Rabu, 01 Februari 2012

One day trip to Tanatoraja: Londa and Kete' Kesu

Saya kenal Tanatoraja dari majalah anak yang selalu dibeliin bokap saya tiap hari kamis, beberapa belas tahun yang lalu. Kalo nggak salah waktu saya kelas 2 SD. Saya penasaran banget sama kuburan-kuburan di atas tebing sama adat pemakaman toraja yang unik. Saya bilang sama bokap saya, saya mau kesini. Waktu itu bokap saya ngangguk-ngangguk aja, “iya, ntar kalo udah besar,” katanya.

Gak nyangka akhirnya saya benar-benar menginjakkan kaki saya di Toraja, Sulawesi Selatan Juli 2010 lalu. Kebetulan saya sedang melaksanakan praktek lapangan di kota Palopo yang jaraknya hanya 3 jam-an dari Toraja. Senang rasanya setelah perjalanan sebelumnya, sekitar september 2009 gagal dan malah berujung di pantai Bira, Bulukumba. Saya berangkat ke Toraja bareng teman-teman PL, naik mobil pinjeman staff kelurahan Ponjalae di Palopo. Berangkat pagi-pagi, setelah nyiapin bekal makanan untuk satu hari. Jadilah, one day trip to Tanatoraja!

Perjalanan ke Toraja ekstrim abis! Jalannya nggak segampang yang saya pikirkan. Kanan kiri jurang, belum lagi jalannya yang rusak parah. Tanah longsor dengan batu-batu gunung segede gaban menghiasi di kanan kiri jalan. Saya sama temen-temen gak henti-henti berdoa biar mobil nggak selip, trus terjun bebas masuk jurang (yaoloh, no). Perjalanan dari Palopo ke Toraja ditempuh 3 jam. Kalau dari Makassar bisa 10-12 jam, bahkan lebih, tergantung kondisi cuaca. Kalau hujan dan berkabut, ya otomatis lebih lama (kabut di jalan ke Toraja bisa sampai jam 10-11 pagi). Tapi yang mau ke Tanatoraja tahun depan bisa bernapas lega nih, soalnya saya dapat kabar kalau tahun depan itu Bandara Tanatoraja udah mulai beroperasi dan ada pesawat rute Makassar-Tanatoraja tiap hari. Cihuy! Nggak perlu lagi pengorbanan bengek dalam bus kalo gitu ceritanya.


ready for this?


Perjalanan menuju Tanatoraja bagi saya sangat mengesankan, walau rada dag-dig-dug sih sebenarnya. Semua terbayar begitu memasuki kawasan Kabupaten Tanatoraja. Pemandangan hijau berkabut membentang dari ketinggian sampai 2880 kaki dari permukaan laut. Saya bener-bener spechless kehabisan kata buat ngegambarin gimana pemandangannya yang seperti lukisan nyata itu. Udaranya seger dan dingin, jadi saya saranin yang biasa tinggal di kota besar yang panasnya sodaraan sama neraka, mending bawa jacket tebal deh kalo nggak mau pulang-pulang ingusan. Di kanan kiri udah banyak Tongkonan, rumah adat toraja berikut hiasan kepala kerbaunya. Udah banyak juga kendaraan seliweran sambil bawa babi yang semok-semok.

LONDA

londa's gate


this is londa


groups of tau-tau


in the cave, a bit messy


toraja's romeo and juliet


hello, brother!



souvenirs shop



tau-tau for sale

Destinasi pertama kami adalah Londa, kuburan tradisional toraja diatas tebing-tebing tinggi dan goa. Baru turun dari mobil, saya nggak berasa di Indonesia, soalnya banyak bule-bule seliweran, hehe. Karena hujan datang tak tepat waktu, saya dan temen-temen terpaksa duduk dulu nungguin hujan reda, baru perjalanan dilanjutkan ke Tebing batu yang jaraknya kira-kira 300 meter dari tempat parkir. Baru aja nyampe, saya dan temen-temen udah disuguhi tengkorak dan tulang belulang dimana-mana. Rada merinding juga sih sebenarnya, tapi kapanlagi bisa megang-megang tengkorak begini.

