Minggu, 24 Agustus 2014

Review: Norwegian Wood


Judul: Norwegian Wood
Author: Haruki Murakami
Publisher: KPG
Published: Cetakan keempat, Mei 2013
Pages: 426 Halaman

Ketika menemukan buku ini di Gramedia Padang, saya merasa agak skeptis akan menyukainya. Entah kenapa dari dulu saya tidak pernah tertarik dengan novel berlatar kehidupan di Jepang. Saya berpikir tentunya novel ini akan bernasib seperti beberapa novel lainnya yang saya punya, parkir di rak tanpa pernah disentuh. Namun entah kenapa, saya tetap memasukkannya dalam keranjang belanjaan saat itu. Saya langsung membacanya begitu sampai di rumah. Awalnya memang terasa agak membosankan, namun memasuki lembar-lembar selanjutnya saya mulai menyukainya. Membaca Norwegian Wood seperti menonton sebuah televisi hitam putih di sebuah ruangan tertutup yang gelap dan lembab. Sepanjang cerita rasanya masuk kedalam sebuah suasana yang sendu dan suram. Saya mengagumi bagaimana Murakami mampu menuliskan kesuraman dan kesenduan dalam bentuk kata-kata.
Novel ini diawali dengan Toru Watanabe, pria berusia 37 tahun secara tidak sengaja mendengarkan tembang The Beatles di bandara Hamburg, Jerman yang membuat nostalgia masa lalu mengisi pikirannya. Tahun 1960-an, Watanabe melewati masa SMA-nya di Kobe. Ia berteman akrab dengan sepasang kekasih Kizuki dan Naoko. Kizuki adalah satu-satunya sahabat Watanabe kala itu. Suatu ketika dengan tiba-tiba Kizuki mengakhiri hidupnya. Ia bunuh diri di garasi, setelah bermain bilyar dengan Watanabe. Hal ini meninggalkan luka yang dalam baik oleh Watanabe maupun Naoko. Usai SMA, Watanabe hijrah ke Tokyo untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas sekaligus mengawali hidup baru, lepas dari bayang-bayang Kizuki. Demikian juga halnya dengan Naoko. Di Tokyo, sepasang teman ini sering menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan, namun mereka tak pernah sekalipun membahas Kizuki. Hingga pada suatu ketika pada malam ulangtahun Naoko yang ke 20, kedua teman yang terikat oleh Kizuki ini tanpa direncanakan melakukan hubungan seksual. Tanpa sengaja juga, Watanabe menanyakan hal yang kemudian membuat Naoko menangis. Esoknya Naoko menghilang dengan hanya meninggalkan pesan yang berisi ia ingin sendiri. Watanabe yang sudah jatuh cinta pada Naoko merasa sangat kacau dan melampiaskan kemarahannya dengan meniduri banyak sekali wanita bersama teman satu asramanya Nagasawa. Nagasawa sendiri sudah punya kekasih yang ia cintai separuh hati, Hatsumi.
Sepeninggal Naoko, kehidupan universitas mengantarkan Watanabe bertemu dengan seorang gadis bernama Midori, gadis badung namun selalu berterus terang dengan apa yang ia rasakan. Dengan perjalanan waktu, mereka pun akhirnya menjadi dekat. Ditengah kedekatan itu, datanglah surat dari Naoko yang menyatakan bahwa ia sekarang berada di sanatorium bagi orang-orang yang mengalami masalah kejiwaan di lokasi yang cukup terisolir di Kyoto. Hubungan yang saling menggantung antara Watanabe, Naoko dan Midori kemudian mengisi kesuraman demi kesuraman yang kompleks. Watanabe menyukai Midori, akan tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa karena cintanya yang demikian besar pada Naoko. 
