Sabtu, 27 Juli 2013

Banjarmasin: Kain Sasirangan sampai Wadai Bingka

Harus diakui kalau dari segi atraksi wisata alam, Pulau Kalimantan, khususnya Banjarmasin memang tidak terlalu wow. Letaknya dari jaman dulu nggak pernah tersentuh aktivitas vulkanik, menjadikan wilayahnya datar-datar aja. Nggak kayak Sumatera, Jawa atau Papua yang konturnya bergunung. Berhubung ini bukan kelas geografi dan saya juga bukan dosen  geografi, saya nggak akan bahas geografi lebih lanjut. Saya cuma pengen share mengenai hal-hal yang bisa dilakukan kalau berkunjung ke Banjarmasin. Sekalian bayar hutang sama wury yang gencar nanyain kalo di Banjarmasin enaknya ngapain. Maap telat ya wur.
MAKAM SULTAN SURIANSYAH
Meskipun dari atraksi wisata alam, Banjarmasin bisa dibilang gak banyak pilihan, tapi dari segi wisata sejarah dan  budaya Banjarmasin keren! Masyarakat Banjar getol menjaga apa yang mereka punya. Contohnya aja pasar terapung. Hari gini, dimana semua orang udah bebas punya kendaraan bermotor pribadi – kalau mau jualan cuma tinggal tancap gas motor keliling kampung, masyarakatnya masih setia berjualan menggunakan jukung. Buktinya sampai sekarang pasar terapung masih eksis. Untuk wisata sejarahnya, salah satu yang layak dikunjungi adalah makam Sultan Suriansyah yang merupakan sultan pertama Banjar yang beragama Islam sekaligus pendiri Kota Banjarmasin.
Seperti yang saya ceritain di post sebelumnya, lokasi makam terletak di depan penyewaan klotok menuju Pulau Kambang di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara. Lokasi makam sendiri sudah mengalami pemugaran tahun 1984-1985 dan masih dalam kondisi baik. Berhubung ini juga bukan kelas sejarah, saya jelasin aja garis besarnya ya, apa yang saya pahami. Sultan Suriansyah atau Pangeran Samudera adalah Raja pertama yang resmi beragama Islam dan sejak masa beliau-lah Islam berkembang pesat di kota yang dulunya bernama Bandarmasih (Bandar berarti ‘pelabuhan’ dan masih berasal dari ‘uluh masih’ yang berarti orang melayu). Tahun 1526, usai meraih kemenangan setelah memerangi penjajah yang berusaha menguasai Bandarmasih, Sultan Surianyah mengganti nama Bandarmasih menjadi Banjarmasin.
Beberapa tahun setelahnya, tepatnya 1546 Sultan Suriansyah wafat dan dimakamkan di lokasi ini. Seterusnya lokasi ini berkembang menjadi pemakaman keluarga dan petinggi-petinggi kesultanan. Berganti zaman, sekarang  makam Sultan Surianyah bertambah fungsi. Orang-orang percaya kalau berziarah dan berdoa di depan makam Sultan Surianyah akan beruntung dan permohonan-permohonannya terkabul. Hasilnya, makam ini ramai didatangi masyarakat setiap harinya. Hal menarik lainnya yang bisa kita lihat adalah sebuah sumur keramat yang dipercaya merupakan tempat Sultan Surianyah berwudu. Masyarakat juga percaya kalau meminum atau mandi dengan air dari sumur yang tidak pernah kering airnya ini akan mendatangkan keberuntungan? Percaya atau enggak? Monggo dicoba. 
Di lokasi makam ini juga terdapat satu museum mini dengan satu ruang pamer yang kecil, koleksinya memang gak banyak, hanya ada dua etalase berisi benda-benda peninggalan sejarah banjar seperti mangkok, teko, pecahan keramik, dan koin kuno. Di dindingnya ada silsilah raja-raja Banjar dari awal sampai akhir. Kalau udah nyampe di Makam Sultan Surianyah, sayang dong gak mampir.
PASAR MARTAPURA: KAYU PUKAH dan KAIN SASIRANGAN
Jalan-jalan gak lengkap lah ya tanpa bawa oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman (ini basa-basi, jujur saya paling males beli oleh-oleh kalau kemana-mana). Ada banyak sekali toko souvenir bertebaran di Banjarmasin, Banjarbaru, sampai Martapura. Saya diajak ke pasar seni Martapura sama Memed. Karena Kalimantan Selatan merupakan penghasil batu permata terbesar di Indonesia, kerajinan tangan-nya nggak jauh-jauh dari batu. Di Pasar Martapura ada banyak sekali toko souvenir yang menjual berbagai macam gelang, cincin, kalung, tasbih dari batu yang harganya macem-macem, mulai dari yang murah sampai selangit tergantung batu apa yang digunakan. Saya lebih tertarik sama gelang-gelang kayu pukah atau pukaha yang konon merupakan kayu yang digunakan untuk membuat kapal Nabi Nuh, tongkat Nabi Musa, bahkan Tasbih Nabi Muhammad. Saya beli beberapa buat temen sebelum akhirnya keliling-keliling untuk melihat Masjid Agung Martapura yang menaranya tinggi itu.
Oleh-oleh lain yang bisa dibawa pulang adalah Kain Sasirangan alias batiknya Kalimantan Selatan. Banyak kok toko Kain Sasirangan bertebaran dimana-mana. Harganya juga variatif, tergantung kualitas kainnya. Kain Sasirangan ini awalnya dipercaya untuk kesembuhan bagi orang-orang yang sedang sakit. Kain ini juga dulunya dipakai pada upacara adat suku Banjar. Bahan yang digunakan untuk pewarna awalnya adalah pewarna alam seperti jahe, pohon pisang, dan daun pandan. Namun seiring perkembangan jaman penggunaan kain ini makin meluas dan teknik pewarnaannya udah banyak yang menggunakan pewarna tekstil. Kalau punya banyak waktu bisa lihat langsung proses pembuatan Kain Sasirangan tradisional secara langsung di Kampung Sasirangan, Kelurahan Kampung Melayu, Banjarmasin. Karena waktu saya terbatas waktu itu, saya ga bisa kesini deh.
KETUPAT KANDANGAN dan WADAI BINGKA
Nah, ini nih yang saya suka. Kuliner. Dari segi kuliner, Kalimantan Selatan bisa dibilang sangat variatif. Banyak sekali makanan-makanan khas dan wadai (kue-kue). Pertama, yang sudah saya coba adalah Ketupat Kandangan. Saya dibeliin sama adiknya Memed, Firda pagi terakhir saya di Kalimantan Selatan.  Ketupat Kandangan ini berasal dari daerah Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sebenernya gak jauh beda sama ketupat-ketupat kebanyakan, ketupat disiram dengan kuah santan yang diracik sama bumbu-bumbu tradisional. Bedanya, Ketupat Kandangan ditambah dengan ikan Haruan (gabus) yang dibakar/diasap dan dimakan tanpa sendok. Iya, ketupat kandangan harus dimakan menggunakan tangan telanjang. Enggak tau filosofinya apa, tapi masyarakat Banjar sudah melakukan ini turun temurun. Saya kan ga suka ikan, tapi pas makan ikan haruan dibakar ini rasanya beda. Nyaman banar.
Satu lagi kuliner yang layak dicoba adalah primadona wadai di Kalimantan Selatan, Bingka. Ada macam-macam jenis Wadai Bingka mulai dari tapai, labu, pandan, nangka, juga kentang. Saya nyoba Bingka Kentang di rumah Reza, pas balik dari Pulau Kambangan. Bagi yang suka manis-manis pasti suka banget sama ini Bingka. Rasanya gurih agak lembek-lembek gitu, tapi enak, serius. Harganya pun relatif murah, satu loyangnya berkisar lima belas ribu sampai lima puluh ribu rupiah. Pengen nyoba?
Udah. Buruan booking tiket, Banjarmasin menanti!

