Jumat, 20 April 2012

waktu yang berputar di pita kaset


Mendengar lagu Michael Learn to Rock secara tidak sengaja malam ini membuat saya kembali dihantarkan ke masa bertahun-tahun lalu, jauh sebelum saya menghabiskan masa awal dewasa di asrama ini. Saya kembali teringat bau pengharum mobil di mobil keluaran 70-an, yang jika boleh jujur baunya aneh sekali. Disanalah setiap hari saya duduk manis, dengan tas ksatria baja hitam RX yang matanya berlampu-lampu warna merah.

Waktu itu saya kelas dua SD. Saat itu papa belum ada uban, masih ganteng sama seperti saya sekarang. Belum suka lupa, belum ada kerut-kerut di keningnya. Sama seperti pagi-pagi pada hari kerja umumnya, kami, dua-beranak ini sibuk dengan urusan masing-masing. Saya memasukkan buku-buku yang disampul rapi kedalam tas, dibantu mama memasang baju merah putih lengkap dengan dasinya. Papa bersiap dengan tas kerja dan tumpukan map-mapnya. Kemudian kami duduk di meja makan yang besar, saya dengan segelas susu dan papa dengan teh telurnya. Mama di dapur, memasak untuk kami. Disanalah, di meja makan itulah papa sambil tertawa biasa bilang begini: “bian.. bian.. bryan” . Saya selalu suka nama kecil itu. Lebih tepatnya saya selalu bahagia jika dipanggil begitu. Di meja makan itu juga papa biasa memuji saya kalau saya ini ganteng.  Saya, si anak delapan tahun ini pipinya langsung merah dibilang begitu.

Lagu-lagu ini menghantarkan saya ke depan pintu mobil tua yang sedang dipanaskan mesinnya, membukanya dan duduk manis di joknya yang mulai kusam. Menunggu papa datang dengan  baju seragam dan kumis tebalnya yang rapi. Dengan mobil tua itu papa setiap hari mengantar saya ke sekolah, sebelum memutar menuju kantornya. Meskipun tak bisa memainkan alat musik, papa suka musik. Tak pernah saya lihat dia menyetir tanpa menyalakan radio tape kunonya. Saya bahkan masih hapal penyanyi-penyanyi favoritnya: Trio Ambisi, Bryan Adams, dan MLTR. Dari ketiganya, kaset MLTR lah yang paling sering papa putar pagi-pagi.

25 minutes, Paint My Love, How Many Hours, Breaking My Heart, lagu-lagu inilah yang selalu mengisi penuh mobil kami sampai kami berhenti di gerbang sekolah yang jaraknya lima kilometer dari rumah.  Papa membuat saya jatuh cinta dengan MLTR. Saya selalu setia menunggu lagu-lagu favorit saya terputar. Masa itu memang belum ada ipod atau CD player yang membuat kita leluasa memutar lagu-lagu favorit dan menggantinya dengan yang lain dalam hitungan detik. Satu-satunya andalan kami adalah radio tape. Jika ingin lagu favorit kita diputar, mau tak mau harus menunggu gilirannya datang, atau jika tidak sabar bisa bisa menekan tombol next dan seketika gulungan pita kaset akan terputar cepat. Hal yang menyebalkan adalah ketika lagu yang kita harapkan terputar malah terlewat. Lebih menyebalkan lagi kalau pita kasetnya malah kusut dan kasetnya rusak. Anak-anak di jaman saya tau rasanya bagaimana. Bahkan mungkin seperti saya, tau rasanya hafal total kaset yang sedang diputar. Jika lagu ini yang sedang diputar, setelahnya pasti lagu ini, terus lagu ini, lalu lagu ini.