Novel ini dipenuhi oleh tokoh-tokoh unik. Misfit. Sebut saja Naoko, gadis yang sangat cantik namun fragile dan mengalami gangguan emosional setelah ditinggal bunuh diri kakak dan kekasihnya. Hal ini menyebabkan ia hidup dalam lobang hitam dan tak pernah lagi bisa menyatu dengan realitas yang sedang berlangsung. Midori, gadis berambut pendek yang outgoing dan tidak malu-malu menyampaikan fantasi-fantasi seksualnya, tinggal di sebuah toko buku di daerah sub-urban Tokyo dan memiliki masalah keluarga. Reiko-san, wanita paruh baya dan seorang pianis berbakat yang hidupnya diremukkan oleh penyakit dan seorang gadis lesbian. Serta Hatsumi, kekasih Nagasawa yang setia meskipun ia tau kekasihnya senang tidur dengan wanita lain – ia yang pada akhirnya juga mati bunuh diri. Tidak tahu kenapa saya senang membaca novel-novel dengan karakter-karakter yang unik, seperti It’s Kind of Funny Story atau The Perk of Being Wallflower. Karakter-karakter yang miring, kusut, tidak bisa mengapung  dan tenggelam dalam kemiringan serta tidak bisa menjalankan pola-pola yang dianggap normal bagi kebanyakan - ada bagian dari diri saya yang rasanya berelasi dengan hal-hal itu.
Meskipun saya begitu menyenangi novel ini, ada beberapa hal yang tetep bikin bingung dengan perasaan kegantung-gantung sebagai contoh, hubungan seksual terakhir yang dilakukan Watanabe, di mata saya benar-benar menghancurkan hubungan baik dan jalan cerita dengan tokoh yang terlibat. Agak kaget juga bacanya. Novel ini juga tidak saya sarankan untuk pembaca dibawah 18 tahun karena hampir di setiap bab memaparkan adegan-adegan dewasa secara frontal. Norwegian Wood sudah diangkat ke layar lebar beberapa tahun yang lalu. Saya menonton filmnya tepat di hari saya selesai membaca novelnya. Seperti kebanyakan novel yang diangkat ke layar lebar, Norwegian Wood versi film ceritanya menjadi umum, banyak kehilangan detil-detil yang sebenarnya penting. Menurut saya, tokoh-tokoh sentralnya tidak terekspos secara sempurna. Midori jadi tak se badung dalam novel. Beberapa scene yang menguatkan karakter juga hilang. Jadi, kalau berniat nonton filmnya, mending baca novelnya dulu.
Lalu apa hubungannya kehidupan anak muda jepang tahun 1960an dengan Norwegian Wood? Norwegian Wood adalah lagu ciptaan John Lennon yang merupakan lagu favorit Naoko.
"Kau anggap saja kehidupan ini sebagai kaleng biskuit. Di dalam kaleng biskuit itu ada bermacam-macam biskuit, ada yang kamu sukai ada pula yang tak kamu suka. Dan kalau terus memakan yang kamu suka, yang tersisa hanya yang tidak kamu suka. Setiap mengalami sesuatu yang menyedihkan aku selalu berpikir seperti itu. Kalau yang ini sudah kulewati, nanti akan datang yang menyenangkan, begitu. Karena itu hidup ini seperti kaleng biskuit." -Midori


