Sabtu, 02 Maret 2013

makam-makam dan tuhan

Pada siang yang begitu sunyi di awal November, saya berjalan-jalan di tempat yang disebut kerkhof peucut, rumah terakhir untuk badan-badan yang kehilangan nyawa – yang entah mengapa, disaat orang-orang beranggapan ini menaikkan bulu roma, saya malah menyukai aroma yang ia tawarkan. Aroma kematian, aroma doa-doa, aroma dosa-dosa, semua menyatu menjadi nisan-nisan yang membeku tak bersuara.
Di siang yang sunyi ini, ditemani salib-salib yang terpancang dan pohon-pohon kamboja yang kelihatan begitu kesepian, saya kembali mengingat-ingat, sejak kapan saya menekuni hobi berjalan-jalan di perumahan akhir seperti ini. Seingat saya, saat usia enam tahun – Saat masih tinggal di rumah yang lama, saya gemar sekali mengunjungi makam di belakang pengadilan Belanda. Bagi saya menyenangkan berjalan dari satu nisan ke nisan lain, mencari tau siapa penghuni di dalamnya, menyelidiki kapan dia lahir, kapan Tuhan menjemputnya, usia berapa kematian mengajaknya bermain. Dan otak kecil saya pun mulai menerka-nerka bagaimana wajah-wajah mereka, bagaimana dunia ketika mereka hidup atau cerita apa yang mereka tinggalkan begitu saja. Ritualnya seperti mencari rumah di komplek perumahan, bedanya warga disini tidak bebas lagi keluar masuk. Tidak bebas lagi tertawa dan menangis, seperti di rumah mereka yang dulu.
Saya menyukai sepi yang makam tawarkan. Meskipun dikelilingi banyak tubuh, saya tidak perlu bicara apa-apa.  Rasanya berada di kesepian yang ramai. Makanya seperti siang ini, saya memilih duduk berlama-lama  di bangku kecil yang mungkin disediakan untuk orang-orang seperti saya. Meskipun begitu, makam selalu mengingatkan betapa beraninya kematian bermain dengan kita.  Betapa mudahnya ia memutus sekian panjang rantai cerita dengan sekali hentakan. Bagaimana seorang pernah lahir dengan diiringi gelak tawa, kemudian perlahan menyusun sedikit demi sedikit cerita, dan ketika kematian menghampirinya, cerita berhenti begitu saja. Tak ada yang bisa dirubah, tak ada yang bisa diperbaiki. Yang ada hanyalah orang-orang yang ditinggalkan melanjutkan sendiri cerita dengan plot yang berbeda. Skenario yang menyakitkan. Dan timpang. Disaat seseorang pergi dengan tenang, sebagian lagi harus menyembuhkan luka yang ditinggalkan.
Saya juga selalu penasaran dengan kehidupan dibawah sana. Apakah mereka di dalam sana tetap hidup seperti kita atau mereka hanya jadi daging-daging busuk yang menyisakan tulang belulang. Atau memang benarkah ada orang-orang yang kepanasan karena sebelum menjadi mayat ia menyembah Tuhan yang salah atau karena suka main judi lotre. Lalu Tuhan marah. Lalu Tuhan membakar mereka hidup-hidup. Ini membuat saya berpikir, bagaimana nanti jika kematian mengajak saya bermain. Orang-orang akan mengantar saya sampai rumah baru. Saya mulai deg-degan, apakah Tuhan juga akan marah karena saya lebih sering berkeliaran di dunia, lupa memuja-muja Ia? Atau mungkinkah dia akan menjewer saya, karena saya manusia bandel dan terlalu banyak bertanya ini itu?
Kembali ke hidup sebelum kematian, orang-orang terlalu senang menghakimi hubungan kita dengan Tuhan. Mereka akan selalu dengan mudah mengatakan kafir, tidak soleh, tidak taat, dan kamu akan dibakar api neraka. Seolah-olah mereka-lah Tuhan yang akan menentukan nasib kita nanti. Orang-orang ini terkadang terlalu percaya diri. Pada kenyataannya, hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan sakral, personal-dua pihak. Kita dan Tuhan. Kita tidak butuh orang ketiga yang menjadi hakim untuk menghitung dosa-dosa kita. untuk  menentukan rumah terakhir kita, surga atau neraka. 
Orang yang paling tahu hubungan kita dengan Tuhan sebenarnya adalah diri kita sendiri. Tidak perlu ada pihak lain yang perlu ikut campur, karena dengan berdua saja, hubungan kita dengan Tuhan menjadi lebih gamblang dan intens, masalah-masalah denganNya juga lebih gampang diselesaikan. Kehadiran pihak ketiga, keempat dan seterusnya cenderung membuat keadaan menjadi tambah rumit. Meskipun bermaksud baik, mereka lebih sering membuat rumahtangga yang harusnya kita nikmati berdua menjadi kacau. Dengan berdua saja denganNya, kita bisa berbagi cerita, salah satunya tentang kematian. Kita menjadi tidak khawatir kapan ia akan datang, karena kita tau sebenarnya Tuhan sendiri membebaskan kita untuk mati kapan-pun yang kita mau, sampai waktu kita benar-benar habis. 
Jika kita mau, kita bisa berhenti kapan saja.
Mata saya tertumbuk pada sebuah batu nisan yang besar, dan bertuliskan bahasa Belanda yang rapi, yang kira-kira berarti seperti ini ‘disini bersemayam panglima perang kami yang gagah berani’. Saya tidak tahu apakah ia dibawah sana menyukai apa yang tertulis di batu nisannya atau tidak. Suatu saat ketika kematian juga mengajak saya pulang, saya tak ingin di rumah saya yang baru bertuliskan macam-macam. Karena saya menyukai sesuatu yang hangat dan riang, saya hanya inginkan kutipan dari film animasi favorit saya. Ohana means family. Family means nobody gets left behind. Or forgotten. 
Ohana berarti keluarga. Keluarga berarti tidak ada yang ditinggalkan. Atau dilupakan.

