Sabtu, 23 November 2013

Bukitinggi: Ngarai Sianok

Pertama dan utama sekali, saya mau bilang  bahwa saya merasa nista. Saya udah menulis tentang berbagai tempat di Indonesia di blog ini, namun belum sekalipun saya menulis tentang Sumatera Barat sebagai tanah kelahiran saya. Barulah saat cuti tahun lalu – ketika saya kedatangan tamu, sahabat saya, Memed dari Kalimantan Selatan dan seorang teman dari Polandia, Wiktor – Saya sadar.  Iya, cuma sebatas sadar aja. Buktinya udah lebih satu tahun setelahnya, saya baru tergerak untuk menulis. Kemalasan yang sungguh kronis.
Sebagai tuan rumah yang baik, sudah seharusnya saya mengajak tamu-tamu ini berkeliling. Saya juga jadi sadar kalau ternyata saya lebih banyak tahu tentang tempat wisata di Bali atau Lombok daripada daerah saya sendiri. Karena itu saya bertekad untuk eksplor Sumatera Barat, juga ngajakin dua temen saya ini jalan-jalan. Pilihan utama jalan-jalan di Sumatera Barat tetap jatuh pada kota andalan saya, Bukitinggi.
Berbeda dengan Sawahlunto atau Sijunjung yang bahkan belum pernah saya injak sampai saat ini, saya udah familiar dengan Bukitinggi dari kecil. Saya sudah jatuh cinta dengan kota ini dari umur 4 tahunan. Kenapa saya begitu menyukai kota ini? Waktu kecil saya beranggapan bahwa Bukitinggi adalah negeri awan yang terdampar di bumi (bukti nyata kalau saya memang kebanyakan baca cerita Oki dan Nirmala). Daerahnya berbukit-bukit dan selalu diselimuti kabut pada pagi hari. Udaranya juga enak banget, selalu sejuk segar dari pagi sampai pagi lagi. Selain itu, Bukitinggi juga merupakan kota sejarah sekaligus kota wisata – yang dua-duanya saya senangi. Bercerita sejarah tentang kota ini mungkin gak ada habis-habisnya. Bukitinggi mulai terkenal sejak masuknya penjajah Belanda tahun 1818. Kota ini kemudian menjadi kota paling penting peranannya dalam ketatanegaraan Belanda di Sumatera. Tahun 1825 Belanda membangun kubu pertahanan Fort De Kock dan kemudian menjadikan Bukitinggi sebagai kota peristirahatan bagi opsir-opsir Belanda. Tak heran kalau sampai sekarang masih banyak kita temui bangunan-bangunan tua bergaya Belanda dimana-mana.
Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang, Bukitinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan militer bagi kawasan Sumatera dan Singapura. Pada masa inilah kota yang awalnya bernama Taddsgemente Fort de Kock berganti nama menjadi Bukitinggi. Mungkin banyak dari kita yang nggak tahu bahwa Bukitinggi pernah menjadi ibukota Indonesia, persisnya Juni 1949, ketika Yogyakarta, ibukota RI kala itu jatuh ke tangan Belanda. Setelahnya, Bukitinggi kemudian menjadi ibukota Provinsi Sumatera dan Sumatera Tengah. Itu deh sejarah singkatnya, kalau cerita sejarah Bukitinggi bisa jadi satu ensiklopedi ntar. 
Bukitinggi juga merupakan kelahiran tokoh-tokoh besar Indonesia. Sebut saja, proklamator kita, Muhammad Hatta, lahir besar disini dan sampai saat ini rumahnya masih berdiri kokoh. Selain itu ada juga pejuang kemerdekaan sekaligus mantan menteri luar negeri era orde lama, Haji Agus Salim. Hasyim Djalal. Mara Karma. Surisman Marah. Tifatul Sembiring. Juga Eva Arnaz. Errm lupakan Eva Arnaz.
Saya senang dengan sejarah suatu tempat, benda-benda bersejarah dan bangunan-bangunan tua. Tak heran teman baik saya bahkan nyeletuk “pantes idup lo ngenes. Selalu terjebak masa lalu sih!”
Oke, mungkin dia benar. Dan jelas sudah kenapa saya suka sekali dengan Bukitinggi.
diatas tower. depannya ngarai. belakangnya kuburan.
lukisan di Tropen Museum
Destinasi pertama yang kami kunjungi di trip Sumatera Barat ini adalah Ngarai Sianok, yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Sebagai informasi aja, objek wisata di Bukitinggi letaknya berdekatan sehingga nggak perlu naik motor apalagi mobil. Yang diperlukan cuma kesiapan kaki aja buat jalan naik turun. Ngarai sianok adalah tebing curam yang saling berhadapan dengan sepanjang 15 kilometer dan tinggi 100-120 meter. Dasarnya dipotong-potong oleh Batang Sianok (batang dalam bahasa minang berarti sungai), itulah mengapa tebing-tebing ini dinamakan Ngarai Sianok. Zaman penjajahan Belanda, tebing ini dijuluki Karbouwengat karena di dasar ngarai terlihat banyak sekali kerbau liar hidup bebas. Waktu terbaik untuk mengunjungi ngarai ini adalah pagi hari, sebelum matahari terbit karena kita bisa melihat matahari terbit menembus kabut ngarai dengan background Gunung Singgalang yang megah. Kami datang agak siangan sih, tapi pemandangan Ngarai Sianok is still breathtaking. FYI, ngarai sianok sudah dikunjungi sejak zaman kolonial, beberapa pelukis Belanda bahkan mengabadikannya lewat lukisan dan dipamerkan di Tropen Museum, Amsterdam. Sayangnya, waktu gempa 2007 beberapa tebing runtuh.
Untuk masuk ke kawasan panorama, kita harus bayar 5 ribu rupiah per orangnya. Kawasan panorama ini dilengkapi gazebo-gazebo buat nyantai-nyantai. Bawa tiker piknik juga diperbolehkan, asal hati-hati dengan barang bawaan. Monyet-monyet disini agresif dan suka nyuri barang pengunjung. Saya aja pas kesana sempat dikejar-kejar manja sama monyetnya.
Dibagian timur ada beberapa souvenir shop yang menjual berbagai macam lukisan dan cendramata khas Bukitinggi. Disini juga ada tower dimana kita bisa melihat ngarai sianok dari spot terbaik. Awal januari lalu, Pemerintah Kota Bukitinggi baru meresmikan tembok china ala Indonesia di Ngarai Sianok ini. Namanya The Great Wall of Koto Gadang. Great wall ini dibangun atas dana sumbangan dari orang-orang Bukitinggi di perantauan. Sayangnya, saya belum kesana, belum bisa cerita deh. Next time ya!


9 blabla(s):

Enno mengatakan...

ke great wall koto gadang barengan aku ya! :D

Hans Brownsound ツ mengatakan...

sure enn! why not ;)

Kiki mengatakan...

lovely!

Hans Brownsound ツ mengatakan...

your hometown qioo! ;)

Mila Said mengatakan...

ga tau kenapa tiap baca postingan blog yang sumatera barat gitu bawaannya langsung laper *elus2 perut

Bayu Hidayat mengatakan...

keren banget bro. apo lai makan itiak lado ijau di abawah ngarai tun. lamak bana

puji hamzah mengatakan...

kereen... kapan yaa bisa ke sana...^_^

BaS mengatakan...

Kok gw ngerasa tulisan kamu yang ini kurang bersemangat?

Semoga itu cuma kesan yang terpapar di tulisan, bukan aktual yang benar

:)

deenee mengatakan...

budal mas sesuk heheheheheheehe :D

 

Blog Template by