Kamis, 15 Desember 2011

Kutukan 11

hello world.
good news, besok saya cuti! yey, tapi malam ini saya tetap harus lap keringat, 3 jam ngerjain tugas temen saya, Dania yang dengan suka rela dan kerendahan hati ngetag saya buat ngerjain ini kutukan 11. haha, thanks Dania, sweet kisses :* langsung aja ya, ini dia:

11 THINGS about me:

gimana gedenya ga crap, kalo masih
segede jagung aja bajunya udah ditulis crap.

1. I appreciate my FREEDOM. Bagi saya hidup itu adalah kebebasan. Kalo saya nggak punya kebebasan sama sekali dalam hidup, itu berarti sama aja sama nggak hidup. I’d rather do nothing than do something i don’t wanna do. Sounds a bit selfish sih sebenernya, tapi that’s me. I own my life, walau kenyataannya saya belum dapatkan kebebasan total untuk jadi siapa saya dan melakukan apa yang saya mau.

2.
I’m preety open-minded. Semua orang punya hidup beda-beda, makanya saya gak terlalu seneng sama orang yang demen ngejudge orang lain (apalagi kalo yang di-judge saya hehe). Saya selalu ingat kata-kata ini “It’s easy to tell something right to do if it’s not your life.” Percaya deh, gak semua yang kita anggap baik untuk hidup kita itu baik buat orang lain. Jadi, hargai pilihan hidup orang dan jangan jadi narrow-minded judgemental yang hobi berkoar-koar nyalahin orang lain seolah kita paling bener. Saya berteman dengan siapa saja, mau pengamen, pelacur, penderita HIV, waria, orangutan sekalian, as long as they love me, i love them back.

3. I’m easily get stressed. Sepertinya ini bukan rahasia lagi ya, istilahnya sarapan pagi aja bisa jadi dilema bagi saya. Mungkin bawaan dari orok juga, saya nggak ngerti. Kadangkala saya bahkan mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi dan kekhawatirannya bahkan sering berlebihan. Saya nggak ngerti deh kenapa begini, hehe. Udah, next!

4. I’m 173-174 cm and blabla kilograms. Saya bisa sangat sensitif kalo ditanya masalah berat badan. I eat much, i sleep much, tapi hampir gak ada impact tau! Kadang-kadang ini nih yang paling mengganggu. Kalo saya liat temen-temen yang lain, makannya dikit, ga doyan ngemil tapi badannya bagus. Rada jealous juga sih sebenarnya. Tapi saya percaya kok, ntar kalo udah selesai kuliah saya pasti gemukan. Disini stress mulu sih, makanya ga gemuk-gemuk, haha.

5. I hate crowded place. Saya tidak terlalu suka dengan keramaian, kecuali kalo keramaian yang isinya temen-temen dekat saya. Bisa dibayangkan, tinggal bersama belasan orang sekamar make my life like living a hell. Saya nggak bisa kalo saya lagi butuh ketenangan tiba-tiba musik dugem bunyi di speaker treble plus volume mentok. Saya nggak bisa tidur kalo ada yang teriak-teriak kaya di hutan. Saya nggak bisa tenang kalo kamar saya penuh asap rokok. Saya nggak bisa boker kalo wc kotor. Intinya, saya nggak suka keramaian. Untuk hidup, saya butuh kamar yang tenang dan rapi.

6. I hate formal things, sweet talks, ambil muka, jilat sana jilat sini, and any kinds of that. Tak tahulah kehidupan kerja saya nanti bagaimana, gak tau betah apa nggak, karena di dunia yang lagi saya jalani sekarang ini ‘any kinds of that’ itu kayaknya udah dianggap sebagai kewajaran. Saya khawatir sama masa depan saya, nah loh, mulai stress (kembali ke poin 3).

7. I love traveling, of course who doesn’t? Tapi kadangkala jalan-jalan itu kaya obsesi bagi saya, jadi kalo nggak kecapaian rasanya nyesek. Sejauh ini saya masih jalan-jalan di Indonesia aja sih, belum pernah ke luar. Misi saya sebelum umur 22 udah menginjakkan kaki di 5 pulau besar di Indonesia, tapi 2 bulan sebelum usia 22, masih minus satu: Papua! Papua oh papua, kenapa untuk sampai kesana perlu perjuangan lahir batin. Obsesi saya, suatu saat saya harus melakukan perjalanan keliling dunia. Pokoknya harus bisa!

