Senin, 31 Desember 2012

Little hopes for 2013

Karena resolusi tahun-tahun sebelumnya selalu berakhir dengan kegagalan, di tahun 2013 ini saya tidak akan membuat resolusi muluk-muluk. Saya hanya ingin merasa utuh dan gembira. Saya juga ingin berhenti merasa khawatir dan berpikir terlalu banyak, dan yang paling penting – saya ingin hidup di tahun 2013, bukan hidup di masa depan atau lebih buruk, hidup di masa lalu. Berhenti menyesali masa lalu dan mencemaskan masa depan, pelan-pelan. Selamat tahun baru!

Sabtu, 15 Desember 2012

Last day in Lombok: Otak Kokoq and Tete Batu

 
Kejadian paling menegangkan waktu saya mengunjungi Lombok adalah pada malam terakhir. Jam dua malam saya dibangunkan suara orang teriak-teriak pake toa masjid. Saya yang kecapean setengah sadar nanya Ridho, itu orang ngapain teriak-teriak tengah malam. Dan ternyata, ada maling sapi. Iya,  maling sapi. Kata Ridho, di desanya memang sering kejadian macam ini. Bukan hanya maling sapi, malahan rumah Ridho sendiri pernah dimasuki maling dan beberapa barang berharga raib digondol. Warga langsung berbondong-bondong keluar rumah malam itu, saya yang benar-benar kecapek-an abis muter-muter Mataram dan Senggigi bahkan udah ga bisa buka mata lagi. Akhirnya saya ketiduran sampai pagi.
Hari terakhir di Lombok saya habiskan jalan-jalan di pedesaan Lombok Timur yang dipenuhi sawah-sawah dan kebun-kebun tembakau lengkap dengan gudang-gudang tembakau yang bentuknya unik. Ridho membawa saya berkeliling untuk melihat air terjun Otak Kokoq juga sentra pembuatan souvenir khas Lombok di Tete Batu. Meskipun daerahnya agak terpencil, dulunya kawasan Tete Batu ini banyak dikunjungi wisatawan karena merupakan daerah pusat pembuatan handicraft khas Lombok, cuma gak tau kenapa tahun-tahun terakhir ini malah jadi sepi, kurang pengunjung. Pas saya kesana aja, saya hanya menjumpai beberapa wisatawan, guesthousenya rata-rata sepi dan kelihatan udah lama gak dikunjungi, toko-toko souvenirnya juga keliatan kosong melompong, beberapa bahkan pintunya dikunci dan dari luar kelihatan berdebu, kaya udah gak dibuka sekian ribu tahun.
 
I'm Thor! (KW-2) 
Saya memasuki beberapa souvenir shop dan nanya-nanya beberapa handicraft. Saya pikir harganya akan jauh lebih murah di sentra-nya. Eh ternyata dari hasil survey, kebanyakan harganya lebih mahal. Sampai akhirnya saya masuk ke sebuah art shop punya bapak yang saya lupa namanya, disana handicraftnya lebih variatif kreatif, gak hanya gantungan kunci dan pernak-pernik cantik tapi juga patung-patung dan lemari kayu. Semuanya dikerjain sendiri sama empunya. Empunya art shop ini orangnya ramah dan produk-produknya dijual dengan harga yang affordable banget. Saya beli lemari mini dari kayu kelapa dengan harga 120rebu aja! Langsung dikirim deh ke rumah.
Dari Art Shop, saya jalan menuju ibukota Lombok Timur, Selong, buat pamit sama keluarganya Cipto. Dari sana kami balik ke Desa Rarang, saya packing dan langsung deh tancap gas ke bandara. Rasanya belum lengkap datang ke Lombok tanpa nyobain Ayam Taliwang, karena itu saya nyobain Ayam Taliwang plus Plecing kangkung di warung kaki lima di Mataram. Dan ternyata bener ya, ayam taliwang itu mak nyus!

Overall, Lombok was amazing! Thanks a lot for Ridho and Cipto for being incredible host. I’ll wait for you two in my hometown. Lastly, brace yourself Lombok, I’ll be back to hug your Rinjani! Haha.
 

Blog Template by