Di bagian depan tebing batu, terdapat patung-patung dari kayu. Usut punya usut ternyata patung-patung kayu itu namanya Tau-tau. Tau-tau merupakan representasi dari orang yang udah meninggal yang dibikin mirip banget sama wujud asli si almarhum. Makin cakep patungnya, makin bagus kayu yang digunakan, maka makin tinggi juga status sosial orang itu waktu masih hidup. Nah, tau-tau di londa ini bagus-bagus, itu berarti semasa hidup almarhum-almarhumah disini pasti tajir-tajir. Denger-denger orang-orang yang dikubur di Londa ini adalah satu keluarga besar yang cukup terkenal di Tanatoraja.

Dalam adat toraja (Aluk To Dolo), seseorang yang meninggal akan hidup kembali di alam baka, makanya orang tersebut harus dibekali banyak barang. Jadi barang-barang kesukaannya semasa hidup dan barang-barang yang dianggap diperlukan di kehidupan selanjutnya harus diikutsertakan di dalam makam. Makanya untuk menghidari pencurian, orang toraja jaman dulu menempatkan makam di tebing-tebing tinggi supaya susah dijangkau maling. Inilah asal muasal kenapa orang-orang toraja dimakamkan di atas tebing-tebing tinggi. Saya nggak heran kenapa di makam banyak berserakan barang-barang dari kasur, kacamata, kipas angin, sampai ijazah SMA.

Saya dan temen-temen memasuki dalam goa yang bisa ditebak, gelap, apek dan tetap dengan tulang belulang berserakan dimana-mana. Sumpah mistis banget di dalam! Bulu kuduk saya merinding entah berapa kali. Kondisi di dalam lumayan berantakan sih, barang-barang si almarhum berantakan dimana-mana, peti-peti yang udah lama, lapuk dan itu tulang jadi berhamburan kemana-mana. Ada beberapa juga beberapa ‘penghuni baru’ disono, petinya ngeluarin lendir-lendir coklat gitu (ga usah dibayangin). Pokoknya rada serem sih di dalem. Satu yang paling menarik yaitu tengkorak Romeo-Juliet Toraja.

Jadi ceritanya jaman dulu ada sepasang kekasih yang saling mencintai, tapi nggak disetujui orangtua masing-masing karena mereka itu ada hubungan kekerabatan, dan jadilah sepasang kekasih yang udah terlanjur mencintai itu memilih jalan pintas mengakhiri hidup mereka (mungkin berharap di kehidupan selanjutnya bisa bersatu ya). So sweet ya *lapingus*. Di dua tengkorak ini kebanyakan orang naroh sesajen, biasanya rokok, nggak tau buat apa.

Kete’ Kesu

tongkonan

Puas berkeliling dan ngeliat rangka manusia dimana-mana, saya dan temen-temen lanjut ke destinasi ke dua yaitu Tongkonan Kete’ Kesu, kumpulan rumah adat toraja yang umurnya udah ratusan tahun. Nggak terlalu jauh sih dari Londa. Di Kete’ Kesu inilah berdiri puluhan tongkonan. Beberapa dalam kondisi masih bagus, dan beberapa lain udah dalam kondisi mengenaskan. Bingung deh kenapa di Indonesia selalu begini. Benda-benda peninggalan budaya nggak pernah dijaga dengan baik. Kaya di Sumatera Barat tuh, Rumah-rumah Gadang udah banyak yang roboh dan nggak diperhatiin lagi. Jumlah rumah gadang sekarang itu bisa diitung dengan jari.

Lanjut, dulu tongkonan hanya boleh dibangun bangsawan, karena memang untuk bikin tongkonan perlu duit dalam jumlah nggak sedikit. Di tiang depan dipajang tanduk tedong (kerbau), semakin banyak tanduk tedong yang dipasang, maka semakin tinggi juga status sosialnya. Tanduk tedong yang dipajang itu biasanya tanduk tedong yang disembelih di acara pemakaman. Berhubung upacara pemakaman mahal dan rumit, tidak semua bisa langsung dimakamkan. Sebagian nabung dulu sampai milyaran rupiah, baru prosesi pemakaman Rambu Solo dilaksanakan. Prosesi pemakaman ini lebih mirip pesta daripada pemakaman, karena disini puluhan bahkan ratusan kerbau disembelih. Makin banyak kerbau yang disembelih, makin bagus. Makin keliatan tajir juga si almarhum. Bener juga kata temen saya kalo orang toraja itu hidup untuk mati. Semasa hidup ngumpulin duit banyak-banyak buat mati nanti.


