Minggu, 30 September 2012

Di stasiun tempat kita bertemu

Di bangku panjang aku menanti keberangkatan sementara ingatan kian gencar berziarah membolak-balik luka yang sama. Aku teringat perkataanmu waktu itu, hidup seperti teka-teki. Kita tidak tahu persis kapan harus datang dan kapan harus pergi. Hidup juga umpama ular tangga, kadang kita pergi jauh dan kemudian terjatuh dan tersesat di kotak yang lama.
Di stasiun yang sama pernah ada perjumpaan. Aku masih hafal betul minyak wangi dan tas punggung yang kau bawa. Matamu yang biru menadah langit, menantang hujan supaya berhenti berduka. Meski banyak kata tak terucap, perjumpaan tak pernah sia-sia. Akan ada cerita yang kita rekam walau selalu berakhir saat peluit dibunyikan. Sayangnya, perpisahan terlalu ramah menjumpai kita. Selamat tinggal terlalu cepat terbingkai, padahal cerita belum sampai di titik usai.
Ada rona yang berkarat di stasiun ini, oranye seperti sore-sore dengan telinga yang masih mengiang kata “halo”. Mungkin dadu-daduku kian tak bersahabat hingga terjungkang ku pada kotak lama. Meskipun tak kutemui tubuhmu yang terentang, lonceng dan rel kereta masih berdentang. Meski kau hilang, stasiun lebih lancang untuk tetap riang. Tak ada yang berhenti mesti hati sudah terlanjur mati.
Jadi kusimpulkan, jika hidup umpama jadwal kereta. Pertemuan dan perpisahan telah ditandai waktu, dibatasi bunyi peluit yang nyaring. tak ada doa syahdu yang bisa menghenti waktu atau menjembatani kita untuk berbasa-basi. Suka tidak suka pertemuan dan perpisahan telah menjadi dadu, diguncang untuk menguji peruntungan. Terlepas di musim mana kita harus berhenti, akan kusadap ingatan meski rindu tak terperi.
Kiaracondong-Wonokromo
September 2012