Sabtu, 09 Agustus 2014

Hello Batam

Saya selalu pengen bercerita. Tapi saya prokrastinator andalan. Saya bisa menunda-nunda tulisan sampai batas yang tidak ditentukan, hasilnya hampir semua tulisan saya nggak ada yang kelar haha. Postingan di Kalimantan Timur, setelah saya hitung-hitung sudah pending lima tahun. Postingan Maluku udah pending sekitar tiga tahun. Postingan Bali juga udah pending selama dua tahunan. Salam super. Kelamaan sampe keburu basi. Karena itu sekarang mumpung lagi ada mood, saya mau cerita tentang perjalanan saya ke Batam dan Singapore akhir tahun lalu. Mumpung belum basi-basi banget.
Desember tahun , waktu saya lagi santai-santai di kantor, saya mendapatkan BBM dari sahabat sekaligus travel partner saya zaman kuliah, Memed, yang sekarang bertugas di Banjarmasin. Dia nanya kalo Padang ke Batam itu ada jalur darat apa nggak. Ya nggak lah le,  batam kan kepulauan gitu loh. Mana ada jalan daratnya. Sohib saya ini ternyata ada acara kantor di salah satu hotel di Batam selama beberapa hari. Dan dia ngajak saya kesana. Saya langsung mikir-mikir sambil cek tabungan traveling saya. Akhir tahun lalu itu termasuk masa-masa berat. Saya baru saja terjangkit demam berdarah yang menyebabkan  saya harus diopname di rumah sakit selama beberapa minggu dan tentu saja menghabiskan sebagian besar tabungan dan rambut saya. Jadinya saya bilang pikir-pikir dulu.
Sampai H -1 saya masih bimbang. Sebenarnya tabungan khusus traveling saya masih ada, walaupun nggak banyak. Saya juga bisa izin nggak masuk kantor karena  minggu itu masa transisi saya pindah ke kantor yang baru. Saya nanya Memed dan dia bilang “Kapan lagi coba!”, kata-kata paling keramat dan mujarab kalau ngajak saya jalan. Saya langsung mikir, iya yah. Kapan lagi. Saya belum pernah sama sekali menginjak Batam. Mumpung lagi ada kesempatan kayak gini, kapan lagi. Belum tentu nanti ada lagi kesempatan. Kemudian saya segera menelpon bos saya di kantor dan bilang saya nggak masuk kerja untuk beberapa hari. Untungnya pak bos orangnya pengertian, jadinya diijinin. Kemudian saya buka laptop. Booking tiket. Fix! Jadi.
inilah sosok playboy sejati itu
Besoknya saya berangkat ke bandara Internasional Minangkabau diantar teman-teman SMA; Rama, Roni dan Yona. Kebetulan saya juga punya teman SMA yang dulu sama-sama di Bandung dan sekarang sudah kerja di perusahaan multi nasional di Batam. Dia janji menjemput saya. Setelah dadah-dadah, saya masuk ke ruang keberangkatan. Untungnya gak pakai drama delay-delayan. Saya nyampe dengan selamat di Batam setelah  45 menit penerbangan. Di luar saya sudah ditunggu oleh sesosok pria muda yang tampan dengan kalung emas yang susah dijelaskan dengan kata-kata pesonanya. Namanya Adek. Dan kayaknya sekarang dia jomblo, jadi kalau berminat bisa menghubungi nomor telepon dibawah ini. Tapi hati-hati, dia playboy cap kapak yang siap menghancurkan hati siapa saja. Termasuk anda. Halah.
Keluar bandara, kita langsung menuju Mega Mall. Disana kami makan malam. Saya lupa nama tempatnya apa, tapi suasana disana menyenangkan. Ada sangkar-sangkar burung digantung sebagai tempat lampu, dengan jendela-jendela lebar yang langsung berhadapan dengan laut dan lampu-lampu di seberang. Sambil makan kita ngobrolin kalau saya mau kemana. Trip kali ini bener-bener tanpa rencana. Saya bahkan belum browsing mendetail mengenai apa yang akan saya lakukan di dua pulau ini. Saya sempat browsing sedikit lewat hape pas mau berangkat ke Batam tapi sama sekali tidak menemukan hal menarik. Tidak tahu juga ya, tapi menurut saya satu-satunya tempat yang kelihatan menarik untuk dikunjungi di Batam adalah Jembatan  Barelang alias Batam  - Rempang – Galang yang menghubungkan beberapa pulau. Karena kata Adek jaraknya lumayan jauh, saya mengurungkan niat untuk jalan kesana.

Dari Mega Mall,  saya diajak Adek ke daerah Bukit Clara dimana tulisan Welcome To Batam terparkir. First impression sama kota Batam adalah, jujur ternyata nggak segede yang saya bayangkan. Saya punya banyak saudara di Batam (Batam itu daerah perantauan paling hits bagi orang Minang), dari cerita mereka kalau ketemu, Batam itu gede banget dan udah kayak Singapore. Kenyataannya saya liat nggak gede-gede banget juga. Masih banyak daerah-daerah yang kosong, jalan-jalan tanpa trotoar dan masih kelihatan sedang berkembang. Sampai di Bukit Clara saya menunaikan kewajiban untuk foto-foto. Katanya  belum ke Batam namanya kalau belum foto di depan Welcome To Batam yang ala-ala Hollywood itu. Saya mencoba mengamininya. Setelahnya, kami pulang ke kosan Adek. Tidur, karena besoknya akan jadi hari yang panjang

