Sabtu, 14 Januari 2012

Kebun jagung, tiang listrik, dan rel kereta


Angin pacu lari diatas bunga jagung,

Beberapa tersangkut di tiang listrik, disambar kereta.
***

Cuti telah berakhir. Itu berarti saya akan kembali menjadi makhluk nomaden, berjalan kesana kemari tergantung kemana angin membawa. Untuk satu bulan ini setidaknya, saya bertugas di sebuah desa kecil di kabupaten perbatasan jawa tengah dan jawa timur, Grobogan. Rabu siang lalu, sekitar jam 2 siang saya berangkat menggunakan bus kampus, dengan teman-teman sekelompok yang hampir semuanya tidak saya kenal, ya kalau saya kenal pun, paling juga kenal begitu-begitu saja. Perjalanan memakan waktu 14 jam lebih melewati Sumedang-Cirebon-Brebes-Tegal-Pemalang-Pekalongan-Kendal-Semarang berhasil membuat kaki saya bengkak dan sendi-sendi serasa mau copot. Meskipun begitu, saya menyukai perjalanan ini karena ini pertama kalinya saya naik bis lintas provinsi di jawa, selama ini saya selalu pakai kereta. Saya menikmati lampu-lampu perahu nelayan di cirebon, tatanan kota yang apik di pekalongan, telor asin brebes dan logat ngapak kentalnya orang tegal.

Pagi pertama di Purwodadi, ibukota Grobogan, setelah cuci muka tanpa mandi, saya ikut acara seremoni di lapangan kota yang seperti rawa-rawa. Acara seremoni yang menurut saya cuma basa-basi menyita waktu ini sukses membuat sepatu saya berlumpur tebal, seperti bolu kukus dengan toping coklat lebih banyak dari biasanya. Saya bahkan sempat curiga ada lele menyusup di dalam sepatu, sehingga jadilah bolu kukus double chocolate topping, isi lele. Saya suka Purwodadi. asri, banyak pohon disana-sini. Becak-becak berderet dan es dawet terlihat manis sekali, saya membungkusnya dalam kantong plastik menemani perjalanan saya dari Purwodadi ke Tanggungharjo, kecamatan dimana desa Sugihmanik, tempat saya bekerja selama sebulan ini. Banjir masih jadi ikon Grobogan sepertinya, air menggenang dimana-mana. Tak apalah, biarkan saja dia tumbuh. Bisa saja tahun depan sudah dijadikan objek wisata bencana, danau grobogan, mungkin.

Sampailah saya di desa Sugihmanik, disambut mesra oleh kepala desa dan sejumput gerimis. Saya menempati rumah kosong kepala desa. Saya paling cepat datang, langsung memilih satu-satunya kamar di lantai dua. Tujuannya satu: menghindari keramaian. Setidaknya dengan berada di lantai dua, si makhluk soliter ini tak perlu tidur bercampur-baur bau ketiak, juga beramai-ramai main kartu remi sambil sedikit sesak nafas karena dikepung asap rokok (setelah periksa ke dokter Fatma, katanya saya alergi asap, segala jenis asap. Ini sekaligus jadi jawaban atas batuk yang dua bulan ini tak sembuh-sembuh). Tuhan menambah satu penghuni lagi di kamar saya. Dari sikapnya yang sering diam, duduk di depan jendela sambil sedikit merokok atau minum kopi, sepertinya dia masih satu genus dengan saya. Dia dan kamar ini menarik, begitu juga balkonnya yang lebar dengan dua tiang jemuran besar, tempat dimana akhirnya saya sadari merupakan tempat mendarat embun pagi-pagi. Saya yakin kami-kami ini akan jadi teman yang baik.