Jumat, 28 September 2012

a beautiful day at Gili Trawangan

me and gili trawangan
Hari pertama di Lombok saya bangun pagi-pagi banget. Desa Rarang tempat saya menginap ternyata manis luar biasa. Kata Ridho kalau menikmati kehidupan asli Lombok tanpa embel-embel turismenya, ya disini. Rumah Ridho dikelilingi perkebunan tembakau, dengan rumah-rumah khas sasak dan pemandangan Gunung Rinjani di belakangnya. Di Desa Rarang ini ada dua musim tanaman, kalau musim penghujan masyarakatnya menanam padi. Kalau musim kemarau, kaya pas saya datang, masyarakatnya menanam tembakau. Tembakau yang ditanam di Desa Rarang ini kualitasnya udah kualitas ekspor, pasarnya udah internasional.
Di Lombok itu ada tiga tingkatan perkampungan. Yang pertama yaitu Repoq. Repoq adalah perkampungan kecil di tengah sawah, rumahnya bisa diselang-selingi sama sawah dan jarang banget ada yang tetangga-tetanggaan. Diatas Repoq ada Dasan, yaitu perkampungan yang agak lebih besar dari Repoq, dan yang terakhir ya desa, kaya Desa Rarang tempat saya tinggal. Saya keliling-keliling Desa Rarang sambil nunggu jemputan Cipto yang mengajak saya mengunjungi destinasi pertama: Gili Trawangan!
Saya dijemput jam 8, dengan mobil Cipto kita berangkat menuju Gili Trawangan. Perjalanan saya dari Lombok timur ke Gili-gili sangat menyenangkan. Kita kudu melewati Lombok tengah, Lombok barat, Kota Mataram baru kita sampai di Lombok Utara tempat 3 Gili yang cantik-cantik berada. Gili dalam bahasa Sasak berarti ‘Pulau’. Ada tiga Gili yang terkenal sampe ke seluruh dunia yaitu Gili trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Yang akan saya kunjungi sekarang adalah gili yang paling besar plus paling jauh, Gili Trawangan. Dari Mataram ke Gili kita ngewatin Senggigi dan Malimbu yang pemandangannya seriously bikin speechless. Saya aja entah berapa kali bilang “Gilaaa, keren banget!”. Kita ngelewatin jalan yang dibawahnya langsung tebing dengan pemandangan pantai dan pohon-pohon kelapa.
me on tobacco plantation
view on the way
view on the way, with a litte cute thing *plak*
aweehsome
Setelah satu setengah jam perjalanan, saya, Cipto dan Ridho nyampe di Pelabuhan Bangsal, tempat klotok ke Gili berlabuh. 300-an meter sebelum Pelabuhan Bangsal kita sebenarnya udah gak boleh bawa kendaraan, harus naik Cidomo alias Cikar dokar motor, kereta kuda khas Lombok. Tapi karena naro kendaraan di sekitar sana gak aman, Cipto masuk aja ke kawasan Pelabuhan, ya tapi harus bayar petugasnya lima belas rebu.
Untungnya transportasi laut di Pelabuhan Bangsal udah diatur dinas perhubungan dengan baik, jadinya saya gak perlu mati-matian nawar sama abang-abang klotok. Disini udah ada koperasi angkutannya, saya cuma bayar 10rebu aja untuk sampai di Gili Trawangan. Tapi ya tetap harus tunggu sampe penumpang perahu motornya penuh. Satu perahu motor untuk 25 orang. 
Perjalanan ke Gili Trawangan super! Saya berdiri aja di anjungan depan. Bener ya ternyata, air di Gili Trawangan itu bening banget. Kita bisa liat ikan-ikan lagi berenang, belum turun dari perahu aja saya udah gak tahan pengen nyebur.  Di Gili Trawangan ini saya berkenalan dengan seorang cewek Italia, Cla, yang akhirnya jadi temen traveling saya selama di Lombok. Dia cewek supel dan nggak songong sok tajir kaya sebagian besar bule-bule di Gili Trawangan ini.
Nyampe di Gili saya berasa bukan di Indonesia, abis isinya bule semua. Jarang banget saya liat orang lokal, kalau adapun ya biasanya yang kerja di kafe-kafe. Saya, Ridho, Cipto dan Cla memilih satu gazebo di pinggir pantai buat nyantai-nyantai. Disana deh kami nongkrong sambil minum-minum. Saya yang udah gak tahan pengen nyebur ya langsung nyebur aja. Asoy banget deh akhirnya setelah sekian lama kesampaian juga niat saya buat berenang di Gili Trawangan. Pantainya sebenernya enak buat berenang, tapi karangnya rada tajam.
some ships and port bangsal

