Sabtu, 07 Desember 2013

Dihadang si Jabrik di Lembah Harau

Kali ini saya gak mengawali post dengan perasaan nista. Udah lama sebenernya saya pengen nulis tentang Lembah Harau, Lima Puluh Kota, daerah tujuan wisata favorit sekaligus kebanggaan saya. Alasan saya belum menulis sampai saat ini bukan karena sindrom ‘procrastinating’ alias malas-luar-biasa seperti biasanya, namun karena saya berpikir Lembah Harau yang super eksotis ini harus dibuatkan suatu tulisan spesial lengkap dengan foto-foto dengan kamera yang bagusan dikit, bukan kamera poket yang penuh selotip sana sini milik saya. (yang bahkan udah wasalam oktober tahun lalu pas traveling di sabang).
Oke, hari ini saya mau melanggar self-agreement ini.
Mood saya yang lagi kacau-kacaunya dua minggu belakangan, ditambah kesibukan di kantor yang itu-itu saja membuat saya jenuh. Biasanya dalam setahun, saya bisa beberapa kali melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Melakukan perjalanan kadang bisa memberi nyawa. Beda banget rasanya dengan 2013. Memasuki bulan Desember, 2013 saya resmi menjadi tahun yang membosankan. Saya cuma menghabiskan tahun ini dengan kertas-kertas di kantor. Cuma sekali saya melakukan perjalanan, itupun gak bisa dikatakan liburan. Malah berujung drama murahan dan terbaring berhari-hari di rumah sakit.
Mengantisipasi kepala yang udah mau meledak, saya ngajak dua temen untuk jalan-jalan. Ya refreshing aja buat mengatasi kejenuhan yang gak keren ini. Saya menghubungi Cipta, temen sama-sama kuliah di Makassar dulu dan Afif, temen  SMA yang juga kuliah di kampus yang sama tapi beda lokasi. Mereka berdua setuju dan tadi pagi kami ngumpul di rumah Cipta. Kita berencana tur sepeda ke Lembah Harau. Jaraknya lumayan sih, bisa bikin paha pecah mengayuh sepeda, tapi tiga-tiganya udah nekat dengan dalih “nanti kita pelan-pelan aja sepedaannya. Kalo capek ya berhenti dulu.” Ujung-ujungnya karena beberapa alasan keberangkatan terpaksa diundur. Jam 10.30 baru deh kami start jalan.


Di Lembah Harau rencananya kami trekking ke Hidden Waterfall (sebut saja begitu), air terjun perawan yang belum banyak diketahui banyak orang. Sebenarnya di Lembah Harau banyak terdapat air terjun cantik-cantik yang sayangnya udah terjamah. Kalau udah banyak manusianya ya biasanya jadi tambah ancur, jadi banyak sampah. Jadi air terjun- air terjun ini kondisinya sudah memprihatinkan. Kebanyakan udah dibangun kios-kios dan ditembok sekelilingnya sehingga menghilangkan kealamiannya. Gak enak dilihat, ditambah lagi sampah-sampah plastik dan sisa makanan yang dibuang sembarangan oleh pengunjung. Duh, males deh pokoknya.
Pas saya magang di Dinas Pariwisata beberapa tahun lalu, seorang pegawai bilang sama saya kalau di Lembah Harau ada sebuah air terjun perawan yang belum banyak diketahui orang. Pokoknya belum banyak orang kesana karena medannya cukup bikin ngos-ngosan. Karena penasaran, saya dan Cipta nanyain lokasinya sama itu abang. Untungnya dia berbaik hati membagi informasi dan akhirnya saya dan Cipta nyampe juga disana. It was spectacular! Air terjun cantik yang sekelilingnya ditutup tebing-tebing tinggi. Jadi kalau misalnya gak ada suara air, orang gak bakal tahu disana ada air terjun. Apa yang lebih menyenangkan daripada berenang telentang tutup mata dengan suasananya tenang dan yang terdengar hanya suara air dan monyet-monyet yang lompat-lompat diatas tebing? Saya selalu betah berenang berjam-jam disana. Sejak itu, tiap kali pulang cuti saya selalu menyempatkan diri datang.
Ooooh saya bikin post ini bukan share informasi tentang lokasi Hidden Waterfall ini ya. Kalau kamu berpikir begitu, kamu salah besar *mata melotot ala host silet*. Saya gak mau banyak orang tau lokasi air terjun ini, karena saya gak pengen liat air terjun ini berubah jadi TPS kayak sodara-sodaranya yang lain. Jadi sorry untuk itu, kalau penasaran ya cari aja di Lembah Harau yang luasnya seminggu naik turun bukit curam itu (kejam mode: on). Alhasil setelah pecah paha mengayuh sepeda, kami nyampe juga di Lembah Harau. Kami nitip sepeda di kios bapak-bapak juru kunci Lembah Harau yang saya kenal pas magang di Dinas Pariwisata dulu. Bapaknya baik banget. Ini wajib dimention, karena memang dia baik banget. 



