Sabtu, 03 November 2012

Review: 10 Timer til Paradis


Hola! Berhubung udah lama banget saya nggak review-review, kali ini saya mau review film Denmark yang baru saya tonton tadi sore, judulnya “10 Times til Paradis” atau versi englishnya “Teddy Bear”.
Film ini bercerita tentang seorang binaragawan pemalu dan socially awkward berusia 38 tahun bernama Dennis (Kim Kold) yang belum pernah memiliki pacar sekalipun dalam hidupnya. Ia  hidup di pinggiran Copenhagen bersama ibunya, Ingrid (Elsebeth Steentoft) yang benar-benar posesif dan mengatur detil-detil kehidupan Dennis secara agresif. Ingrid tidak mengizinkan Dennis untuk dekat dengan gadis manapun. Ingrid bahkan selalu mogok makan dan tidak keluar dari kamar bila Dennis melakukan sesuatu diluar skenarionya. Hubungan Dennis dan ibunya yang terlalu dekat digambarkan agak disturbing, sebagai contoh: mereka berdua berada pada kamar mandi yang sama ketika Dennis mandi dan ibunya buang air kecil. Hal itu mereka anggap biasa. Padahal Dennis sudah berusia 38 tahun ya, bukan balita lagi.
Sementara itu, Dennis yang sudah seumur hidup dalam skenario ibunya mulai dihantui kecemasan dan kepanikan. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di gym karena disanalah satu-satunya tempat diluar otoritas Ingrid. Ia ingin mencari cinta sejati untuk menemani hidupnya dan ketika pamannya, Ben (Allan Mogensen) kembali dari Thailand dan kemudian menikahi seorang gadis lokal Thai, Dennis mulai berpikir untuk melakukan hal yang sama. Niat Dennis ternyata didukung oleh pamannya, akan tetapi tentu saja akan ditentang oleh ibunya. Ibunya takkan pernah memberi ruang bagi wanita lain dalam hidup mereka. Karena itu, Dennis berbohong pada ibunya, dengan mengatakan ia akan pergi ke Jerman untuk mengikuti kompetisi binaragawan dan bisa ditebak ibunya tidak mengizinkan, akan tetapi kali ini Dennis keukeuh dengan niatnya. Ia berangkat meskipun si ibu bahkan tidak mau mengucapkan selamat jalan padanya.
Berbekal dari informasi Paman Ben, di Pattaya Dennis bertemu dengan Scott (David Winters), orang yang akan mengenalkannya dengan gadis-gadis Thailand. Apa yang dibayangkan Dennis tentang gadis-gadis Thailand ternyata sangat berbeda dengan kenyataannya. Gadis-gadis Thailand disini digambarkan sebagai gadis-gadis murahan yang money and sex-oriented. Banyak scene menggambarkan Dennis yang tinggi besar diganggu gadis-gadis murahan setinggi pinggang yang genit dan tidak tahu malu, mereka memperlakukan Dennis seperti boneka seks berjalan. Bahkan lebih luas, pariwisata Thailand digambarkan dengan sangat bobrok, penuh dengan prostitusi dan penggambaran bagaimana mudahnya pria kulit putih mendapatkan gadis lokal Thailand. Di beberapa scene bahkan digambarkan betapa rusaknya moral orang-orang Thailand, sebagai contoh: Dennis ditipu oleh seorang penjahit jas dan seorang supir taksi  yang bercerita, kalau untuk pria seperti Dennis bahkan bisa mendapatkan wanita tanpa dibayar samasekali. Dennis yang belum pernah berpergian sebelumnya dan suasana Pattaya yang hectic dan semrawut merupakan serangan culture shock dahsyat buat Dennis. 
Dennis yang mengharapkan cinta sejati mulai kehilangan harapan akan itu. Ia memutuskan untuk mencari gym untuk kembali berlatih sambil menenangkan pikirannya. Di gym, ia bertemu dengan seorang pemuda yang mengenalinya sebagai bodybuilder internasional. Ia pun menerima ajakan pemuda tersebut untuk makan malam bersama. Disaat makan malam tersebut Dennis mengenal lebih dalam Toi (Lamaiporn Hougaard), janda pemilik gym. Pertemuan Dennis dengan Toi yang tak sengaja ini ternyata memberi harapan bagi Dennis. Toi adalah orang yang ia cari selama ini.
Akhirnya Dennis membawa Toi ke Copenhagen, akan tetapi Dennis menyewakan sebuah rumah untuk Toi dan ia tetap tinggal dengan ibunya. Dennis mengaku pada ibunya bahwa ia tidak mengikuti kompetisi di Jerman tetapi pergi ke Pattaya. Sang ibu-pun mengamuk luar biasa, apalagi setelah tidak sengaja bertemu Dennis dan Toi yang sedang jalan-jalan di mall. Endingnya gausah saya ceritain ya, ntar yang belum nonton gak seru lagi nontonnya. Pada akhir cerita secara samar dijawab alasan dibalik sifat over-protective ibunya. Kita pun bakalan dibawa dalam keadaan Dennis yang benar-benar ‘serba-salah’.
Meskipun bukan pengamat film profesional, saya mau komentar dikit nih mengenai aktingnya Kim Kold yang menurut saya keren banget. Sosok Dennis diperankan dengan sangat baik,  seorang binaragawan dengan badan raksasa penuh otot namun dengan hati yang lembut. Kold berhasil menunjukkan ekspresi kemarahan terpendam seorang Dennis tanpa menghilangkan sisi lembutnya. Top deh. Overall, film ini menurut saya bagus banget, layak tonton. Rating Imdb-nya pun bagus. Film ini jago dalam hal memainkan emosi penonton. Lebih dari itu, kalau kita sadar film ini sebenarnya bukan menitikberatkan pada asmara Dennis dan Toi, akan tetapi lebih kepada hubungan Dennis dengan ibunya.

4 blabla(s):

Alvina A. Amir mengatakan...

ceritanya menarik hans,, ga heran judulnya berubah jd teddy bear... badan macam rambo tapi hati bagai dian pisesa... alamaakk!! mau kali aku di peluk macam itu lah. huhuhuhu :P,,, eh, dvd nya udh ad hans?

Hans Brownsound ツ mengatakan...

omaigat. kemana aja selama ini mbk vin! i miss you haha.
-_- teteup genitnya ga ilang2.

Alvina A. Amir mengatakan...

hehehe biasalah malang melintang di dunia nyata... trauma gw udh cukup terobati hans, jd pengen nyoba ngeblog lg moga2 ga ad psikopat yg muncul lg iiiihhh... syereemm..

hhahahaa ga genit lg hans, cumaaan "kegatelan" aj maklum ga ad yg garuk hahahaha :D

eh hans, film teddy bear nya, udh ad dvd nya blm? pengen jg nonton film nya.

Hans Brownsound ツ mengatakan...

oh, jadi setahun malang melintang di dunia nyata belum nemu orang yang garukin? lol.
beti lah kita. *plak*
kalau dvd ga tau mbk, gw gak jualan dvd hahaha. kyknya udah ada deh, pelemnya rilis pertengahan 2012.

 

Blog Template by