Sabtu, 12 April 2014

Terlalu Manis (3)

Ia menatap kosong saat yang tampak hanyalah seonggok sofa tua dengan busa yang menyembul. Tak ada laki-laki dengan gitarnya. Tak ada lagu-lagu jazz 80-an yang mengalun. Ini sudah hari ke lima setelah Alma tidak mendapati sosok itu pukul delapan lima belas. Tanpa mengganti baju kerja, ia menghempaskan tubuhnya di lantai balkon. Rasa lelah yang ia tanggung seharian berpikir tentang jam pulang kantor untuk menyaksikan tontonan favoritnya tidak terbayar tuntas. Pikirannya menerawang kemana-mana. Kenapa masih sulit baginya untuk menerima bahwa laki-laki itu kini telah pergi dan tidak mungkin kembali? Kenapa ia tega meninggalkannya tanpa ucapan selamat tinggal sama sekali, tanpa memberitahu kemana ia akan pergi? Kenapa begitu sulit menerima kenyataan bahwa laki-laki itu hanyalah tetangga baru yang bisa datang dan pergi sesuka hati?
Tak terasa air mata menggenangi pelupuk matanya. Dengan hati yang patah ia menghabiskan malam kelima duduk di balik bayang-bayang dedaunan sambil berharap akan ada saat dimana laki-laki itu membuka pintu dan dengan gitarnya akan mendendangkan lagu-lagu delapan puluhan. Malam semakin melarut, namun tak ada tanda-tanda laki-laki itu akan muncul. Dalam tangisnya Alma menyadari bahwa yang ia inginkan bukanlah berada beberapa inchi dari mata yang menyala itu. Bukan juga menggenggam jari-jarinya dalam alunan musik dansa. Namun mengintipnya dari ujung balkon, mengamatinya memainkan senar gitar tanpa bernyanyi satu baitpun. Menikmati gesturnya dalam wujud sebagai latar. Karena menikmatinya dari jauh, kadang jauh lebih istimewa.
Karena sesuatu yang terlalu manis akan menyakitimu pada akhirnya.

Sabtu, 05 April 2014

Terlalu Manis (2)