8. I hate politics dan turunannya. For sure, i do! Entah dosa apa, kuliah saya harus berurusan dengan politik dan turunannya itu. Stuck in the middle baby, got nowhere to start now. Saya udah coba menyukai ini studi, tapi tetap aja nggak suka-suka. Semakin dideketin, semakin gak suka. Yaudah deh terserah sekarang. Masa gak suka, udah dipaksa-paksa tetep nggak suka harus dipaksain juga sih. It’s time to let go, la la la la. 8 months to go. 8 months to go.

9. I haven’t found what i am searching for. Saya kaya orang buta sekarang, sedang mencari sesuatu yang nggak tau sesuatu itu apa. Mungkin kedamaian, mungkin ketentraman, mungkin cinta, mungkin teman setia, entahlah. Tak masalah sebenarnya apa yang saya cari, as long as i keep moving on, i’ll find the place where i belong. The place where i’ll stop complaining about everything.

10. I want to have my own business. Pengen punya cafe sendiri, yang cozy, nyaman, tenang. Biar orang-orang yang pribadinya mirip saya punya pelarian dari realita. Haha. Saya pengen punya Bakery yang desainnya kaya Cafe. Jadi sambil makan roti, bisa sambil minum kopi dan baca koran. Loh, ini sebenarnya saya yang mau jadi owner apa saya jadi konsumer sih? Haha.
11. I love dog. Yessssss, i really do! Bagi saya anjing itu binatang paling setia, nggak akan berkhianat gimanapun keadaannya. Saya punya anjing, jenis tak diketahui, hadiah dari temen bokap waktu kelas 3 SD, namanya Lucky. Banyak unforgottable moments saya sama almarhumah Lucky. Lain kali saya cerita.


Dania's Questions

Paling suka panggilan apa? Paling ga suka apa? Alasannya
Panggil Hans aja. Singkat, padat, jelas dan straight to the point. #ehh

Momen yang bikin paling seneng dan paling sedih?
Yang paling sedih itu waktu saya gagal masuk fakultas kedokteran. Paling seneng pas jalan-jalan.

Yang paling ditakuti di dunia ini?
Yang paling saya takuti adalah kekhawatiran dan ketidakmampuan saya untuk merasa bahagia. Cukup, next!

Pernah bikin orang nangis nggak? Ceritain dong
Who doesn’t? Yang paling berkesan itu, pas nyokap nangis bahagia waktu saya berhasil jadi ranking satu di kelas, kelas satu SD. Masih kebayang sampai sekarang gimana over-excitednya nyokap waktu itu. Haha.

Jika pengen superpower pengen apa
I want to have wings and communication ability with animals. I’ve been obsessed with wings for long time, i wonder how it feels to flying wherever i want.

Sahabat pertama siapa? Ceritain
Namanya Anne. Tetangga sebelah, di rumah yang lama. Satu tahun lebih tua dari saya. Dari kecil kami udah sering gila-gila, termasuk mandi dalam bak sama-sama telanjang bulat. She’s married now, look how time runs so fast.

Idola siapa?
Nah, ini belum tau. Saya jarang banget idolain orang, hehe. Di music aja kali ya? Saya idolain Michael Buble sama Hayley Williams.

Tujuan utama dalam hidup apa hayo?
Bahagia.

Seandainya bisa memutar waktu kembali, kenangan apa yang kamu ubah / ulang?
Banyak. Banyak sekali, sampai nggak bisa ditulisin satu-satu. Hehe

3 words describe u the most
Melancholic, Melancholic, and Melancholic.



