Sabtu, 29 Maret 2014

Terlalu Manis (1)

Taksi itu berhenti tepat di depan sebuah rumah bertingkat bercat abu-abu. Seorang perempuan berambut panjang buru-buru membuka pintu taksi dan berlari menuju rumah itu setelah menyerahkan beberapa lembar uang kepada supir taksi. Tangannya dengan cekatan membuka kunci pintu. Jam dinding berbentuk segi empat yang terpampang di dinding ruang tamu menunjukkan pukul delapan lima belas malam. Secepat kilat ia berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Begitu tiba di depan pintu kamar, gerakannya melambat, malah terkesan hati-hati. Perlahan ia membuka gagang pintu, mengendap-endap masuk kamar tanpa menyalakan lampu terlebih dahulu. Seolah berusaha untuk tidak menghasilkan suara apa-apa, ia berjinjit ke balkon, mengintip.
***
Sabtu itu, Alma merasa tidak enak badan. Dari tadi malam ia tidak berhenti bolak balik ke toilet untuk membereskan masalah yang terjadi dengan pencernaannya. Ketika ia mencoba menelpon dokter untuk membuat appointment, ia melihat sebuah truk kontainer berhenti di samping rumahnya. Pintu truk itu terbuka dan beberapa orang tampak sibuk menurunkan perabotan dari dalam truk. Entah apa yang begitu menarik perhatian dari aktivitas itu, tapi ia tetap memperhatikan dari balkon kamarnya. Telepon diangkat, ia berbicara panjang lebar tentang apa yang ia alami pada dokter yang telah menjadi langganannya beberapa tahun terakhir. Beberapa menit kemudian sebuah mobil sedan tua berhenti tepat di depan truk. Seorang pria berambut cepak hitam kecoklatan keluar dari mobil itu sambil menenteng sebuah travel bag berukuran besar. Ia memakai tanktop abu-abu, celana jeans belel, dan sneakers hitam kumal. Itulah saat pertama Alma melihat laki-laki itu. Si tetangga baru.
Diare-nya seolah-olah sembuh seketika. Rasa sesak yang sedari tadi malam menyiksanya tidak lagi ia rasa. Ia kemudian segera memutuskan sambungan telepon dengan dokter setelah mengatakan sekarang ia merasa baik-baik saja - yang tentu saja membuat sang dokter meletakkan gagang telpon ke tempatnya dengan wajah kebingungan. Ia beringsut lebih dekat. Sebuah pohon eukaliptus yang berdiri di halaman rumahnya ikut membantu Alma memata-matai aktivitas di sebelah. Laki-laki berambut gelap itu ikut membantu menurunkan barang-barang dari dalam truk. Entah apa yang begitu menarik darinya sehingga membuat perempuan itu rela menghabiskan waktunya bersembunyi di balik dedaunan sampai laki-laki itu menghilang di balik pintu dan truk kontainer meninggalkan tempat parkirnya.
Beberapa waktu setelahnya, Alma menjadi lebih sering menghabiskan waktu duduk di balkon, mengamati apa yang terjadi di rumah sebelah. Hasil observasinya pada minggu pertama adalah laki-laki itu biasanya akan duduk di serambi jam delapan lima belas, Ia memainkan beberapa lagu tanpa bernyanyi satu bait-pun. Alma tahu beberapa lagu yang ia mainkan, beberapa pernah ia dengar dari album jazz 80-an yang biasa diputar ibunya saat mengantarnya ke sekolah beberapa tahun yang lalu. Ia berpikir, tentu saja laki-laki itu mempunyai selera musik yang bagus. 
Selain itu Alma tidak tahu apa-apa. Ia tak tahu apa yang dilakukan laki-laki itu pada siang hari, karena ia selalu berangkat bekerja sebelum matahari terbit dan kembali setelah gelap menyelimuti kota. Yang jelas, akhir pekan pertama, Alma tidak melihat laki-laki itu keluar rumah. Mungkin saja ia menginap di rumah temannya. Atau pacarnya. Yang jelas, pembatalan janji berbelanja yang ia buat dengan teman-teman kerjanya hanya untuk menguntit laki-laki baru di rumah sebelah berujung sia-sia.
Rasa ingin tahu Alma semakin menjadi-jadi. Beberapa minggu kemudian, berdiri seolah patung diatas balkon dan menjadi bayang-bayang dibalik dedaunan ia rasa tak lagi cukup. Ia tak ingin hanya menyamar sebagai latar. Ia ingin mengenal lelaki itu lebih dekat. Alma ingin tahu apa warna matanya, apa yang membuat ia pindah ke kompleks ini, dan banyak sekali pertanyaan yang mengantri dan kepalanya sudah tidak muat untuk menampungnya. Karena itu ia menghabiskan malam harinya untuk menyusun sebuah strategi.


