Sabtu, 09 November 2013

Palangkaraya: Nyaru Menteng

Ketika nama saya masuk di lima besar pas penutupan kuis Indonesia Travel, saya udah yakin banget saya bakalan menang. Saya udah ngebayangin betapa menyenangkan menyusuri sungai-sungai Kalimantan yang tenang, memasuki hutan rimba eksotis melihat langsung habitat Orangutan di Tanjung Puting. Makanya saya shock berat waktu pengumuman pemenang, saya malah terlempar ke posisi 10 dan otomatis tidak akan ikut serta dalam trip ke camp leakey, pusat konservasi orangutan terbesar di dunia ini.
Demi penghiburan diri (atau bisa dibilang balas dendam), abis dari Banjarmasin saya melanjutkan perjalanan ke Palangkaraya. Pokoknya tahun ini saya berhasil melihat dan berinteraksi langsung dengan orangutan Kalimantan di habitatnya.  Disini saya diajak Hadi mengunjungi salah satu pusat konservasi orangutan juga di Palangkaraya, Nyaru Menteng. Meskipun tidak sepopuler Tanjung Puting, tapi cukuplah untuk menjawab rasa penasaran saya.  Lokasinya di pusat pelestarian vegetasi Arboretum, sekitar 30 kilometer dari pusat kota. Nyaru Menteng dikelola oleh BOS (Borneo Orangutan Survival) Foundation yaitu organisasi nirlaba yang berfokus pada penyelamatan, rehabilitasi, reintroduksi dan konservasi jangka panjang demi kelestarian orangutan sebagai satu-satunya kera besar asia endemik dua pulau, Sumatera dan Kalimantan. Organisasi ini telah hampir dua dekade bekerja keras menyelamatkan orangutan dan saat ini mengurus kurang lebih 800-an orangutan yang kehilangan induk di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Mungkin udah jadi rahasia umum ya, bagaimana pulau Kalimantan yang dulunya menjadi paru-paru Indonesia secara ekstrim sudah berubah menjadi ladang uang bagi kepentingan privat. Kita juga hanya bisa pasrah melihat hutan tropis Kalimantan dibabat secara masif dan beralih fungsi menjadi pemukiman dan perkebunan sawit. Aktifitas manusia ini tentunya menyebabkan orangutan kehilangan habitat. Dalam proses pembukaan lahan, banyak sekali orangutan yang tidak bersalah mati sia-sia. Masih jelas dalam ingatan, sekitar setahun yang lalu kita dikejutkan dengan video pembunuhan orangutan yang dilakukan oleh orang-orang suruhan pemilik perkebunan, karena mereka dianggap hama. Kalo saya menganalogikannya seperti ini: manusia datang ke rumah orangutan, merampas rumah tersebut, kemudian membunuh empunya rumah karena mengganggu gugat koper yang kita taruh di ruang tamu. Menurut pendapat saya, ini gila. Ya wajar lah ya orangutan mencari makan di perkebunan sawit karena memang disana (sebelumnya) adalah habitatnya. Seharusnya manusia lah yang angkat kaki dari sana. Dari fakta-fakta ini saya berkonklusi: manusia sungguh makhluk yang mengerikan.
Pembukaan lahan bukanlah satu-satu ancaman mereka. Perburuan liar dengan berbagai tujuan juga marak terjadi. Beberapa diburu untuk diperdagangkan keluar negeri dengan harga yang fantastis. Beberapa lainnya diburu untuk dijadikan hewan peliharaan (untuk mengambil anakan, harus membunuh induknya - orangutan yang takkan melepaskan anaknya sampai ia mati). Untungnya ancaman-ancaman ini disadari oleh yayasan BOS. Salah satu fokus utama dari organisasi ini adalah merawat orangutan yang kehilangan induk baik yang didapat dari hutan maupun yang disita dari masyarakat. BOS mengimplementasikan program reintroduksi, yang saat ini merupakan satu-satunya program yang diakui pemerintah. Orangutan yang masuk ke Nyaru menteng dicek kesehehatannya secara intensif, beberapa penyakit yang dites antara lain Tuberculosis dan Hepatitis (gak jauh beda sama manusia, soalnya struktur DNA manusia dan orangutan tidak jauh berbeda). Bayi-bayi orangutan ini akan dirawat dan bila sudah cukup umur akan mengikuti sekolah orangutan dimana mereka akan dilatih bagaimana untuk dapat hidup di alam bebas. Mereka terus dilatih hingga akhirnya kembali dilepasliarkan.