Sabtu, 13 Juli 2013

Akan ada lagi pagi

Kemudian hidup menghadiahimu lelucon selanjutnya. Itulah alasan mengapa malam ini kau terbaring dengan tatapan kosong  menatap langit-langit dan memeluk bantalmu erat-erat. Kau membiarkan sepi mengisi penuh kamar itu dan merangkul gelap menjadi teman untuk berbagi cerita. Kemudian kau menangisi lelucon ini, sambil dalam hati terus berharap akan ada garis finish yang bisa kau kejar. Titik dimana semuanya benar-benar berakhir dan kau bisa tersenyum lagi dengan pasti. Namun, kau malah sampai di titik dimana yang kau percayai hanyalah kemurungan demi kemurungan yang berlari estafet bergantian menemuimu.

Diiringi suara petir dan hujan yang menderas, malam ini semesta menjadi saksi imanmu pada keajaiban-keajaiban yang  luruh.
Kau menghapus air mata yang tak kalah deras. Kau diselimuti begitu banyak awan hitam, hingga matamu yang sendu tak mampu melihat apa-apa. Pertanyaan demi pertanyaan mendatangimu, memaksa untuk dijawab. Bagaimana mungkin orang sepertimu -  yang dulu kau percayai memiliki hati yang lebar - kini harus menjadi bagian dari omong kosong yang tak berkesudahan? Tidakkah mengherankan jika kau dengan sayapmu yang tegap hanya bersisa seonggok daging yang lumpuh, penuh sesal dan duka? Kau bukanlah orang yang pantas membuang air mata sia-sia, namun ini adalah dunia – padang savana yang kejam dimana semuanya tak terbayar sesuai takaran. Kau bisa tercabik-cabik bahkan ketika kau tak bersalah.
Ingin rasanya kau melepaskan bebanmu, kemudian meninggalkannya begitu saja.  Pergi jauh, sejauh yang kau bisa, mengikuti apapun yang kau percaya untuk menemukan dirimu lagi. Menyusuri jalan yang kau pilih hingga akhirnya kau berhasil berdamai dengan takdirmu. Kau bisa melakukannya, meskipun kau harus menghilang dari pandangan siapapun dan harus kehilangan apapun. Namun kau bukanlah ia yang mampu berjalan dengan egois, meninggalkan semua begitu saja kemudian menonton setiap jengkal yang kau tinggalkan luluhlantak, hancur berantakan, tanpa perasaan bersalah.
Karena itu menangislah. Menangislah sederas yang kau bisa. Biarkan air matamu menjadi genangan-genangan kecil di bantal. Biarkan mereka menjadi bahasa yang merangkum setiap inchi dari luka-lukamu yang tak tersembuhkan. Biarkan mereka menjadi saksi nyata dahsyatnya perperangan malam ini. Dan tertidurlah jika kau lelah. Esok ketika kau terjaga, akan ada lagi pagi yang damai – saat kau menyadari bahwa mimpi burukmu telah usai. Kau bisa tersenyum lagi dan memulai semuanya dari awal. lipat selimutmu dan buka jendela. Kau akan lihat matahari baru yang menyinari sudut-sudut hatimu yang gelap. dan harapan-harapanmu yang hilang kembali mekar.
Percayalah, akan ada lagi pagi.

 

Blog Template by