Sabtu, 28 Juli 2012

Hari ini hari sabtu (1)

Pagi-pagi, matahari menggelitik wajah kita dari balik gorden. Cemburu dia melihat kita bahagia. Kita masih dalam selimut, sembunyi. Buat apa bangun cepat-cepat di hari sabtu. Lebih baik diatas sini, menikmati rambutmu yang acak-acakan dan nafasmu yang belum sikat gigi. Tanganku betah memainkan rambutmu, menarik hidungmu yang panjang dan kembali bertanya kamu ini siapanya pinokio. Dan kau akan tertawa terbahak, hingga tempat tidur kita terguncang. Kau tak menjawab apa-apa, kau hanya akan menaruh tanganmu di pipiku, lalu mencium bibirku lembut. Lalu kita akan kembali berpelukan, menyilangkan kaki kita, dan menyelam dalam selimut. Hidungku di keningmu dan hidungmu di bibirku, seperti tadi malam sebelum matahari yang genit itu datang. Sekarang hanya ada kau dan aku, dia yang  genit tak bisa lagi bisa mengintip.
Kita bangun jam setengah sepuluh, melipat selimut kemudian berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Di depan wastafel kita tertawa-tawa sambil menyikat gigi, mencuci muka. Buat apa mandi pagi? Ini kan sabtu. Dengan mulutmu yang berbusa kau akan bercerita hari-harimu  yang malang, bosmu yang suka seenaknya dan pekerjaanmu yang melelahkan. Kau bersyukur hari ini hari sabtu, aku bisa lihat binar-binar dimatamu. Saat kau tertawa, saat busa-busa dari mulutmu menempel di kaca, aku menyadari matahari benar-benar telah terbit.
Di meja makan kita yang bundar, aku mengoles selai kacang di roti gandum, untukmu dengan keju diatasnya. Ya aku tau. Maksudku, bagaimana mungkin aku lupa. Kau suka keju sama seperti kau menyukai jalan-jalan di hari sabtu. Sama seperti berpesta didepan api unggun, ditonton bintang dan ombak yang menari-nari. Kau membersihkan sisa-sisa pesta kita tadi malam, remah-remah biskuit di karpet ruang tengah dan gelas-gelas di meja televisi. Malam sabtu kita selalu panjang, seperti panjangnya cerita film yang kita tonton berdua.  Kenapa kau suka sekali menonton film? padahal kisah kita jauh lebih indah dari drama-drama itu yang selalu berakhir dengan euforia.
Jam setengah satu, kita sudah siap di depan cermin. Sudah mandi, sudah wangi, sudah penuh tas piknik kita dengan roti kacang dan minuman kaleng. Kita siap untuk berkeliling-keliling kota dengan Volkswagen tua yang hijaunya mulai pudar dan mengelupas. Aku tak butuh mobil yang lebih bagus, bagiku kamu, aku dan mobil tua yang sering mogok ditengah jalan ini lebih dari sempurna. Aku justru sering berpikir kalau mobil tua ini mengerti kita, dia selalu mogok di tempat menarik. Memaksa kita keluar mobil, tiduran diatasnya dan menyadari betapa indahnya disekitar kita. Dan di kaca spionnya yang karatan, bisa kulihat jalan panjang berliku yang telah kita tempuh. Aku tidak pernah menyangka telah melewati jalan yang gelap dan terjal untuk menemukanmu di tempat ini. Ternyata aku sudah sejauh ini dan tak lagi sendiri. Aku punya kau yang alis matanya legam seperti bayang-bayang pohon cemara. Aku sebenarnya ingin bilang kalau aku tak pernah mengenal arti bahagia sebelum kutemukan diriku di matamu. Tapi lebih baik kusimpan saja karena aku yakin, dalam diammu kamu pasti sudah tau.

 

Blog Template by