutkan sore hari ke Islamic Center.


Information Corner - Kampung Dayak Pampang
Location: Sungai Siring, North Samarinda
(about 45 from Samarinda, 4 hours from Sepinggan Int. Airport)

Website: -
Open: Everyday 08.00am-18.00pm, Dance performance every sunday
$: Free! IDR 25.000/pictures you take
Contact: -
Best Time to Visit: Sunday, before dance performance



Minggu, 25 September 2011

Welcome to Bali - Garuda Wisnu Kencana Cultural Park

hello world!
rasanya nggak lengkap ya ngomongin indonesia kalo nggak pake 'bali'. sampai detik ini belum ada satupun provinsi di indonesia yang mengalahkan bali dalam hal pariwisata. percaya atau nggak, saya udah keliling-keliling indonesia, dari sumatera, jawa, kalimantan, sulawesi sampai maluku, tapi saya samasekali belum pernah ke bali! haha. beruntung kampus saya ngasi cuti lebaran lebih lama tahun ini jadinya saya bisa menghabiskan satu minggu di tanah para dewa ini.

backpacker narsis


Ngurah Rai International Airport


i dont know apa namanya ini

dua hari stay di depok, saya terbang ke bali! dari bandara ngurah rai saya dijemput temen kelas saya waku SMA, Lucy. sekarang dia kuliah di kedokteran hewan udayana. dari bandara kita langsung naroh barang dan langsung jalan! oia, perlu diketahui kalo di denpasar itu nggak ada angkutan umum selain taksi, ada sih kayaknya, tapi jumlah dan rutenya terbatas banget. jadi kalo mau jalan kudu pake kendaraan pribadi. bagi yang backpacking dengan dana terbatas seperti saya ini, langkah terbaik adalah cari motorbike rent, di denpasar banyak kok. satu motor tarifnya 50 rebu sehari. lebih hemat daripada naik taksi kemana-mana.

GWK (Garuda Wisnu Kencana)

GWK gate


garuda dan tangan wisnu yang super gede


di bukit2 kapur (please dont tell me that my pose was weird)


pemandangan dari plaza garuda


plaza garuda


wisnu yang ga kalah gede


main gamelan



look at my back

first impression: bali is freaking amazing! i love the beaches, i love the people, i love the food, i love everything! saya diajak Lucy ke GWK alias taman budaya garuda wisnu kencana. GWK ini terletak di desa ungasan, kuta selatan, kabupaten badung. sekitar 20 menitan dari bandara ke arah kampus udayana badung. disinilah patung wisnu dan garudanya yang direncanakan akan menjadi patung tertinggi di dunia berdiri. tapi sayangnya udah bertahun-tahun patung ini begini-begini aja, nggak selesai-selesai. patung ini dibuat dari berton-ton tembaga dan perunggu dan masih dalam kondisi belum selesai. tangannya dewa wisnu udah selesai, cuma belum dipasang. garudanya juga masih kepalanya doang. begini nih indonesia, kalo bikin sesuatu suka setengah-setengah. kayak patung gwk ini, kan proyek orde baru. giliran sekarang udah reformasi, nggak dilanjutin deh proyeknya. padahal rencananya ini patung tingginya bakalan 150 meter, trus bentang sayap garuda-nya 64 meter, melebihi patung liberty di new york. bangga banget pasti indonesia kalo patung ini kelar.

pertama, saya jalan-jalan di areal bukit kapur, di bagian bawah plaza garuda, tempat yang biasanya dijadiin tempat syuting FTV itu loh. sumpah cakep banget! can't tell you more. too cool to be told. liat aja picnya ya. :) terus saya jalan ke plaza garuda, tempat kepala garuda-nya wisnu. disini patung gwk bakal diletakkan kalo udah bener-bener rampung. disini juga ada mata air suci yang udah ada sebelum gwk dibangun. katanya kalo berdoa disini, doa kita pasti terkabul. percaya nggak percaya sih. saya coba doa aja, kalo terkabul ya bagus, kalo nggak terkabul ya udah nggak apa-apa, emang udah nasib haha. dari plaza garuda, kita jalan ke plaza wisnu, tempat patung wisnu yang setengah jadi sementara diletakan. plaza ini merupakan titik tertinggi di bali selatan, disini juga ada teropong binocular, buat liat bali dari ketinggian. satu koin untuk 5 menit harganya 5 rebu. saya nggak nyoba, tapi saya nyoba mainin gamelan dari bambu di dekat modelnya gwk, di sebelah pura.