 I'm ready!
View near Gili Trawangan 
 Okay, we're arrived
Gili trawangan :)
 the main road and cidomo
view from our gazebo
Everything was perfect, Gili Trawangan itu cantik banget. Banyak kafe-kafe romantisnya. Hotelnya juga bagus-bagus. Gak ada kendaraan motor sama sekali, cuma boleh pake sepeda atau cidomo. Yang bikin gak enak itu cuma satu. Saya kesananya ‘sendiri’, sementara saya harus nonton orang mesra-mesraan sama pasangan masing-masing dengan suasana seromantis itu. Duh, sumpe deh, rasanya itu gak enak banget. Untungnya saya punya temen sependeritaan, Cla. Dia baru putus sama pacarnya waktu dia kerja di Aussie, makanya kabur deh ke Indonesia jalan-jalan. Ceritanya kaya Eat Pray Love banget ya. Yaudah, saya mewek jamaah sama si Cla ngeliatin orang mesra-mesraan
Di Gili harga barang-barang bisa dibilang normal, ya agak mahal dikit emang daripada di Lombok, tapi masih dalam batas wajar. Untuk minuman masih ada 10rebuan itupun udah dapat tempat gratis nongkrong berjam-jam. Untuk makanan, dari hasil penelitian saya harganya rata-rata 20ribuan keatas. Yang bikin shock itu pas saya nemu rumah makan padang, saya langsung bengong sambil bilang “In Gili? Seriously?”. Emang kebangetan deh warung padang ini, dimana-mana ada. Untuk hotel ya harganya cukup bervariasi, dari 85rebuan sampai yang harganya jutaan ada. Yang bikin saya nyesel sampai sekarang itu kenapa saya nggak nginap disana. Kalau malam biasanya ada beach party. Kan seru rame-ramean di pantai malam-malam sambil nonton live musik. Walaupun sendiri ya setidaknya bisa rileks sejenak sambil minum teh atau kopi sambil menikmati kembang api atau sekedar melihat lampu-lampu (Atau nongkrong di bar nonton orang teler). Nyesel saya.
we're at malimbu
 beautiful sunset
 okay, that's mine now
Sorenya kami balik ke Lombok. Saya gak jadi ke Gili Meno atau Gili Air karena selain waktunya mepet, Cla yang udah kesana cerita kalau gili yang dua itu sentranya orang honeymoon. Makan ati deh kalau kesana, disaster men! Yaudah, kita balik. Ntar saya balik lagi kesana kalau udah punya pasangan. Di jalan pulang kita berhenti di Malimbu. Ini spot paling cakep buat ngeliat sunset di Lombok. Disana kita dapet temen lagi. Satunya Ardi, abang-abang asli Lombok, satunya lagi backpacker kere juga, Tom dari London. Kita duduk berenam deh disana sambil ngeliatin sunset yang seksi.
Rencana awalnya Cla mau ikut kita ke Lombok Timur, tapi di jalan kita ditelpon bonyoknya Ridho bilang kalo rumah mau dipake buat acara musyawarah keluarga besar,  dengan terpaksa Cla harus cari penginapan. Setelah kita makan rame-rame di warung makan pinggir jalan (dan murah) di Senggigi serta nyusun rencana buat hari esoknya, Cla akhirnya nginap di hotel-nya si Tom. Kami-pun pulang, balik ke Lombok Timur dan langsung tidur ngangkang dirumah.

Rabu, 26 September 2012

Lombok, I'm Coming

Hello!
I'm skinny as fuck haha
Jadi ceritanya saya baru lulus nih. Mumpung saya belum dipanggil kerja, mumpung ada duit tabungan (niat beli SLR, tapi duitnya nanggung) dan punya waktu kosong, saya pengen traveling! Mungkin pas abis lulus ini waktunya bersenang-senang, mengendurkan urat-urat syaraf sebelum kerja banting tulang hehe. Saya pengen membebaskan diri dulu dari segala hal, itung-itung hadiah kelulusan bagi diri saya dari diri saya sendiri *apalah ini*
Destinasi pertama yang ada dala list saya adalah Lombok. Pulau di timur pulau Bali ini sebenernya udah lama banget pengen saya kunjungi tapi selalu aja ada halangan. Ada duit, waktunya yang ga ada. Ada waktu, duitnya yang ga ada. Akhirnya tiba juga waktunya saya mengunjungi Lombok. Saya mengajak beberapa temen dekat untuk ikut dalam trip dadakan ini. Sayangnya ga ada yang bisa. Ada yang lagi nabung buat merit, ada yang mau langsung pulang, ada juga ke Lombok tapi sama pacar masing-masing, semacam honeymoon barengan gitu. Tapi daripada gabung sama geng orang pacaran kayaknya mending jalan sendiri deh. Tragis banget nasib kaya kalo sampai nonton mereka mesra-mesraan di pantai sementara saya jadi obat nyamuk. No way haha.
Alhasil, jadilah saya solo traveler. Rasanya agak aneh memang karena biasanya saya jalan kemana-mana paling nggak berdua. Temen saya bilang saya tolol jalan sendiri, kaya orang bego. Gita, bahkan bilang saya cus ke Lombok kayak cus beli permen mentos saking nggak ada rencananya. Tapi kayaknya saya memang harus membiasakan diri ngapa-ngapain sendiri deh, supaya nggak biasa selalu tergantung sama orang lain. Jadi saya tetap lanjut jalan, walaupun sendiri. Untungnya saya punya beberapa temen di Lombok, jadinya disana gak terlalu khawatir.