Wild Women adalah satu dari lagu favorit saya waktu itu. Jika tiba saat lagu itu diputar, saya akan menyanyi dengan suara delapan tahun yang cempreng. Papa akan mengikuti, dan bernyanyilah kami ini dengan lafal bahasa inggris yang luar biasa tak jelas, siapa peduli?  Lagu kan esensinya untuk dinikmati. Jadi selagi kami menikmati, tidak ada masalah. Saya yakin sampai sekarang papa tidak sadar kalau konser kami tiap pagi itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan lagu-lagu, yang menjadikan koleksi kaset-kaset saya satu lemari penuh. Papa juga tidak sadar, lagu-lagunya lah yang membuat saya berpikir orang yang bisa bahasa inggris itu keren. Tapi saya rasa papa sadar kalau lagu-lagu itulah yang membuat saya bertahun-tahun yang lalu sering naik keatas tempat tidur dengan singlet dan celana dalam serta botol bodi lotion di tangan, kemudian menyanyi seolah-olah sedang berada di panggung konser tunggal yang akbar.

Jam 12 siang, papa dan mobil tuanya selalu siap menunggu di depan pagar. Rumah saya cukup jauh dari sekolah, sehingga pulang sekolah saya tidak pernah langsung pulang ke rumah tapi harus ikut papa ke kantor. Saya terbiasa menunggu papa berjam-jam, ia biasanya sibuk dengan mesin tik yang suaranya berisik itu. 

Saya selalu ingin seperti papa. tampannya, tingginya, pembawaannya yang tenang, tapi tidak dalam hal pekerjaan. Bagi saya pekerjaan papa itu membosankan. Duduk berlama-lama di depan mesin tik itu bagi saya sama sekali tidak menarik. Dan jika bicara tentang pekerjaan, Mama selalu ingin saya jadi insinyur walau saya selalu bilang tidak. Saya dulu ingin jadi dokter, jadi ilustrator, jadi pelukis, jadi chef. Dan hal paling menyebalkan buat saya perdebatan panjang antara insinyur, dokter, ilustrator dan kawan-kawannya itu, saat ini saya malah jadi calon birokrat.

Di kantor papa, saya biasanya duduk di karpet sambil membuat komik yang karakter dan ceritanya saya karang sendiri, atau jika benar-benar bosan, saya akan keluar dan bermain dengan buldozer-buldozer proyek yang diparkir di luar kantor. Bergelantung, melompat kesana kemari seolah-olah saya adalah power ranger yang berjuang melawan monster-monster jahat demi menyelamatkan umat manusia dan menjaga kelangsungan bumi. Ya, saya memang gila dari dulu.

Baru setelah map-map diatas meja papa tersusun rapi saya bisa bernafas lega, karena itulah saatnya kami pulang. Saya biasanya tertidur di mobil dan papa berdendang dengan lagu-lagu sorenya. Ia akan bangunkan saya jika kami telah sampai di toko kue depan lampu merah. Dulu, sebelum toko-toko swalayan menjamur dimana-mana, toko kue itulah yang paling ramai dikunjungi di kota kecil kami. Kami akan turun disana, dan papa akan membebaskan saya memilih apa saja yang saya mau dan mengambilkan beberapa untuk adik saya. Dan hari kamis-lah yang paling saya suka karena papa akan mengajak saya ke toko buku, beberapa blok setelah toko kue, untuk membeli majalah mingguan saya. Sudah bisa dipastikan malamnya saya akan ketiduran diatas majalah di karpet ruang tengah. Ajaibnya, paginya saya bangun di tempat tidur dengan selimut sampai di dada.

Beginilah cara lagu bekerja pada otak saya. Saya dan beberapa lagu punya keterikatan khusus. Ia selalu bisa membawa saya ke moment-moment dimana saya dan lagu itu pernah berada di tempat yang sama, kemudian diikuti dengan cerita-cerita dibaliknya. Lagu seperti bau parfum yang bisa mengingatkan saya pada detil-detil peristiwa dan bau-baunya. Dan seperti pita kaset, waktu akan terus berputar, meninggalkan apa saja yang bisa ia tinggalkan. Bian kecil sekarang lenyap, berganti saya yang berkumis ini.

Saya dan lagu-lagu bukanlah kebetulan semata. Kami sudah diatur semenarik mungkin oleh takdir. Kami bertemu suatu waktu, kemudian terpisah sekian lama, dan akan dipertemukan lagi suatu saat untuk sama-sama mengorek kenangan lama. Tidak ada yang kebetulan,

 ya kan pa?
 

Blog Template by