Selamatkan dunia dari sampah plastik (1)

Saya tergerak menulis hal ini setelah menonton sebuah video dokumenter mengenai terancamnya populasi burung albatross karena limbah plastik yang kadang kita anggap sepele. Video dokumenternya bisa ditonton disini (you and entire world should see this, please share). Ini adalah sebuah video dokumenter yang menyedihkan sekaligus mengerikan, dimana kita dapat melihat bahwa limbah plastik yang bahkan tidak pernah kita pikirkan sebelumnya berdampak besar pada degradasi kondisi lingkungan.
Video ini berlokasi di sebuah pulau di Atoll Midway, pasifik utara, 1600 Km dari pemukiman manusia terdekat yang merupakan habitat terbesar Laysan Albatross.  Kenyataan menyedihkan ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang fotografer, Chris Jordan, yang sedang melakukan perjalanan ke pulau tersebut, September 2009 lalu. Ia mendapati, banyak sekali Albatross mati tercekik dan setelah diselidiki penyebabnya adalah sampah plastik.
Albatross adalah burung laut pemakan ikan, telur ikan, cumi-cumi dan hewan laut kecil lainnya yang belum cukup cerdas untuk memilih makanannya. Albatros dewasa akan meninggalkan sarang dan mencari makanan ke laut lepas hingga ratusan mil. Mereka akan memakan apa saja yang mengapung dan dianggap bisa dimakan, kemudian akan kembali ke sarangnya memberi makan anaknya. Sampah-sampah plastik yang termakan oleh induk Albatross tadi-pun termakan oleh bayi-bayi Albatros. Hal ini menyebabkan bayi-bayi albatross kelaparan dan tercekik mati dengan perut penuh dengan tutup botol, pemantik api, dan sampah-sampah plastik lainnya. Penelitian terbaru bahkan membuktikan 97,5% bayi Albatros telah memakan sampah plastik. Diperkirakan setiap tahunnya ada puluhan ribu Albatross mati dan ini menjadi lebih buruk karena mereka hanya menghasilkan satu telur dalam satu periode perkawinan. 
Disaat bencana besar sedang bermain-main di tengah laut, kebanyakan kita, entah berapa ribu kilometer dari sana dengan leluasa menghasilkan banyak sekali sampah plastik. Memang kita sadari, susah sekali memisahkan kehidupan dari plastik, karena plastik adalah pilihan yang simple, praktis dan murah. Mari kita coba hitung berapa sampah plastik yang kita hasilkan hari ini. Pertama, kantong plastik saat membeli sarapan tadi pagi, kemudian botol minuman soda tadi siang di kantor, kemudian kantong plastik saat membeli gorengan. Kalikan 250 juta jumlah penduduk Indonesia. Kalikan sekian milyar penduduk dunia, ada berapa sampah plastik yang kita hasilkan setiap harinya? Menurut Riset Worldwatch Institute, untuk kantong plastik saja, tidak kurang dari 1 milyar lembar digunakan penduduk dunia setiap tahunnya.