11 QUESTIONS FROM ME:

1. Apa ketakutan terbesarmu ketika umur 5 tahun?
2. Ngerasa nyaman gak sama study/pekerjaan saat ini?
3. Kalo bisa milih jadi tokoh apa di disney, pilih siapa? Kenapa?
4. Apa sih cita-cita terbesar yang belum terwujud sampai sekarang?
5. Paris atau Roma? Kenapa?
6. Siapa orang di masa lalu yang pengen banget kamu temui sekarang?
7. Siapa kira-kira nama anakmu nanti?
8. Film apa yang paling berkesan buat kamu?
9. Kira-kira kalau jadi binatang, kamu pengen jadi apa?
10. Kalo bangun tidur tiba-tiba kamu udah di pedalaman amazon, apa yang kamu lakukan?
11. Kalo bisa ketemu tuhan, apa pertanyaan pertama yang akan kamu tanyakan?


My 11 Victims
sekarang saatnya ngetag 11 blogger. haha, siap-siap keringetan ya ngerjainnya:

1. Rama
2. Ayumi Handini
3. Primadona
4. Nit Not
5. Gogo
6. Bayu Hidayat
7. Nindya Resha
8. Lia Rainymalia
9. Hayfa Qanita
10. Dana Paramita
11. Kak Accilong

Haha, selamat bersenang-senang ya guys. aturannya: pertama, bikin 11 things about me. kedua, jawab pertanyaan dari saya. ketiga, bikin 11 pertanyaan. keempat, tag 11 blogger lainnya. jangan lupa link back kalo udah kelar ya. sekian dan terimakasih. *tepar*

Rabu, 14 Desember 2011

i need another sunshine


Senang akhirnya bisa menulis lagi setelah sekian lama vakum. Jujur, akhir-akhir ini saya tak punya inspirasi apapun untuk menulis. Yang ada kalau saya nulis, keluhan-keluhan dan ketidakpuasan yang berlebihan. Bet all of you are sick of crap things like that. Life’s hard, everyone faces it. Tapi saya rasa kadang saya tidak cukup kuat menghadapinya, tak tahulah kenapa secara psikologis, saya lemah. Dan akhir-akhir ini sepertinya fisik juga.

Beberapa minggu lalu saya terserang penyakit yang tidak jelas. Saya udah ke dua klinik tapi penyakitnya gak terdeteksi apa. Saya bangun pagi-pagi, kepala saya sakit luar biasa, badan saya meriang, dan perih di perut. Saya coba berobat ke klinik asrama, tapi jangankan diperiksa, saya cuma dikasi obat magh dan beberapa vitamin aja. Nggak puas, saya datang ke klinik di luar kampus, diperiksa dan kata dokternya saya sepertinya terinfeksi virus atau bakteri apa gitu, saya nggak ngerti. Katanya kalo dalam dua hari nggak baikan, balik lagi buat cek darah. Karena saya nggak bebas keluar-masuk kampus (cuma bisa keluar sabtu-minggu doang), saya nggak jadi cek darah. Saya berakhir di tempat tidur dengan selimut dan kaos kaki tebal selama 10 hari penuh tanpa ikut kegiatan sama sekali.

Beberapa hari pertama saya cuma mengalami sakit di bagian perut, asumsi saya magh saya kambuh. Lambung saya memang lemah, dari kecil udah biasa mah saya sakit magh. Nah, yang barunya nih, saya kemudian batuk-batuk berdarah. Saya belum pernah begini sebelumnya. Ini 3 minggu setelah saya sakit, udah baikan sih, badan udah mulai enakan, tapi ini sakit di kepala bagian belakang sampai sekarang gak ilang-ilang. Gampang banget kayaknya saya terserang penyakit. Saya udah berhenti minum obat yang banyak banget itu. Mudah-mudahan penyakit ini cepat-cepat kabur, dan saya bisa normal lagi. Saya udah kehilangan 3 kilo dalam 2 minggu, ketika butuh 3 tahun bagi saya untuk bisa naik 3 kilo. Crap.

