Sabtu, 17 November 2012

Pura Batu Bolong, Senggigi, dan Taman Narmada

Hari ketiga di Lombok saya balik lagi ke kawasan Senggigi. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, Senggigi ini adalah sentral turisme di Lombok. Sejak tahun 1990 kawasan Senggigi ini udah mulai ramai didatangi turis mancanegara, ya bisa dibayangkan sekarang gimana, agak crowded dan terlalu banyak orang. Kanan kiri dipenuhi hotel, bar, restaurant , café yang dijubeli turis-turis mancanegara. Kalau mau liburan yang hepi-hepi dan punya duit satu truk ya, Senggigi adalah pilihan tepat. Yang kere-kere ya melongo aja karena apa-apa disini serba mahal.
First spot, Pura Batu Bolong. Kenapa namanya batu bolong? Ya karena di Pura ini berdiri diatas batu yang ada lobangnya. Pura-nya gak terlalu besar, juga gak terlalu megah sebenarnya, yang bikin unik ya itu, letaknya diatas batu vulkanik yang ada lobangnya. Seingat saya, Pura Batu Bolong ini ada dua di Indonesia. Yang pertama ada di Bali, satu kawasan sama Pura Tanah Lot. 
Untuk masuk ke Pura ini menurut informasi yang saya dapat harus bayar sepuluh ribu rupiah dan wajib pakai selendang kuning. Tapi anehnya waktu kesana saya gak dipungut biaya apa-apa. Saya juga gak pake selendang kuning tapi tetap diijinin masuk. Apa karena saya pakai baju kuning kali ya? *ngarang* pengakuan dosa lagi nih: saya bisa masuk karena memang lagi gak ada orang. Oke, saya salah.
Pura yang letaknya menjorok ke tengah laut ini ternyata punya cerita legenda juga. Konon katanya jaman dahulu kawasan ini merupakan kawasan pengorbanan dimana perempuan perawan dijadikan persembahan untuk makanan hiu yang hidup disini. Konon lagi, katanya kawasan ini juga merupakan tempat perempuan-perempuan patah hati jaman dulu bunuh diri.
Pura Batu Bolong ini menghadap ke Gunung Agung, Bali. Kalau cuaca lagi cerah, kita bisa lihat Gunung Agung langsung dari Pura ini. Berhubung saya datangnya pas cuaca lagi berawan, saya gak bisa lihat Gunung Agungnya deh. Saran saya, kalau mau datang ke Pura Batu Bolong ini bagusnya sore-sore waktu cuaca cerah, karena kita bisa lihat matahari tenggelam di Gunung Agung. Tapi bagi cewe-cewe yang lagi halangan gak boleh masuk ya.
Dari  Pura Batu Bolong saya beranjak ke Pantai Senggigi yang jaraknya gak terlalu jauh. First impression ya pantainya biasa aja, jauh lebih keren Tanjung Aan. Menangnya Senggigi dari Tanjung Aan adalah fasilitasnya. Senggigi udah dipenuhi oleh hotel dan resort mewah. Fasilitas pendukung seperti restaurant, café, bar juga udah dimana-mana. Kalau mau liburan yang bener-bener fun, boleh lah kesini. Cuma harus bawa duit segepok ya.
Disini saya cuma duduk-duduk santai. Karena kemaren saya udah disuguhkan Tanjung Aan yang spektakuler, saya jadi merasa Senggigi itu biasa aja. Di Pantai Senggigi ini ada beberapa resort dan café, rata-rata diisi sama bule-bule tajir karena harganya memang selangit. Resort di Pantai Senggigi ini katanya sering didatengin top model eropa sana.
Selain ke Pura Batu Bolong dan Senggigi, saya sempatin berkunjung ke Taman Narmada yang letaknya di Desa Lemuak, Narmada, Lombok Barat sekitar 10 Km dari Mataram. Taman yang luasnya sekitar 2 hektar ini dibangun oleh  Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem tahun 1727 sebagai tempat Upacara Pekalem yang diadakan setiap purnama kelima Tahun Caka. Nama Narmada sendiri diambil dari nama salah satu anak Sungai Gangga di India, Narmadanadi.
Untuk masuk ke Taman Narmada kita harus bayar lima ribu rupiah per orang, di samping pintu gerbang ada penjelasan rinci tentang Taman Narmada ini. Kompleks Taman Narmada ini dibagi menjadi beberapa bagian yaitu gerbang utama, jabalkap, telaga kembar, gapura gelang/paduraksa, mukedes, telaga padmawangi, balai loji, balai terang, patandaan, bangunan sekepat, balai bancingah, Pura Kelasa dan Pura Lingsar. Pura yang ada di Taman Narmada ini merupakan Pura tertua di Lombok loh.
Saya sempat baca-baca sejarahnya Taman Narmada ini, mulai dari ekspansi Kerajaan Karangasem ke Lombok sampai bagaimana pembangunan Taman Narmada yang merupakan representasi dari Danau Segara Anak di Gunung Rinjani. Tapi ga tau saya yang kelewat bego atau istilahnya yang kebanyakan, saya gak ngerti!
Di bagian luar Taman Narmada terdapat kios-kios souvenir khas Lombok, mulai dari kaos-kaos sampai souvenir yang dibuat dari mutiara-pun ada. Sebelum balik, saya sempatin deh beli oleh-oleh buat temen-temen. Sebenarnya ada satu taman lagi sih, namanya Taman Mayura, tapi karena udah kesorean saya langsung cabut pulang.


