Sabtu, 04 Agustus 2012

Hari ini hari sabtu (2)

Kita berhenti di kafe tua di pinggir kota. Kafe yang kita berdua telah sepakati punya garlic  toast dan café latte terenak di kota. Di sofa panjang dengan jendela tua yang menghadap ke jalan raya kita duduk, bercengkrama diiringi music jazz yang selalu ada setiap sabtu siang hingga malam. Disaksikan mobil yang lalu lalang, aku utarakan kalau aku ingin menikahi senyummu, menyimpannya di saku atau di kepalaku, membawanya kemanapun aku pergi. Kau-pun tertawa. “Bagiku tak ada hal yang lebih indah daripada menua bersamamu., hidup di atap yang sama, menulis cerita dan membesarkan anak-anak kita. Tak ingin satu senja-pun kulewatkan tanpa duduk bersamamu, mengupas kacang dengan aroma secangkir kopi di beranda, menonton bunga-bunga lili yang kita tanam bermekaran sampai matahari bosan mengintip dari balik daun cemara.”
Saat jarum jam dinding tinggi disamping perapian mulai menunduk, saat itulah kita beranjak dari sofa hangat kita. Melanjutkan perjalanan kita lebih jauh lagi. Pantai pinggir kota adalah tempat biasa kita datangi. Letaknya yang jauh dari keramaian membuat kita leluasa menggelar  tikar piknik dan berselonjor, tertawa-tawa seperti orang gila sebelum kemudian menceburkan diri di birunya samudera. Tak ada siapa-siapa, kecuali kamu, aku dan matahari si pengintip. Biarkan saja dia disana, bergabung dengan hangatnya kita. Mungkin dia kesepian, mungkin juga tak punya teman. Kurasa kita paham betul rasanya bagaimana. Jadi, berikan saja ruang untuknya untuk bahagia.  Seperti katamu, bahagia itu seperti kencing di celana.  Semua orang bisa melihat, tapi hanya kita yang bisa merasakan hangatnya. Jadi matahari, siapkah kau untuk kencing di celana?
Tak semua orang diberikan kesempatan yang sama seperti kita, untuk bersama. Jadi, bagiku bukan ide yang buruk untuk menghabiskan setiap pergantian detik denganmu. Termasuk  menyanggupi ide gilamu untuk menikmati matahari terbenam dari dalam ombak. Setelah meninggalkan semua pakaian kita yang berpasir disamping keranjang piknik, kita bercinta dengan ombak samudra yang liar.  Kita menyukai laut sama seperti kita menyukai satu sama lain. Yang paling kusuka dari adegan ini adalah melihat senyummu yang basah dan pipimu yang memerah, semerah senja jam setengah lima sore. Ingin rasanya kurekam setiap gerakan yang kau buat, hingga kesepian hanya akan menjadi legenda yang mungkin tidak kuketahui lagi keberadaannya. Hingga jika suatu saat harus bertemu lagi dengannya aku bisa pura-pura amnesia dan berkata, siapa dia?
Sabtu malam kita ditutup dengan lambaian ombak di depan api unggun. Dengan ukulele yang berbunyi nyaring dan lagu-lagu gembira. Kita seperti baru saja menetas dari telur, menemukan kebebasan yang telah sekian lama kita tunggu. Jadi bagaimana idemu untuk menyelesaikan babak ini dengan sempurna? Berhenti bekerja, lalu membuka cafe kecil di tepi pantai, dimana bahagia kita tak lagi dibatasi kertas-kertas di hari senin. Kita mungkin tak akan punya banyak uang setelahnya, tapi kita akan punya bahagia yang melimpah-limpah, juga punya banyak teman dimana-mana hingga nanti tiba saatnya kita berpetualang keliling dunia, kita tak perlu khawatir akan tersesat.  Kita mungkin punya banyak waktu untuk menonton senja dari beranda cafe sambil menulis bersama-sama. Siapa tau nanti tulisan-tulisan kita (yang kita tulis dengan tinta senja atau cinta, atau keduanya) lahir, lalu menjadi pasangan penulis terkenal yang karya-karya besar dan dikenal banyak orang. Tapi sebaiknya nanti saja kita pikirkan. Sekarang tiba waktunya kita kembali ke Volkswagen tua, jok belakangnya yang hangat telah menunggu kita berbaring. Dalam hitungan ketiga pejamkan matamu. Mari sama-sama bermimpi, berlari lebih jauh lagi. Dan berjanjilah, ketika aku terbangun esok pagi kau masih disini.
Jangan pernah pergi.
***
Hanya ada satu hal yang tidak beres dari adegan-adegan beruntun itu. Mereka berlangsung melulu di kepalaku saat aku menyikat gigi di depan wastafel pagi ini. Seperti prakiraan cuaca, adegan-adegan ini hadir setiap hari, dengan intensitas yang berbeda tiap kali datang. Kadang-kadang pelan angin musim panas, kadang menyerbu seperti badai katrina. Dan ketika menulis ini aku sedang menunggu. Menunggu untuk bertemu dengannya. Bukan angin musim panas ataupun badai katrina, tapi dia, yang mancung hidungnya.
 

Blog Template by