Di Indonesia sendiri, tidak terkendalinya penggunaan plastik diperburuk dengan budaya masyarakat yang menanggap membuang sampah sembarangan adalah hal yang wajar. Kemarin sore, waktu pulang kerja saya melihat seorang anak kecil membuang kemasan minuman gelas di trotoar dan reaksi ibunya biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Ini berarti kesadaran menanamkan nilai-nilai kebersihan pada generasi selanjutnya masih sangat kurang. Atau seperti tadi malam, saya melihat sampah plastik dibuang begitu saja dari mobil yang melintas, padahal mobil tersebut termasuk merek mahal. Tentulah empunya adalah golongan ekonomi menengah keatas dan berpendidikan, tapi tetap saja kesadaran membuang sampah pada tempatnya masih sangat kurang. Saya melihatnya jadi geregetan.
Kita tidak sadar bahwa kelalaian kita membuang sampah plastik pada tempatnya akan membawa bencana di kemudian hari. Contoh kecil saja, saat tinggal di asrama, ada beberapa rekan yang lebih suka menggunakan shampo dan sabun cuci shachet, kemudian tidak membuang sampahnya pada tempat sampah. Sampah tersebut masuk dalam saluran air, lama kelamaan menumpuk dan menyumbat saluran tersebut.  Akhirnya air tidak mengalir sebagaimana mestinya, kamar mandi kebanjiran dan terpaksa semua harus mandi dengan genangan air semata kaki. Satu asrama secara kolektif harus menanggung karma dari ketidak-disiplinan beberapa orang. Untuk skala yang lebih besar, kita bisa belajar dari banjir Jakarta beberapa waktu lalu.
Sampah plastik yang kita buang sembarangan tempat tidak diam di tempatnya. Mereka akan tersapu hujan, mengalir lewat sungai-sungai dan berujung di laut. Disana mereka menjadi penyebab mati satu juta burung laut dan 100.000 mamalia laut dan penyu setiap tahunnya. Sampah plastik yang terkubur di tanah-pun membutuhkan 500-1000 tahun untuk terurai. Jika penggunaan plastik tetap tak terkendali, bukan tidak mungkin seratus tahun dari sekarang dunia akan menjadi planet plastik dan punahnya banyak spacies.
Untuk itu melalui tulisan ini saya mengajak anda bergabung dalam misi menyelamatkan bumi dari bencana plastik. Mari lebih bijaksana dalam menggunakan apapun yang berbahan dasar plastik, kita bisa mulai dengan mengurangi penggunaan dan membuang sampah pada tempatnya. Mulai dari diri sendiri, kemudian sampaikan ide-ide positif ini pada orang-orang terdekat, kemudian pada banyak orang. Akan selalu ada pihak yang menanggap kita lebai, tapi percaya saja, dunia butuh orang-orang lebai seperti kita untuk menyelamatkannya. Mari mulai lakukan apa yang kita bisa, kita hanya akan gagal jika kita berhenti. save the living planet!
note; saya baru saja merilis sebuah halaman facebook dimana kita bisa berbagi ide untuk menyelamatkan bumi dari sampah plastik. Teman-teman yang memiliki misi sama bisa bergabung disini (click!) 
 

Blog Template by