Minggu, 25 Agustus 2013

Palangkaraya: Monumen Soekarno dan Jembatan Kahayan

jembatan kahayan
Saya, Memed dan Hadi bangun pagi-pagi banget. Ga rela rasanya saya cuma menghabiskan hari pertama sekaligus terakhir di Palangkaraya diatas kasur. Saya punya waktu setengah hari untuk jalan-jalan. Rencananya Hadi mau ngajak saya jalan ke Bukit Tangkiling, salah satu tujuan wisata utama di kota cantik ini. Disana kita bisa melihat pemandangan Palangkaraya secara utuh. Namun Palangkaraya-Bukit Tangkiling jaraknya 34 Kilometer, belum lagi naik ke bukitnya, takutnya nggak keburu – terus ketinggalan pesawat, terus saya akan jadi orang Dayak Ngaju selamanya karena udah gak punya duit buat beli tiket lagi.
Jadinya, saya sama Memed dan Hadi jalan-jalan seputaran Palangkaraya aja. Udara pagi itu bener-bener ga sehat. Berkabut. Kalau liat foto-foto ini rada gloomy, itu bukan karena lagi mendung, tapi karena langitnya ketutup asap. Kota ini memanglah belum menjadi daerah tujuan utama wisata, karena memang gak banyak atraksi wisatanya. Meskipun begitu, saya terkesan banget sama ini kota. Soalnya cantik, rapi dan sepi. Saking sepinya, siang bolong kita bisa gelar tikar piknik di jalan protokol depan kantor DPRD. Serius. Padahal Jalan S. Parman itu merupakan pusat kota, persis di depan tugu peletakan batu pertama kota Palangkaraya oleh Soekarno. Mungkin karena kotanya bukanlah kota yang terjadi dengan sendirinya alias direncanakan keberadaannya terlebih dahulu, menjadikan kota ini benar-benar tertata rapi. Gak kebayang deh kalau wacana pemindahan Ibukota RI kesini, mungkin bakalan semrawut juga kayak Jakarta. Informasi aja, wacana pemindahan Ibukota RI ke Palangkaraya sebenarnya udah ada sejak jaman Soekarno. Proklamator kita itu memang obsesi banget menjadikan Palangkaraya sebagai ibukota Indonesia yang dirancang sekeren mungkin. Tapi udah 68 tahun sejak republik berdiri, mimpinya belum juga terwujud.

sepinya Palangkaraya

monumen soekarno

Kami muter-muter keliling tugu peletakan batu pertama Kota Palangkaraya. Disinilah tanggal 17 Juli 1957 Soekarno meletakkan batu pertama berdirinya Palangkaraya sebagai ibukota provinsi Kalimantan Tengah, provinsi ke-17 Indonesia. Lokasinya tepat di pusat kota, pinggir Sungai Kahayan. Ternyata, kawasan ini juga terkenal sama cerita horornya. Diduga dulunya kawasan tugu ini adalah sebuah makam. Menurut cerita yang beredar, banyak orang yang mengaku pernah melihat sesosok makhluk berjubah putih dan berjenggot panjang di pohon beringin tugu tersebut. Ia biasanya akan menampakkan dirinya pada malam jumat lewat jam 12 malam dengan ciri-ciri akan tercium bau dupa dan wangi kembang. Percaya gak percaya sih ya. Untungnya saya gak tau hal ini malem-malem pas kami kesana. Kan serem juga.
Kami juga berjalan ke arah belakang Tugu Soekarno untuk melihat jembatan Kahayan yang keren itu. Jambatan sepanjang 640 meter ini menghubungkan Palangkaraya dengan Kabupaten Barito Selatan, dibangun tahun 1995 dan baru selesai tahun 2001. Sungai Kahayan ini juga gak jauh-jauh dari cerita mistis. Denger-denger banyak orang yang mengalami pengalaman mistis disekitar Sungai Kahayan ini, contohnya melihat buaya putih atau diganggu sosok yang gak kasat mata. Hal ini diperkuat dengan program salah satu TV swasta februari lalu yang membuktikan bahwa bener, ada banyak sekali makhluk-makhluk astral di sekitar Jembatan Kahayan ini. Lokasi pembangunan jembatan katanya adalah sebuah perkampungan makhluk gaib. Namanya perkampungan, ya pasti ada anggota masyarakat yang baik dan yang jahat. Makhluk jahat dengan aura negatif ini yang sering mengganggu pengguna jembatan. Dari hasil terawangan, wujudnya macem-macem. Ada yang berwujud monyet bertanduk dengan mata merah. Ada yang berwajah perempuan dengan usus terburai. Dan bener, ada makhluk berwujud buaya putih. Buaya putih ini termasuk penunggu paling lama disana, tapi sebenernya nggak pernah mengganggu siapa-siapa. Meskipun begitu, ada baiknya jaga-jaga. Kalau lewat Jembatan Kahayan malam-malam jangan lupa menyapa dengan membunyikan klason. Oiya, denger-denger juga, sungai Kahayan biasanya selalu minta tumbal. Tiap tahunnya pasti ada aja orang yang tenggelam disekitar Jembatan Kahayan, dan biasanya bukan warga yang tinggal di pinggir sungai, melainkan orang yang datang dari jauh. Boleh percaya boleh nggak sih, atau ada sukarelawan yang mau nyoba uji nyali? Haha.






Terlepas dari banyaknya cerita-cerita mistis di Kota ini, saya mau bilang kalau orang dayak itu manis-manis, cakep-cakep, putih-putih, bahalap-bahalap lah pokoknya. aiiih, gak kuat deh! Contoh realnya tuh temen saya si Hadi. High quality jomblo loh dia (masih jomblo gak sih bang?). Yang mau daftar silahkan hubungi saya ya, jangan lupa transfer uang pendaftaran. *siap-siap ditebas Mandau*

5 blabla(s):

melissa natalie mengatakan...

asap apa disana hans? banyak pembakaran? sepi amat itu palangkraya

windi siregar mengatakan...

air sungainya super coklat, hans.. kasian orang-orang yang tinggal di sekitar sungai

Senjana Jingga mengatakan...

apa kabar uda???
masih rajin aja nulisnya... semoga makin rajin juga traveling-nya ya... :))

Petrichor mengatakan...

wah Palangkaraya! i'vee been living there before for about 1 years with my mom and dad and the we moved on to Banjarbaru, south kalimantan for 5 years before we go bback to Jakarta in 1999. have a nice trip Hans, jangan lupa cicipi kue bingka kentang wah itu enak banget.

anyway thanks for coming to my blog. salam kenal

Hans Brownsound ツ mengatakan...

melissa: iya. kan sering kebakaran hutan. jadi ya gitu deh. gloomy dari pagi sampe pagi lagi.
windi: itu karena ga hujan-hujan aja kok win, lagi kering.
senjana: icha! travelingnya udah jarang dong dong. jadi cowok kantoran ceritanya ini.
naajmi: wohoo. udah dong icip2 bingkanya :)

 

Blog Template by