Minggu, 19 Oktober 2014

Dalam Rindu

Begitu kau katakan kau akan pindah kamar kontrakan, seketika aku menawarkan bantuan untuk mengemasi barang-barangmu. Kita kemudian menaiki tangga, memasuki kamar kontrakanmu yang lama. Kita memasukkan barang-barangmu dalam dus-dus kosong hingga semua terisi penuh. Kau sempat bilang ingin meninggalkan setiap kenangan tentangnya disana. Aku mendukung keinginanmu untuk memulai kembali hidupmu yang baru. Masih jelas dalam ingatanku kau bercerita tentang bagaimana menyakitkannya sebuah perpisahan dan rencanamu melanjutkan kehidupan bersamaku. Setelah berulang kali naik turun tangga, kita menaruh barang-barang di bagasi dan jok belakang mobil yang masih terparkir. Sementara di dashboardnya, berbaris sari kacang hijau yang begitu kau sukai. Dalam mobil yang sesak dengan dus-dus, kita istirahat sejenak. Tanpa aba-aba kau mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibirku.
2
Kita melaju cepat melintasi jalan ibukota, larut dalam diam tanpa kata-kata. Lagu deep in you Third Eye Blind mengalir lembut dari stasiun radio favoritmu. “Aku suka jalan Casablanca,” katamu memecah keheningan. Cahaya matahari yang masuk dari jendela pelan-pelan memudar. “Banyak gedung tinggi dan lampu-lampu, kalau lewat sini aku sering berlama-lama.” Aku tak berkata apa-apa, hanya menatap matamu yang bersinar ditimpa cahaya matahari. Diam-diam aku berharap dapat menyusup, membaca isi hatimu. Perlahan kau menggenggam erat tanganku, mengisi ruang kosong di sela-sela jari. Untuk pertama kalinya aku menyadari aku telah jatuh cinta.
3
Jam dinding menunjukkan jam dua pagi ketika aku terjaga. Dalam remang aku mendapatimu tertidur pulas disampingku, dengan mulut terbuka dan sebelah kaki terangkat. Kau mendengkur seperti anak kecil sehabis terlalu lelah bermain. Meski mata memberat, menit-menit berikutnya kuhabiskan untuk mengamatimu. Rambutmu, dadamu yang kembang kempis, matamu yang sedikit terbuka, itulah makna bahagia bagiku. Kau hadirkan lagi perasaan yang sudah lama tidak kurasa. Aku berpikir kadang perasaan jauh lebih nyata daripada pada kata-kata, hingga aku tak memiliki pembendaharaan kata yang tepat untuk menjelaskannya. Aku mencuri sebuah ciuman di pipimu sebelum memelukmu erat, mendengar detak jantungmu yang seirama dengan jarum jam.
4
Kau mengetuk pintu, membawa sarapan pagi. Mengganti channel televisi, juga mengganti batik biru sambil bertanya apa kau kelihatan gendut. Aku hanya tersenyum di balik selimut, menjawabmu dengan sebuah pandangan yang mencoba meyakinkan kau terlihat baik-baik saja. Kemudian kau datang merebahkan kepalamu di sampingku. “Kau punya mata dan alis yang bagus,” katamu. Kubelai rambutmu yang tebal dengan ujung jariku. Tahukah kau sayang, jika kau bongkar isi hati ini, bagiku tak ada yang lebih sempurna daripada hadirmu disini.
5
Waktu terus bergerak maju dan aku hanya orang dungu yang terus mengulang-ulang perasaan melalui pesan-pesan singkat yang pernah ada ketika semuanya baik-baik saja. Semua seolah musnah begitu saja, berganti dengan pesan-pesan yang tak pernah dibalas. You’re my vanilla ice cream, I miss you already by the way, I start to think about you all day, I love your company, serta ucapan-ucapan selamat pagi yang dulu begitu membahagiakan, hanya itu puing-puing yang tersisa. Aku membacanya berulang-ulang sambil terus berpikir mengenai kesalahanku hingga membuatmu tega pergi tanpa meninggalkan satu alasan pun. Tanpa sebuah selamat tinggal. Aku mendapati diriku dengan mata yang selalu berkaca-kaca, terbuang, melakukan apapun untuk menjauhkanmu dari ingatan meskipun itu tidak pernah berhasil. Aku masih saja menatap kosong pada ponsel yang tak jua kunjung berdering. Pertanyaan demi pertanyaan mengisi rongga kepala, apakah aku yang terlalu delusif, ataukah sesungguhnya kau yang telah kehilangan perasaan?
Dan dalam rindu aku bercerita, bahwa hal indah bisa datang sekejap saja, namun kau bisa mengingatnya selama yang kau bisa.

Kembalilah, sayang.

0 blabla(s):

 

Blog Template by