Saya rasa saya terlalu banyak berpikir, terlalu banyak khawatir. Bukan, bukan berpikir tugas-tugas dosen ataupun kuliah tentunya. Saya tidak pernah bisa berurusan dengan baik dengan hal itu. Benar-benar tidak bisa. Mungkin kemalasan saya yang berlebihan atau memang kecerdasan saya yang tak cukup untuk dijejali teori-teori yang sama sekali tak tampak menarik di mata saya. Saya sering mengeluhkan ketidakmampuan saya untuk melakukan apa-apa di bidang studi yang saya jalani. Kadang saya merasa salah jurusan, kadang blabla, kadang blabla. Tak tahu lah jenis ilmu apa yang cocok dengan orang seperti saya. Mungkin karena terlalu banyak berpikir dan khawatir, kesehatan saya jadi gampang terganggu, dan berakhirlah saya di tempat tidur.

Saya udah nggak sabar pengen cepat-cepat lulus. Pengen bebas lagi, pengen cari tau apa sih sepertinya yang saya mau. Ini udah desember. Januari, februari, maret, april, mei, juni, juli, agustus dan luluslah saya! 8 bulan lagi kalo nggak ada halangan, saya lulus. Dan untuk lulus saya harus BKP dulu, harus Magang dulu, harus UAS dulu, harus bikin laporan magang, harus bikin LA, harus ngurusin banyak tetek bengek dulu. Mudah-mudahan nggak ada halangan deh ya. Dan semoga 8 bulan ini terasa singkat. Saya nggak kuat lagi lama-lama.

Udah jadi tradisi kayaknya tiap libur natal desember saya jalan-jalan dulu sebelum pulang cuti. Tahun-tahun sebelumnya saya jalan-jalan ke Surabaya, Malang, Garut. Tahun ini saya memutuskan untuk gak kemana-mana, langsung aja pulang ke Padang. Mungkin stress saya udah nyampe puncak sampai gak kepikiran lagi buat ngapa-ngapain. Saya pengen pulang, liburan di rumah tanpa mikirin apa-apa dulu. Saya pengen ngerasa bebas dan gak mikir apa-apa untuk sementara waktu. Saya pengen makan sepuasnya, tidur sepuasnya, nonton tv, berenang pagi-pagi, sepedaan sore-sore, belajar masak lagi, belajar bikin es krim, pokoknya saya mau hibernasi di rumah. Kalo perlu saya kunci pintu rumah plus matiin handphone, biar saya bisa bebas dari semuanya walau untuk tiga minggu aja. Alasan lain, saya benar-benar kehabisan uang. Duit saya habis buat jalan-jalan ke Maluku sama Bali tahun ini. Gak ada tabungan lagi di rekening saya, hehe.

Januari nanti kalo nggak ada halangan, saya bakal BKP di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Abis itu magang di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Masing-masing satu bulan, dan i have no excitement at all. Mudah-mudahan deh abis hibernasi 3 minggu saya mulai ada semangat lagi. Seriously, now, i have no ambition. I wake up with no spark, no passion, often with regret. I’m stucked in the middle with nowhere to start. I can’t go right, i can’t go left. Negative feelings consumed me so bad.

Semoga deh ya, desember memberikan efek resolusi bagi saya. Saya mulai lagi menyortir mimpi-mimpi saya, memenej kehidupan nyata saya biar semuanya lebih seimbang. Januari akan segera datang, sudah seharusnya saya semangat lagi untuk hidup saya. Semoga deh ya. Semoga.


Sabtu, 03 Desember 2011

Resensi: Eat Pray Love

Judul: Eat Pray Love
Penulis: Elizabeth Gilbert
Genre: Novel Terjemahan
Tebal: 402 Halaman
Penerbit: Dinastindo
Tahun terbit: 2007