left: penari yang maksa saya ke panggung
right: saya yang mlongo dan si india yang pede gila


twin brothers?


namanya barong (kalo ga salah)


sebenarnya disini juga ada arena outbond, namanya lotus pond. ada flying fox, marine bridge, hill climbing, segway riding. tapi lagi-lagi karena budged yang terbatas, saya nggak nyoba. jangan sampai ntar duit saya habis disini dan nggak bisa pulang ke kampus di bandung. alhasil, saya nonton tari bali di Amphiteather. Ini yang menurut saya paling menarik. di pentas yang nggak terlalu luas inilah biasanya tari-tari bali ditampilkan mulai jam setengah enam sore, gratis buat semua pengunjung. ini pilihan yang pas banget buat nonton tari kecak gratisan, daripada ke uluwatu, jauh dan harus bayar 75 rebu per kepala. Tari pertama yang ditampilin pertama adalah tari bumbung. dari awal Lucy udah ngasi tau saya kalau biasanya penarinya suka ngajak penonton naik ke atas panggung buat nari bareng. Dan tebakan Lucy ternyata benar, tiba-tiba penarinya nyamperin saya ngajak ke panggung buat nari bareng. lah, saya langsung bengong dan nurut aja. buseeet pas nyampe panggung saya nggak tau mau ngapain, mau nari tapi nggak pede soalnya yang nonton bule semua. sumpah malu banget! harusnya saya goyang aja waktu itu, mana yang nonton banyak banget! langsung jadi kepiting rebus deh muka saya. terakhir, ada turis dari india yang dengan pedenya langsung naik ke panggung sambil nari, pede banget dan feelnya dapet banget, saluuuuto!

terakhir, saya ke Balairung Dewi Sri. disini ada layanan gratis lukis karikatur wajah, nail painting, sampai breeding hair juga ada. sayangnya saya nggak nyoba, tapi saya sempat liat-liat topeng-topeng khas bali yang serem banget itu. dari Balairung Dewi Sri, saya pulang karena malamnya akan jadi malam minggu yang panjang. Ntar deh saya lanjutin!

Ini saya punya beberapa info mengenai GWK, semoga bermanfaat buat yang mau jalan-jalan kesini:

Information Corner
Location: Jln. Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung
(about 45 minutes from Ngurah Rai International Airport)

Web: http://gwk-culturalpark.com
Open: 09.00-22.00 wita $: idr 25.000
Contact: 0361-703603
Its best for you to come at 4 pm, walk around before dance performance,
hope this useful!

Minggu, 18 September 2011

landslide


I took my love and I took it down, I climbed a mountain and turned around
and I saw my reflection in the snow-covered hills, till the landslide brought it down
oh, mirror in the sky, What is love? can the child within my heart rise above?
can I sail through the changin' ocean tides? can I handle the seasons of my life?
I don't know, I don't know
well, I've been afraid of changin', because I've built my life around you
but time makes you bolder, even children get older and We're getting older, too

so, take my love, take it down, climb a mountain and turn around
and if you see my reflection in the snow-covered hills
well, the landslide will bring it down, the landslide will bring it down


Jumat, 16 September 2011

Cin


Kerap aku bayangkan kau masih ada. Masih tertawa mendengar ejekanku. Masih mengirimkan sms dengan kata-kata “Cin”-mu. Masih bertanya-tanya padaku bagaimana cara menyelamatkan hidup. Masih mengajakku jalan dengan tatapan kosongmu. Seperti dulu. Tapi yang tersisa kini hanya kenangan yang memaksa otakku bekerja dua kali lipat dan melumat hari-hariku menjadi kacau berantakan.

