Sabtu, 24 Mei 2014

Senduisme (2)

Seperti biasa, saat penyakit lama menyerang, ia selalu mencari-cari cara untuk menghibur diri. Ia berjalan menyusuri jalan yang pada kanan kirinya berdiri berbagai macam toko. Ada juga beberapa kafe dengan bangku-bangku yang mengambil sisi trotoar, namun karena cukup sedap dipandang mungkin bisa dimaafkan. Kakinya berhenti pada sebuah kafe yang dinaungi beberapa mahoni besar. Dari luar terdengar lagu folk mengalir lembut dari speaker disamping mini bar. Di gerbang masuk berdiri papan tulis dengan “Pizza day! Hari ini sedia: vegetarian pizza dan burrito” tertulis dengan kapur berwarna warni. Ia melongok sedikit kedalam sebelum kemudian melangkahkan kakinya masuk ke kafe itu. Ternyata di dalamnya jauh lebar dari yang kelihatan. Ia memilih tempat duduk di dekat air mancur yang rindang. Tak berapa lama, seorang pelayan menyapanya dengan ramah. Ia kemudian memesan pizza ukuran besar dan happy sparkling juice hanya karena namanya terdengar gembira. Tak lupa ia memesan double espresso, untuk membunuh kutu busuk yang sedang bersarang dalam otaknya.
Jam tangannya menunjukkan pukul dua belas siang ketika ia merasa perutnya cukup penuh, ia meminta pelayan untuk membungkus potongan-potongan pizza yang belum tersentuh. Ketika membayar di kasir sempat terpikir olehnya apa yang sekarang terjadi di kantor, tapi ia kemudian membuang pikiran itu jauh-jauh. Tak lagi dipikirkannya urusan kantor yang tak kan pernah habisnya itu. Ia bisa saja dipecat karena membolos disaat genting, tapi itu tak lagi jadi masalah besar. Ia memang tak pernah menyukai pekerjaan itu dari awal. Kemudian ia menyusuri lagi jalan pusat kota yang mulai ramai  diisi oleh karyawan-karyawan yang sedang istirahat siang. Ia sempat memasuki sebuah mini market untuk membeli rokok dan sebotol air minum. Kakinya membawanya masuk pada sebuah gang dan berhenti pada toko vintage dengan jendela yang lebar. Dari etalasenya kelihatan terparkir sebuah sepeda tua dengan tas kulit di kedua sisinya. Juga beberapa bakul besar yang sengaja ditaruh sebagai hiasan. Sudah beberapa tahun ia tinggal di kota ini, kenapa ia bisa melewatkan toko seantik ini. Ia masuk melalui pintunya yang didesain seperti pintu cowboy bar dan langsung disambut oleh rak-rak buku tua namun sangat terawat. Seorang penjaga toko melemparkan senyum dari meja kasir. Ia membalas senyuman itu kemudian berjalan ke rak-rak buku. Ia mengintari rak-rak sambil memperhatikan buku-buku tua itu satu demi satu.  Ia akhirnya memilih dua buah buku yang selama ini telah ia cari. The Catcher in The Rye, J.D Salinger dan I Know Why The Caged Birds Sing, Maya Angelou. Butuh bertahun-tahun baginya untuk menemukan dua buku ini. Selama ini ia berkali-kali mengunjungi toko loak, namun tak pernah menemukannya. Tiba-tiba satu dari kegelapan di kepalanya meletup hilang. Ia juga berhasil menemukan sebuah kaos stripes hitam putih yang kelihatan sangat kuno, kacamata hitam bundar dan sebuah topi kupluk, semuanya langsung ia pakai saat itu juga. Dan penjaga toko memberinya diskon, karena hari itu adalah hari ulangtahun toko.

Taman Kota adalah hal yang terlintas di kepalanya setelah keluar dari toko. Dengan kaos stripes, kacamata hitam dan topi kupluk ia merasa sedikit lebih baik. Ia segera berjalan melewati pertokoan, menuju taman kota yang jaraknya hanya beberapa blok. Sesampai ia disana, ia merebahkan tubuhnya di rerumputan. Ia mengeluarkan buku tua yang baru dibelinya tadi, ia menepuk pelan-pelan agar debunya terbang sambil menatap sekelilingnya. Ada anak-anak taman kanak-kanak bersama gurunya sedang belajar bersama di bawah rindangnya pohon. Ada juga beberapa pasangan yang menggelar tikar piknik dan mengobrol dengan santai. Semua kelihatan begitu gembira, tidak seperti dirinya. Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul dari rongga kepalanya: Apakah semua orang terlihat bahagia karena sebenarnya kita yang merasa kesepian? Buru-buru ia tepis pertanyaan itu. Kembali bertanya-tanya akan membuat kelam yang bersarang di kepalanya semakin pekat. Ia kemudian mencoba fokus membaca The Catcher in The Rye dan membiarkan semua mengalir.