Menariknya, disini ada babysitter yang bertugas sebagai pengganti orangtua bagi orangutan bayi. Rata-rata anak-anak orangutan disini adalah mereka yang induknya mati dibunuh. Gak heran kalau melihat orangutan dan babysitternya jadi sangat akrab seperti ibu dan anak. Kehidupannya juga kayak kompleks asrama. Tiap orangutan punya tempat istirahat sendiri. Mereka juga punya jadwal makan, jadwal mandi, jadwal sekolah, sehingga jika jam sekolah masuk, mereka beramai-ramai datang ke sekolah. Jika ada kejadian luar biasa, misalnya ketika Nyaru Menteng menerima seekor anak beruang madu yang terluka beberapa waktu lalu, mereka ramai-ramai datang menonton dengan rasa ingin tahu. Saya masih bingung, kenapa orang sampai tega menghilangkan nyawa hewan selucu ini.
Pusat rehabilitasi Nyaru Menteng ini juga menyediakan program adopsi orangutan. Eits, adopsi disini bukan berarti bisa membawa pulang orangutan ke rumah untuk dijadikan hewan peliharaan ya. Adopsi berarti kita memberikan bantuan dana untuk orangutan tertentu yang selengkapnya bisa dilihat disini. FYI, kegiatan di Nyaru Menteng udah menarik perhatian media internasional loh. Nyaru Menteng pernah didokumentasikan dalam “orangutan’s diary” oleh BBC dan “orangutan’s island” oleh animal planet.
Ternyata Nyaru Menteng hanya dibuka hari minggu dan hari libur, karena jika dibuka tiap hari akan mengganggu proses tumbuh kembang orangutan sendiri. Dan parapapa saya datang di hari kerja sehingga tidak diizinkan masuk, saya cuma bisa baca pamflet-pamflet agenda Nyaru Menteng di pintu masuk. Saya juga memanjat sedikit di pagar, melihat aktifitas orangutan dari jauh. Mereka kelihatan bahagia sekali bergantungan dari satu gantungan ke gantungan lain. Saya sama sekali tidak kecewa. Datang kesana untuk berinteraksi langsung dengan orangutan adalah tujuan saya, tetapi mengetahui orangutan-orangutan tersebut ada di tangan yang benar ternyata lebih menggembirakan. Saya, Hadi dan Memed kemudian menghabiskan waktu dengan hiking ke hutan samping Nyaru Menteng yang juga tak kalah menyenangkan.
Rehabilitasi orangutan memang salah satu tindakan nyata penyelamatan orangutan, akan tetapi menurut saya ini bukanlah penanggulangan masalah jangka panjang. Pembalakan hutan ilegal-lah yang sebenarnya harus dihentikan, bukan hanya untuk keselamatan orangutan, tapi juga untuk keselamatan kita semua. Yang perlu kita lakukan adalah melakukan apapun yang kita bisa untuk kelestarian hutan dan makhluk hidup di dalamnya. No matter how big or small our action, we make a difference for future.
Pengalaman menyaksikan orangutan di Nyaru Menteng membuat genderang di kepala saya kembali bertalu-talu. Jika saja saya saat itu menemukan lampu ajaib dengan jin yang mengabulkan permintaan, tentu saja saya tidak akan pikir panjang untuk meminta kembali ke lima tahun lalu dan dengan yakin mengisi kedokteran hewan di blanko SNMPTN.

Nyaru Menteng Reintroduction Program
Jln. Cilik Riwut Km 28, PO BOX 70
Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Ph: +6205363308416
Fax: +6205363225065
orangutan.or.id

3 blabla(s):

Inggit Inggit Semut mengatakan...

aduuuh jadi pengen melihara satuuu ajah. unyu bangeeet

Adelia Putri Wulandari mengatakan...

aaaaaak ! pengen kak !! pasti asik banget kalo bisa meluk mereka. huuhu

Hans Brownsound ツ mengatakan...

inggit: eeeeh, jangan. :P
adel: iya dek. lucu ya ;)

 

Blog Template by