Rabu, 19 Juni 2013

Banjarmasin: Pulau Kambang


Mobil yang kami naiki melaju ke arah Kuin Utara, dimana Pulau Kambang, destinasi kami selanjutnya berada. Pulau Kambang atau Kembang dalam bahasa Indonesia adalah sebuah delta sungai Barito – tidak jauh dari pasar terapung Muara Kuin – yang dihuni oleh ribuan warik (kera) ekor panjang. Secara administratif pulau ini terletak di wilayah Kabupaten Barito Kuala, tapi untuk mencapainya lebih dekat dari Banjarmasin.
Sama seperti Pulau Kumala di posting yang ini, Pulau Kambang juga ternyata memiliki legendanya sendiri. Dahulu kala, di Muara Kuin berdirilah sebuah kerajaan dengan patihnya yang terkenal sakti dan gagah berani bernama Datu Punjung. Suatu ketika, datanglah sebuah kapal Inggris dengan penumpang kebanyakan adalah orang Tionghoa. Mereka berniat untuk menguasai Kerajaan Muara Kuin. Patih Datu Punjung gak tinggal diam tentunya, dia menantang pasukan Inggris tersebut untuk menebang pohon tanpa menggunakan peralatan apa-apa. Jika pasukan tersebut bisa menyelesaikan tantangan itu, maka mereka berhak menguasai Muara Kuin, tapi jika Datu Pujung yang berhasil, maka mereka harus angkat kaki dari sana.  Dan ternyata tantangan itu dimenangkan oleh Datu Pujung. Ya namanya penjajah, mana mau mengakui kekalahan. Mereka tetap ingin menguasai Muara Kuin.
Karena itu, dengan kesaktiannya Datu Pujung menenggelamkan kapal Inggris tersebut beserta seluruh orang didalamnya. Kapal karam ini lama kelamaan menjadi besar dan membentuk sebuah pulau. Pulau inilah yang sekarang menjadi Pulau Kambang. Untuk menghormati leluhur mereka yang gugur, warga keturunan tionghoa selalu datang berziarah ke pulau ini dengan membawa bunga. Inilah yang menjadi asal usul nama pulau ini.
teman-teman andalan di atap klotok
aktifitas pinggir sungai barito
pengisian minyak tengah sungai
Mengenai keberadaan warik ekor panjang di pulau ini ada legenda lain. Konon jaman dahulu adalah seorang raja yang belum jua dikarunia keturunan. Ahli nujum kerajaan mengatakan bahwa untuk mendapatkan keturunan, mereka harus mengadakan upacara badudus (mandi-mandi) di Pulau Kambang. Benar saja, tak lama setelah melaksanakan upacara itu, permaisuri kemudian melahirkan seorang putra. Maka dari itu raja memerintahkan prajuritnya untuk menjaga Pulau Kambang dan membawa sepasang warik, yang akhirnya berkembang biak menjadi warik-warik yang ada sekarang.
Mobil kami berhenti tepat di depan kompleks makam Sultan Suriansyah, tempat dimana dermaga penyewaan klotok ke Pulau Kambang berada. Disini kita harus pinter-pinter nawar karena abang-abang klotok biasanya mematok harga cukup tinggi di awal. Perjalanan ke Pulau Kambang ditempuh selama 15-20 menit melewati rumah-rumah ditepi Sungai Barito.
Begitu sampai di dermaga Pulau Kambang, kita ketemu sama loket penjualan tiket. Kita harus bayar sepuluh ribu rupiah untuk berkeliling pulau ini. Petugasnya mengingatkan kita untuk menjaga barang-barang bawaan seperti dompet, handphone, kamera, kacamata juga topi karena warik-warik disini memang isengnya kebangetan. Disini juga kita ketemu sama penjual kacang yang siap mengikuti kemanapun dan kapanpun. Agak mengganggu sih emang, jadi saran saya, kalau memang ngasi makan warik, ya bawa langsung dari luar. Biar nggak ‘digantungin’ sama penjual kacang kemanapun pergi.
Kami memasuki gerbang pulau melalui jembatan kayu, langsung disambut segerombolan warik lagi rebutan makanan. Disana ada sebuah pondok bertuliskan ‘disini tempat ziarah. Disini tempat mandi anak, doa selamat, tapung tawar.’ Kayaknya semacam tempat ziarah yang dipercayai bisa menyembuhkan orang sakit atau mengabulkan permintaan-permintaan gitu deh.  Disini juga ada semacam altar tempat meletakkan sesaji untuk “penjaga Pulau Kambang” yang diapit oleh dua arca hanoman. Biasanya masyarakat etnis tionghoa akan meletakkan sesajen di altar ini sebagai nazar jika permintaan mereka dipenuhi.
Pulau ini sebenernya nggak terlalu besar dan sudah dilengkapi dengan jalan beton yang melingkar mengelilingi pulau. Sambil berkeliling kita bisa, langsung ngasi makan warik asal tetap hati-hati, mereka juga bisa agresif kapan saja. Di tengah jalan kami ketemu sama warik yang besar dan tua lagi malas-malasan. Saya coba deketin kan, gataunya galak luar biasa. Orang-orang disini biasa memanggilnya ‘Amang’ yang dalam Bahasa Bakumpai berarti ‘Paman’. Warik yang satu ini adalah yang paling tua dan dianggap pemimpin dari warik-warik disini. Maka dari itu, dia diperlakukan sangat istimewa. Makanannya pun rutin diberikan di jam-jam tertentu sama penjaga pulau. Hasilnya, jadilah warik yang malas luar biasa tapi gayanya belagu banget, sok berkuasa.
waaaa.. kacang!
amang
Karena cuaca bener-bener panas, usai berkeliling, kami duduk-duduk sebentar di pondok ziarah. Ternyata banyak juga orang datang bawa anak untuk dimandikan disini. Saya nggak ngerti apa tujuannya. Juga malas nanya. Dari kejauhan keliatan abang klotok udah capek nunggu, kami pun pamit sama empunya pondok dan kembali berlayar ke Banjarmasin.