my train ticket and my breakfast in Surabaya 

stopkontak gratisan dan suasana di stasiun wonokromo

 Juanda international airport

Saya coba cek tiket Jakarta-Lombok ternyata mahal banget. 800ribuan keatas. Saya coba cek juga dari Bandung, dan ternyata lebih parah karena kudu transit di Surabaya. Terakhir saya cek dari Surabaya, 300ribu. Return 600ribu. Saya putuskan saja ambil yang dari Surabaya, yang berarti saya harus naik kereta dari Bandung ke Surabaya. Saya langsung cek tiket kereta di Indomaret depan Dunkin Jatinangor, dan yang tersisa cuma kereta malam kelas bisnis Mutiara Selatan yang harga tiketnya 185 ribu. Okeh, langsung saya pesan aja. Langsung saya pesan tiketnya dan fix! It will be my first time visiting Lombok.
Jadilah senin sore saya diantar sohib saya, Memed ke Stasiun Kiara Condong, Bandung. He’ the best ever, ga tega dia kayanya liat saya harus nyambung-nyambung angkot dari Jatinangor. Kereta saya berangkat jam 5 sore, tujuan Stasiun Gubeng Surabaya. Untungnya keretanya on time banget, setelah dicek saya langsung masuk ke gerbong paling depan. Keretanya lumayan bagus sih, tapi tetep lebih bagus kereta Gajayana waktu saya dari Malang ke Jakarta. Gajayana itu super nyaman, ada ruang buat selonjoran, pake AC, dikasi bantal dan selimut pula, plus ada stop kontak sampe saya dari Malang ke Jakarta nggak tidur, malah main game sampe pagi. Eksekutif sih emang, harga tiketnya aja beda dua kali lipat. Naik Mutiara Selatan udah lumayan nyaman juga walau cuma pake kipas angin, ga ada AC. Bantal dan selimut juga dikasih gratis, tapi pas udah mau nyampe Surabaya kudu bayar 10 rebu buat dua item sewaan itu *plak*.
Saya duduk sendiri di seat 12 C. Gak tau kenapa sore itu rasanya nyaman. Duduk menghadap jendela sambil liatin pohon-pohon lagi lomba lari, minum teh sambil dengerin suara kereta yang berisik tapi seksi. Ibu di seberang tempat duduk saya sholat, di depannya ada gerombolan tante-tante muda lagi ngobrolin soal nikah beda agama. Ada lagi abang-abang jualan nasi goreng hilir mudik. Ibu-ibu jualan tahu sumedang pas nyampe Stasiun Leles. Suasananya sebenernya sempurna buat romantis-romantisan, yang bikin ga sempurna ya karena saya sendiri doang. Tapi tetep, ada sensasi kedamaian yang saya rasakan. Apalagi pas nyetel lagu-lagu the lumineers dan the weepies, bah, saya langsung gak tahan pengen nulis.
Barulah di stasiun Tasik ada mas-mas yang duduk di sebelah saya. Makin malam kereta makin nunjukin aslinya. Mulai panas karena kipas anginnya mati, saya yang keringetan buka sweeter sambil kipas-kipas, eh mas-mas di samping saya malah tidur pules banget sampai nyender ke saya. Hadoh, jadi kena double attack gini. Jadi intinya saya malam itu gak bisa tidur, kombinasi panas dan mas-mas disamping saya bikin mata saya melek sampai  pagi. Saran saya, buat menghemat budget, kalo naik Mutiara Selatan gausah sewa selimut. Beneran deh itu selimut gak bakal kepake.
Untungnya penumpang Mutsel ini ramah-ramah. Pas saya nanya dari Gubeng ke bandara gimana langsung dijelasin detailnya. Jadi saya harus turun di Stasiun Wonokromo yang katanya lebih deket ke bandara, trus ntar saya lanjutin naik angkot ke Terminal Bungurasih, nah dari Bungurasih baru saya naik damri ke bandara. Sebenernya bisa sih naik taksi, tapi nyampe Lombok ntar saya harus cari botol minuman kosong trus jalan ke toko-toko. Ngemis.
Saya nyampe di Stasiun Wonokromo jam tujuh pagi. Ngaret sejam dari waktu yang ditentukan. Pesawat saya ke Lombok jam 3 sore, jadinya saya masih bisa santai-santai dulu di Surabaya. Niatnya mau cari café buat sarapan. Tapi stasiunnya lagi sepi tapi banyak yang jualan. Yaudah saya sarapan di stasiun aja, beli roti maryam sama minum teh. Untungnya di stasiun Wonokromo ini ada tempat charge gadget gratis, jadi bisa langsung charge apa yang bisa di charge.  Oke, saya mau pengakuan dosa dulu. Sebenernya tempat charge gratis ini yang bikin saya  nggak jadi ke café. Sekian terimakasih.

