Sabtu, 16 November 2013

Palangkaraya: Museum Balanga

Museum Balanga adalah destinasi penutup half-day trip Palangkaraya saya. Saya datang kesini sepulang dari mengunjungi Nyaru Menteng. Memasuki gerbang museum, kami disuguhi dengan lapangan yang sangat sepi, samasekali tidak ada tanda-tanda kehidupan. Saya, Hadi, dan Memed kemudian berkeliling, dan bener, memang gak ada orang sama sekali. Baru pas kami nyampe di ruang Etnografi, ada seorang petugas yang datang. Kami membeli tiket, kemudian masuk ke bagian dalam ruang etnografi museum.
Museum ini berada di lahan seluas lima hektar. Balanga sendiri berarti guci. Kenapa guci? Karena guci adalah benda yang dianggap sakral, benda milik Ranying Hattala Langit (tuhan) oleh suku Dayak. Di kompleks museum terdapat sekitar 20-an gedung dengan ruang-ruang koleksi dan perrpustakaan, namun hanya satu ruangan yang kelihatan berpenghuni. Ternyata museum ini diluar ekspektasi saya. Saya kira, bagian dalamnya sama dengan tipikal museum-museum di Indonesia umumnya, sepi dan berdebu dengan koleksi yang berantakan karena tidak pernah dibersihkan. Museum ini jauh dari tipe tersebut. Dalamnya benar-benar bersih, koleksi-koleksinya terorganisir dengan baik dalam kotak-kotak kaca. Walaupun masih sepi pengunjung sih. Di ruang etnografi museum ini berisi koleksi benda-benda yang berhubungan dengan etnis dayak, sebagai suku asli penduduk Kalimantan Tengah.
Saya senang datang ke museum karena dengan mengunjungi museum suatu daerah, saya jadi tau hal-hal yang kadang gak bisa dijawab dengan jalan-jalan keliling kota-nya. Misalnya pas saya jalan-jalan ke hutan Arboretum, di tengah hutan saya menemukan sebuah rumah panggung mini dengan bendera-bendera kuning yang dipancang di depannya. Saya mikirnya pasti ini tempat orang singgah, atau gimana. Eh saya menemukan jawabannya langsung di Museum Balanga. Ternyata rumah mini tersebut adalah pasah keramat alias tempat pemujaan. Masyarakat Dayak Ngaju percaya bahwa setiap tempat di permukaan bumi adalah ciptaan Hatalla dan tiap hutan pastilah punya penunggu. Untuk itu, jika hendak menebang pohon ataupun membuka lahan, orang Dayak Ngaju harus melakukan prosesi terlebih dahulu untuk minta izin pada empunya tempat dengan menyiapkan sesaji berupa tujuh gelas berisi hewan yang dikorbankan (seperti sapi, kambing, ayam hitam dan ayam putih) di lantai rumah-rumahan kayu yang dipasangkan kain kuning. Begitu unik ya bagaimana cara orang dayak menghormati hutan. Orang jaman sekarang tanpa ijin ini-itu dengan bebasnya bisa gundulin hutan.
Setelah melihat-lihat koleksi Museum saya sadar kalau ternyata banyak sekali jenis-jenis upacara bagi suku Dayak, khususnya Dayak Ngaju Kalimantan Tengah. Saking banyaknya, saya gak bisa ingat ada berapa jenis. Yang jelas, orang Dayak Ngaju sangat memperhatikan keseimbangan kehidupan dan kematian. Tiap-tiap proses kehidupan mulai dari kehamilan sampai meninggal selalu diupacarakan. Saya akan ceritain garis besarnya aja ya. Saat seorang ibu dinyatakan telah positif mengandung, pada usia kehamilan 3 bulan akan diadakan ritual Paleteng Kelangkang Sawang, yaitu ritual yang bertujuan untuk melindungi ibu hamil dan janinnya dari gangguang roh jahat. Pada usia kandungan 7 bulan diadakan ritual Nyaki Ehet atau Nyaki Dirit untuk meminta leluhur melindungi ibu dan janinnya. Dan terakhir pada usia kandungan 9 bulan diadakan ritual Mangkang Kahang Badak yang bertujuan agar bayi lahir dalam keadaan sehat. Syarat-syarat ritual berupa hewan kurban (seperti ayam dan babi), manik-manik dan sesajen.
Ada yang unik tentang bagaimana melahirkan bayi oleh suku Dayak Ngaju. Ibu hamil dibaringkan pada suatu tempat yang disebut sangguhan, kemudian akan melahirkan dalam posisi miring. Apa gak susah ya? Beberapa hari setelah bayi lahir, dilaksanakan ritual Maruah Awau, menandakan tali pusar sudah kering dan bayi sudah dapat dibawa keluar rumah beradaptasi dengan lingkungan. Ritual ini juga menandakan bahwa pantangan-pantangan yang berlaku ketika Ibu masih hamil sudah berakhir. Lagi-lagi dalam ritual ini harus mengorbankan hewan seperti ayam dan babi. Sampai disana? Nggak, akan ada lagi ritual lanjutan yaitu Nahunan, saat bayi akan diberi nama.
 

