Sabtu, 20 Oktober 2012

Sore Mei di Bragaweg

Jalan Braga
Mei 2012 adalah bulan yang spesial. Sahabat saya, Rama akhirnya berhasil memperoleh gelar S.Ab dari Universitas Padjajaran. Dalam rangka wisuda Rama, kami kedatangan tamu kehormatan dari Malang. Yona namanya. Dia sahabat saya dari SMP. Dengan dua orang ini waktu SMA saya biasa menggila, manjat pagar sekolah, mencuri rambutan bukit belakang sekolah, bolos pelajaran kimia, dan banyak dosa-dosa besar yang kami lakukan bersama. Senang sekali akhirnya kami bisa berkumpul lagi bertiga, karena setelah lulus SMA jarang sekali kami bisa berkumpul. Terlebih saat saya terdampar di Makassar  dan dua orang ini di Bandung dan Malang dengan jadwal liburan yang beda-beda.
Kesempatan hang-out bertiga mana mungkin bisa dilewatkan begitu saja. Saya, Rama dan Yona berjalan-jalan keliling Bandung meskipun saya harus melarikan diri dari kampus dengan manjat pagar masjid (ceritanya kampus saya itu agak strict, senin sampai jumat gak boleh keluar kampus. Sabtu-minggu juga kadang-kadang gak diizinin keluar kampus). Akhirnya saya sadar, pembelajaran memanjat pagar waktu SMA ternyata bisa diimplementasikan secara real dalam kehidupan berasrama, berbangsa dan bernegara. Jalan Braga adalah lokasi yang kami anggap layak untuk mengajak tamu kehormatan ini jalan-jalan.
  bragaweg, jaman dulu. source: wikipedia.com, edited.
here's braga now
I like font they use for 'Arjuna' letter
langit braga sore-sore
momiji, japaneee cuisine
Jalan Braga bisa dibilang jalan paling terkenal di Bandung. Gak mabrur rasanya jalan-jalan di Bandung kalau belum menginjakkan kaki di Jalan Braga. Bagi penyuka hal-hal vintage kayak saya, jalan ini adalah jalan yang paling recommended untuk menikmati Bandung dengan suasana tempoe doeloe. Saya cerita sejarah dikit boleh ya? Jalan Braga atau Bragaweg ini sudah ada sejak jaman Kolonial Belanda yaitu sekitar tahun 1882. Awalnya bernama Karrenweg atau Jalan Pedati karena memang awalnya jalan ini biasa dilewati pedati. Kata Haryanto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Jalan Braga pernah dijuluki “de meest Europese winkelstraat van Indie” atau  kalau dibahasa-Indonesiakan artinya pusat perbelanjaan orang-orang eropa. Dulu kawasan ini merupakan kawasan elit, tempat noni-noni Belanda belanja. Beberapa tempat seperti Societeit Concordia (sekarang jadi gedung merdeka) adalah tempat yang boleh didatangi oleh bangsawan-bangsawan Belanda dan Pribumi dengan jabatan tinggi. Sejarah lengkapnya bisa dibaca disini.
Jalan Braga tahun 2012 sudah banyak berubah. Sebagian bangunan memang sudah beralih rupa menjadi bangunan-bangunan modern, tapi arsitektur dan aroma-aroma tempoe doeloe-nya masih kerasa banget. Tapi tentu saja kita nggak bisa melihat mobil-mobil Volkswagen terparkir dan noni-noni dengan gaun dan payung cantik berkeliaran. Toko-toko di Jalan Braga masih bisa dibilang lengkap. Beberapa diantaranya adalah Braga Permai Restaurant yang sudah buka dari tahun 1920, Koffiehuis Oey, beberapa café-café lama dengan live music, bar, minimarket, toko roti dan toko barang antik. Kita juga bisa melihat pelukis memajang lukisannya sepanjang jalan. Untuk mempertahankan keklasikannya pun, pemerintah menggunakan batu andesit -- bukan aspal untuk jalannya.
Saya, Rama, Yona dan dua teman SMA lainnya yang ikut bergabung memilih Braga Huis buat nongkrong, karena kami semua belum pernah kesana. Kesan yang saya dapat, ya cafenya klasik dan cozy. Atmosfirnya bikin betah berlama-lama. Menunya juga enak-enak. Recommended buat didatangi kalau lagi jalan-jalan ke Braga. Ternyata Braga Huis ini beberapa waktu yang lalu dijadikan tempat syutingnya film Madre-nya Dee Lestari. Kita juga coba mie favorit saya, Mie Reman yang rasanya cetar membahana. haha.