mount agung and view Lombok from above

my watch was shiny ;)

welcome to Lombok!

 Lombok international airport

 Didn't change my clothes. for 2 days. juara!
Ternyata bengong di stasiun bikin lemes. Jelas aja, saya nggak tidur semalam suntuk. Untungnya saya nggak kehabisan akal. Saya langsung nelpon temen sekelas saya waktu SMA yang lagi kuliah di ITS. Setelah ba bi bu, saya dijemput ke Stasiun Wonokromo langsung ke kosannya di daerah Gebang. Ada 3 orang temen sekelas SMA saya yang kuliah di ITS dan kebetulan satu kos semua. Yaudah, sekalian reunian jadinya. Nyampe di kosan saya nempel di bantal, dan kemudian hilang pemirsa. Jam satu baru saya bangun langsung buru-buru mandi karena takut telat. Karena temen saya ini emang super baek, saya malah diantar ke bandara, ga perlu repot nyambung-nyambung angkot. Thanks a lot Leonardo! Horas!
Jam 3 pesawat saya take off. Surabaya-Lombok ditempuh satu jam perjalanan, tapi karena beda zona waktu ya saya nyampe di Lomboknya jam 5. Karena saya naik Citilink yang terbangnya ga terlalu tinggi, saya bisa sekalian nonton pemandangan. Yang paling kece itu pas lewat Gunung Agung, Bali. Saya jadi ingat setahun yang lalu, di bulan yang sama saya ke Pura Besakih sama Bli Arys (yang lanjutan post-nya belum saya tulis sampai sekarang, hedeh). Saya baru mau tidur, eh tiba-tiba udah mau landing aja. 
Saya nyampe di Lombok jam 5 sore. Kebetulan pas banget nyampenya barengan sama temen saya yang anak Lombok. Dia dari Bandung tapi transit dulu di Bali. Saya nungguin di depan bandara. Oia, ternyata bandaranya sekarang udah gak di Mataram lagi.  Sejak Oktober 2011, aktifitas Bandara Selaparang Mataram dipindahkan ke Bandara Internasional Lombok di Praya, ibukota Lombok Tengah. Bandaranya bagus sih, arsitekturnya khas rumah adat Suku Sasak. Tapi bedanya dengan bandara-bandara lain di Indonesia, bandara ini gak memakai nama pejuang. Kayak di Makassar kan Bandara Internasional Sultan Hassanudin. Di Manado Bandara Internasional Sam Ratulangi. Nah, kalau Lombok ini namanya Bandara Internasional Lombok tok, gak pake embel-embel. Denger-denger hasil jajak pendapat tahun 2009, 40% masyarakat Lombok setuju dengan nama ini.
Saya nyantai aja nungguin Ridho dan Cipto di depan Bandara. Dan emang bener yang dibilang Cipto dari awal kalo Bandara Internasional Lombok itu kaya pasar. Karena bandaranya baru di daerah Praya, masyarakatnya jadiin bandara kaya objek wisata. Jadinya ada yang jualan disana, jualan macem-macem dari gulali sampai balon-balon dora ada. Banyak juga yang datang kesana piknik keluarga, bawa tikar, bawa makanan, nongkrong deh sambil liatin pesawat lalu lalang.
Kami dijemput Bapak dan adeknya Cipto. Karena bapaknya Cipto bawa makanan juga, ya kami nggak mau kalah dong. Tikar digelar dan selonjoran-lah kami sambil makan nasi pake urapurap, makanan khas Lombok. Ternyata emang seru nongkrong sore-sore di bandara, haha. Abis ‘piknik dadakan’ kami langsung cau ke Lombok Timur. Saya nginap di rumah Ridho di Desa Rarang, dari bandara sekitar 45 menit lah. Sementara Cipto terus ke rumahnya di Ibukota Lombok Timur, Selong.  Nyampe di rumah Ridho saya langsung istirahat, preparing another good day tomorrow.
To be continued