Masih jelas dalam ingatanku, bagaimana kata-kata dalam sms-mu mampu membuatku tersenyum dan membuat jam-jam tanpamu terasa sangat panjang. Aku tak tahu, apakah ini cinta, atau bukan. Karena pada dasarnya, aku tak pernah mengerti apa arti cinta sebenarnya. Tapi sejujurnya, aku sangat menikmati saat-saat bersamamu. Detik-detik bersamamu sangat berharga, sehingga aku tak mau menukarnya dengan apapun. Kedatanganmu dalam hidupku bagaikan hujan yang menghapus kemarau bertahun di gurun pasirku. Menumbuhkan benih-benih semangat yang hilang dengan merajanya kepedihan yang mengurat mengakar. Mengalahkan kesepian dan kesendirian, sehingga tumbang dalam celah-celah bahagia yang perlahan muncul.

Hari itu, kita berbaring sambil mendengarkan suara air bendungan yang deras. Kau bilang padaku kau akan taklukkan rinjani. Dan aku pegang bahumu dan bilang kau takkan kesana sendiri. Kau tersenyum dan menanyakan keseriusanku. Aku membalas senyummu dan berkata, 'sejak kapan aku tidak serius'. Lima detik kita diam, seolah menikmati sepi yang tiba-tiba melesat di udara. Kau tersenyum, aku tersenyum, seolah senyum adalah satu-satunya bahasa yang bisa memahami perbedaan diantara kita. Lima detik selanjutnya kau berteriak, bertanya sekuat tenaga pada tuhanmu kapan hidup akan memperlakukanmu dengan baik. Kau tak tau, dibelakangmu saat itu, aku juga bertanya hal yang sama. Pada tuhanku tentunya. Masalah-masalah kita menjadikan kita satu tim yang berdiri pada kubu yang sama, saling mendukung satu sama lain.

Hari selanjutnya, aku beritahu kau kalau aku berencana menghabiskan cuti natal desember nanti di singapura. Berjalan, mencoba memahami makna hidup yang sebenarnya. Kau dan aku tau, kalau berjalan adalah satu-satunya cara bagiku untuk merasa hidup. Untuk memastikan aku tidak mati dalam siklus amarah yang aku jalani setiap hari. Tanpa pikir panjang kau langsung bilang, kau ikut. Kau membuatku tercengang saat kau lebih memilih bersamaku daripada menghias pohon natal bersama keluargamu. Saat kutanyakan keseriusanmu, kau membalasku dengan kata-kata ‘sejak kapan aku tidak serius’. Kau membuatku tersenyum. Senyuman yang kini aku sadari tak berlangsung lama.

Kau juga bilang padaku. Dimana tuhan? Apa yang ia lakukan sekarang? Dan aku menjawab pelan “aku tak tau”. Kau tersenyum dan berkata “kalau begitu, aku ingin mencoba tuhanmu”. Aku tertawa, ide-idemu selalu gila. “atau kau yang coba tuhanku? Atau mungkin kita berdua perlu cari tuhan baru?” tambahmu. Aku mengacak rambutmu pelan. Dan sepi kembali menguasai. Kita kembali terkubur dengan pikiran kita masing-masing, berselancar di dunia hampa yang hitam kelam tak ada habisnya. Kosong matamu seolah jadi jawaban setiap pertanyaan kita.

Sampai tiba malam itu. Sudah cukup lama rasanya aku mengeram kesedihan, kesepian dan sudah menahun rasanya luka yang tak kunjung sembuh bahkan makin menganga hebat. Hadirmu yang sesaat mampu mengusir kabut yang memenjara otak dan hatiku entah berapa lama. Kita terlalu larut dalam pikiran kita masing-masing, tanpa sadar kita terjebak dalam bencana yang terjadi terlalu dini. Kita terperangkap, bukan barang biasa. Kita terlalu menikmati perangkap yang akhirnya menjadi bumerang yang menghancurkan tiap inci dari kisah sederhana kita. Membuat rinjani terlalu tinggi untuk didaki. Membuat singapura terlalu jauh bagi kaki kita. Denyut-denyut hangat yang memaksa kita mengakhiri cerita pendek ini.