cappucino (or what, i can't remember) on braga huis
risoles ini enak banget
spooky creature at braga huis
 mie reman yang super duper pedas
Saya punya beberapa tempat favorit lain yang sering saya kunjungi kalau saya mampir ke Jalan Braga. Pertama, Toko buku Djawa 79. Tokonya kecil sih emang, buku-buku yang ada juga terbatas. Tapi saya suka banget sama suasana tokonya yang damai. Saya juga suka jendelanya yang besar. Tidak tau kenapa saya selalu merasa bahagia kalau masuk ke toko buku ini, padahal (biasanya) cuma liat-liat aja, gak beli apa-apa. Yang punya nenek-nenek keturunan tionghoa. Katanya toko Djawa 79 ini sudah  buka selama 60 tahunan. Tempat favorit saya selanjutnya adalah Sumber Hidangan Cafe and Bakery. Begitu masuk tempat ini pasti langsung berasa terdampar ke puluhan tahun lalu karena ruangan ditata dengan mempertahankan perabot serba jadul. Mulai dari etalase, toples, mesin hitung, bahkan radio tua masih bertengger rapi. Klasik dan antik, nama kue-kuenya pun masih dalam bahasa belanda seperti: Kattetong, Eierkoekjes, Suiker Hagelslag, Janhagel, Kaastengel dan Bokkepootjes. Favorit saya adalah es krim homemade-nya, dijamin bisa nambah berkali-kali. Untuk suasanya se-cozy itu, harga kue-kuenya affordable banget.  France Bakery juga nggak kalah nyamannya. Kalau nyampe di Jalan Braga ketemu  plang bergambar menara Eiffel, itulah dia. France Bakery punya café mini yang enak banget buat dikunjungi sore-sore, minum kopi sambil baca buku. 
gedung tua depan museum asia afrika
I can't remember where
 French Bakery
persimpangan braga Landmark
  bonus, foto abege labil. rama's now working in bengkulu and yona in tokyo. I miss them both.
Masalah terbesar Jalan Braga adalah parkirannya yang semrawut. Karena Jalan Braga memang gak terlalu panjang dan lebar, maka kendaraan parkir di sisi jalannya (atau bahkan di trotoar). Bisa ditebak, hal ini bikin macet. apalagi weekend, jalan yang sebenarnya bisa dilewati lima menit itu bisa jadi setengah jam.  Oia, saya lupa cerita kalau Jalan Braga itu pendek banget sebenarnya, jalan kaki lima menit juga udah sampe ujung jalan. Saya mikirnya kenapa Jalan Braga nggak sekalian ditutup aja dari kendaraan bermotor ya, biar digunakan buat pejalan kaki dan sepeda aja, pasti cakep. Tiap tahun biasanya diadakan Braga Festival. Tahun lalu saya nggak bisa datang, gegara saya gak diizinin keluar kampus dan gak memungkinkan untuk lompat pagar. Nah tahun ini, tepatnya 28-30 September lalu saya udah mendarat di Padang. Nggak tau deh kapan saya punya kesempatan ke Braga Festival.
Ps: foto-foto saya ambil dari kamera Yona. Kamera butut prasejarah saya dipinjam enyak babeh jalan-jalan keliling jawa. ayolah tuhan, kapan saya punya kamera yang bagusan dikit.

6 blabla(s):

Ellious Grinsant mengatakan...

Hahahaha, emang seru tuh kalo jalan-jalan di jalan braga, cuma itu dia, bandung kan macet amat kalo pas musim2 liburan.

Indah Mustikasari mengatakan...

sumpah ya kak hans baca postingan ini pas banget tadi sore saya baru ke sana, lost in Braga. Tapi seru banget. Saya mampir ke Sugarush, di sana tempat tempatnya cozy dan antik, bikin betah. Alfamartnya pun bikin betah hahaha.

Alvianti Fajarsari mengatakan...

Jd pengen icip ice cremnya... :3

Alvianti Fajarsari mengatakan...

Jd pengen icip ice cremnya... :3

Angelika Riyandari (Ike) mengatakan...

jadi pengin ke Bandung ... dan jalan2 ke Braga ... I hope I can do it next year ...

Hans Brownsound ツ mengatakan...

ellious: bener!
indah: iya banget dek. alfa-nya enak banget buat nyantai ya.
alvianti: then go there :)
angel: amin!

 

Blog Template by