isfan at tongkonan kete' kesu


some coffin in terrible condition



wanna play hide and seek with this thing?


another broken coffin

Di Kete’ Kesu inilah saya ketemu sama yang nama yang namanya Tedong Bonga atau kerbau putih. Konon harga ini kerbau bisa sampai ratusan juta. Ini kerbau putih nasibnya bagus banget deh. Beda sama kerbau di minangkabau yang dipaksa kerja siang malam sampai tulang-tulangnya keliatan. Kerbau disini malah dimanja, kerjaannya makan tidur doang. Apalagi kerbau putih alias Tedong Bonga ini, selain kerjaannya cuma makan tidur, makanannya lebih dari empunya bahkan! Tiap hari dikasi makan susu keju, biar gemuk dan harga jualnya bisa bombastis. Enak banget jadi elo ya kebo. Oia, saya lupa cerita kalau dalam adat toraja ini, kerbau-kerbau inilah yang akan mengantarkan arwah ke alam selanjutnya. Makanya kalau seorang anak belum tumbuh gigi dan dianggap belum bisa mengendarai kerbau maka kalau meninggal dimakamkan di sebuah lubang pohon. Harapannya si anak akan tumbuh besar bersama pohon tersebut sampai tiba saatnya ia bisa mengendarai kerbau ke alam selanjutnya.


tedong bonga


Puas berkeliling (dan foto-foto tentunya), saya singgah di beberapa souvenir shop di pasar Jln. Mappanyuki Rantepao, nggak terlalu jauh juga dari Kete’ Kesu. Disini kita harus pinter-pinter nawar kalo nggak mau kebayar mahal, karena biasanya untuk wisatawan harga yang ditawarin dua kali lipat dari harga aslinya. Saya beli beberapa ukiran khas toraja, gelang, dan tau-tau mini. Senangnya, one day trip-pun clear!

Sebenarnya masih banyak tempat yang belum kami kunjungi sih, tapi berhubung udah sore dan besok kerjaan setumpuk udah nungguin di kantor, kami terpaksa cabut. Perjalanan pulang gak terasa melelahkan karena kami semua (kecuali sigit si driver) tidur pulas kecapean. Perjalanan satu hari itu bener-bener berkesan buat saya, soalnya udah impian bertahun-tahun sih ya. Tau nggak, nyampe di Palopo kami nggak langsung istirahat, malah langsung nyari tempat karaoke. Haha!

check what i bought: some crafting, bracelet, and mini tau-tau




Last, berita baik nih, Kete’ Kesu sudah diusulkan masuk daftar elit World Heritage Site UNESCO! Yey!

Information Corner:
Official Website: click here!
Makassar-Tanatoraja : 8-12 hours, by bus.
Hotels:
Toraja Heritage Hotel
http://www.torajaheritage.com
Jl. Kete Kesu , P.O.Box 80
Rantepao, Tana Toraja
Contact: 62 – 423 – 21 192

Looking for another hotels? click here.
Cheapest Hotel: 75k –net

Festivals:
Annual Culture Festival, around Indonesian Independence day celebration on august.
Annual Lovely December Festival, around Christmas.


Note: for moslem, its kind of hard to find halal meals in here. It’s best to prep before.


4 blabla(s):

Yaumil Akbar Firdaus mengatakan...

widih ajib ni ....

jadi pengen nyoba motoin tentang kebudayaan gini

Talita Dinda Nurahma mengatakan...

kak hans follow balik yaaaa :DD aku udah taruh link blog kakak di blog akuuu :D

NIT NOT mengatakan...

sudah bertahun2 mau kesana...janjian bisa cuti bareng ama teman asli sanapun gak pernah kesampaian...nie tulisan membuat niat kesana muncul lagi....wkwkk....gimana kabarnya hans ?

rhein fathia mengatakan...

Aaaahhhh...!! Sama bangeeett!! Duluuuu banget zaman SD tau tentang tana Toraja dari Majalah itu.. tulisan penuh mistisnya bikin selalu inget sama tempat ini sampe sekarang..

Someday, I'll go there.. *ga mau kalah* :p

 

Blog Template by