Setelah beberapa jam berkonsentrasi dengan buku yang ia baca, seseorang wanita tua tiba-tiba duduk di sebelahnya. Pakaiannya compang-camping dan ia tak berkata satu kalimatpun. Hanya duduk disitu begitu saja. Setelah ia amati, ternyata wanita tua itu tidak bisa melihat, itu mengapa ia tidak menyadari ada orang lain di dekatnya. Ia menaruh sebuah gelas minuman bekas di hadapannya, menunggu orang yang berbaik hati memberinya uang receh agar bisa membeli roti bakar untuk makan malam. Laki-laki itu mengeluarkan sekotak pizza yang dibelinya di kafe tadi siang dan menaruhnya di tangan wanita tua itu. Seketika tercipta sebuah senyuman di wajah keriput itu. Meskipun matanya terlihat kosong, senyumnya mampu menjelaskan bahwa ada perasaan senang disana. Wanita tua itu mengucapkan terima kasih.
Laki-laki itu naik trem terakhir menuju flatnya di selatan kota. Suhu udara pada musim panas memang agak membuatnya tersiksa, tapi ia tak begitu peduli. Sesekali ia mengelap butir-butir keringat di pelipisnya dengan sapu tangan. Meskipun gelap sudah menyelimuti hampir seluruh kota, gelap yang menyelimuti hati dan pikirannya perlahan menghilang. Jalanan telah sepi saat ia sampai di flatnya di lantai dua belas. Ia membuka pintu flat dan mendapati semua dalam keadaan yang sama seperti saat ia tinggalkan. Kosong. Kecuali hatinya. Hatinya tidak.

Sabtu, 17 Mei 2014

Senduisme (1)

“Nothing is completely wrong, even a broken clock is right twice a day.” –Paulo Coelho
Ia terbangun di sisi lain tempat tidurnya. Cahaya masuk dari celah gorden yang menari-nari ditiup angin. Ia memang sengaja tidak menutup jendela flatnya tadi malam. Ia merasa benar-benar letih, bahkan untuk bangkit dari tempat tidur dan berkemas untuk berangkat ke kantor ia merasa tidak punya energi. Saat membuka mata, ia sadar bahwa ada yang tidak beres. Ada awan hitam pekat lengkap dengan perasaan gelisah melingkupi hatinya. Ia menyadari hal itu sejak lama. Bahkan ia telah membiasakan diri hidup dengan kegelapan semacam itu, tapi pagi ini ia datang dalam wujud yang lebih pekat. Kemuraman yang bisa muncul kapan saja. Ia kembali merasakan ada lobang besar menganga di dadanya, membuatnya merasa seperti seonggok raga tanpa nyawa. Ia menatap sekeliling kamar dengan pandangan yang samar. Kamarnya kosong. Hatinya juga.
Ia mengambil ponsel yang terparkir di meja samping tempat tidur. Jam tujuh lima belas. Jika ia tidak berkemas sekarang juga, tentu saja ia akan terlambat sampai di kantor. Namun alih-alih mengambil mengambil handuk yang tergantung di balkon, ia malah berdiri di depan cermin.  Laki-laki itu mengamati pantulannya. Yang mampu ia lihat hanyalah pria bermuka muram tanpa semangat. Gelisah menggantung dengan jelas di kantung matanya yang menghitam. Tidak lagi sanggup melihat pantulan di depan cermin, ia melangkahkan kakinya menuju balkon. Meringkuk memeluk lututnya tanpa mampu menghilangkan bayangan-bayangan hitam yang mulai menguasainya. Ia kemudian menyulut sebatang rokok sehingga asap mengepul di udara, melayang-layang kemudian hilang terbawa angin. Dengan mata sedihnya ia menatap jalan raya di bawah sana. Kendaraan memadati setiap jengkal aspal sambil terus berlomba membunyikan klakson. 
Hal ini memang bukan pertama kalinya terjadi. Mengenai kegelapan-kegelapan yang hidup di dalam kepalanya, ia sudah mencoba hidup berdampingan dengannya, bahkan ia sudah menganggapnya sebagai sebuah realita yang harus bisa ia terima saja, tanpa perlu dipertanyakan. Ternyata berdamai dengan diri sendiri kadang lebih susah daripada bertarung melawan musuh di medan perang. Ia kembali merasakan bahwa tak satupun hal berjalan dengan benar. Tak satupun berjalan seperti yang diharapkan. Ia tahu dengan diam dan larut dalam lobang hitam itu takkan membuatnya merasa lebih baik. Meringkuk dalam selimut bukanlah opsi yang bagus untuk membebaskan diri dari ketakutan-ketakutan. Karena itu ia segera menyikat gigi, mandi, berharap semua akan terasa lebih baik sesudahnya. Ia kemudian memasak telur mata sapi  dengan sedikit terlalu banyak garam, lantas memakannya di meja makan sambil menatap langit cerah di depan jendela. Setelah itu dengan jas dan dasi yang rapi, ia bergegas turun ke lantai bawah, tempat dimana halte bus berada.
Bus yang akan mengantarkannya ke kantor ternyata tidak terlalu penuh. Agaknya ia memang terlalu kesiangan. Hanya ada beberapa orang lanjut usia dan juga beberapa karyawan yang juga dilingkupi perasaan takut terlambat sampai di kantor. Manusia yang lucu, selalu saja merasa dikejar oleh sesuatu yang tak kasat mata.  Sama lucunya dengan ia yang harus lari dari dirinya sendiri. Ia memilih duduk di  dekat jendela sambil menggenggam tas kerjanya yang berbahan kulit. Ia teringat bahwa ada banyak sekali laporan keuangan yang harus segera diselesaikan. Nanti siang ia juga harus menghadiri beberapa meeting mewakili pimpinannya yang sedang berlibur ke Hongkong. Beberapa blok sebelum sampai di gedung kantor ia menyadari betapa tak inginnya ia untuk duduk di meja kerja, mengerjakan segala jenis laporan dan bertemu dengan orang-orang yang bertendensi semakin merusak suasana hati. Ia tak mau pada akhirnya hanya duduk di ruangan meeting sambil mencoret-coret ujung kertas tanpa menyimak satu kata pun dari pertemuan itu. Karena itu pada beberapa halte sebelum gedung kantor, ia memutuskan untuk turun dari bus. Ia segera melepas jas  kemudian mematikan ponsel. Memasukkan dasinya secara sembarangan kedalam tas kerja.

 

Blog Template by