Sabtu, 22 Maret 2014

Lampu Ajaib

Memasuki tahun ke dua terpisah denganmu membuat aku berpikir bahwa mungkin aku punya kekuatan super. Kamu tahu betapa takutnya aku dengan hari perpisahan itu. Berada jauh darimu adalah hal yang mustahil. Seiring perjalanan waktu, siapa sangka kekhawatiran itu bisa tumbang dan berubah menjadi sumber kekuatan. Dua tahun. Tujuh ratus dua puluh satu hari. Dunia terus berputar dan waktu tetap berjalan. Aku tak pernah berpikir bagaimana dapat melewati semua ini. Tanpa kamu. 
Dua tahun. Tujuh ratus tiga puluh satu hari. Milyaran hal-hal yang melintas di kepalaku, kadang menyerbu serupa angin badai, saat kita harus berlari-lari untuk berteduh dibawah atap ruko waktu itu. Kadang perlahan seperti gerimis yang menemani kita di perjalanan pulang dari belanja bulanan. Tapi ada satu fakta yang begitu menarik perhatianku: bahwa ternyata kita bisa terpisah dengan seseorang namun ia masih bisa hadir di dalam pikiran kita, setiap hari. Kamu selalu hadir disaat aku menuangkan kopi pertama setiap pagi. Saat aku menutup laci meja kerja dan bersiap untuk pulang. Saat aku menatap awan yang berarak sambil menunggu lampu lalulintas berganti hijau. Saat hujan pelan-pelan turun dan bau aspal yang basah meruap. Bahkan kamu bisa hadir dalam mimpi, saat malam pekat dan tak satupun terlihat. Kamu ada. Dan kamu nyata.
Dua tahun. Tujuh ratus tiga puluh satu hari. Banyak hal yang perlahan berubah dariku, seperti perut yang mulai bergelambir dan kesibukan kantor yang semakin menjadi. Waktu berjalan dengan cara yang menakutkan. Ia bisa merubah segalanya. Merubah orang-orang, merubah keadaan, bahkan merubah perasaaan. Aku tak ingin ini terjadi. Aku ingin tetap mencintaimu dengan perasaan seperti waktu itu, saat aku masih menggenggam tanganmu dan menatap matamu yang bersinar seperti kunang-kunang.  Kamu adalah inspirasi, nyawa dari setiap kata-kata yang kutulis, rumah dari paragraf-paragraf dan materi yang tak kan pernah habis untuk dibahas. Akankah aku tetap bisa mencintaimu sama banyaknya seperti waktu itu? Ketika kau hanya bisa hadir dengan wujud berbeda. Bukan ia yang bisa kugenggam tangannya dan kurasakan hangatnya?
Minggu sore yang lalu, ketika membersihkan gudang belakang, tak sengaja aku menjatuhkan satu kardus buku-buku lama  hingga isinya berhamburan di lantai. Aku selalu mengutuk diriku karena terlalu sering melakukan hal-hal bodoh secara tidak sengaja. Mataku tertumbuk pada satu buku yang entah berapa lama tidak kusentuh. Aku membuka buku cerita yang tak lagi bersampul itu. Aladin dan Lampu Ajaib. Ingatanku kemudian berlayar ke tahun-tahun  dimana buku ini masih menjadi buku bacaan favorit yang selalu dipakai sebagai kendaraan pengantar tidur. Dulu, aku terkesan dengan bagaimana jin mampu mengabulkan permintaan-permintaan, jika kau adalah orang yang baik. Naluri anak-anakku memercayai bahwa entah bagaimana, keajaiban adalah nyata.  Aku sempat berkhayal jika aku bertemu jin lampu ajaib, aku akan minta permadani terbang yang bisa mengantarku keliling dunia. Atau mesin uang otomatis yang bisa menghasilkan uang dalam jumlah tak terbatas, agar aku tak perlu menunggu celengan penuh untuk membeli mainan power rangers.
Aku tersenyum mengingat permintaan-permintaan konyol itu. Senyuman yang kemudian membuatku tertegun. Kamu tau,  jikapun sekarang aku bertemu dengan Jin lampu ajaib, aku takkan minta permadani terbang ataupun mesin uang. Aku hanya ingin kembali merasakan rasa itu. Dimana hal yang kulihat pertama kali saat membuka mata pagi hari adalah ruangan yang tak terlalu besar dan wajahmu yang masih mengantuk. Aku ingin mengamati lagi tubuhmu yang masih tenggelam dalam selimut dan coklat bola matamu yang bergerak mengikuti paragraf berita online yang kau baca di layar ponsel. Kemudian menyaksikanmu berjalan sempoyongan ke kamar mandi sambil menciumi aroma tubuhmu yang tertinggal di bantal. Aku juga ingin melihat senyuman selamat pagi yang mengembang di bibir itu, dengan perasaan yang sama. Senyuman yang selalu bisa meyakinkan bahwa ada keindahan di dunia yang muram ini.
Itu saja.


 

Blog Template by