Senin, 17 Juni 2013

Banjarmasin: Pasar Terapung Lok Baintan


Pasar terapung mungkin jadi kata pertama yang terbersit jika mendengar kata Banjarmasin. Sebenarnya, alasan paling kuat kenapa saya ke Kalimantan Selatan ya untuk melihat pasar unik ini. Makanya, sebelum menginjakkan kaki di tanah Banjar, saya udah lebih dulu browsing-browsing mengenai lokasinya. Dulu ada dua pasar terapung ‘ganal’ di Banjarmasin. Pertama pasar terapung di Muara Kuin, Sungai Barito dan satunya lagi di Lok Baintan, Sungai Pinang.
Asal muasal munculnya pasar terapung dahulu kala adalah karena susahnya transportasi darat. Tak heran, dengan membaiknya akses jalur darat dan makin banyak pilihan alat transportasi, kini pasar terapung di Muara Kuin sudah bisa dikatakan hampir punah. Tak banyak lagi masyarakat menggunakan jukung sebagai sarana jual-beli. Maka dari itu, saya dan teman-teman memutuskan untuk mengunjungi Pasar Terapung Lhok Baintan. Jangan salah, meskipun teman-teman saya ini lahir besar di Kalsel, sebagian besar belum pernah mengunjungi pasar  terapung ini.

siap-siap jualan
pedagang berangkat ke pasar
dermaga lok baintan
Jadilah kami bangun jam tiga pagi. Saya, Fatah, Memed, Pebri, Reza dan Rizqon memang harus berangkat pagi-pagi banget, karena aktifitas di pasar terapung ini memang cuma  ada di pagi hari. Dengan muka-muka ngantuk kami berangkat menuju Lok Baintan. Cuaca saat itu kurang bersahabat, jalan dipenuhi kabut tebal sehingga jarak panjang hanya beberapa meter aja. Jadi terpaksa Fatah nyetirnya pelan-pelan banget. Kami sempat nyasar, bolak-balik, sebelum berhasil sampai di dermaga pasar terapung Lhok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Banjarmasin.
Kami sampai disana jam setengah enam pagi. Karena belum banyak jukung-jukung pedagang berkeliaran, saya jalan-jalan dulu di sekitar dermaga melihat amang-acil yang bersiap untuk jualan. Rata-rata masyarakat disini membangun rumah di tepi sungai dengan sebuah anjungan perahu di bagian belakang. Beberapa transaksi jual-beli juga terjadi di anjungan ini. Kalau di kota, masing-masing keluarga wajib punya motor, disini masing-masing keluarga wajib punya jukung. 
Menjelang jam enam pagi, pasar mulai dipenuhi dengan ibu-ibu dan bapak-bapak berjukung lengkap dengan barang dagangannya. Uniknya disini tidak banyak terjadi tawar menawar karena masing-masing telah paham mengenai nilai barang. Lebih unik lagi, ternyata juga masih berlaku sistem barter alias tukar menukar barang. Yang diperdagangkan macam-macam, mulai dari hasil kebun, sayur-mayur, buah-buahan, jajanan sarapan pagi sampai kue-kue tradisional khas Banjar. Bahkan ada yang bawa kompor buat masak langsung diatas jukung loh. Saya dan teman-teman kemudian menyewa sebuah klotok yang cukup buat kami berenam ikut masuk dalam hiruk pikuk pasar.









kalo udah ketemu makanan, amnesia sama semua 
Saya super excited. Pasar terapung yang dulu saya cuma bisa lihat dari reklame stasiun tivi swasta sekarang ada di depan mata. Karena perut keroncongan, kami menghampiri salah satu jukung acil yang jualan jajanan pagi. Ada pisang goreng, ubi goreng, macam-macam. Langsung dimasak di tempat. Supaya makin lengkap, saya juga diajak Rizqon mencicipi soto Banjar yang serius, enak banget. Mungkin karena ditambah suasananya yang menyenangkan ya.
Jam delapan pagi – saat matahari sudah mulai tinggi, sedikit demi sedikit pedagang mulai meninggalkan pasar, kembali ke rumah masing-masing. Rata-rata mereka berasal dari anak sungai Martapura seperti Sungai Lenge, Bakung, Paku, Alam dan sekitarnya. Kami pun kembali ke darat untuk melanjutkan destinasi selanjutnya. Floating Market is one of the most unique place I’ve ever been! Super recommended.

4 blabla(s):

Rusydi Hikmawan mengatakan...

ternyata selain di thailand, di indonesia juga ada pasar terapungnya. cuman di thailand udah jadi konsep pariwisata, beda ama di indonesia, segala potensinya gak maksimal dibenahi ama pemerintah. selamat makan2, bro

Hans Brownsound ツ mengatakan...

kalau saya mikirnya sih, ga usah semua disalahkan sama pemerintah. contohnya kita orang indonesia aja bahkan lebih tahu thailand kan daripada indonesia sendiri, ya kan?

deenee mengatakan...

mas, RCTI oke yaa hehehehehe :D pengen berkelana kesana jugak mas :D

Hans Brownsound ツ mengatakan...

iya dek. RCTI OKEEEE *sambil benerin kerudung*

 

Blog Template by