Sabtu, 03 Maret 2012

Mantra


Kau mungkin tak pernah tahu bagaimana rasanya berada di tempat tidur, berjam-jam tengah malam dengan mata yang tak mau terpejam sementara otak terus menerus mengulang pertanyaan-pertanyaan yang sama; Apakah kau baik-baik saja? Sedang apa kau sekarang? Dengan siapa kau habiskan malam? Pertanyaan-pertanyaan ini kadang menyiksa, menyesaki kepala. Ingin rasanya aku berhenti memikirkanmu, melepas otakku sementara waktu dan untuk sekedar bisa berbaring di tempat tidur dengan tenang, memejamkan mata tanpa ada beban yang bergelantungan di kepala. Aku ingin berhenti menginginkanmu.

“Tidak ada yang bisa aku perjuangkan dari kisah semacam ini”. Entah berapa lama sudah aku menuliskan konsep ini di bawah alam sadar, agar aku sadar, kadang realita benar-benar berbeda dengan apa yang diharapkan di dalam kepala. Tapi tiap kali kutemui kau- saat berjalan di kantin atau koridor-koridor kelas,  menyelami mata coklatmu, aku kembali terjebak. Teori yang sudah aku perjuangkan sekian lama tumbang berganti harap yang menggeliat, mengambil alih kendali seluruh sel tubuhku, kemudian menjalankannya semaumu. Kau dulu belajar di sekolah sihir mana?

Terlepas dari sekolah sihir mana kau mendaftar, aku memang jenis manusia perindu. Sedikit saja terkena mantra, aku bisa merinduimu tiap pergantian detik, tiap menit. Dan bila rinduku datang, menggebu sampai tak bisa kukendalikan, saat itulah aku menulis. Kau selalu jadi alasan dibalik bait-bait sajak dan potongan puisi yang aku buat. Kau ada disetiap kata, setiap baris kalimat, di tiap paragraf. Susunan kata selalu bercerita tentang betapa sempurnanya kau tercipta. Dengan mata coklatmu, dengan hidung besarmu, dengan gaya sombongmu kadang-kadang. Menulis topik tentangmu memang tak pernah ada titiknya. Aku menggilaimu, jumpalitan. Aku ingin jadi penulis prosa genre baru, membahas tiap kedip matamu atau alur yang mengalir di nafasmu. Masih bisakah nanti aku menulis tentangmu, saat kau sudah  tinggal serumah dengan kekasihmu itu? yang katanya dengan surat-surat legal bisa memiliki penuh senyummu, kemudian resmi bisa melingkarkan tangannya di pinggangmu bersama melawan dinginnya malam? Wah, jika tidak pasti aku sangat kehilangan. Tulisan-tulisanku akan kehilangan objeknya dan terlantar di jalanan. Itu mungkin saatnya aku mengeluarkan kertas-kertas satu lemari ini untuk dihibahkan ke abang kacang goreng. Kemudian berhenti menulis dengan satu alasan konkrit: Tulisanku telah kehilangan rumahnya.

Hal ini membuka mataku lebar-lebar kalau cepat atau lambat, kau, matamu yang coklat dan hidungmu yang besar akan segera termiliki. Kadang ada suara-suara, disini, di dalam hati (yang sama magisnya dengan mantra-mantramu) memaksa untuk melepaskan diri, mendatangimu kemudian menceritakan detil-detil tengah malamku dan membuat kau percaya, tulisan-tulisanku bukan omong kosong belaka. Tapi aku tak kuat, aku tak cukup berani walau hati tak rela kau dilegitimasi. Memang tak adil, kesempatanku tak pernah serupa dengan dia, aku mau bilang apa?

Maka aku coba berbesar hati, memang sudah takdirnya usaha terbaikku hanya menikmati kau dari jauh saja, mengumpulkan remahmu yang tercecer, kemudian menyalinmu dalam bentuk kata-kata untuk kuingat saat tua nanti, aku pernah jatuh hati. Lagipula rekaman yang dibuat kekasihmu sudah cukup jadi jawaban, kalian tak butuh polimerisasi lagi. Kau bahagia dengannya.

Sudah dulu ya, sudah tengah malam. Aku harus kembali ke tempat tidur, mengikuti ritual magis seperti biasa: membenamkan kepala dalam bantal dan mulai kembali bertanya-tanya, berandai-andai dapat mencium aromamu. Aku biarkan kau berlari-lari di kepalaku, sampai kau lelah, sampai kau berhenti mengganggu waktu istirahat malamku. Tapi untuk malam ini aku mohon jangan lama-lama ya, besok aku ada kelas tambahan.


 

Blog Template by