Seharusnya tak boleh ada pelukan rapat malam itu, sehingga tak perlu tersisa penyesalan saat harus menghadirkan jarak diantara kita. Aku seperti anak hilang tanpamu, kau sadar itu? Tak seharusnya aku kehilanganmu dengan cara seperti ini, tak seharusnya secepat ini. Dan kini dunia yang aku tinggali terasa beberapa kali lebih sempit dan menyudutkanku dalam lingkaran sesal yang menyerangku membabi buta. Kau tak hanya meninggalkanku, tapi juga menambah koleksi luka pada galeriku. Kita terlalu mengalah pada rasa benci sampai kecewa memegang kuasa atas rongga-rongga otak kita dan pada hatimu yang perlahan mati. Kau hilang tanpa bekas, hingga tak satupun tempat bisa kutemukan mata kosongmu. Dan aku terus mencarimu, mencari dimana tuhan sembunyikan hatimu. Terlalu jauh ia hilang, sampai tanggal-tanggal kita semakin tua dimakan rayap. Mungkin aku yang terlalu berani, atau kau terlalu luar biasa untuk disebut seorang pengecut.

Aku mengalah, aku benar sadari aku tak berhak memaksamu tetap tinggal. Aku tak berhak apa-apa atas hidupmu. Dan disini, aku masih berharap di belahan bumi manapun kau berada kini, masih ada sesudut rindu untukku, untuk kisah kita yang sederhana. Aku masih selalu berharap tuhanmu, tuhanku, atau tuhan yang lain akan berbaik hati merubah sedikit skenario pada roman dadakan ini. Menyelesaikan prahara atau mungkin sedikit memperbaiki letak matahari kita. Agar dapat lagi kudengar suara bendungan di matamu yang kosong.

Taukah kau cin, aku seperti anak hilang tanpamu.

Kamis, 15 September 2011

tekateki


Mari bermain teka-teki, siapa yang kalah dia yang mati
Teka-teki merah jingga, lekang matahari hari ke hari
tersulut panas dalam kotak-kotak hitam dan berpita putih
Kita mainkan rodanya sampai sepi terlalu riuh untuk berbunyi
Kau tarik pedalnya, kutelanjangi jengahnya
Biar menang berdentang-dentang
Bergelimpang, menggelepar

Dan beri sedikit garam agar lobang-lobang berhenti terkunci
Jalan keluar dan teka-teki seperti jarak matahari dan ujung telapak kaki
Atau mungkin disini kita berada, dalam remang yang rapat
Kurasa lebih indah jika kita selami saja rimbanya
Kalungkan tanah di ujung tenggara, lepaskan bersama nyawa
jangan takut, dia hanya menggertak
dan diujungnya saat tali genggam lehermu dan jantungmu sebongkah lelah
terikatlah, tumbal jadi jawaban doa tak terselamat
dan akhirnya, tapakku satu-satunya tersisa
bergantilah teka-teki jadi jerat yang memisah

Jimbaran, 15 september 2011

Rabu, 14 September 2011

angel


spend all your time waiting, for that second chance, for a break that would make it okay.
there's always some reason to feel not good enough and it's hard at the end of the day.
i need some distraction, oh beautiful release, memories seep from my veins.
let me be empty and weightless and maybe, i'll find some peace tonight..

in the arms of the angel, fly away from here.
from this dark cold hotel room, and the endlessness that you fear.
you are pulled from the wreckage of your silent reverie
you're in the arms of the angel, may you find some comfort here

so tired of the straight line and everywhere you turn.
there's vultures and thieves at your back,and the storm keeps on twisting
you keep on building the lies that you make up for all that you lack
it don't make no difference, escaping one last time
it's easier to believe in this sweet madness oh this glorious sadness that brings me to my knees

in the arms of the angel, fly away from here.
from this dark cold hotel room, and the endlessness that you fear.
you are pulled from the wreckage of your silent reverie
you're in the arms of the angel, may you find some comfort here

sarah mclachlan, pic somewhere in tumblr.

