Sabtu, 04 Januari 2014

dua ribu tiga belas (2)

Tahun 2013, dengan cara yang tak terduga, saya dipertemukan dengan seseorang dengan baris giginya yang rapi. Ia sempat memberikan perasaan dagdigdug dan harap-harap yang meletup. Namun, sepertinya ia orang yang suka bermain sampai secara tidak sadar, ia telah bermain-main dengan perasaan orang lain. Kemudian cerita ini berakhir sebelum tanda titik. Terus terang awalnya saya memang agak kecewa, tetapi memasuki tahun 2014 mata saya terbuka dan saya merasa bersyukur cerita itu berhenti sebelum waktunya. Melihat dirinya sekarang telah membuat saya yakin bahwa ia bukanlah orang yang tepat. Ternyata benar, tak ada hal yang benar-benar salah. Seburuk apapun keadaan selalu saja membawa nilai positif pada akhirnya.
Saya akhirnya merasakan juga bagaimana menginap di rumah sakit.  Selepas mengikuti suatu ajang nasional di Jakarta, saya pulang membawa oleh-oleh virus dengue. Saya terbaring lemas selama satu minggu dan terpaksa tidak terlalu banyak beraktifitas sebulan selanjutnya. Penyakit ini ternyata telah membuka jalur masuk untuk penyakit-penyakit lain, sehingga sampai sekarang-pun saya tak benar-benar sembuh. Hal-hal buruk di Tahun 2013 juga semakin memuncak ketika saya dan sahabat yang telah berteman selama sepuluh tahun terlibat dalam suatu kesalahpahaman yang menjadikan kami kembali menjadi orang asing bagi masing-masing. Tidak ada lagi kata-kata yang tersisa untuk kami sampaikan. Saya mencoba sebisa saya memperbaiki keadaan, namun hal ini tidak membuat perbedaan yang berarti. Untuk itu, saya berusaha berbesar hati dengan menganggap ini adalah bagian dari dinamika hidup. Waktu berjalan, orang-orang berubah. Kadang kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa kita harus kembali menjadi orang asing, bagi orang terdekat. Saya rasa, memaafkan adalah cara paling baik untuk berdamai dengan keadaan. Kita memaafkan bukan selalu berarti orang itu pantas untuk dimaafkan, tetapi selalu berarti kita pantas untuk mendapatkan kedamaian. Meskipun kemudian terpaksa memutar balik arah jarum jam seolah tak pernah bertemu,  setidaknya tidak ada dendam yang disimpan.
Hal lainnya yang cukup signifikan berubah dari saya adalah berat badan. Rupanya saya benar-benar sudah lelah dengan masalah berat badan yang selalu saja menjadi objek verbal bullying bagi sebagian orang . Untuk itu, mulai awal tahun 2013 saya memberlakukan diet ketat. Saya mengatur jadwal olahraga sedemikian rupa. Saya tidak lupa menyelipkan renang dan bersepeda  di sela rutinitas. Pola makan juga saya atur sebaik mungkin. Memang kedengarannya agak melelahkan, namun saya melakukannya dengan senang hati, hingga tak merasa terbebani. Hasilnya, kerja keras saya terbayar dengan berat badan yang berhasil naik tiga belas kilogram. Sekarang bila bertemu dengan orang-orang yang jarang bertemu,  saya selalu dihadapkan dengan pertanyaan “kok bisa? makan apa?”. Dan saya akan setia menjawab “makan anak gajah”. Sebenarnya target saya belum tercapai karena tersendat beberapa bulan dikarenakan demam berdarah.  Saya janji di 2014 saya akan berusaha lebih baik lagi.

0 blabla(s):

 

Blog Template by