Minggu, 30 September 2012

Di stasiun tempat kita bertemu

Di bangku panjang aku menanti keberangkatan sementara ingatan kian gencar berziarah membolak-balik luka yang sama. Aku teringat perkataanmu waktu itu, hidup seperti teka-teki. Kita tidak tahu persis kapan harus datang dan kapan harus pergi. Hidup juga umpama ular tangga, kadang kita pergi jauh dan kemudian terjatuh dan tersesat di kotak yang lama.
Di stasiun yang sama pernah ada perjumpaan. Aku masih hafal betul minyak wangi dan tas punggung yang kau bawa. Matamu yang biru menadah langit, menantang hujan supaya berhenti berduka. Meski banyak kata tak terucap, perjumpaan tak pernah sia-sia. Akan ada cerita yang kita rekam walau selalu berakhir saat peluit dibunyikan. Sayangnya, perpisahan terlalu ramah menjumpai kita. Selamat tinggal terlalu cepat terbingkai, padahal cerita belum sampai di titik usai.
Ada rona yang berkarat di stasiun ini, oranye seperti sore-sore dengan telinga yang masih mengiang kata “halo”. Mungkin dadu-daduku kian tak bersahabat hingga terjungkang ku pada kotak lama. Meskipun tak kutemui tubuhmu yang terentang, lonceng dan rel kereta masih berdentang. Meski kau hilang, stasiun lebih lancang untuk tetap riang. Tak ada yang berhenti mesti hati sudah terlanjur mati.
Jadi kusimpulkan, jika hidup umpama jadwal kereta. Pertemuan dan perpisahan telah ditandai waktu, dibatasi bunyi peluit yang nyaring. tak ada doa syahdu yang bisa menghenti waktu atau menjembatani kita untuk berbasa-basi. Suka tidak suka pertemuan dan perpisahan telah menjadi dadu, diguncang untuk menguji peruntungan. Terlepas di musim mana kita harus berhenti, akan kusadap ingatan meski rindu tak terperi.
Kiaracondong-Wonokromo
September 2012


6 blabla(s):

hana tsurayya mengatakan...

life is a mystery of Almighty. when there is a hello, it also has a goodbye.

tiwi mengatakan...

*melongo*

perahukayu mengatakan...

Alkisah lagi cari info tentang lombok, eh malah nyangkut dulu di puisi keren ini hehehe

Suka banget sama kalimat ini:
"Matamu yang biru menadah langit, menantang hujan supaya berhenti berduka."

Asyik banget kalimatnya, masbro..

Anyway, nice blog!

Hans Brownsound ツ mengatakan...

hana: siap! ;)
tiwi: jangan!
perahukayu: hey, welcome to my space! thank you.

nyaAjie mengatakan...

Browsing tentang nasi Rarang, nyasar ke sini.
blog ente keren, ente keren, tulisan ente keren. wah wah..
jatuh cinta pada pandangan pertama pada blog ini.

phie mengatakan...

hati rasanya jd ga karuan bacanya. kebawa sama dunia khayal tulisan ini.

 

Blog Template by