Sabtu, 10 September 2011

makassar-jakarta-padang-pekanbaru-jakarta-denpasar-jakarta-bandung!

hello pals!
akhirnya liburan 3 minggu di kampung halaman tercinta selesai juga. saya kembali ke jakarta tanggal 8 lalu lewat pekanbaru. hometown saya letaknya di pertengahan sumatera barat, jadinya kalo mau ke padang sama pekanbaru sama-sama dekat. selain karena dapet tiket yang lebih murah, saya juga kangen sama pekanbaru. ini udah 3 tahun saya nggak menginjakkan kaki di pekanbaru, sejak saya meninggalkan jurusan international relations di universitas riau untuk ipdn. pekanbaru sekarang udah maju banget. kontras sama 3 tahun lalu. sekarang udah banyak banget bangunan-bangunan unik dimana-mana, udah nggak kayak gurun pasir lagi deh. saya diantar bonyok ke bandara, sekalian adik saya yang di UI juga mau balik ke depok. saya stay di depok dua hari, bantuin adek saya yang baru pindahan kos.

oia, saya lupa cerita, saya udah officially meninggalkan makassar, udah nggak tinggal di makassar lagi saya. banyak banget kenangan yang ga bisa dilupain disana. saya biarkan bebas lepas disana, untuk suatu hari saya jemput lagi. sebagai gantinya saya pindah ke jatinangor, bandung. saya masuk kampus minggu depan dan berarti saya punya waktu satu minggu free, dan alhasil disinilah saya sekarang: denpasar, bali! really have fun in here!

maaf saya belum bisa blogwalking back atau balesin komen-komen, ntar ya abis saya bersenang-senang, okeh? really miss u all btw :)

Senin, 05 September 2011

tenggarong, east borneo (part III)

KUMALA ISLAND



Hello dear!
Sudah baca pengalaman saya mengunjungi tenggarong, kalimantan timur? Kalau belum baca part 1-nya disini dan part 2-nya disini. Puas gentayangan di waduk Panji Sukarame, saya dan Yudha bergerak ke tempat yang menjadi tujuan pokok saya ke tenggarong: Pulau Kumala! Saat kita melewati jembatan mahakam 2, kita bakal lihat sebuah pulau besar di tengah sungai dan ada patung lembuswana besar. Yang dimaksud pulau disini ternyata adalah delta sungai mahakam yang besar dan menyerupai sebuah pulau berbentuk kapal. Menurut legendanya, pulau tersebut dahulu adalah kapal belanda yang berniat untuk menguasai tenggarong, tapi dengan kekuatan sakti orang-orang jaman dulu, berhasil menyihir kapal itu menjadi sebuah pulau. Terserah deh percaya atau nggak. Waktu saya mengunjungi pulau kumala ini, saya pura-pura percaya aja walau sebenernya ga percaya. Pulau kumala ini banyak demitnya kata yudha, makanya ga boleh takabur. Hehe.

Saya dehidrasi berat saat hendak ke pulau kumala. Muka saya kering, bibir saya pecah-pecah, mana lagi puasa. Menuju pulau kumala, kita harus naik perahu kecil dari pinggir mahakam, namanya ketinting. Karena pas saya mengunjungi pulau Kumala nggak di musim liburan, sepi pengunjung, ya terpaksa saya harus sewa satu ketinting dengan harga 40 rebu pulang pergi, padahal dari pinggir ke pulau kumalanya lima menit doang. Ya apa boleh buat. Saat musim liburan atau lagi pesta Erau, seperti saya ceritain di postingan sebelumnya, satu ketinting bisa diisi sepuluh orang. Jadinya satu orang hanya bayar 4 rebu pulang-pergi. Saya jadi berasa lagi bulan madu sama si Yudha. Bulan madu diatas ketinting. Wakaka :p