Sabtu, 15 September 2012

Book launching: Land of the birds of paradise


Awal agustus lalu, tepat  sehari setelah wisuda dan pengukuhan saya tidur-tiduran aja di kosan, karena emang gak ada kerjaan selain nunggu ijazah  keluar. Saya iseng buka twitter dan baca twit dari  @WWF_ID yang mungkin emang rejeki saya atau gimana lagi ngadain kuis yang berhadiah buku limited-edition “Land of the birds of paradise” karangan Marc Argeloo naturalis Belanda yang berisi All about Papua, pulau besar terakhir di Indonesia yang belum saya injak. God knows how I am obsessed about this island, and He lets me win. Sebenarnya kuis ini hanya untuk followers @WWF_ID yang ada di jabodetabek aja sih karena untuk ngambil bukunya harus datang ke acara launching buku sekaligus peringatan 50 tahun kinerja WWF di Indonesia,  tapi ya karena saya agak nakal dan memang pengen banget punya buku not-for-sale ini, saya tetep ikutan kuisnya.  I don’t mind at all if I have to go to Jakarta to take this book.


Tanggal 11 September, jam 5 pagi saya sudah siap-siap dari kosan untuk berangkat ke Jakarta. Dari kosan saya langsung ke gerbang tol Cileunyi tempat dimana bus Cileunyi-Rambutan biasa nangkring. Cileunyi-Jakarta biasanya ditempuh 3 jam-an, dalam pikiran saya kalau saya berangkat jam 6 pagi, jam 9 saya sudah di Jakarta dan gak bakal telat ke acara launching bukunya yang dimulai jam 10.  Karena saya agak buta dengan Jakarta, saya udah hubungi temen SMA saya yang kuliah di Jakarta, Sherly buat nemenin saya. Entah karena buru-buru atau gimana, pas naik bus saya lupa ngecek apakah bus yang saya tumpangi lewat tol apa nggak. Dari Cileunyi itu bus ke Kampung Rambutan ada dua jalur, jalur pertama yang lewat tol dengan waktu tempuh 3 jam-an. Jalur kedua lewat puncak, cipanas which takes more time, bisa 4-5 jam. Begonya saya, saya naik bus yang lewat cipanas dan baru sadar waktu busnya lewat Bandung malah keluar  tol. Bam! Kacaulah saya, mau turun gak tau dimana, mau terus ya pasti saya telat. Keputusan yang paling efektif diambil ya saya tetap di bus sambil berdoa busnya bisa jalan lebih cepat.