meskipun begitu, izinkanlah saya narsis sejenak
Seperti yang saya bilangin tadi, jalan ke Hidden Waterfall ini medannya lumayan. Kita harus masuk hutan, lewat rawa-rawa plus menyusuri aliran sungai kecil namun berbatu untuk mencapainya. Jadi ceritanya hari ini saya sok macho. Udah jelas mau sepedaan jauh trus trekking masuk hutan saya cuma pake kaos, celana pendek, sandal gunung dan ransel yang cuma berisi air minum dan sepotong baju cadangan. Dalihnya, udah biasa kesana dan gak terlalu jauh - biasanya aman-aman aja, paling cuma ketemu monyet atau siamang yang nggak pernah menyerang. Modal nekad-as-always ini kami masuk hutan, lewat rawa-rawa, menyusuri aliran sungai yang berbatu-batu. Agak gelap sih memang, soalnya pohonnya tinggi-tinggi dan diapit tebing-tebing curam. Cipta sama Afif jalan duluan, sementara saya sibuk moto-moto. Udah lebih separo perjalanan, suara air terjun udah kedengeran. Eh tiba-tiba terdengar suara Bruk keras. Saya lagi membelakangi, moto-moto. Dua temen saya udah terjun ke sungai lari teriak kebirit-birit kayak abis liat setan, meninggalkan saya bengong di tempat, belum mencerna apa yang barusan terjadi. “AAAAAA BABIIIIIIIIIIIIII!” teriak Afif kenceng-kenceng. Ternyata suara bruk barusan adalah seekor babi hutan gueeede banget, segede anak sapi melompat memerkan moncongnya yang panjang dan rambut jabriknya dua meter didepan cipta, siap nyeruduk kapan saja. Saya langsung ikutan teriak “AAAAAAA..” nyusul dua temen saya yang udah ilang. Sampe kesangkut akar pohon juga gak sadar. Jadi saran saya, buang deh koleksi dvd film action anda, dalam situasi bahaya gak ada orang yang bisa mengeluarkan jurus-jurus maut ala jackie chan atau manuver ala the matrix, yang ada di pikiran cuma lari lari lari. Those movies are lies! *sambil teriak histeris*. Untungnya kami semua selamat keluar hutan.

di hidden waterfall setahun lalu
Saya masih ada niat balik sih. Cipta juga gitu, dia berani aja balik ke air terjun asal kita minjam parang atau apapun senjata buat jaga-jaga sama bapak juru kunci. Afif, satu-satunya yang belum pernah ke air terjun ternyata masih trauma melihat babi hutan marah sedekat itu. Jadi..
Berakhirlah kami dengan muka-muka traumatis di bangku panjang air terjun lain, dengan pemandangan balita main air diatas pelampung bebek, ketawa kenceng. Super sekali. Selain paha berasa mau copot karena sepedaan pulang pergi dan ga jadi berenang gara-gara ketemu si jabrik, hadiah untuk being overly manly kali ini adalah luka di kaki dan sekujur tubuh berubah menjadi seperti kepiting rebus, merah perih kebakar matahari. Ini aja saya nulis sambil ngipasin muka dan paha yang perih. Duh!
 

Blog Template by