Alma sudah berdandan cantik sekali. Tak pernah rasanya jam tujuh pagi di hari sabtu ia sudah mandi dan memakai dres yang rapi. Beberapa kali ia bolak balik ke kamar untuk memastikan parfumnya melekat sempurna. Beberapa kali juga ia kembali menyemprotkan parfum itu, karena ia merasa belum cukup wangi. Sekarang ia berdiri di depan cermin, menatap dirinya lekat-lekat. Rambutnya sudah mengembang dan pipinya sudah berwarna kemerahan. Laki-laki mana yang tidak akan terpesona jika melihatnya secantik ini. Strategi pun dilancarkan.
Dengan perasaan yang deg-degan ia memasuki halaman tetangga baru.  Halamannya masih berantakan, rumput masih berdiri tegak menghiasi setiap sudut. Di serambi ada sebuah sofa tua yang sobek-sobek sehingga busanya menyumbul keluar. Dengan ragu-ragu, Alma memencet bel yang tergantung di samping pintu. Tak ada jawaban. Ia memencet sekali lagi, sebelum kemudian menghela nafas dan membalikkan badan dengan wajah kecewa. Tiba-tiba pintu terbuka, kepala laki-laki yang sedari tadi diharapkan melongok dari dalam pintu. “Ya?”
Alma kehilangan kata-kata saat menemui wajah yang biasa ia untit dari balkon kini berada tepat di hadapannya. Beberapa detik waktu seolah berhenti, ia hanya bisa menatap kedua bola mata itu tanpa mampu bergerak sama sekali. “Oh maaf, ya, oh ya. Saya tetangga sebelah. Alma,” ujarnya setelah kembali menguasai dirinya. Gerakannya masih kikuk, membuat laki-laki itu mengernyitkan dahi.
“Lukas,” lelaki itu menyambut tangan Alma dengan sebuah genggaman yang erat. “Apa kabar?”
“Baik. Saya ingin minta sedikit gula. Kebetulan gula saya habis, saya mau bikin teh.”
“Oh, saya punya satu toples besar di belakang. Mari masuk dulu,”
Tanpa basa-basi Alma mengangguk, memang itu yang ia tunggu dari tadi. Ia segera melepas sepatu flatnya kemudian memasuki ruang tamu si tetangga baru. Matanya mengamati Lukas yang berjalan ke belakang, mengambil toples gula di dapur. Laki-laki itu mengenakan celana pendek dan kaus gombrong dengan bagian dada yang begitu terbuka, memperlihatkan sebuah tato kecil beraksara thai di dada kirinya yang sama sekali tak ia mengerti. Alma kemudian mengamati sekeliling rumah. Beberapa perabotan sudah tersusun rapi, sementara beberapa lainnya masih dalam wujud kardus-kardus besar yang tak beraturan. Jantungnya yang berdetak kencang mulai membiasakan diri dengan atmosfir yang baru. Ia kemudian memilih duduk di sofa dekat jendela.
Lukas datang dengan dua cangkir teh, setoples gula dan seulas senyum yang membuat jantung Alma kembali berdetak lebih kencang. “Maaf ya berantakan, belum sempat beres-beres,” katanya sambil menghempaskan tubuhnya di sofa sebelah Alma. “Tidak buru-buru kan? Minum tehnya disini saja.”
“Gulanya ambil sendiri ya. Saya tidak tahu kamu suka gulanya seberapa,” lanjutnya. “Kalau saya biasanya segini saja,” Lukas mengambil setengah sendok gula dari dalam toples kemudian mengaduknya dalam teh. “Tidak perlu terlalu manis. Manis yang secukupnya jauh lebih istimewa. Sesuatu yang terlalu manis akan menyakitimu pada akhirnya.”
Alma terpana, tidak percaya kata-kata seperti itu terlontar dari makhluk yang selama ini hanya bisa ia nikmati dari sela-sela dedaunan, dari pojok balkon yang tak terlihat. Sebisa mungkin ia mengendalikan keadaan dengan melontarkan pertanyaan basa-basi yang kadang terdengar sumbang dikarenakan ia terlalu memilih pertanyaan mana yang pantas ditanyakan. Laki-laki itu menjawab semua pertanyaan sumbang itu dengan wajah riang. Matanya yang berkilauan ditimpa cahaya matahari yang menyusup dari kaca jendela membuat Alma betah duduk di sofa, melupakan strategi-strategi yang telah ia buat.
Ternyata Lukas adalah lulusan ekonomi universitas di kota sebelah. Ia menyewa rumah itu untuk tempat tinggal sementara, sebelum ia mendapatkan pekerjaan. Dari ceritanya ia telah mengajukan aplikasi ke berbagai perusahaan di dalam dan luar kota namun belum mendapat panggilan. Ia memilih tinggal di komplek ini karena dekat dengan bandara dan stasiun kereta yang tentu saja akan memudahkannya jika ia diterima bekerja nanti. Satu persatu pertanyaan yang menyesaki kepala Alma kemudian terjawab, namun alih-alih merasa puas, perempuan itu malah merasa semakin kehausan. Lagi dan lagi. Ia begitu menikmati pergantian detik, mendengarkan kata-kata yang keluar dari bibir berkumis tipis itu.
“Ngomong-ngomong, saya sering dengar kamu main gitar dari kamar. Suka musik ya?”
“Iya, saya suka musik. Cuma kesenangan saja, tidak pernah berencana untuk mengembangkannya.”
“Kenapa?”
“Tidak tahu. Mungkin karena saya lebih suka berdansa. Kamu bisa berdansa?” tanpa banyak basa-basi Lukas bangkit dari tempat duduknya. Ia menyalakan radio tape di atas meja kemudian menarik tangan gadis yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu ke tengah ruangan yang kosong. Ia meletakkan tangannya di pinggang Alma, membuat perempuan itu hanyut dalam perasaannya. That’s life Frank Sinatra pun mengalun lembut dari speaker radio tape. Kini tangan Alma menggenggam utuh jari-jari laki-laki itu. Mata mereka beradu dalam jarak beberapa inchi hingga Alma bisa merasakan hangatnya. Tak pernah terbayangkan olehnya untuk berada sedekat ini dengan makhluk rumah sebelah yang selalu ia untit, namun yang ia tahu kini ia merasa bahagia. Mereka pun berdansa. Berdansa.

 

Blog Template by