Sabtu, 28 Juni 2014

Cinta Kaki Lima (1)

Ratna ingat betul ketika ditanyai cita-cita pada jam pelajaran Bahasa Indonesia  waktu kelas enam SD, ia menjawab dengan lugas “Saya ingin jadi penyanyi.” Ia selalu mebayangkan bahwa suatu ketika ia bisa berdiri diatas panggung konser tunggal, menghibur ribuan penggemarnya dengan menyanyikan single terbaru.  Semua orang akan meneriaki namanya dengan mata haru berkaca-kaca karena bisa melihatnya secara langsung.  Ia akan punya sebuah mansion mewah, mobil keluaran terbaru dan membeli apapun yang ia mau. Namun kini ia menemukan dirinya sedang menghitung lembaran rupiah hasil penjualan hari ini di meja kasir minimarket.  Tangannya dengan cekatan memisahkan uang kartas itu sesuai dengan warnanya, kemudian mengikatnya dengan karet gelang yang sudah ia siapkan. Pembeli sudah sepi, namun jalanan diluar masih sangat ramai. Tumben jam segini jalanan masih disesaki banyak kendaraan pikirnya.
Selesai dengan urusannya, ia segera menuju ruang ganti di belakang. Dilepasnya seragam kerja kemudian menggantinya dengan kaos barong hadiah dari sahabat karib yang baru pulang dari Bali beberapa minggu lalu. Ia lantas menyandang tas sambil memeriksa bau badan. Menyadari ketiaknya sudah berbau masam, ia menyemprotkan sedikit collogne untuk menyamarkan. Itu sebenarnya tidak telalu membantu, tapi apa yang bisa ia lakukan. Tadi sore ia terpaksa membantu Suryo untuk memindahkan stok sabun cuci dari kontainer ke gudang karena Wahyudi mengambil cuti satu hari untuk menemani istrinya cek kehamilan di rumah sakit. Setelah memeriksa segala sesuatu dan mengikat rambut sebahunya ekor kuda, ia pamit pulang duluan pada Suryo yang masih sibuk menghitung stok. Ia melambaikan tangan dan hanya dijawab dengan senyum simpul oleh Suryo yang kemudian kembali menghitung kardus-kardus dengan ujung penanya.
Malam ini cerah, meskipun tidak satupun bintang terlihat. Melihat bintang secara langsung memang kejadian langka di kota dengan tingkat polusi sebesar ini. Mungkin asap knalpot sampai di langit, membuat bintang batuk-batuk dan memutuskan untuk tidak bersinar malam itu. Jalanan masih saja ramai, terdengar beberapa kenek kopaja mengetuk jendela dengan uang logam. Ia berjalan menyusuri trotoar, melewati gerombolan anak-anak punk yang duduk menikmati rokok sama-sama, ia tak menganggap itu sebuah masalah namun tetap mempercepat langkahnya. Ponselnya berbunyi.
Mas agak telat mungkin Na. Kayaknya makan di kantor. Kamu makan duluan aja, ntar mas jemput di tempat biasa.
Ia memasukkan ponsel dalam tas sandangnya setelah membalas sms itu. Dugaannya benar. Jika ada anak yang merayakan ulangtahun di rumah makan cepat saji tempat  Yudi bekerja, maka sudah dapat dipastikan ia tak bisa pulang cepat. Ia terpaksa membersihkan sisa-sisa tulang ayam dan es krim yang berhamburan seperti kapal pecah dan mengepel lantai sampai bersih.  Ratna terus berjalan menuju ‘tempat biasa’ yang dikatakan Yudi tadi. Tempat itu adalah warung pecel lele Monggo Kerso dimana mereka hampir setiap malam bertemu sepulang kerja dan menyantap makan malam. Letaknya tidak terlalu jauh, di perempatan sesudah jembatan, namun tetap bisa membuat ketiak berkeringat dan bau yang sembunyi tadi kembali meruap-ruap.

1 blabla(s):

Meica Nanda mengatakan...

asik, penulisan tentang bau ketiak pun bisa jadi romantis. hahaha

 

Blog Template by