Perjalanan dari Cileunyi-Kp Rambutan via Puncak ternyata emang lama banget, makan waktu 5 jam. Makin kerasa lama lagi karena bapak-bapak disebelah saya bawa ayam jago dan tidurnya nyenyak banget sampe ilernya ngalir kemana-mana. Belum lagi pengamen dan penjual asongan yang puluhan kali keluar masuk, bikin saya yang udah kepanasan, tambah panas. Jam 11 saya nyampe di Kp. Rambutan dengan muka yang udah mirip kotak amal, udah berantakan banget. Sherly juga udah lumutan karena nungguin saya 2 jam di terminal. Dari Kp. Rambutan kita langsung naik busway ke Erasmus Huis, Dutch  Cultural Center yang masih satu komplek dengan Netherlands embassy and kedutaan-kedutaan lainnya di Setiabudi. Saya nyampe disana jam 12 dan disambut sama adminnya @WWF_ID yang manis (ahay!). Saya telat. Telat banget. Saya nyampe di detik-detik terakhir talk show, cuma dapat  sesi tanya-jawab doang. Acaranya keren banget sebenernya, ada Marc Argeloo si penulis buku (yang udah kerja jadi pimpro konservasi maleo di Sulawesi dari tahun 1990) , ada Bu Paschalina Rehawarin atau bu Linke (aktivis konservasi di Papua), ada juga @uliherdiansyah yang jadi presenter. Ada juga CEO WWF Indonesia, tapi saya gak sempat ikutan talkshownya.


 WWF Indonesia supporters, writer, and dancers

Me and dancers, they were awesome!

 
The book!

narsis dikit :))
Walaupun saya telat banget banget datang, saya tetap dapet buku Land of Bird s of Paradise plus nonton tari tradisional Papua di akhir acara. Kenapa saya excited banget sama buku ini? Yang pertama, bukunya berisi segala sesuatu tentang Papua mulai dari sosial, budaya, antropologi, geografi, sampai geologi dua propinsi paling timur Indonesia yang belum pernah saya kunjungi. Buku ini memuat rangkuman kurang lebih 30 tahun kinerja konservasi WWF di Papua. Saya sampai sekarang cuma bisa gigit jari aja denger cerita teman sekamar saya yang orang Papua asli tentang indahnya Papua. Terumbu karangnya, pegunungannya, dan budayanya. Saya udah niat banget pengen ke Papua dari lama, tapi sayang berat di ongkos. Ongkos ke Papua mahalnya luar biasa, lebih mahal dari ongkos ke Singapore atau Hong Kong. Waktu saya tinggal di Makassar aja, tiket Makassar-Jayapura aja bisa sampai 3 jeti PP. Itu baru sampe Jayapura ya, belum kalau kita ngelanjutin penerbangan ke Timika atau Merauke. Gimana Bandung-Jayapura? Atau sekarang gimana Padang-Jayapura? Bah, ngelantur kemana-mana.  Istimewanya, buku hasil kerjasama WWF Indonesia dan WWF Netherland ini not-for-sale alias nggak dijual di toko buku manapun di sistem tata surya ini.

Kedua, karena buku ini dikasi langsung sama WWF Indonesia. Organisasi  konservasi yang udah menarik perhatian saya dari jaman SMA karena kinerjanya dalam pelestarian lingkungan hidup. Terus terang saya pengen banget terlibat langsung dalam setiap kegiatan WWF, it’s seems interesting to be  involved in every efforts for better  earth, not just sit on  hot seat in  4x3m cubicle 8am-4am 5/7.  Semoga suatu saat saya bisa terlibat langsung dalam kegiatan konservasi orangutan misalnya, atau harimau sumatera, that would be so nice. Untuk sekarang mungkin saya cukup jadi good supporter dan melakukan apa yang saya bisa.

Last but not the least, saya mau ngucapin Congratulations for 50 years of great work  WWF Indonesia! May your great work and contribution continue to be the light,  hope, and inspiration for the people of Indonesia.  Long live the living planet, Long live WWF Indonesia!
 

Blog Template by