Rabu, 05 Februari 2014

lima februari 2014

Sebenarnya aku ingin kita berada di tempat biasanya. Tempat yang ramai. Namun bukan ramai dengan lalu lalang manusia. Mungkinkah kau masih sama denganku? Menyukai keramaian pantai, dengan teriakan ombak yang berdebur? Ato riang nanyian jangkrik di malam yg sedikit berangin, namun cerah? Semoga. Semoga masih sama.
Aku rindu berjalan denganmu, berjalan tanpa tujuan namun sangat nyaman. Berjalan tanpa tergesa-gesa. Berjalan dan menikmati apapun yang kita lewati. Bercanda dan tertawa. Aku tak perlu malu, dengan upilku, kentutku, lahap makanku. Dan kantong keringku.
Dulu. Terima kasih untuk hari-hari yang hebat itu. Tak ada hartaku, hanya doa yg mampu kupanjatkan untukmu. 
Selamat ulang tahun. Semoga Tuhan, senantiasa menjagamu. Memberimu hidup yang tenang dan nyaman. Seperti apa yang engkau inginkan.

7 blabla(s):

deenee mengatakan...

uhuk uhuk *numpang batuk*

Naajmi mengatakan...

Tulisan yang manis, Hans :)

Basecamp Buku mengatakan...

hhmmm, udaaa. saya mau katakan sesuatu. bahwasanya tulisan ini cukup membuat mata saya berkaca-kaca, untung tidak sampai retak kemudian pecah. saya jadi teringat dengan seorang kawan, saya sebutnya travelmate saya lah. yaahh, kita sama2 hobi "ESC" ke gunung/pantai/touring gak jelas. tak terhitung entah berapa kali perjalanan yang saya lewatkan dengannya, beruda . . . . eh maksud saya berdua. kbersamaan yang ajaib itu, beraneka kebetulan yang menjungkirbalikkan otak saya, hingga perasaan komplikasi yang menggerogoti sebagian hidup saya. akhirnya 3 tahun terakhir ini saya cukup terhantui oleh keberadaannya. #GILA# hhh, apakah saya hanya sematawayng merasakan ini? sepihak saja kah? rasanya ingin sekali membelah hatinya dan mengetahui apa isinya. sekedar ingin tahu apa saya ada di dalamnya??? tapi saya tak mau dicap sebagai tersangka kasus pembantaian hati manusia. untuk travelmate saya itu, sya hanya bisa berdoa semoga di akhirat kelak ada satu ksempatan dari Tuhan untuk memberikan waktu sekitar 30 menit-1jam untuk saya ungkapkan semua padanya. eh, tapi ternyata Tuhan mengabulkan itu lebih cepat dari yang saya harapkan. belum juga ada moment2 di akhirat, eksekusi itu pun terjadi dengan lembutnya. walaupun tak ada ucapan "fulgar" atau "terang-terangan" tapi hanya permainan kata yang kami alirkan dengan sangat sederhana, hingga kesimpulan kami pun berujung sama. uda, sepertinya itu hepi ending. yang pasti saya kini cukup tenang karena tak perlu membelah hatinya atau membongkar isi kepalanya. tapi, dia sudah memilih. saya pun tak punya tenaga selain pasrah dengan pilihannya. dan kini, saya rindu berpetualang dengannya. seperti ada yang hilang, karena travelmate itu sudah memilih. sya berusaha menguburnya, tapi setelah membaca tulisanmu yang ini, da. dia sepertinya bangkit lagi dari kubur yang susah payah saya buat untuknya.

Basecamp Buku mengatakan...

sory saya numpang curheart. hahahaah

windi siregar mengatakan...

boleh nangis disini gak?

zenilda fernanda mengatakan...

Ijin kak tulisan kakak bagus banget kak, ijin menyampaikan kak bgaimana kalau tulisan-tulisan kakak dibukukan

Hans Brownsound ツ mengatakan...

denee: ngopo dek?
najmi: lebih manis, karena seorang temen yang nulisnya buat aku hehe.
norma: yuk, pindah ke bilik rumpi. haha. :P
windi: boleh kok win, nih bahu *eh*
zenilda: hey dek, gak usah ijin-ijin, ini bukan kampus. pengennya jg gitu dek, tp belum pede aja. ;)

 

Blog Template by