Sabtu, 12 Oktober 2013

Kisah Sebentar

Laki-laki itu baru saja mengenakan jas hitam yang ia jemput dari laundry kemarin sore. Kepalanya masih agak pusing – ia minum terlalu banyak tadi malam, untuk orang yang harus bekerja di pagi hari. Hari ini hari minggu dan baginya tidak masalah. Ia memang butuh uang lebih. Banyak sekali tagihan yang harus dibayar, apalagi sejak ibunya dirawat di rumah sakit karena diabetes. Ia membasuh mukanya sekali lagi di wastafel kemudian mengelapnya dengan handuk, berharap matanya yang merah dan bengkak tidak terlalu kelihatan. Namun tentu saja ini sia-sia, ia memang kurang tidur. Pukul setengah tujuh ia mengunci pintu dan turun dari apartemennya di lantai dua tujuh melalui lift. Kemudian menyalakan rokok di parkiran, sambil memanaskan mesin mobil.
Perempuan itu mengeringkan rambutnya dengan hair-dryer berbunyi bising. Ia bangun pagi sekali untuk ukuran hari minggu. Biasanya jam segini ia masih bersembunyi dalam selimut dan mendengkur. Sebenarnya ia tak perlu bangun pagi jika saja ia tak harus menjemput adiknya nanti siang ke bandara. Lagipula, sejak perceraiannya enam bulan lalu, ia tak perlu mengurus siapa-siapa selain dirinya sendiri. Ia kemudian memakai make up tipis dan menyisir rambutnya pelan-pelan. Di atas meja rias sudah tergeletak catatan belanja yang ditulis rapi dengan pensil. Bagi wanita sepertinya, tak ada hiburan yang lebih menyenangkan daripada berbelanja di hari libur. Ia menuruni tangga menuju halte busway di depan apartemennya, kemudian melipat tangannya sambil memperhatikan kendaraan yang lalu lalang. Ia harap ini tidak terlalu pagi untuk melamun.
Mobil itu melaju dengan cepat melintasi jalan-jalan ibukota. Laki-laki itu bahkan lupa kalau hari ini hari minggu. Disaat semua orang masih terlelap di mimpi masing-masing, sebenarnya ia tak perlu berangkat sepagi ini. Rokok ketiga pun keluar dari bungkusnya dan seketika asap memenuhi ruang. Dalam kepalanya tengah berputar-putar banyak hal, namun ia terlalu malas untuk menyortirnya satu per satu. Yang jelas, usai bekerja ia akan mampir ke toko bunga kemudian menjenguk Ibunya di rumah sakit. Jam besar di lampu merah menunjukkan angka yang terlalu dini untuk duduk di meja kantor. Karena itu ia mengubah sedikit skenario, mungkin minum secangkir kopi tidak akan membuatnya terlambat. Ia memutar arah mobilnya menuju warung kopi langganannya.
Di dalam bus perempuan itu barusaja mematikan telepon genggamnya. Adiknya menelpon hanya untuk memastikan ia tidak lupa dengan menjemput ke bandara nanti siang. Hari minggu yang lengang menjadikan durasi perjalanan lebih singkat dari biasanya. Ia melirik jam tangan berwarna emas di tangan kirinya, kemudian menimbang-nimbang, apakah ia akan tiba kepagian. Department store yang ia tuju memang biasanya buka jam sepuluh pagi, namun khusus bulan desember mereka buka dari jam delapan, mereka juga memberikan potongan-potongan harga spesial. Tapi tetap saja, ia mungkin akan tiba disana sebelum mereka buka. Perutnya yang keroncongan memberikan ide untuk sejenak menikmati toast dan secangkir kopi. Ia tahu sebuah warung kopi tidak jauh dari department store.
Sebenarnya warung kopi itu tidak terlalu besar. Hanya saja, didesain dengan sangat nyaman dan beragam jenis kopinya sudah terkenal nikmat. Laki-laki itu hanya memesan secangkir double espresso. Ia tak begitu lapar. Yang ia butuhkan hanyalah peredam dari kecamuk yang sedang berlangsung di kepalanya. Sesekali ia mengecek telepon genggam memastikan tidak ada panggilan ataupun pesan singkat dari bosnya. Ia menyesap kopi panas itu pelan-pelan. Saat itu juga matanya tertumbuk pada seorang perempuan yang duduk di meja seberang. Ia diam-diam mengamati gestur perempuan itu. Rambutnya mengembang rapi, jam tangan berwarna emasnya tampak serasi dengan dressnya yang berwarna merah. Ia kemudian memalingkan wajahnya beberapa kali, hanya supaya tidak terlalu kelihatan sedang menguntit.
Pelayan manaruh sepiring toast dan secangkir cappucino di meja, kemudian berlalu setelah perempuan itu mengucapkan terimakasih. Sebenarnya ia sudah menyadari keberadaan laki-laki di seberang meja sejak ia memasuki warung kopi. Sejujurnya, laki-laki itu menjadi alasan ia memilih meja ini, padahal biasanya ia akan memilih meja di dekat jendela. Ia menatap laki-laki itu lekat-lekat, seolah menganalisa setiap inchi tubuhnya. Sepertinya ia seorang eksekutif muda, dengan wajah  setampan itu tentu saja ia punya banyak teman wanita. Tapi ia kelihatan kurang tidur. Matanya bengkak.  Mungkin saja ia tidak tidur semalaman dan bersenang-senang. Atau mungkin dia bekerja hingga larut malam. Perempuan itu langsung berpura-pura merapikan rambutnya ketika lelaki itu menoleh padanya. Ia tak ingin kelihatan seperti perempuan kesepian.
Tak pernah terpikirkan sama sekali olehnya tentang cinta pada pandangan pertama, tapi kehadiran perempuan di depannya kali ini benar-benar mengusik rasa penasaran. Perempuan itu duduk sendiri, jadi mungkin saja tidak keberatan jika ia duduk disana dan sedikit mengobrol. Ia juga begitu menyadari wajahnya yang tampan. Belum satu wanita pun pernah menolak untuk berkenalan dengannya. Mata mereka kemudian beradu dan saling tersenyum satu sama lain. Laki-laki itu kini yakin dengan apa yang akan ia lakukan, namun baru saja ia hendak mengambil langkah, telepon genggamnya berdering. Bos diseberang sana memintanya untuk datang ke kantor lebih cepat karena ia harus melakukan perjalanan mendadak nanti siang. Setelah meletakkan tip di piring kecil, ia buru-buru keluar dari warung kopi. Melupakan kisah yang belum sempat dimulai.
Perempuan itu menyadari, ia berharap laki-laki itu datang menghampirinya dan mengajaknya berkenalan.  Ia tentu saja tidak berani mengambil langkah duluan, walaupun ada degup tidak biasa yang ia rasa. Mata mereka pun beradu, laki-laki itu tersenyum padanya. Ia membalas senyuman itu sebaik yang ia bisa, semoga laki-laki itu paham dengan sinyal yang ia berikan. Ia menarik napas dalam ketika laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya, namun sebuah panggilan di ponsel mengalihkan perhatiannya. Laki-laki itu buru-buru mengeluarkan dompet, menaruh beberapa lembar di piring dan kemudian berlalu. Dengan kecewa, ia menatap punggung laki-laki itu sampai hilang di depan pintu.

