Sabtu, 05 Oktober 2013

Main Api

Begini, jika kau telah melalui seribu tahun kemarau panjang, dan tiba-tiba datang seseorang datang membawa mendung tentu saja kau akan berpikir kalau dia adalah malaikat, atau mungkin makhluk astral lain yang diutus tuhan, atau mungkin saja tuhan. Begitu juga yang terjadi kali ini, dia datang tiba-tiba, tanpa disangka, namun membuatku terlanjur membuatku percaya kalau dia adalah titisan tuhan untuk menjadikan hidup yang melelahkan ini menjadi lebih ringan. Kami bertemu dengan sebuah cara yang tidak  biasa. Matanya menyiratkan kedamaian tiada tepi. Dan aku begitu menyukai giginya yang rapi.
Sebenarnya, sebagai orang yang sudah menghadapi carut marut  kehidupan sekian lama, aku sudah terlatih untuk tidak berharap apa-apa. Karena aku menyadari betul, bahwa tidak ada yang bisa seratus persen diharapkan di dunia ini. Bahkan diri kita - yang kita miliki secara utuh juga lebih sering mengecewakan. Apalagi jika kita menggantungkan sesuatu pada orang lain, maka begitu orang itu pergi yang tersisa hanyalah kita dalam pecahan-pecahan kecil. Orang tak ubahnya seperti musim, ia akan berubah jika kondisi menjadikannya begitu. Aku berpegang teguh pada ideologi ini sekian lama. Hingga suatu saat aku melemah, dan seperti virus, ia masuk diam-diam tanpa banyak bicara. Yang kuketahui, dia telah disana entah bagaimana caranya.
Sepertinya kehidupanku yang damai, dengan benteng diri yang telah lama kubuat, kini terusik.
Aku mulai tahu lagi bagaimana rasa dagdigdug menantikan balasan pesan singkat darinya. Juga menunggu untuk dapat bertemu, mendengar suaranya atau melihat ia tertawa. Ini menyenangkan, tapi ada sekilas perasaan takut menelisik karena yang kupelajari selama ini, hal-hal indah cenderung akan membuat kita tersiksa di kemudian hari. Aku takut ini terjadi. Tapi kehadirannya begitu sempurna, seperti hujan yang menghapus kemarau menahun sehingga aku menjatuhkan diriku begitu saja padanya, tanpa waspada pada hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Aku melepaskan diriku, menikmati perasaan yang sudah lama tidak kurasa. Tidak berlebihan jika kukatakan ada bagian diriku yang secara tidak sadar sudah menjadi miliknya. Aku ingin tuhan menyediakan kertas kosong yang lebar untuk cerita aku dan dia. Aku menantikan cerita ini tumbuh menjadi cerita menarik, seperti anak kecil yang dengan sabar menyirami biji bayam yang ia tanam untuk melihat apakah suatu saat akan ada daun-daun mungil yang tumbuh.
Tidak ada yang ingin merasa sendiri di dunia yang ramai ini. Tapi sifat dunia adalah senantiasa berubah. Tidak semua yang ditanam dapat tumbuh dengan subur. Tidak semua yang bersama dapat selamanya. Dia yang datang dengan tiba-tiba juga bisa pergi tanpa tanda-tanda. Dia yang begitu istimewa-pun menghilang entah kemana. Aku menantikannya kembali di depan pintu dari pagi ke pagi, namun tak kutemui tanda-tanda ia akan kembali. Mungkin  benar, dia hanyalah malaikat atau makhluk astral ciptaan tuhan, yang nyatanya bisa lenyap begitu saja dari pandangan. Kini yang kutemui hanyalah diriku dalam pecahan-pecahan kecil yang dengan susah payah harus aku satukan kembali. Aku menyadari begitu bodohnya diri ini dengan senang hati membongkar satu persatu benteng yang dulu kubangun dengan susah payah. Penyesalan di ujung jalan tidaklah berguna, sudah terlalu gelap untuk kembali. Semua terbakar hangus dan menyisakan puing-puing yang tak tahu harus kuperbaiki dari mana. Aku tidak bisa menyalahkan ia yang pergi, karena sebenarnya ini adalah kesalahanku sendiri. Membuka bagian diriku untuk ditempati, aku tidak berhak marah jika pada akhirnya aku malah terkuasai.
Kadang hanya kepercayaan  yang membuat kita bertahan. Orang datang dan pergi dalam hidup kita membawa beragam alasan. Ada yang akan tinggal, menemani kita melakukan perjalanan. Juga ada yang hanya datang untuk menyakiti namun sebenarnya membuat kita lebih tangguh. Ketakutanku terjawab sudah, namun sudah selayaknya tidak ada kata menyerah. Aku yang dulu bisa menjalani hidup tanpanya tentu sekarang juga dapat berdiri diatas kakiku sendiri. Mungkin ini adalah pertanda, untuk menjadikanku lebih waspada. Atau kembali mengingatkanku bahwa kembali ke cangkang adalah pilihan paling aman. Di titik ini tuhan menginginkanku untuk memulai semuanya dari awal dan lebih hati-hati menjaga hati.
Aku janji, aku takkan lagi main api.

7 blabla(s):

emergency exit mengatakan...

saya suka tulisan ini. entah kenapa :)

emergency exit mengatakan...

saya suka tulisan ini. entah kenapa :)

Hans Brownsound ツ mengatakan...

terimakasih. :)

Enno mengatakan...

hmm...
berasa dibikinin postingan deh sama kamu, hahahaha...

*trus nangis di pojokan*

phie mengatakan...

yay ! mr awesome. tulisannya mewakili sekali. #gemeter #haru

Hans Brownsound ツ mengatakan...

enno: tabah ya nak :'(
phie: aaa, thank you dek :D

BaS mengatakan...

Hey, satu kalimat yang menarik dari tulisanmu
"tidak semua yang bersama bisa selamanya"

I get the rhyme and also the deep meaning of it #touch

Tulisan yang menarik, apakah ini dirimu? atau versi fiktif tentangmu?

 

Blog Template by