Sabtu, 28 Juni 2014

Cinta Kaki Lima (2)

Begitu tiba di warung yang lebih pantas disebut semi-tenda itu, ia mengambil tempat duduk paling depan, meja favoritnya. Yudi menyebutnya wilayah kekuasaan ratu Ratna, karena tiap kali makan malam disana, ia pasti memilih meja itu. Disana ia bisa duduk menunggu pesanan sambil mengamati lampu kendaraan yang berlalu lalang. Warung makan itu tidak terlalu ramai. Ada dua orang bapak - yang satu dengan salah satu kakinya naik keatas bangku dan berkemeja lusuh dan satunya lagi yang berkumis tebal dan merokok - tampak sedang asik berdebat mengenai calon presiden pilihannya. Gaya bicaranya sudah seperti profesor universitas saja. Seorang lagi bapak-bapak bertubuh gempal yang ia kenali sebagai tukang ojek yang sering mangkal di perempatan tampak sudah menyelesaikan pecel lelenya dengan tuntas. Yang terakhir adalah perempuan berambut panjang dengan rok mini dan tali beha kelihatan duduk di paling ujung memainkan ponsel samsung yang sepertinya produk tiruan dari cina. Dari penampilan, mudah ditebak kalau ia adalah satu dari perempuan-perempuan yang biasa berkeliaran di gang mawar pada malam hari.
Suara klakson dan deru mesin mobil berserakan begitu saja, tumpang tindih membuat suara televisi 21 inchi yang tergantung di dekat meja kasir terdengar samar-samar. Penjual dvd bajakan di seberang jalan juga tidak mau kalah dengan menyalakan lagu-lagu dangdut pantura dengan volume mentok membuat malam ini semakin meriah. Ratna meletakkan tas sandangnya di atas meja, kemudian melemaskan otot-ototnya yang tegang.  Matanya sudah agak mengantuk dan ia merasa capek sekali.
“Biasa Na?” Seorang perempuan setengah baya muncul dari balik tirai membawa pisau dan kol.
“Iya Bude, yang biasa satu aja ya. Mas Yudi katanya makan di kantor.”
Tanpa menjawab perempuan yang dipanggil Bude itu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi gemericik penggorengan dari dalam. Ratna memijit kulit diantara alisnya pelan-pelan untuk menghilangkan kepenatan matanya yang sudah berjuang melawan kantuk dari tadi sore.
Lima belas menit menunggu. Banyak sekali yang melintas dalam waktu yang demikian singkat. Ratna sudah menyelesaikan makan malamnya dengan tuntas. Dua orang pengamen cilik juga sudah selesai menyanyikan lagu yang sudah menjadi sebuah mars nasional bagi mereka “aku yang dulu bukanlah yang sekarang.” Ratna memberikan beberapa uang receh untuk mereka. Dengan wajah senang, mereka meninggalkan warung pecel lele itu. Ia kini duduk sendirian dengan beberapa hal yang berkeliaran di kepala seperti tagihan listrik dan kontrakan bulan ini yang belum dibayar dan mengapa gajinya tidak pernah cukup untuk mengimbangi perkembangan zaman. Sempat juga terpikir olehnya tentang cita-citanya menjadi seorang penyanyi terkenal dan bagaimana mudahnya hidup jika ia punya lebih banyak uang untuk membayar tagihan-tagihan bulanan. Ia tentu tidak perlu berpikir besok mau makan apa, atau menabung bertahun-tahun untuk membeli mesin cuci baru.
Suara klakson motor menyadarkannya dari lamunan. Laki-laki yang ditunggunya dari tadi kini berada di depan matanya dengan jaket kulit dan senyum mengembang. Ia membalas senyuman itu dan langsung berdiri dari tempat duduknya. 
“Sudah dari tadi?”
“Nggak juga. Ini baru kelar makan. Mas udah makan?”
“Udah tadi di kantor”
“Mau langsung pulang?”
Ratna mengangguk. 
Setelah membayar di kasir, mereka pulang menggunakan motor bebek yang kreditnya belum lunas itu. Dengan lincah Yudi menyusup diantara lautan truk-truk kontainer dan asapnya yang mengepul seperti awan-awan hitam yang berarak. Ratna menyandarkan kepalanya di punggung laki-laki itu serta pelan-pelan melingkarkan lengan di pinggangnya. Yudi kemudian meletakkan tangan kirinya di jari-jari mungil Ratna. Mereka larut dalam diamnya masing-masing. Banyak sekali persoalan di dunia ini yang akan membuat kening berkerut, membuat diri merasa kecil dan tidak berarti apa-apa. Namun untuk merasa besar, kadang kita hanya perlu sebuah pelukan yang meyakinkan bahwa kita takkan pernah berjalan sendiri. Juga sebuah genggaman hangat diantara jemari yang menuntun pulang.

4 blabla(s):

riyanto perdana mengatakan...

Motor bebek yang kreditnya belum lunas?

Hahaha ...


Nyindir gue nih!

Mila Said mengatakan...

ooowh so swot banget.. jd pengen boncengan motor hiks

Meica Nanda mengatakan...

bagus... jadi pengen pecel ayam. pedahal buka puasa masih lama ini. heuheu XD

Hans Brownsound ツ mengatakan...

riyanto: hahaa, piss ya! :P
mila: hahaha :p
ica: aku juga kepengen. padahal ini tengah malam.

 

Blog Template by