Sabtu, 04 Januari 2014

dua ribu tiga belas (3)

Undangan resepsi pernikahan warna-warni juga ikut menyemarakkan 2013. Beberapanya malah datang dari teman-teman dekat saya. Saya mulai rajin memakai pakaian formil, datang ke acara resepsi pernikahan dan mengucapkan selamat pada pengantin-pengantin (yang beberapa dari mereka dalam otak saya masih berwujud teman kecil dengan ingus belepotan yang bisa diajak main petak umpet kapan saja). Hal ini membuat saya berpikir, apakah memang saya sudah setua itu? Saya menanyakan hal ini pada ibu dan ia hanya menjawab dengan tawa yang lebar.  Tawa yang lebih terdengar seperti sebuah ledekan. Oke, kalimat selanjutnya mungkin membuat saya kelihatan tak tahu diri, tapi saya benar-benar merasa belum matang. Saya masih merasa seperti seorang anak-anak mencari apa yang seharusnya ia lakukan dalam hidup yang singkat ini.  Saya merasa belum bisa menyatu dengan realitas yang sedang berlangsung. Beberapa orang bilang saya terlalu sibuk dengan dunia sendiri. Mungkin mereka benar, tapi izinkan saya mengatakan ini: menurut saya, kebanyakan orang dewasa juga tidak benar-benar tahu apa yang sedang mereka lakukan  dan hidup mereka ditentukan dengan kelihaian berpura-pura.
Setelah hampir setahun berada di tempat yang sama dengan rutinitas yang terus berulang-ulang setiap harinya, saya melakukan perjalanan bersama sahabat baik. Mungkin inilah hal yang paling menyenangkan di tahun lalu.  Kami sudah berpisah selama setahun karena perbedan tempat tugas janjian bertemu di Batam dan kembali bertukar kegilaan seperti yang biasa kami lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Saya benar-benar bersyukur pada tuhan untuk sahabat, tempat membuka rahasia-rahasia sampai keakarnya tanpa takut dibenci dan ditinggalkan. Saya yakin tak semua orang memiliki kesempatan yang sama seperti saya.
Begitulah 2013 terlewati. Saya tidak akan membuat resolusi-resolusi karena saya tahu, hal itu kemudian hanya akan berakhir menjadi kalimat-kalimat kosong di akhir tahun. Saya hanya berharap bahwa di tahun 2014 saya bisa melakukan perjalanan ke tempat-tempat baru lebih jauh lagi, melanjutkan pendidikan dan diberikan keberanian untuk mengakhiri kebodohan-kebodohan yang berkepanjangan.
Selamat Tahun Baru 2014, semoga kita bisa bersinar lebih terang.

dua ribu tiga belas (2)

Tahun 2013, dengan cara yang tak terduga, saya dipertemukan dengan seseorang dengan baris giginya yang rapi. Ia sempat memberikan perasaan dagdigdug dan harap-harap yang meletup. Namun, sepertinya ia orang yang suka bermain sampai secara tidak sadar, ia telah bermain-main dengan perasaan orang lain. Kemudian cerita ini berakhir sebelum tanda titik. Terus terang awalnya saya memang agak kecewa, tetapi memasuki tahun 2014 mata saya terbuka dan saya merasa bersyukur cerita itu berhenti sebelum waktunya. Melihat dirinya sekarang telah membuat saya yakin bahwa ia bukanlah orang yang tepat. Ternyata benar, tak ada hal yang benar-benar salah. Seburuk apapun keadaan selalu saja membawa nilai positif pada akhirnya.
Saya akhirnya merasakan juga bagaimana menginap di rumah sakit.  Selepas mengikuti suatu ajang nasional di Jakarta, saya pulang membawa oleh-oleh virus dengue. Saya terbaring lemas selama satu minggu dan terpaksa tidak terlalu banyak beraktifitas sebulan selanjutnya. Penyakit ini ternyata telah membuka jalur masuk untuk penyakit-penyakit lain, sehingga sampai sekarang-pun saya tak benar-benar sembuh. Hal-hal buruk di Tahun 2013 juga semakin memuncak ketika saya dan sahabat yang telah berteman selama sepuluh tahun terlibat dalam suatu kesalahpahaman yang menjadikan kami kembali menjadi orang asing bagi masing-masing. Tidak ada lagi kata-kata yang tersisa untuk kami sampaikan. Saya mencoba sebisa saya memperbaiki keadaan, namun hal ini tidak membuat perbedaan yang berarti. Untuk itu, saya berusaha berbesar hati dengan menganggap ini adalah bagian dari dinamika hidup. Waktu berjalan, orang-orang berubah. Kadang kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa kita harus kembali menjadi orang asing, bagi orang terdekat. Saya rasa, memaafkan adalah cara paling baik untuk berdamai dengan keadaan. Kita memaafkan bukan selalu berarti orang itu pantas untuk dimaafkan, tetapi selalu berarti kita pantas untuk mendapatkan kedamaian. Meskipun kemudian terpaksa memutar balik arah jarum jam seolah tak pernah bertemu,  setidaknya tidak ada dendam yang disimpan.
Hal lainnya yang cukup signifikan berubah dari saya adalah berat badan. Rupanya saya benar-benar sudah lelah dengan masalah berat badan yang selalu saja menjadi objek verbal bullying bagi sebagian orang . Untuk itu, mulai awal tahun 2013 saya memberlakukan diet ketat. Saya mengatur jadwal olahraga sedemikian rupa. Saya tidak lupa menyelipkan renang dan bersepeda  di sela rutinitas. Pola makan juga saya atur sebaik mungkin. Memang kedengarannya agak melelahkan, namun saya melakukannya dengan senang hati, hingga tak merasa terbebani. Hasilnya, kerja keras saya terbayar dengan berat badan yang berhasil naik tiga belas kilogram. Sekarang bila bertemu dengan orang-orang yang jarang bertemu,  saya selalu dihadapkan dengan pertanyaan “kok bisa? makan apa?”. Dan saya akan setia menjawab “makan anak gajah”. Sebenarnya target saya belum tercapai karena tersendat beberapa bulan dikarenakan demam berdarah.  Saya janji di 2014 saya akan berusaha lebih baik lagi.