Usut punya usut ternyata dulunya pulau kumala nggak seluas sekarang. Awalnya luasnya hanya 76 ha, itupun nggak termanfaatkan. Hanya lahan tidur yang ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon liar. Barulah tahun 2000 proyek daerah wisata pulau kumala dimulai. Pulau Kumala ditambah dengan tanah hasil pengerukan sungai mahakam yang dilakukan untuk menjaga kedalaman sungai mahakam agar dapat terus dilalui kapal. Alhasil luas pulau kumala sekarang 81 ha. Pulau kumala sekarang fasilitasnya udah lengkap banget, ada arena bermain, cottage, hotel, souvenir shop, candi buatan, kereta gantung, dan bahkan wahana sky tower yang tingginya 100 meter. Pulau yang terkenal dengan cerita mistisnya ini baru dibuka tahun 2002, bertepatan dengan pesta erau.

lets go, kumala island!


di depan loket tiket (buneng, tulisannya gede banget)


the gate, stage, and skytower


skytower yang bikin ngiler

Nyampe di gerbang pulau Kumala, saya dan Yudha langsung dihadang loket tiket. Untuk dewasa tarifnya 10 rebu, untuk anak-anak 5 rebu. karena saya remaja tanggung, ya saya bayar 7 rebu. preeet. Bo’ong. Saya tetap bayar 10 rebu plus nambah sepuluh rebu lagi karena terlalu banyak omong. Pret, boong lagi. Eh ternyata bener, pulau kumala itu udah megah banget, walau sepi karena bukan musim liburan. Di pulau ini bahkan ada stage besar yang biasa dipake artis-artis ibukota buat manggung. Saya dan Yudha langsung ke arah Sky Tower, karena emang ini yang paling bikin ngiler di pulau ini. Dari atas tower, kita bisa liat pemandangan kota tenggarong lempeng selempeng lempengnya. Denger-denger sky tower begini baru satu-satunya di Indonesia. Pas nyampe loket tiket, eh ternyata tutup, walaupun petugasnya semuanya lengkap ada disitu. Saya nggak nyerah dong, langsung saya bilang saya bayar lebih deh. Eh mas-nya ngeyel (apa sayanya yang ngeyel?), nggak bisa naik kalo kurang dari berapa orang,. Yaudah, saya kasi mas-nya opsi terakhir, nggak usah naik deh, numpang foto-foto aja. Dan akhirnya dibolehin! Saya dan Yudha langsung berkodak ria, walaupun cuma bentar. Wedeh, sekali-kali ke tenggarong, Sky Towernya tutup. Kesel banget sebenernya. Tapi keselnya saya, beberapa saat setelah kami berkodak-kodak, datang beberapa orang bapak-bapak sama ibu-ibu. Setelah ngomong sama petugas, eh mereka masuk sky tower dan terbang ke ketinggian 100 meter. Loh, saya langsung gak nrimo dong, kok saya tadi nggak dibolehin, itu bapak-ibu dibolehin. Pas Skytowernya udah turun, saya datang lagi ke petugasnya, nanya ini itu. Ternyata dan ternyata bapak-ibu tadi itu pejabat teras. Saya jadi bingung apa bedanya saya sama pejabat-pejabat itu? Blegug, ya beda lah ya. Who am i? Who? Rakyat jelata emang kudu nrimo aja. :(