Sabtu, 03 November 2012

Review: 10 Timer til Paradis


Hola! Berhubung udah lama banget saya nggak review-review, kali ini saya mau review film Denmark yang baru saya tonton tadi sore, judulnya “10 Times til Paradis” atau versi englishnya “Teddy Bear”.
Film ini bercerita tentang seorang binaragawan pemalu dan socially awkward berusia 38 tahun bernama Dennis (Kim Kold) yang belum pernah memiliki pacar sekalipun dalam hidupnya. Ia  hidup di pinggiran Copenhagen bersama ibunya, Ingrid (Elsebeth Steentoft) yang benar-benar posesif dan mengatur detil-detil kehidupan Dennis secara agresif. Ingrid tidak mengizinkan Dennis untuk dekat dengan gadis manapun. Ingrid bahkan selalu mogok makan dan tidak keluar dari kamar bila Dennis melakukan sesuatu diluar skenarionya. Hubungan Dennis dan ibunya yang terlalu dekat digambarkan agak disturbing, sebagai contoh: mereka berdua berada pada kamar mandi yang sama ketika Dennis mandi dan ibunya buang air kecil. Hal itu mereka anggap biasa. Padahal Dennis sudah berusia 38 tahun ya, bukan balita lagi.
Sementara itu, Dennis yang sudah seumur hidup dalam skenario ibunya mulai dihantui kecemasan dan kepanikan. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di gym karena disanalah satu-satunya tempat diluar otoritas Ingrid. Ia ingin mencari cinta sejati untuk menemani hidupnya dan ketika pamannya, Ben (Allan Mogensen) kembali dari Thailand dan kemudian menikahi seorang gadis lokal Thai, Dennis mulai berpikir untuk melakukan hal yang sama. Niat Dennis ternyata didukung oleh pamannya, akan tetapi tentu saja akan ditentang oleh ibunya. Ibunya takkan pernah memberi ruang bagi wanita lain dalam hidup mereka. Karena itu, Dennis berbohong pada ibunya, dengan mengatakan ia akan pergi ke Jerman untuk mengikuti kompetisi binaragawan dan bisa ditebak ibunya tidak mengizinkan, akan tetapi kali ini Dennis keukeuh dengan niatnya. Ia berangkat meskipun si ibu bahkan tidak mau mengucapkan selamat jalan padanya.
Berbekal dari informasi Paman Ben, di Pattaya Dennis bertemu dengan Scott (David Winters), orang yang akan mengenalkannya dengan gadis-gadis Thailand. Apa yang dibayangkan Dennis tentang gadis-gadis Thailand ternyata sangat berbeda dengan kenyataannya. Gadis-gadis Thailand disini digambarkan sebagai gadis-gadis murahan yang money and sex-oriented. Banyak scene menggambarkan Dennis yang tinggi besar diganggu gadis-gadis murahan setinggi pinggang yang genit dan tidak tahu malu, mereka memperlakukan Dennis seperti boneka seks berjalan. Bahkan lebih luas, pariwisata Thailand digambarkan dengan sangat bobrok, penuh dengan prostitusi dan penggambaran bagaimana mudahnya pria kulit putih mendapatkan gadis lokal Thailand. Di beberapa scene bahkan digambarkan betapa rusaknya moral orang-orang Thailand, sebagai contoh: Dennis ditipu oleh seorang penjahit jas dan seorang supir taksi  yang bercerita, kalau untuk pria seperti Dennis bahkan bisa mendapatkan wanita tanpa dibayar samasekali. Dennis yang belum pernah berpergian sebelumnya dan suasana Pattaya yang hectic dan semrawut merupakan serangan culture shock dahsyat buat Dennis. 
Dennis yang mengharapkan cinta sejati mulai kehilangan harapan akan itu. Ia memutuskan untuk mencari gym untuk kembali berlatih sambil menenangkan pikirannya. Di gym, ia bertemu dengan seorang pemuda yang mengenalinya sebagai bodybuilder internasional. Ia pun menerima ajakan pemuda tersebut untuk makan malam bersama. Disaat makan malam tersebut Dennis mengenal lebih dalam Toi (Lamaiporn Hougaard), janda pemilik gym. Pertemuan Dennis dengan Toi yang tak sengaja ini ternyata memberi harapan bagi Dennis. Toi adalah orang yang ia cari selama ini.
Akhirnya Dennis membawa Toi ke Copenhagen, akan tetapi Dennis menyewakan sebuah rumah untuk Toi dan ia tetap tinggal dengan ibunya. Dennis mengaku pada ibunya bahwa ia tidak mengikuti kompetisi di Jerman tetapi pergi ke Pattaya. Sang ibu-pun mengamuk luar biasa, apalagi setelah tidak sengaja bertemu Dennis dan Toi yang sedang jalan-jalan di mall. Endingnya gausah saya ceritain ya, ntar yang belum nonton gak seru lagi nontonnya. Pada akhir cerita secara samar dijawab alasan dibalik sifat over-protective ibunya. Kita pun bakalan dibawa dalam keadaan Dennis yang benar-benar ‘serba-salah’.
Meskipun bukan pengamat film profesional, saya mau komentar dikit nih mengenai aktingnya Kim Kold yang menurut saya keren banget. Sosok Dennis diperankan dengan sangat baik,  seorang binaragawan dengan badan raksasa penuh otot namun dengan hati yang lembut. Kold berhasil menunjukkan ekspresi kemarahan terpendam seorang Dennis tanpa menghilangkan sisi lembutnya. Top deh. Overall, film ini menurut saya bagus banget, layak tonton. Rating Imdb-nya pun bagus. Film ini jago dalam hal memainkan emosi penonton. Lebih dari itu, kalau kita sadar film ini sebenarnya bukan menitikberatkan pada asmara Dennis dan Toi, akan tetapi lebih kepada hubungan Dennis dengan ibunya.

 

Blog Template by