Sabtu, 13 Juli 2013

Akan ada lagi pagi

Kemudian hidup menghadiahimu lelucon selanjutnya. Itulah alasan mengapa malam ini kau terbaring dengan tatapan kosong  menatap langit-langit dan memeluk bantalmu erat-erat. Kau membiarkan sepi mengisi penuh kamar itu dan merangkul gelap menjadi teman untuk berbagi cerita. Kemudian kau menangisi lelucon ini, sambil dalam hati terus berharap akan ada garis finish yang bisa kau kejar. Titik dimana semuanya benar-benar berakhir dan kau bisa tersenyum lagi dengan pasti. Namun, kau malah sampai di titik dimana yang kau percayai hanyalah kemurungan demi kemurungan yang berlari estafet bergantian menemuimu.

Diiringi suara petir dan hujan yang menderas, malam ini semesta menjadi saksi imanmu pada keajaiban-keajaiban yang  luruh.
Kau menghapus air mata yang tak kalah deras. Kau diselimuti begitu banyak awan hitam, hingga matamu yang sendu tak mampu melihat apa-apa. Pertanyaan demi pertanyaan mendatangimu, memaksa untuk dijawab. Bagaimana mungkin orang sepertimu -  yang dulu kau percayai memiliki hati yang lebar - kini harus menjadi bagian dari omong kosong yang tak berkesudahan? Tidakkah mengherankan jika kau dengan sayapmu yang tegap hanya bersisa seonggok daging yang lumpuh, penuh sesal dan duka? Kau bukanlah orang yang pantas membuang air mata sia-sia, namun ini adalah dunia – padang savana yang kejam dimana semuanya tak terbayar sesuai takaran. Kau bisa tercabik-cabik bahkan ketika kau tak bersalah.
Ingin rasanya kau melepaskan bebanmu, kemudian meninggalkannya begitu saja.  Pergi jauh, sejauh yang kau bisa, mengikuti apapun yang kau percaya untuk menemukan dirimu lagi. Menyusuri jalan yang kau pilih hingga akhirnya kau berhasil berdamai dengan takdirmu. Kau bisa melakukannya, meskipun kau harus menghilang dari pandangan siapapun dan harus kehilangan apapun. Namun kau bukanlah ia yang mampu berjalan dengan egois, meninggalkan semua begitu saja kemudian menonton setiap jengkal yang kau tinggalkan luluhlantak, hancur berantakan, tanpa perasaan bersalah.
Karena itu menangislah. Menangislah sederas yang kau bisa. Biarkan air matamu menjadi genangan-genangan kecil di bantal. Biarkan mereka menjadi bahasa yang merangkum setiap inchi dari luka-lukamu yang tak tersembuhkan. Biarkan mereka menjadi saksi nyata dahsyatnya perperangan malam ini. Dan tertidurlah jika kau lelah. Esok ketika kau terjaga, akan ada lagi pagi yang damai – saat kau menyadari bahwa mimpi burukmu telah usai. Kau bisa tersenyum lagi dan memulai semuanya dari awal. lipat selimutmu dan buka jendela. Kau akan lihat matahari baru yang menyinari sudut-sudut hatimu yang gelap. dan harapan-harapanmu yang hilang kembali mekar.
Percayalah, akan ada lagi pagi.

6 blabla(s):

emergency exit mengatakan...

Baca ini seolah melayang diantara kenangan ..

Rizky Sopiyandi mengatakan...

Pengunaan katanya 'Ngigit' banget!

CLAZA mengatakan...

Nice one, Hans!

Gloria Putri mengatakan...

iya...aq percaya koq hans..masih akan ada pagi lagi...dan kita masih akan bertemu dengan lebaran yang baru lagi tahun dpn...minal aidin hans :))
semoga ga akan ada lagi plagiat2 busuk yaaaaa :))

defickry mengatakan...

your posting reminds me of someone. again, throw back once upon a time :D

anyway, salam kenal, couchsurfer!

Hans Brownsound ツ mengatakan...

hai all! ;)
glo: amiiin!
defickry: hei, csr juga?

 

Blog Template by