dua ribu tiga belas

Ini jam setengah dua belas malam.  Dari jam tujuh tadi saya sudah duduk di depan laptop menatap layar kosong, menulis beberapa patah kata, kemudian kembali memencet tombol backspace sampai tersisa halaman kosong dengan kursor berkedip-kedip. Rencananya saya akan menulis sebuah cerita pendek, tetapi untuk orang moody seperti saya, tak ada satupun hal yang bisa dipaksakan. Karena itu, untuk malam ini saya angkat bendera putih untuk segala jenis cerita pendek.
Berhubung masih suasana tahun baru, saya ingin bercerita lepas saja tentang tahun 2013. Hitung-hitung supaya waktu yang dihabiskan dari jam 7 tadi tidak terlalu mubazir.  Ini hanyalah review kehidupan saya satu tahun kebelakang, tidak ada informasi berharga apapun untuk khalayak ramai ya. Hehe. 2013 memang bukan tahun paling ceria dalam hidup saya, tapi setelah saya ingat-ingat, cukup banyak perubahan signifikan yang terjadi, baik positif  maupun negatif. Setelah menghabiskan tiga bulan melakukan perjalanan dari Jawa, Lombok, Kalimantan dan berakhir di titik nol derajat Indonesia di Sabang, untuk pertama kalinya dalam hidup, Januari 2013 akhirnya saya merasakan bagaimana rasanya menjadi pria kantoran. Awalnya saya sempat skeptis terkait kehidupan selanjutnya. Saya dihantui pikiran-pikiran buruk: apakah saya akan menyukainya? Bagaimana menyelesaikan tugas-tugas kantor? Apakah orang-orang akan menyukai saya? Bagaimana saya menghadapi diri sendiri yang tidak pernah bisa mengingat nama dan wajah orang dengan baik? Ketakutan-ketakutan semacam ini sungguh mengganggu. Setelah hampir setahun menjalaninya, ternyata banyak hal-hal yang tidak seburuk apa yang saya pikirkan sebelumnya. Di kantor malah saya mempunyai keluarga baru yang menyenangkan. Meskipun harus diakui,  kerap terdengar suara-suara sumbang dibelakang. Untuk hal ini sepertinya yang bisa kita lakukan hanyalah menerima saja. Sebaik apapun kita, kita takkan pernah bisa membuat semua orang menyukai kita. Kita takkan pernah bisa menyenangkan hati semua orang.  Dan saya rasa, kita berada di dunia bukan untuk itu.
Seorang teman bilang pada saya,  bahwa kamu tidak bisa seratus persen mempercayai orang-orang di tempat kerja, karena dalam profesi azas yang berlaku adalah azas kepentingan. Saya pikir awalnya juga begitu. Setelah dijalani, ungkapan teman saya ini tak sepenuhnya benar. Di tempat kerja, saya sekarang punya teman baik yang bisa diajak bercerita tanpa takut akan bocor kesana kemari. Untuk masalah pertemanan ini, sebenarnya kita tidak perlu mencari. Kita akan secara alami menemukan. Mungkin bisa diumpakan seperti radar. Meskipun berjauhan, pada akhirnya kita akan mengenali orang-orang yang cocok dan berkumpul bersama mereka. Saya pelan-pelan akhirnya mengenali diri saya sendiri, bahwa ternyata saya hanya bisa cocok dengan orang-orang yang memiliki kegilaan yang sama. Banyak yang telah berubah, namun ada juga yang hal-hal yang tetap konsisten. Contohnya: saya tetap tidak pernah bisa menyukai hari senin. Dan saya malas mengangkat telepon.

 

Blog Template by