Sabtu, 04 Januari 2014

dua ribu tiga belas

Ini jam setengah dua belas malam.  Dari jam tujuh tadi saya sudah duduk di depan laptop menatap layar kosong, menulis beberapa patah kata, kemudian kembali memencet tombol backspace sampai tersisa halaman kosong dengan kursor berkedip-kedip. Rencananya saya akan menulis sebuah cerita pendek, tetapi untuk orang moody seperti saya, tak ada satupun hal yang bisa dipaksakan. Karena itu, untuk malam ini saya angkat bendera putih untuk segala jenis cerita pendek.
Berhubung masih suasana tahun baru, saya ingin bercerita lepas saja tentang tahun 2013. Hitung-hitung supaya waktu yang dihabiskan dari jam 7 tadi tidak terlalu mubazir.  Ini hanyalah review kehidupan saya satu tahun kebelakang, tidak ada informasi berharga apapun untuk khalayak ramai ya. Hehe. 2013 memang bukan tahun paling ceria dalam hidup saya, tapi setelah saya ingat-ingat, cukup banyak perubahan signifikan yang terjadi, baik positif  maupun negatif. Setelah menghabiskan tiga bulan melakukan perjalanan dari Jawa, Lombok, Kalimantan dan berakhir di titik nol derajat Indonesia di Sabang, untuk pertama kalinya dalam hidup, Januari 2013 akhirnya saya merasakan bagaimana rasanya menjadi pria kantoran. Awalnya saya sempat skeptis terkait kehidupan selanjutnya. Saya dihantui pikiran-pikiran buruk: apakah saya akan menyukainya? Bagaimana menyelesaikan tugas-tugas kantor? Apakah orang-orang akan menyukai saya? Bagaimana saya menghadapi diri sendiri yang tidak pernah bisa mengingat nama dan wajah orang dengan baik? Ketakutan-ketakutan semacam ini sungguh mengganggu. Setelah hampir setahun menjalaninya, ternyata banyak hal-hal yang tidak seburuk apa yang saya pikirkan sebelumnya. Di kantor malah saya mempunyai keluarga baru yang menyenangkan. Meskipun harus diakui,  kerap terdengar suara-suara sumbang dibelakang. Untuk hal ini sepertinya yang bisa kita lakukan hanyalah menerima saja. Sebaik apapun kita, kita takkan pernah bisa membuat semua orang menyukai kita. Kita takkan pernah bisa menyenangkan hati semua orang.  Dan saya rasa, kita berada di dunia bukan untuk itu.
Seorang teman bilang pada saya,  bahwa kamu tidak bisa seratus persen mempercayai orang-orang di tempat kerja, karena dalam profesi azas yang berlaku adalah azas kepentingan. Saya pikir awalnya juga begitu. Setelah dijalani, ungkapan teman saya ini tak sepenuhnya benar. Di tempat kerja, saya sekarang punya teman baik yang bisa diajak bercerita tanpa takut akan bocor kesana kemari. Untuk masalah pertemanan ini, sebenarnya kita tidak perlu mencari. Kita akan secara alami menemukan. Mungkin bisa diumpakan seperti radar. Meskipun berjauhan, pada akhirnya kita akan mengenali orang-orang yang cocok dan berkumpul bersama mereka. Saya pelan-pelan akhirnya mengenali diri saya sendiri, bahwa ternyata saya hanya bisa cocok dengan orang-orang yang memiliki kegilaan yang sama. Banyak yang telah berubah, namun ada juga yang hal-hal yang tetap konsisten. Contohnya: saya tetap tidak pernah bisa menyukai hari senin. Dan saya malas mengangkat telepon.

 

Blog Template by