Sabtu, 22 Maret 2014

Lampu Ajaib

Memasuki tahun ke dua terpisah denganmu membuat aku berpikir bahwa mungkin aku punya kekuatan super. Kamu tahu betapa takutnya aku dengan hari perpisahan itu. Berada jauh darimu adalah hal yang mustahil. Seiring perjalanan waktu, siapa sangka kekhawatiran itu bisa tumbang dan berubah menjadi sumber kekuatan. Dua tahun. Tujuh ratus dua puluh satu hari. Dunia terus berputar dan waktu tetap berjalan. Aku tak pernah berpikir bagaimana dapat melewati semua ini. Tanpa kamu. 
Dua tahun. Tujuh ratus tiga puluh satu hari. Milyaran hal-hal yang melintas di kepalaku, kadang menyerbu serupa angin badai, saat kita harus berlari-lari untuk berteduh dibawah atap ruko waktu itu. Kadang perlahan seperti gerimis yang menemani kita di perjalanan pulang dari belanja bulanan. Tapi ada satu fakta yang begitu menarik perhatianku: bahwa ternyata kita bisa terpisah dengan seseorang namun ia masih bisa hadir di dalam pikiran kita, setiap hari. Kamu selalu hadir disaat aku menuangkan kopi pertama setiap pagi. Saat aku menutup laci meja kerja dan bersiap untuk pulang. Saat aku menatap awan yang berarak sambil menunggu lampu lalulintas berganti hijau. Saat hujan pelan-pelan turun dan bau aspal yang basah meruap. Bahkan kamu bisa hadir dalam mimpi, saat malam pekat dan tak satupun terlihat. Kamu ada. Dan kamu nyata.
Dua tahun. Tujuh ratus tiga puluh satu hari. Banyak hal yang perlahan berubah dariku, seperti perut yang mulai bergelambir dan kesibukan kantor yang semakin menjadi. Waktu berjalan dengan cara yang menakutkan. Ia bisa merubah segalanya. Merubah orang-orang, merubah keadaan, bahkan merubah perasaaan. Aku tak ingin ini terjadi. Aku ingin tetap mencintaimu dengan perasaan seperti waktu itu, saat aku masih menggenggam tanganmu dan menatap matamu yang bersinar seperti kunang-kunang.  Kamu adalah inspirasi, nyawa dari setiap kata-kata yang kutulis, rumah dari paragraf-paragraf dan materi yang tak kan pernah habis untuk dibahas. Akankah aku tetap bisa mencintaimu sama banyaknya seperti waktu itu? Ketika kau hanya bisa hadir dengan wujud berbeda. Bukan ia yang bisa kugenggam tangannya dan kurasakan hangatnya?
Minggu sore yang lalu, ketika membersihkan gudang belakang, tak sengaja aku menjatuhkan satu kardus buku-buku lama  hingga isinya berhamburan di lantai. Aku selalu mengutuk diriku karena terlalu sering melakukan hal-hal bodoh secara tidak sengaja. Mataku tertumbuk pada satu buku yang entah berapa lama tidak kusentuh. Aku membuka buku cerita yang tak lagi bersampul itu. Aladin dan Lampu Ajaib. Ingatanku kemudian berlayar ke tahun-tahun  dimana buku ini masih menjadi buku bacaan favorit yang selalu dipakai sebagai kendaraan pengantar tidur. Dulu, aku terkesan dengan bagaimana jin mampu mengabulkan permintaan-permintaan, jika kau adalah orang yang baik. Naluri anak-anakku memercayai bahwa entah bagaimana, keajaiban adalah nyata.  Aku sempat berkhayal jika aku bertemu jin lampu ajaib, aku akan minta permadani terbang yang bisa mengantarku keliling dunia. Atau mesin uang otomatis yang bisa menghasilkan uang dalam jumlah tak terbatas, agar aku tak perlu menunggu celengan penuh untuk membeli mainan power rangers.
Aku tersenyum mengingat permintaan-permintaan konyol itu. Senyuman yang kemudian membuatku tertegun. Kamu tau,  jikapun sekarang aku bertemu dengan Jin lampu ajaib, aku takkan minta permadani terbang ataupun mesin uang. Aku hanya ingin kembali merasakan rasa itu. Dimana hal yang kulihat pertama kali saat membuka mata pagi hari adalah ruangan yang tak terlalu besar dan wajahmu yang masih mengantuk. Aku ingin mengamati lagi tubuhmu yang masih tenggelam dalam selimut dan coklat bola matamu yang bergerak mengikuti paragraf berita online yang kau baca di layar ponsel. Kemudian menyaksikanmu berjalan sempoyongan ke kamar mandi sambil menciumi aroma tubuhmu yang tertinggal di bantal. Aku juga ingin melihat senyuman selamat pagi yang mengembang di bibir itu, dengan perasaan yang sama. Senyuman yang selalu bisa meyakinkan bahwa ada keindahan di dunia yang muram ini.
Itu saja.


5 blabla(s):

Onixtin Sianturi mengatakan...

nice posting :)
smg cepet ketemu sm perasaannya yg udah hampir ilang yaa kak... hehe

desyanans mengatakan...

SWEET (pull stop)

deenee mengatakan...

akhirnya nulis lagi, berapa lama mas vakum ? hihihihii :D
jangan galau yaa mas hans :D

enggarsari mengatakan...

Love it. Cinta beda pulau..

Hans Brownsound ツ mengatakan...

onix: ga semua yang ditulis itu ttg aku anyway dek :D
desy: thanks des!
deene: lama banget dek. nggak galau kok.
enggar: ahahaha.

 

Blog Template by