Gagal deh saya naik skytower. Padahal udah niat banget dari rumah pengen ngeliat kota tenggarong dari ketinggian 100 meter. Nggak putus asa, saya dan Yudha nyari spot lain yaitu Candi hindu buatan. Waktu SD kan pernah belajar tuh kalo Kutai itu kerajaan hindu paling tua di Indonesia. Nah, Tenggarong itu sebenarnya adalah ibukota dari kabupaten kutai kertanegara. Jadi wajar kalau bangunan-bangunan disini masih ada nafas-nafas hindunya (halah, bahasa gue). Nyampe di depan candi, eh ternyata candinya lagi under construction, rusak berat. Nggak pengen kehilangan kesempatan lagi, saya dan Yudha setelah liat kanan kiri langsung lompat pagar, masuk ke dalam candi. Dan memang, candinya rusak berat dan kelihatan udah mau roboh. Jadinya sebelum roboh, saya sempetin foto-foto dulu. Candi ini sebenernya bagus banget. Menggabungkan kebudayaan hindu dengan ikonnya kabupaten kutai kertanegara, apalagi kalau bukan lembuswana.

candi unknown :P



lembuswana on temple


me, infront of temple's gate


me, dipatok lembu swana



relief, you gonna love this


beutiful relief and statue!

rumah lamin aka souvenirs shop


Dari candi, saya beranjak ke rumah lamin. Rumah lamin itu rumah tradisional-nya dayak. Kalo orang Indonesia nggak tau ini rumah, kebangetan dah. Saya suka banget ukirannya yang kebanyakan tentang tumbuhan liar dan burung enggang. Rumah lamin disini emang gak asli ditempatin suku dayak, melainkan souvenir shop yang lagi-lagi tutup. Sial banget yah saya, datang nggak di musim liburan ya jadinya ini itu tutup semua. Saya dan Yudha mutusin jalan ke patung lembuswana yang gede banget itu. Tapi lima belas menit jalan, kok nggak nyampe-nyampe. Patungnya malah nggak keliatan. Saya udah gempor banget, kering total. Yudha juga gitu. Dan akhirnya kami mutusin untuk berhenti dan menikmati indahnya sunset di sungai mahakam.

Air sungai mahakam yang keruh keliatan indah banget ditimpa cahaya matahari. Sayang banget saya kesana bareng Yudha, nggak bareng pacar saya yang sekarang udah jadi mantan. Tapi kata yudha, mitosnya, kalo datang ke pulau kumala sama pacar biasanya nggak bakal langgeng. Terbukti sih! Saya nggak dateng bareng pacar, cuma mikirin pacar doang, eh tau-tau putus. Apalagi yang datang bareng pacar yak. Sebenernya di pulau ini ada fasilitas bus yang selalu keliling buat ngantar pengunjung karena emang pulaunya luas banget. Lagi-lagi karena lagi gak musim liburan. Busnya nggak beroperasi. Saya terpaksa jalan lagi ke tempat awal dengan nafas yang tinggal satu-satu.

Dan akhirnya kami kembali ke daratan seberang dengan naik ketinting yang sama. Saya diajak Yudha ke dekat jembatan Mahakam 2. Disini lah anak-anak gaulnya tenggarong biasanya ngumpul. Pas saya datang, banyak anak muda yang lagi skateboarding, nongkrong, bahkan banyak juga bapak-bapak ibu-bu lagi pacaran. Sayang cuaca nggak mendukung saya buat berlama-lama disini. Tiba-tiba turun hujan, tanpa tanda-tanda. Bubar deh semua. Padahal sebenernya malem-malem ada light show. Semacam laser show yang ada di dufan, tapi yang ini pakai lampu, nggak pakai laser. Gagal lagi gagal lagi. Tapi nggak apa-apa, saya tetep senang karena akhirnya saya menginjakkan ke tanah kerajaan hindu tertua di indonesia. Dari jembatan mahakam 2, saya dan Yudha kembali ke Samarinda. Kami menikmati pecel ayam di warung sederhana, tapi jangan ditanya soal rasa. Mak nyos!

Berakhir? Belum! Setelah buka puasa, fully charged dong saya. Kami jalan-jalan ke islamic center dan menikmati lezatnya sate buaya. Ntar deh saya cerita di postingan selanjutnya. Udah kepanjangan, takut bosan hehe.

mahakam on afternoon

me, infront of mahakam 2 bridge


The end.


 

Blog Template by