Sabtu, 25 Mei 2013

Banjarbaru: Lapangan Murjani dan Pumpung

Baca bagian sebelumnya disini ya!
Hari selanjutnya saya bangun agak kesiangan, setelah perjalanan non-stop melompati tiga pulau berbeda rasanya bener-bener capek. Dengan muka lecek belum mandi, saya diajak Memed untuk jalan-jalan keliling Banjarbaru. Tempat perdana yang kita datangin adalah lapangan Murjani, lapangan depan Balai Kota Banjarbaru.
Kebeneran banget saya udah di Banjarbaru hari minggu, dimana lapangan murjani dipenuhi orang-orang yang olahraga pagi. Lumayan buat cuci mata, hehe. Saya diajak memed sarapan nasi kuning paling enak se-Banjarbaru. Standnya gak besar sih, cuma yang ramenya udah kaya TKP mutilasi. Perlu dorong-dorongan dulu sama pembeli yang lain untuk dapetin sepiring nasi kuning. Saya kan tamu yang kurang ajar kan ya, jadinya saya duduk santai aja di pinggir lapangan sambil ngeliatin memed berjuang di lautan manusia.
Meskipun Kota Banjarbaru baru berdiri tahun 1999, ternyata kota ini udah didesain sejak jaman kolonial Belanda. Adalah seorang Belanda yang bernama Van Der Peijl yang berperan besar dalam desain kotanya. Balai kota maupun lapangan murjani sebenarnya sudah ada sejak jaman penjajahan, namun dengan perkembangan zaman nama dan fungsinya pun berganti.
nasi kuning Lapangan Murjani
balaikota Banjarbaru
Sekarang, sore-sore lapangan Murjani dipenuhi oleh anak muda Banjarbaru-Martapura, ada yang sekedar nongkrong sambil icip-icip kuliner, ada juga geng-geng anak muda, dimana mereka bisa kumpul-kumpul untuk mengembangan bakat seperti olahraga, dance, atau musik. Yang mau nyoba pentol-pentol yang maknyus, monggo cuss kesini. Pas saya datang ke lapangan Murjani, lagi ada perayaan HUT Polantas, jadi ada pertunjukan reog gitu.  Kok reog ya?
Dari Lapangan Murjani kita balik ke rumah memed. Mandi dulu biar kalo jalan gak dikira gelandangan. Setelah wangi dan kembali seksi, kami tancap gas jemput Pebri di rumahnya. Selanjutnya kami jalan ke lokasi pendulangan intan, di Pumpung, Martapura. 
Perjalanan ke Pumpung memakan waktu tidak sampai satu jam. Diperjalanan ini saya liat banyak sekali hutan yang digusur, diganti dengan plang-plang merek perusahaan. Beberapa sepertinya bakal dijadikan kawasan perumahan. Beberapa lainnya dijadikan kebun sawit. Dalam hati saya mikir, puas-puasin aja dulu jalan-jalan di Kalimantan. Sepuluh dua puluh tahun dari sekarang, jika kembali ke Kalimantan, mungkin saya udah gak bisa lihat hamparan hutan hijau lagi.
"untuk", kue tradisional banjar. nyicip di rumah pebri.
gusur hutannya, gusur hutannya sekarang juga
kubangan sisa pendulangan
salah satu alat penyaring yang saya nggak tau namanya apa
kantor gubernur baru kalimantan selatan
Sampai di Desa Pumpung saya disuguhi pemandangan kubangan-kubangan cukup besar dengan air berwarna kecoklatan dan alat penyaring yang terbuat dari kayu. Pendulangan intan di desa ini memang masih dilakukan secara tradisional, dengan menggunakan linggangan, yaitu alat berbentuk caping terbalik. Karena masih dikelola secara tradisional, segi keamanannya-pun bisa dibilang masih minim. Tiap tahun pasti ada saja korban jiwa akibat tertimbun longsor.Di dekat pendulangan ini saya dihampiri bapak-bapak nawarin cincin intan. Tapi karena memang niatnya cuma jalan-jalan dan saya nggak ngerti masalah batu mulia semacam ini, saya nggak beli apa-apa.
Ngomong-ngomong masalah intan, di Martapura aktivitas ini udah dilakukan secara turun temurun sejak zaman kolonial Belanda. Pemerintah Belanda bahkan dulunya mempekerjakan warga lokal untuk mendapatkan batu mulia ini. Tahun 1965, Banjar pernah gempar dengan penemuan intan seukuran telur burung dara di Sungai Tiung. Intan ini diberi nama Trisakti oleh proklamator kita, Bung Karno. Sayangnya, intan langka yang bernilai 10 triliun rupiah ini sekarang tidak diketahui keberadaannya. Gosipnya, Trisakti kini berada di salah satu museum di Belanda. 
Pebri, Memed, dan Fatah
Dari Pumpung, saya dan teman-teman mampir di kantor gubernur Kalimantan Selatan yang tengah dibangun sebelum kemudian balik ke rumah Pebri, buat tidur siang. Iya, saya sempat-sempatnya tidur siang. 
Malamnya saya, Memed dan Pebri diajak mas Fatah buat makan malam sekaligus mempersiapkan rencana selanjutnya besok yang akan dimulai jam 3 pagi. Apa itu? Tunggu next post ya.

3 blabla(s):

Inggit Inggit Semut mengatakan...

hallo mas Hans, udah lama gak main main kemari.
mas hans jalan jalan terus yah ckckc gak ada habisnya. ikut dong :p

Hans Brownsound ツ mengatakan...

hello, welcome back.
wah, jalan-jalan sekarang hanya masa lalu. hahaha.

panggilsayaaME mengatakan...

Pendulangan nya seperti disini.. di kalbar.. ternyata sama ajaa yaa kl yg namanya perusakan lingkungan bentuknya?? :(
Btw, salam kenal hans :)
Nice blog! :)

 

Blog Template by