Besok paginya setelah mandi tanpa sarapan, saya berangkat menuju Swiss Bell hotel, di kawasan Harbour Bay. Saya naik angkot aja di simpang kosannya Adek sementara dia udah duluan karena harus  masuk pagi. Agak ngebingungan juga sih awalnya, ketika saya coba tanya rute angkot sama beberapa orang, nggak ada yang tahu. Saya kemudian coba tanya sama beberapa anak sekolahan yang kelihatannya gahul. Saya disuruh naik angkot ke Jodoh. Kemudian saya naik angkot setelah memastikan akan berhenti di Harbour Bay. Supirnya bilang cuma sampai luarnya doang, nggak masuk ke kawasan Harbour Bay-nya. Mungkin karena saya bawa-bawa backpack, supirnya nanya saya dari mana mau kemana. Setelah ngobrol-ngobrol ketahuan ternyata sopirnya orang Padang juga. Sepanjang perjalanan dia curhat tentang Batam. Dulunya Batam gede banget, jadi pusat orang-orang asia tenggara untuk gambling alias judi. Bisa dibilang juga Batam itu dulunya semacam Las Vegasnya asia tenggara. Banyak turis asing datang dari berbagai negara untuk berjudi di Batam, namun sejak aturan diperketat dan tempat-tempat perjudian perlahan ditutup, Batam kembali seperti sedia kala. Saya dengerinnya cuma ngangguk-ngangguk aja.

Kurang lebih satu jam, akhirnya saya sampai di Harbour Bay. Sebelum naik angkot saya udah nanya sama anak  SMA gahul tadi ongkosnya berapa. Mereka bilang ongkosnya enam ribu saja. Saya pun iseng-iseng tes kejujuran. Karena sopirnya cukup friendly dan saya rasa kami sudah berhubungan cukup baik selama kurang lebih satu jam (apalagi katanya kami sama-sama orang Padang), saya coba tes kasih lembaran sepuluh ribuan. Dan hasilnya adalah! Tingtong. Dia ngembaliin dua ribu saja sambil pasang muka agak kikuk. Yah, runtuh deh kefriendly-an yang dibangun selama satu jam haha. Saya nggak masalah sih sama duit dua ribuan itu, tapi sedih aja kenapa hanya karena duit dua ribu kok harus sampai nipu. Agak bikin geleng-geleng kepala juga sih awalnya, tapi turun dari angkot saya langsung berjalan masuk ke kawasan Harbour Bay dimana Swiss Bell Hotel berada. Sambil jalan, saya menelpon Memed untuk keluar dari hotel. Dan paraaaa, setelah lebih satu tahun tak bertemu, saya ketemu lagi sama sahabat saya yang satu ini *berpelukan*
ini ekspresi ketika baru ketemu! (trust me Memed gak sehitam di foto ini!)
Harbour bay
Dari sana, kita langsung ke kamar Memed. Saya disuruh nunggu sebentar karena acaranya masih berlangsung, jadi saya nyantai-nyantai dulu di kamar Memed. Sedihnya, perut saya nggak bisa diajak kompromi. Dia mulai grasak-grusuk di lima belas menit pertama. Jadi saya putuskan untuk keluar nyari makan. Saya berkeliling kawasan Harbour Bay yang kebanyakan masih kosong. Saya sempat masuk ke Harbour Bay Mall tapi (I’m really sorry to say this) mall-nya lebih mirip kuburan. Beneran deh, sepi banget. Gak ada satupun stand makanan yang buka. Jadinya saya jalan ke arah pelabuhan yang kelihatan lebih rame. Untungnya ada sebuah ruko dengan tulisan ‘Sedia Sarapan Pagi’ yang besar di luarnya. Saya masuk kesana dan memesan nasi goreng dan teh panas. Dan bagian paling menyenangkan adalah ternyata cukup murah, hanya delapan ribu saja. Mungkin ini keberhasilan paling fundamental bagi  saya hari ini. Sesuai pasal 1 konstelasi backpacking saya: the cheaper, the better. Nothing makes me happier than finding something good with the affordable (read: cheap, really really cheap) price hahaha. Dari sana saya langsung balik lagi ke hotel dan nunggu Memed sampai kelar acara.


 

Blog Template by