Sugihmanik, saya menyukai tempat ini. Tenang dan tak terlalu banyak bicara. Angkutan desa dan motor bebek berbagai merek jarang berkeliaran. Aspal beton hanya di jalan utama, selebihnya jalan setapak dengan batu-batu kapur dan diapit rumah joglo yang klasik. Ibu-ibu mengutili jagung di beranda sambil sesekali mengusir ayam dari jagung yang terjemur, anak-anak berlari pergi mengaji. Sorenya gerimis merintik, itik-itik berbaris pulang ke kandang. Saat malam berganti wujud menjadi pagi, matahari mulai mengintip dari pucuk pohon mangga di depan jendela kamar. Jam weker berwujud makhluk kecil berparuh dan bersayap berbunyi diatas genteng. Ini berarti saatnya bapak-bapak dengan pangkal lengan agak lebih kecil dari bantal guling, bersama berjalan ke sawah, kebun jagung atau tambang batu kapur di pinggir desa. Mungkin juga berarti saya harus segera mandi, makan pagi, dan berjalan ke kantor desa, membenahi administrasi. Semuanya menyenangkan kecuali tiga hal paling mengganggu ini: 1. panasnya yang kadang semena-mena; 2. tatapan “hai-mas-apakah-anda-berasal-dari-mars?-jika-tidak-tolong-yakinkan-saya” anak-anak, remaja, dan beberapa orang dewasa; dan 3. nyamuknya yang bergerombol dan terlalu senang bergerilya mencuri darah saya. Saya masih bisa berurusan dengan hal 1 dan 2, setidaknya untuk saat ini. Bagaimana dengan hal ketiga? Saya balas dendam pada makhluk kecil serakah ini. Paginya, saya menjadikan mereka lukisan-lukisan abstrak berwarna merah hati di dinding kamar, sisanya terpaksa jadi korban genosida cairan anti serangga. Mereka jera? Tidak. Besoknya gerombolan lain, spacies sama mulai mencuri lagi di kamar saya.

Dan hal paling menarik diantara semua yang menyenangkan (apalagi menyebalkan) adalah pemandangan di depan kantor desa. Kebun jagung yang luas dipotong-potong rel kereta api dan diselingi tiang-tiang listrik. Saya temukan ini sebagai obsesi. Ingin rasanya menyusuri rel kereta api sambil menonton angin yang pacu lari diatas bunga jagung, saya ingin tau siapa yang lebih dulu mencapai garis finis di tiang listrik paling tinggi, tanpa tersambar kereta.



13 blabla(s):

Dini Yahdini Nurhasanah mengatakan...

Lagi KKN ya ceritanya? :o

wind starshinee mengatakan...

grobogan ya?
tidak jauh dari tempat saya tinggal.
memang tempat yg menarik, semoga betah :)

cute PANDA mengatakan...

Plz update ya... Hardly wait ur pics:-)

Inggit Inggit Semut mengatakan...

Nanti kapan kapan jgn cuma lewat Cirebon doang ya mas, mampir sekalian hehehehe *ngarep*

whoaaaa saking cakepnya sampe disangka dari Mars? ckckck.

Well, selamat bersenang senang mas :)

Viot mengatakan...

Main ke Solo da.
Slmt menikmati Grobogan :D

Fenty Fahminnansih mengatakan...

Sugihmanik ? nama desa yang unik :)

Enno mengatakan...

yep! pernah ke grobogan. dulu waktu kuliah, aku selalu jalan2 kemana2, mumpung ada di jawa tengah hehe...

tempat yg menarik kan?
kapan2 pengen kesana lagi deh :)

met tugas ya! :D

rona-nauli mengatakan...

jadi bertanya-tanya, Hans...serupa gak ya dengan obsesiku numpang kereta lori menyusuri ladang-ladang tebu? berkejaran juga dgn deretan tiang listrik?

selamat berkarya di sana, ya :)

Gogo Caroselle mengatakan...

Aku pengen ikut... :) Kamu kemana2 terus, places I never heard, pengen ikut, pengen liat2 juga.. :)

Esther Angela mengatakan...

nice landscape. Enjoy your days there :)

Hans Brownsound ツ mengatakan...

dini:
BKP namanya :D

wind:
siaaap! :)

syaifuddin:
i just broke my cam. -_-"

inggit:
sippo. asal ada yang ngajakin jalan aja sih dek. haha.
thanks ya

viot:
iya :D minggu depan deh ke solo.
see u there! :D

Hans Brownsound ツ mengatakan...

fenty:
yuhuu :D

enno:
iya. menarik, cuma panasnya aja yang gak menarik. haha :))
kuliah dimana sih dulu enn?

rona:
thanks ronaaa :D

gogo:
ayuk yuk yuk. adjust aja schedulenya. jalan-jalan kita. hehe

esther:
okay,
thanks esther! :D

damz mengatakan...

Sounds fun! Ditunggu cerita2 selanjutnya.. :)
Btw, suka pengen juga jalan2 ke kebun jagung, tapi selalu ketakutan tak beralasan bertemu mahluk bernama ular dan teman2nya.. hehe..

 

Blog Template by