ikat pinggang penyang dan mandau
tempat makan babi
Sebenarnya ada upacara menarik lainnya dari Suku Dayak Ngaju, seperti ritual untuk mendapatkan anak laki-laki atau perempuan, juga ritual-ritual menikah. Tapi yang paling menarik buat saya adalah upacara kematian. Seperti suku toraja, masyarakat Dayak Ngaju juga  memiliki tradisi mengubur mayat sendiri. Ada bermacam-macam cara mengubur mayat yaitu: dikubur dalam tanah, diletakkan diatas tanah atau diletakkan pada batang pohon yang sudah dilubangi dengan posisi berdiri. Setelah penguburan, diadakan ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei yang bertujuan untuk membuang sial setelah kehilangan anggota keluarga. Ritual ini juga berarti menyambung kembali tali pusar yang telah terputus ketika ia lahir.
Ritual terakhir setelah kematian adalah Ritual Tiwah. Ini yang paling menarik menurut saya. Ritual terakhir ini bermaksud untuk mengantarkan kembali roh orang yang sudah meninggal kembali ke tuhan agar ia dapat kembali hidup dengan tenang di Lewu Tatau (surga). Di awal ritual ini, mayat kembali dikeluarkan dari kuburannya untuk melewati rangkaian ritual. Gak jauh beda sama adat toraja, ritual kematian ini harus mengorbankan kerbau. Bedanya, kalau di Toraja kerbaunya disembelih, disini kerbaunya diikat di tiang pengorbanan kemudian ditombak ramai-ramai. Serem.
Beberapa hal menarik lainnya yang saya temui di Museum Balanga adalah Topeng Sababuka, Mandau dan Mihing.  Topeng Sababuka adalah topeng yang dipakai oleh penari untuk mengiringi ritual kematian. Mandau adalah senjata tradisional suku dayak. Bagi mereka, Mandau adalah senjata utama dan turun temurun yang dianggap keramat. Pada sarungnya diberi hiasan berupa jimat seperti bulu burung, taring hewan buas, rahang binatang bahkan sampai rambut manusia. Kedudukannya sama kaya keris lah kalau di jawa - yang tentunya mengandung aura-aura mistis. Museum Balanga menerima sekitar seribu senjata sitaan pada saat konflik etnis di Sampit tahun 2001, banyak mandau dan tombak yang masih berdarah-darah. Tahun 2007 koleksi ini dipindahkan ke ruangan baru. Petugas tidak sengaja menyenggol ikat pinggang penyang (ikat pinggang dengan gigi-gigi beruang di gambar) dan langsung kesurupan. Konon katanya penunggunya merasa terganggu dan minta dikorbankan satu ekor sapi. Beberapa hari setelah kejadian, satu ekor sapi dikorbankan dan untungnya sampai sekarang gak ada kejadian kaya gitu lagi.
 tiang-tiang tempat mengikat hewan kurban
 mihing
Terakhir Mihing. Mihing adalah alat penangkap ikan suku dayak yang juga dipercaya memiliki kekuatan magis. Alat ini pertama kali dibuat oleh Bowak, yang pernah diculik oleh makhluk dari khayangan. Disana mihing digunakan untuk mendatangkan harta benda, karena itu waktu kembali ke bumi, Bowak juga membuat mihing dengan fungsi mendatangkan (atau lebih tepatnya menangkap) ikan. Dulu mihing banyak dipasang di Sungai Kahayan, tapi sekarang sudah jarang. Dalam proses pembuatannya, mihing juga memiliki pantangan, contohnya: tidak boleh berselisih paham, berkata kotor, dan dilihat perempuan. Bagian dalam mihing juga tidak boleh dimasuki perempuan karena bisa menyebabkan perempuan tersebut kelak akan keguguran dan meninggal saat melahirkan. Saat mengambil ikan dari dalam mihing juga tidak boleh menyebabkan ikan terluka.
Dua jam sebelum penerbangan saya masih sibuk hilir mudik di dalam museum, setelahnya baru kelabakan pulang ke rumah Hadi buat beres-beres. Untungnya rumah Hadi cuma 5 menitan dari bandara dan seperti biasa, nyampe bandara di detik-detik terakhir sebelum boarding. Percaya gak percaya airport tax di Bandara Tjilik Riwut cuma lima belas ribu. Iya, serius, lima belas ribu. Saya kemudian pamit dengan Hadi dan Memed, sahabat yang udah empat tahun jadi patner menggila saya. Ini kali terakhir saya ketemu dia sampai saat ini. Belum nemu lagi temen yang bisa diajak lompat pagar pagi buta cuma pakai boxer. Semoga suatu saat bisa menggila bersama lagi ya!
Trip Borneo saya ditutup! Dalam penerbangan kembali ke Padang saya berpikir: Semakin saya menjelajahi keragaman negeri ini, semakin saya menyadari betapa kayanya kita. Saya bangga jadi orang Indonesia.
MUSEUM BALANGA
Jln. Cilik Riwut Km. 2 Palangkaraya 73112
Kalimantan Tengah
Telp. 0536-3304106 Fax: 0536-3222991
Open Mon-Fri 07.30am-03.00pm
museumbalanga.comuf.com



5 blabla(s):

Kiki mengatakan...

I want the white turtle tee so bad! hahaha can you deliver a message to your friend, ciaw? in case its no longer fitting his body, he always can donate it to me! :))

berkah mengatakan...

wah mantep yah banyak benda bersejarah nya

Hans Brownsound ツ mengatakan...

kiki: white turtle whoaaat qio? I dont get it.
berkah: hei, welcome!

Kiki mengatakan...

his t-shirt, ciaw! ;)

Hans Brownsound ツ mengatakan...

aaa i see.
i bought it for him when i was visiting lombok.
hahaha. just ask him. but i think he'll never give it to anyone.
:))

 

Blog Template by