Sabtu, 20 April 2013

Pencarian

Selayaknya sahabat yang sudah lama tidak bertemu, saya memulai post ini dengan pelukan yang hangat dan panjang. “Hai, apa kabar? Lama sekali tidak bertemu.” Kemudian diikuti dengan gestur yang kikuk karena sudah tidak terbiasa dengan keadaan yang sama. Ini yang terjadi hari ini. Dengan canggung saya memaksakan diri untuk datang lagi ke halaman kosong dan menyusun kata-kata, berharap dapat kembali dengan bebas membahasakan yang tertawan di kepala, namun sepertinya hal ini tidak semudah yang dibayangkan. Karena itu saya mau bilang, meskipun kita berpisah sekian lama, kamu selalu ada di kepala saya, setiap hari. Saya selalu ingin datang berkunjung, menuliskan beberapa patah kata di tubuhmu, sebagai bahasa yang menjelaskan bahwa sebenarnya saya peduli. Tapi kedewasaan membuat kita menjadi tidak sebebas kita-kita yang dahulu. Lagian, perasaan tidak selalu bisa dijelaskan dalam bentuk alfabet. Saya harap kamu maklum jika saya sering datang tanpa sepengetahuan kamu, duduk berlama-lama di halamanmu yang kosong, menulis sedikit kemudian dengan lincah memencet tombol backspace dan kembali duduk diam. Lama sekali, sampai akhirnya saya keluar tanpa kamu tau saya disana. Biarkan perasaan itu dirasa saja.
Oke, saya terlalu banyak basa-basi.
Kali ini saya coba serius. Menulis saja, meskipun sebenarnya saya tidak tahu apa yang harus saya tulis. Saya akan bercerita hal-hal yang random. Mudah-mudahan kamu suka. Baca pelan-pelan ya, tidak usah buru-buru.
Hidup saya akhir-akhir ini tidak telalu menarik. Semuanya seperti siklus yang harus dijalani berulang-ulang. Saya bangun pagi dengan biasa, bersiap-siap berangkat kerja, menghabiskan lebih dari separuh hari di kantor, menyetir pulang, dan beristirahat untuk kemudian esok hari melakukan hal yang sama. Akhir pekan hanya saya habiskan diatas tempat tidur, karena saya tidak mendapati hal-hal menarik untuk dilakukan diluar sana. Saya seperti naik komidi putar. Tapi di versi yang agak membosankan.
Saya sudah jarang sekali membaca. Buku-buku favorit yang biasanya saya baca berulang-ulang kini tak lagi berhasil membuat saya tertarik. Saya tidak pernah berkunjung ke blog teman-teman akrab untuk menyapa. Juga sudah lama sekali tidak mendengarkan musik. Tanggal terakhir di jurnal saya menunjukkan bulan Agustus 2012. Kebiasaan minum kopi di kafe untuk sekedar menenangkan diri di akhir pekan telah berubah. Saya juga sedang tidak kepengen jalan-jalan. Tidak mood menelpon teman-teman. Kamu juga menjadi pihak sekian yang terabaikan. Intinya, saya sekarang tidak menyukai apa-apa. Kamu tau itu artinya apa? 
Saya juga tidak.
Saya tidak tahu apakah ada yang telah hilang atau ada yang belum ditemukan. Atau mungkin jiwa ini tercipta telalu lemah, sehingga selalu merasa terbebani jika terpaksa berada di dunia dengan spasies berbeda. Yang jelas, saya lupa kapan terakhir kali merasa benar-benar bersemangat, dimana saya berpikir bahwa mimpi-mimpi adalah hal yang posibel – bahwa hidup adalah tentang mendengarkan panggilan-panggilan, mengikuti kata hati dan merasa gembira. Ternyata saya memang benar-benar dungu. Hidup bukanlah untuk merasa lebih baik. Hidup adalah melakukan juga apa yang orang lain lakukan. Kita tidak punya hak memiliki parameter bahagia sendiri, karena itu kita harus menyetelnya sesuai kesepakatan orang-orang kebanyakan. 
Saya belajar bahwa menjadi diri sendiri di dunia yang begitu mengagungkan simbol-simbol bukanlah hal yang mudah. Orang-orang lebih menghargai topeng-topeng yang cantik daripada wajah asli yang polos. Kepalsuan merupakan hal yang secara massal diterima dengan lapang dada. Sadar ataupun tidak, mereka mempengaruhi jalan pikiran kita. Secara konstan mereka membuat kita berpikir menjadi diri sendiri bukanlah hal yang benar. Menuntun kita menjadi sesuatu yang sebenarnya kita bukan. Kemudian kita terpaksa menjalani peran-peran opstal untuk menjadi serupa. Karena serupa adalah satu-satunya cara untuk bisa diterima.
Saya kadang berpikir, apakah ada orang-orang yang merasa seganjil saya. Memang idealnya, kita harus tahu siapa diri kita dan tahu tempat yang kita tuju. Namun kenyataan kadang tidaklah semudah mereka berkata bagaimana kita seharusnya. Dalam pencarian diri sendiri, kita dihadapkan pada begitu kenyataan menyedihkan dimana hak kita untuk memilih dirampas. Sampai akhirnya kita lelah dan yang bisa kita lakukan hanya duduk diam diatas perahu dan membiarkan kemana aliran membawa, sambil terus berharap keberuntungan datang membawa kita pada tempat dimana seharusnya kita berada.
Ceritanya saya beri titik disini saja ya. You got my point. Kecup. 

7 blabla(s):

adelia putri wulandari mengatakan...

keep going kak ! same as me. yaa keep swimming :D

Lispa Lui mengatakan...

kamu gak sendirian, Hans. I feel the same way too.. :/

primadona mengatakan...

ayoooo, mana semangat nya?

Enno mengatakan...

Hanski.... Aku tau kamu bisa melewatinya. Ayo dong, jangan biarkan segala hal buruk mengubahmu menjadi apatis.
Tetap semangat ya!
*peluk kenceng*

:D

Gloria Putri mengatakan...

hanss.....yukkk kita kopdar trus jamming bikin cover di youtubee?
pasti bakal ga biasa lagi deh hidupnya....heehehe
lagian..mana janjinya yg katanya maw bikin cover klo uda lulus? hayooooo???
*kitik2 hans*

hana tsurayya mengatakan...

same here dude, that's life. kadang ada fase jenuh di kehidupan. jangan berlarut-larut. life is temporary, so enjoy your life :)

desyanans mengatakan...

hei awesome! you are not dead yet. cheer UP!:)

 

Blog Template by