11 blabla(s):

HP Yitno mengatakan...

Tak ada salahnya wanita duluan, daripada kesempatan hilang begitu saja.

Rachmat Abdurahman mengatakan...

ntar juga ketemu lagi... :D

Enno mengatakan...

Aku sukaaaaa!
Harus ada sambungannya! Plus dialog ya! Requessssttttt! :))

tiwi mengatakan...

kak, plis lah kak plis, bikin kumpulan cerpen atau novel. cerita-ceritamu terlalu indah hanya untuk dionggokkan di blog :"

Gloria Putri mengatakan...

hans....selalu speechless baca tulisanmu...bener kata mba enno...harus ada sambungannya nihhh!!!

Onixtin Sianturi mengatakan...

bahasamu rapih bener kak... syg ga dilanjutin... keep writing yaa, ditunggu kelanjutan ceritanya :)

Hans Brownsound ツ mengatakan...

HP n Rachmad: Thanks for dropped by!
enno: alright alright ;)
tiwi: doain aja dilirik penerbit dek haha :p
glo: thanks gloo.
onix: thanks!

windi siregar mengatakan...

Makanya dilanjutin biar dilirik penerbit :p

windi siregar mengatakan...

Makanya dilanjutin biar dilirik penerbit :p

windi siregar mengatakan...

Makanya dilanjutin biar dilirik penerbit :p

windi siregar mengatakan...

Makanya dilanjutin biar dilirik penerbit :p

 

Blog Template by