Elizabeth Gilbert, memasuki usia tiga puluh tahun, dia punya apapun yang wanita Amerika impikan, suami yang mencintainya, rumah yang megah di Manhattan, dan karir yang cemerlang. Namun semua itu tak membuatnya bahagia, ia justru terpuruk dalam kecemasan, kegelisahan, kepanikan dan kesedihan yang tak berujung. Ia memutuskan bercerai dengan suaminya, satu perceraian yang sangat panjang dan melelahkan. Beth yang kalut, menyelesaikan babak perceraiannya dan kemudian menjalin cinta dengan lelaki lain yang ia kenal saat menonton pertunjukan drama, David. Hubungannya dengan David yang jauh lebih muda darinya ternyata tak bertahan lama, mereka terpaksa mengakhiri hubungan mereka. Beth-pun menjadi merasa kehilangan segalanya, tak tahu lagi siapa dirinya dan apa yang harus ia lakukan untuk membuat dirinya bahagia. Ia terpaksa menghabiskan malam-malamnya dengan berbaring di lantai dan menangis.
 Di suatu ketika dalam balutan depresi yang menyiksa Beth teringat dengan ramalan dari Ketut Liyer, dukun yang ia kenal di Bali beberapa tahun lalu. Ia akan kehilangan semua uangnya dalam waktu beberapa lama dan kemudian akan mendapatkannya kembali, dan dalam hidupnya ia akan menikah dua kali, serta memiliki apapun yang orang inginkan. Dari sana Beth berniat untuk bangkit dari keterpurukannya dan memulihkan dirinya sendiri. Ia mengambil langkah radikal, untuk mengenali dan menemukan dirinya sendiri: melakukan perjalanan selama setahun seorang diri.  Beth menjual semua miliknya dan meninggalkan orang-orang yang dikasihinya, Ia memulai pencarian dirinya di tiga negara yang kebetulan sama-sama berawalan “I” yang dalam bahasa inggris berarti saya, yaitu Italia, India, dan Indonesia.
4 Bulan pertama perjalanannya ia habiskan di Italia, kota klasik yang penuh romansa. Di Italia ia belajar seni menikmati hidup. Ia belajar berbahasa Italia karena ia rasa bahasa Italia membuatnya gembira. Ia menghabiskan hari-harinya berkeliling kota dan berkenalan dengan beberapa orang lokal, satu yang menjadi favoritnya adalah Luca Spaghetty karena namanya yang unik. Beth mencoba berbagai makanan Italia yang berhasil menambah berat badannya dua puluh tiga pound. Selanjutnya ia habiskan untuk berdevosi di India dengan bantuan seorang guru lokal dan seorang Texas yang dingin namun bijaksana. Ia menghabiskan 4 bulannya untuk membenahi spiritualitasnya dengan meditasi.
 Indonesia adalah chapter terakhir dari perjalanannya. Ia kembali menemui dukun tua generasi sembilan di Bali, Ketut Liyer dan belajar banyak hal darinya. Akhirnya Liz menemukan apa tujuan hidupnya: keseimbangan. Bagaimana ia harus  membangun hidup yang seimbang antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan surgawi. Di Bali juga pada akhirnya Liz jatuh cinta dengan seorang Brazil bernama Felipe dengan cara yang indah dan tak terduga.
Eat Pray Love adalah sebuah novel riwayat hidup tentang pencarian jati diri yang jujur dan gamblang. Novel ini membawa kita menyusuri jalan panjang yang berliku dari pertanyaan-pertanyaan yang rumit dan membingungkan menyusuri jawaban demi jawaban. Membaca novel ini mampu membuat saya merasa gembira, kenapa? Karena saya seperti sedang bercermin, membaca tentang diri sendiri. Ada suatu saat dalam hidup kita dimana kita jatuh dalam kemurungan yang melelahkan dimana tak ada satu orang-pun mengerti apa yang sedang kita hadapi (atau bahkan kita sendiri tak paham apa yang sedang terjadi).  Membaca kata demi kata filosofis yang ditulis Beth secara fasih mampu membuat senyum tipis dan anggukan kecil di wajah penulis. Novel ini layak dibaca oleh penikmat novel serius dan bagi siapapun yang kehilangan harapan tentang hidup. Disini kita banyak belajar, bahwa bahagia bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat yang tidak kita duga sebelumnya. Untuk mencapai bahagia sendiri kita kadang membutuhkan pengorbanan dan perubahan besar dalam hidup kita dan pihak yang paling bertanggungjawab atas kebahagiaan kita adalah diri kita sendiri. Novel ini ada dalam New York Times Best Seller selama 110 minggu dan telah difilmkan tahun 2010 dengan judul yang sama.



Resensi ini diikutsertakan dalam kuis yang diadakan oleh Absurd Astrounot 
 

Blog Template by