Senin, 17 Juni 2013

Banjarmasin: Pasar Terapung Lok Baintan


Pasar terapung mungkin jadi kata pertama yang terbersit jika mendengar kata Banjarmasin. Sebenarnya, alasan paling kuat kenapa saya ke Kalimantan Selatan ya untuk melihat pasar unik ini. Makanya, sebelum menginjakkan kaki di tanah Banjar, saya udah lebih dulu browsing-browsing mengenai lokasinya. Dulu ada dua pasar terapung ‘ganal’ di Banjarmasin. Pertama pasar terapung di Muara Kuin, Sungai Barito dan satunya lagi di Lok Baintan, Sungai Pinang.
Asal muasal munculnya pasar terapung dahulu kala adalah karena susahnya transportasi darat. Tak heran, dengan membaiknya akses jalur darat dan makin banyak pilihan alat transportasi, kini pasar terapung di Muara Kuin sudah bisa dikatakan hampir punah. Tak banyak lagi masyarakat menggunakan jukung sebagai sarana jual-beli. Maka dari itu, saya dan teman-teman memutuskan untuk mengunjungi Pasar Terapung Lhok Baintan. Jangan salah, meskipun teman-teman saya ini lahir besar di Kalsel, sebagian besar belum pernah mengunjungi pasar  terapung ini.

siap-siap jualan
pedagang berangkat ke pasar
dermaga lok baintan
Jadilah kami bangun jam tiga pagi. Saya, Fatah, Memed, Pebri, Reza dan Rizqon memang harus berangkat pagi-pagi banget, karena aktifitas di pasar terapung ini memang cuma  ada di pagi hari. Dengan muka-muka ngantuk kami berangkat menuju Lok Baintan. Cuaca saat itu kurang bersahabat, jalan dipenuhi kabut tebal sehingga jarak panjang hanya beberapa meter aja. Jadi terpaksa Fatah nyetirnya pelan-pelan banget. Kami sempat nyasar, bolak-balik, sebelum berhasil sampai di dermaga pasar terapung Lhok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Banjarmasin.
Kami sampai disana jam setengah enam pagi. Karena belum banyak jukung-jukung pedagang berkeliaran, saya jalan-jalan dulu di sekitar dermaga melihat amang-acil yang bersiap untuk jualan. Rata-rata masyarakat disini membangun rumah di tepi sungai dengan sebuah anjungan perahu di bagian belakang. Beberapa transaksi jual-beli juga terjadi di anjungan ini. Kalau di kota, masing-masing keluarga wajib punya motor, disini masing-masing keluarga wajib punya jukung. 
Menjelang jam enam pagi, pasar mulai dipenuhi dengan ibu-ibu dan bapak-bapak berjukung lengkap dengan barang dagangannya. Uniknya disini tidak banyak terjadi tawar menawar karena masing-masing telah paham mengenai nilai barang. Lebih unik lagi, ternyata juga masih berlaku sistem barter alias tukar menukar barang. Yang diperdagangkan macam-macam, mulai dari hasil kebun, sayur-mayur, buah-buahan, jajanan sarapan pagi sampai kue-kue tradisional khas Banjar. Bahkan ada yang bawa kompor buat masak langsung diatas jukung loh. Saya dan teman-teman kemudian menyewa sebuah klotok yang cukup buat kami berenam ikut masuk dalam hiruk pikuk pasar.









kalo udah ketemu makanan, amnesia sama semua 
Saya super excited. Pasar terapung yang dulu saya cuma bisa lihat dari reklame stasiun tivi swasta sekarang ada di depan mata. Karena perut keroncongan, kami menghampiri salah satu jukung acil yang jualan jajanan pagi. Ada pisang goreng, ubi goreng, macam-macam. Langsung dimasak di tempat. Supaya makin lengkap, saya juga diajak Rizqon mencicipi soto Banjar yang serius, enak banget. Mungkin karena ditambah suasananya yang menyenangkan ya.
Jam delapan pagi – saat matahari sudah mulai tinggi, sedikit demi sedikit pedagang mulai meninggalkan pasar, kembali ke rumah masing-masing. Rata-rata mereka berasal dari anak sungai Martapura seperti Sungai Lenge, Bakung, Paku, Alam dan sekitarnya. Kami pun kembali ke darat untuk melanjutkan destinasi selanjutnya. Floating Market is one of the most unique place I’ve ever been! Super recommended.

 

Blog Template by