Sabtu, 15 September 2012

Book launching: Land of the birds of paradise


Awal agustus lalu, tepat  sehari setelah wisuda dan pengukuhan saya tidur-tiduran aja di kosan, karena emang gak ada kerjaan selain nunggu ijazah  keluar. Saya iseng buka twitter dan baca twit dari  @WWF_ID yang mungkin emang rejeki saya atau gimana lagi ngadain kuis yang berhadiah buku limited-edition “Land of the birds of paradise” karangan Marc Argeloo naturalis Belanda yang berisi All about Papua, pulau besar terakhir di Indonesia yang belum saya injak. God knows how I am obsessed about this island, and He lets me win. Sebenarnya kuis ini hanya untuk followers @WWF_ID yang ada di jabodetabek aja sih karena untuk ngambil bukunya harus datang ke acara launching buku sekaligus peringatan 50 tahun kinerja WWF di Indonesia,  tapi ya karena saya agak nakal dan memang pengen banget punya buku not-for-sale ini, saya tetep ikutan kuisnya.  I don’t mind at all if I have to go to Jakarta to take this book.


Tanggal 11 September, jam 5 pagi saya sudah siap-siap dari kosan untuk berangkat ke Jakarta. Dari kosan saya langsung ke gerbang tol Cileunyi tempat dimana bus Cileunyi-Rambutan biasa nangkring. Cileunyi-Jakarta biasanya ditempuh 3 jam-an, dalam pikiran saya kalau saya berangkat jam 6 pagi, jam 9 saya sudah di Jakarta dan gak bakal telat ke acara launching bukunya yang dimulai jam 10.  Karena saya agak buta dengan Jakarta, saya udah hubungi temen SMA saya yang kuliah di Jakarta, Sherly buat nemenin saya. Entah karena buru-buru atau gimana, pas naik bus saya lupa ngecek apakah bus yang saya tumpangi lewat tol apa nggak. Dari Cileunyi itu bus ke Kampung Rambutan ada dua jalur, jalur pertama yang lewat tol dengan waktu tempuh 3 jam-an. Jalur kedua lewat puncak, cipanas which takes more time, bisa 4-5 jam. Begonya saya, saya naik bus yang lewat cipanas dan baru sadar waktu busnya lewat Bandung malah keluar  tol. Bam! Kacaulah saya, mau turun gak tau dimana, mau terus ya pasti saya telat. Keputusan yang paling efektif diambil ya saya tetap di bus sambil berdoa busnya bisa jalan lebih cepat.

Perjalanan dari Cileunyi-Kp Rambutan via Puncak ternyata emang lama banget, makan waktu 5 jam. Makin kerasa lama lagi karena bapak-bapak disebelah saya bawa ayam jago dan tidurnya nyenyak banget sampe ilernya ngalir kemana-mana. Belum lagi pengamen dan penjual asongan yang puluhan kali keluar masuk, bikin saya yang udah kepanasan, tambah panas. Jam 11 saya nyampe di Kp. Rambutan dengan muka yang udah mirip kotak amal, udah berantakan banget. Sherly juga udah lumutan karena nungguin saya 2 jam di terminal. Dari Kp. Rambutan kita langsung naik busway ke Erasmus Huis, Dutch  Cultural Center yang masih satu komplek dengan Netherlands embassy and kedutaan-kedutaan lainnya di Setiabudi. Saya nyampe disana jam 12 dan disambut sama adminnya @WWF_ID yang manis (ahay!). Saya telat. Telat banget. Saya nyampe di detik-detik terakhir talk show, cuma dapat  sesi tanya-jawab doang. Acaranya keren banget sebenernya, ada Marc Argeloo si penulis buku (yang udah kerja jadi pimpro konservasi maleo di Sulawesi dari tahun 1990) , ada Bu Paschalina Rehawarin atau bu Linke (aktivis konservasi di Papua), ada juga @uliherdiansyah yang jadi presenter. Ada juga CEO WWF Indonesia, tapi saya gak sempat ikutan talkshownya.


 WWF Indonesia supporters, writer, and dancers

Me and dancers, they were awesome!

 
The book!

narsis dikit :))
Walaupun saya telat banget banget datang, saya tetap dapet buku Land of Bird s of Paradise plus nonton tari tradisional Papua di akhir acara. Kenapa saya excited banget sama buku ini? Yang pertama, bukunya berisi segala sesuatu tentang Papua mulai dari sosial, budaya, antropologi, geografi, sampai geologi dua propinsi paling timur Indonesia yang belum pernah saya kunjungi. Buku ini memuat rangkuman kurang lebih 30 tahun kinerja konservasi WWF di Papua. Saya sampai sekarang cuma bisa gigit jari aja denger cerita teman sekamar saya yang orang Papua asli tentang indahnya Papua. Terumbu karangnya, pegunungannya, dan budayanya. Saya udah niat banget pengen ke Papua dari lama, tapi sayang berat di ongkos. Ongkos ke Papua mahalnya luar biasa, lebih mahal dari ongkos ke Singapore atau Hong Kong. Waktu saya tinggal di Makassar aja, tiket Makassar-Jayapura aja bisa sampai 3 jeti PP. Itu baru sampe Jayapura ya, belum kalau kita ngelanjutin penerbangan ke Timika atau Merauke. Gimana Bandung-Jayapura? Atau sekarang gimana Padang-Jayapura? Bah, ngelantur kemana-mana.  Istimewanya, buku hasil kerjasama WWF Indonesia dan WWF Netherland ini not-for-sale alias nggak dijual di toko buku manapun di sistem tata surya ini.

Kedua, karena buku ini dikasi langsung sama WWF Indonesia. Organisasi  konservasi yang udah menarik perhatian saya dari jaman SMA karena kinerjanya dalam pelestarian lingkungan hidup. Terus terang saya pengen banget terlibat langsung dalam setiap kegiatan WWF, it’s seems interesting to be  involved in every efforts for better  earth, not just sit on  hot seat in  4x3m cubicle 8am-4am 5/7.  Semoga suatu saat saya bisa terlibat langsung dalam kegiatan konservasi orangutan misalnya, atau harimau sumatera, that would be so nice. Untuk sekarang mungkin saya cukup jadi good supporter dan melakukan apa yang saya bisa.

Last but not the least, saya mau ngucapin Congratulations for 50 years of great work  WWF Indonesia! May your great work and contribution continue to be the light,  hope, and inspiration for the people of Indonesia.  Long live the living planet, Long live WWF Indonesia!

3 blabla(s):

Mustacchio mengatakan...

lucky you!

it would be great if you post the review of the book :D

Hans Brownsound ツ mengatakan...

I will. just wait k ;)

deenee mengatakan...

yah si emas, gak hubungin aku, tau gitu tak jemput di stasiun wonokromo trus tak anter ke juanda mas :p

 

Blog Template by