Sabtu, 17 Mei 2014

Senduisme (1)

“Nothing is completely wrong, even a broken clock is right twice a day.” –Paulo Coelho
Ia terbangun di sisi lain tempat tidurnya. Cahaya masuk dari celah gorden yang menari-nari ditiup angin. Ia memang sengaja tidak menutup jendela flatnya tadi malam. Ia merasa benar-benar letih, bahkan untuk bangkit dari tempat tidur dan berkemas untuk berangkat ke kantor ia merasa tidak punya energi. Saat membuka mata, ia sadar bahwa ada yang tidak beres. Ada awan hitam pekat lengkap dengan perasaan gelisah melingkupi hatinya. Ia menyadari hal itu sejak lama. Bahkan ia telah membiasakan diri hidup dengan kegelapan semacam itu, tapi pagi ini ia datang dalam wujud yang lebih pekat. Kemuraman yang bisa muncul kapan saja. Ia kembali merasakan ada lobang besar menganga di dadanya, membuatnya merasa seperti seonggok raga tanpa nyawa. Ia menatap sekeliling kamar dengan pandangan yang samar. Kamarnya kosong. Hatinya juga.
Ia mengambil ponsel yang terparkir di meja samping tempat tidur. Jam tujuh lima belas. Jika ia tidak berkemas sekarang juga, tentu saja ia akan terlambat sampai di kantor. Namun alih-alih mengambil mengambil handuk yang tergantung di balkon, ia malah berdiri di depan cermin.  Laki-laki itu mengamati pantulannya. Yang mampu ia lihat hanyalah pria bermuka muram tanpa semangat. Gelisah menggantung dengan jelas di kantung matanya yang menghitam. Tidak lagi sanggup melihat pantulan di depan cermin, ia melangkahkan kakinya menuju balkon. Meringkuk memeluk lututnya tanpa mampu menghilangkan bayangan-bayangan hitam yang mulai menguasainya. Ia kemudian menyulut sebatang rokok sehingga asap mengepul di udara, melayang-layang kemudian hilang terbawa angin. Dengan mata sedihnya ia menatap jalan raya di bawah sana. Kendaraan memadati setiap jengkal aspal sambil terus berlomba membunyikan klakson. 
Hal ini memang bukan pertama kalinya terjadi. Mengenai kegelapan-kegelapan yang hidup di dalam kepalanya, ia sudah mencoba hidup berdampingan dengannya, bahkan ia sudah menganggapnya sebagai sebuah realita yang harus bisa ia terima saja, tanpa perlu dipertanyakan. Ternyata berdamai dengan diri sendiri kadang lebih susah daripada bertarung melawan musuh di medan perang. Ia kembali merasakan bahwa tak satupun hal berjalan dengan benar. Tak satupun berjalan seperti yang diharapkan. Ia tahu dengan diam dan larut dalam lobang hitam itu takkan membuatnya merasa lebih baik. Meringkuk dalam selimut bukanlah opsi yang bagus untuk membebaskan diri dari ketakutan-ketakutan. Karena itu ia segera menyikat gigi, mandi, berharap semua akan terasa lebih baik sesudahnya. Ia kemudian memasak telur mata sapi  dengan sedikit terlalu banyak garam, lantas memakannya di meja makan sambil menatap langit cerah di depan jendela. Setelah itu dengan jas dan dasi yang rapi, ia bergegas turun ke lantai bawah, tempat dimana halte bus berada.
Bus yang akan mengantarkannya ke kantor ternyata tidak terlalu penuh. Agaknya ia memang terlalu kesiangan. Hanya ada beberapa orang lanjut usia dan juga beberapa karyawan yang juga dilingkupi perasaan takut terlambat sampai di kantor. Manusia yang lucu, selalu saja merasa dikejar oleh sesuatu yang tak kasat mata.  Sama lucunya dengan ia yang harus lari dari dirinya sendiri. Ia memilih duduk di  dekat jendela sambil menggenggam tas kerjanya yang berbahan kulit. Ia teringat bahwa ada banyak sekali laporan keuangan yang harus segera diselesaikan. Nanti siang ia juga harus menghadiri beberapa meeting mewakili pimpinannya yang sedang berlibur ke Hongkong. Beberapa blok sebelum sampai di gedung kantor ia menyadari betapa tak inginnya ia untuk duduk di meja kerja, mengerjakan segala jenis laporan dan bertemu dengan orang-orang yang bertendensi semakin merusak suasana hati. Ia tak mau pada akhirnya hanya duduk di ruangan meeting sambil mencoret-coret ujung kertas tanpa menyimak satu kata pun dari pertemuan itu. Karena itu pada beberapa halte sebelum gedung kantor, ia memutuskan untuk turun dari bus. Ia segera melepas jas  kemudian mematikan ponsel. Memasukkan dasinya secara sembarangan kedalam tas kerja.

0 blabla(s):

 

Blog Template by